Try to search for The Things?

December 26, 2012

Questioning the HEART


Pada sebuah malam, di hampir penghujung tahun 2012. Saya sedang mendekam di kamar. Tercenung di depan laptop dan beberapa buku latihan tes bahasa inggris di samping kanan-kiri.

Pukul 11 PM pas.

Habis keluar beli makan malam di warung Padang. Telat makan karena pulang dari kantor jam 7, sesampai di kos langsung tertidur sampai pukul 9. Bangun-bangun kaget, lihat jam, buka jendela kamar dan melakukan kegiatan mengecek tanda-tanda alam akibat “apakah aku tidur terlalu lama?, apakah ini sudah pagi?”. Ini pasti saya sedang kedapatan the power nap. Kondisi badan dan pikiran mendapatkan istirahat yang berkualitas meski sebentar.

Saya menginvite pin-nya kembali. Tidak ingin bercengkrama, namun bukankah Wahai Pria, itu sebuah kode yang maha-pertanda?. Saya yang ingin disapa, sebagai reward karena saya menurunkan ego dan menginvite pin anda duluan. “Siapa duluan” masih menjadi ukuran gengsinya siapa yang berhasil ditaklukkan di antara saya dan dia. Meski siapa menang, siapa kalah sesudahnya malah menjadi bias.

BEN and BON

Adalah seorang Ben. Lelaki yang sedang kuliah di NZ (entah mengambil jurusan apa), memiliki spouse di Jakarta, dan saya jatuh cinta kepadanya-kepada tulisan-tulisannya di sebuah lini maya. Pertama kali (blognya) dikenalkan kepada saya oleh seorang teman, yang temannya adalah teman dekat spouse-nya Ben. Saya kemudian seperti abegeh yang sedang labil, mencetak beberapa tulisannya dan gambar yang dipostingnya (FYI, Ben suka sekali dengan fotografi, and I don't understand what he's been implied in his pictures, mostly when I saw some absurd captures without caption). Malam kemarin, saya nekat untuk menyapanya di twiterland, gak penting-penting amat sih karena saya masih menjaga kemungkinan-kemungkinan memalukan (misalnya dicuekin haha). No hopes inside, dibales ya seneng, gak juga gakpapa. Tapi biasanya justru yang bringing no hopes malah mendapat kesempatan yang banyak, in any circumstances, in any occasions, and has anyone noticed this term by the way?.


December 19, 2012

Food for your food's thought

I've decided to make couple changes in my life, preferably into my health, my body. My fellow already got an issue in his health, I guess diabetes (?). He always feeling dizzy and gain uncontrollable of total weight. As he is still young and productive, so I sum of missed mistakes in his previous life, and may be what and when he had been eaten. Such a sad..., a young, and energetic life can be destroyed by the wrong chosen food.

So I try to make simply thing about my food. I used to grab some bread/cassava/fruits and cheese to bring my morning, sometimes milk. And along the day, drinking water is a must to do. Lunch is the hard way, as I'm Indonesian, eat rice is a thing to un-refrained. But I know, rice contains much of sugars, hence I eat small rice (deep inside, I feel so guilty). When the night is coming, usually I do my dinner after working hours about 7 pm with an easy cook made by myself in my house kitchen. I avoid to take rice, as the return I take some fruits with yogurt or sometimes a bowl of soup.

December 16, 2012

Hip-Hop


Gue gak pernah yang namanya accurate kan ya. *ngingetin aja. Contoh paling ter-enggak-diarepin ya sekarang ini nih, tinggal di Jakarta which never been slightly come into my mind. Sampe pada akhirnya detik ini gue terjerumus ke lembah dunia perhip-hopan adalah bukan semata-mata gue melengkapi atribut ke-Jakartaan gue. *apa banget deh. Bukan! Tapi it begins with a long journey aside.

Dulu waktu kecil gue suka banget yang namanya gerakin badan. Itu piala-piala gue di rumah apa namanya coba kalo gak menang dari lomba nari juara mengaji?. *salah passion sejak dini. Ini ceritanya pas gue ikut Boys Scouting a.k.a Pramuka, setiap malam terakhir berkemah pasti ada pesta api unggun (ciye pesta api unggun) which is tiap regu nampilin atraksi (iya bok, dulu sebutannya atraksi!, sumpah agak menjijaykan ya?). Sadar gak sadar, gue adalah orang yang selalu berada di garda depan jadi relawan nari. Narilah gue diiringi lagu-lagu yang ngebeat.*ahsek!. Jaman dulu boyband masih si BSB, dan gue kesengsem berat ama tarian-tarian mereka in group. Apalagi teasing si Howie di Quite Playing Games (with my heart). Jadi sejak bocah gue sebenarnya leader nari *yakali.

Passion bersambut

Pas SMA makin menggila deh passion nari gue. Gegara banyak lagi boyband yang narinya ngegemesin (baca: NSync). Karena media yang gak maksimal, gue cuma bisa nari di kelas sambil liat video klip NSync di dvd. Terus suka request lagu Justin Timberlake pas acara-acara di sekolah. Sayangnya, emang belum ada ekskul nari di SMA gue waktu itu, secara SMA gue itu Madrasah. Makanya passion gue tuh kayak terpendam gitu ceritanya. Sempet ikut paduan suara yang selalu perform tiap ada hajatan perpisahan kelas 3, itupun udah seneng banget meski gak nari ya paling gak gue bisa nyanyi (dua-duanya saling bersinggungan kan).

December 12, 2012

Pergi ke Johor Bahru via Changi

Monday morning on December 3, 2012 was my first trip to Johor Bahru, and my second trip passed Changi Airport. It was my first journey to step a walk into Malaysia through south Peninsula, which previously I did visited to capitol Malaysia through KLCC.

And yeah, my first experience having a flight with Singapore Airlines. I know, I take somebody's point that has ever told me about its humane treatment and so the services by its stewardess. Once we found the seat number, stewardess forth and back to offer us the warm towel (its to wipe our face to refreshment isn't it?). Then I smile to stewardess and steward who standby into the rows. Still, Jakarta to Singapore was taken only 1 hour 45 minutes.  Wish I have two hours longer to fly another continental, so I could comfy sitting on the velvet seat longer.

I like when i need to plunge my self into something new, nerd, extreme. Even if you just look into my body, the same can not be said. But here look into my eyes, I dare everything. (haha, my close friend tried to mind me: If you look-alike a small rat, don't disguise have a powerful roar). forget his saying dude!.

The first entering Malaysia through Singapore, we are going to see Check Point and Immigration Authority of Singapore. You need to turn down from the car, bring the passport and queue the line. If your passport is fine, don't need to worry about everything, then go through the coach lines after, ride a car and continue to the next Immigration of Malaysia 5 minutes afar. Me and my team has quite smooth leaved from Singapore. Whereas, me my self have a bit worry which I knew one of my team's passport is going to 4 months expiry.

We arrived to Malaysia Check Point, and we should bring the baggage and stuff we previously brought. It is not recommended if you leave your stuffs into the car. Trouble with car will come after. it is quite easy then, facing the X-Ray into our bags, and then you go downstairs with chop : You are accepted enter Malaysia.

We stayed at Blue Wave Hotel. I don't know how stars it is (and I don't care). But this is quite nice! I though it was family room (?). My room has shared with one of the team. You mind, it has two televisions in bed room, and family room. and so it has a small kitchen, and small dinning room with 4 chairs. The bath room was large (and this is the part I don't care most, while some people give a care). Anyway thanks client!.

We went to Johor Premium Outlet (JPO). Johor was extremely raining.We then have a lunch, have a dinner and have a rest, relaxing head for opening ceremony of WIEF (World Islamic Economic Forum) tomorrow.

Persada Johor, where the WIEF held

Inside the forum


I have no plan for taking a nap in the midst of Fame-people-on-the-stage-were-talking. Seriously? This IS a world forum which were 50 nations representative get along. But my eyes' team was telling me that boring is just in time. I did what not thing to take over the sleepy, listening Si Receiver which contains 4 foreign languages: Arabic, France, Russia. Ok, this was work a while.

After luncheon session, we head off to Legoland. Do you know it? It is a land which is full of Lego and miniature of some famed building Malaysia has so far. Unfortunately we have shock time (only one hour) to go around and explore the land. We need to quick back to hotel to prepare Gala Dinner later on.

Here we go, entering a very super dome measuring 36,000 sq ft. Still have a hole to describe?. I tell you, it fits 3 units of Boeing 737 airplanes, and still have a room to spare! it is now truly super isn't it?.
the lack of this was, the dinner started on 9PM! too late for starving again.

See you in the next post when I have to spend 1 hour in Singapore Immigration about the "case"...



--Kimmi--




November 23, 2012

Lalita: Jembatan Kebetulan


Pasti di antara kalian ada yang ‘merasakan’ tulisan Ayu Utami dengan kesan yang hanya dimengerti oleh diri sendiri. Should be anyone of you?.  That should be me as one. Saya menyukai semua karya Ayu Utami, tapi saya merasakan keintiman luar biasa dengan Bilangan Fu, Manjali Cakrabirawa dan Lalita. Terakhir, Lalita memberi jumlah kebetulan yang tidak saya sangka.

Bilangan Fu yang sebegitu tebalnya telah saya baca ketika masih kuliah. Potongan cerita diantaranya adalah teror dukun santet yang menandai pasca kekuasaan Orde Baru lengser. Saya menjadi saksi karena tinggal di daerah teror disebar. Inilah kali pertama saya merasakan buku ini menyentuh bayangan saya akan kejadian. Berselang dua tahun kemudian muncul seri Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa. Saya menyebutnya jembatan, karena tertulis banyak kata-kata yang seakan membaca kejadian-kejadian yang sering saya rasakan. Akhirnya setelah berjangka dua tahun lagi, saya sampai di tempat dimana jembatan menghubungkan saya. Senada dengan keragaman covernya, Lalita membawa saya kepada ragam teka-teki. Kepingan-kepingan kebetulan itu terjadi tanpa diniati.

Lalita 

Membaca Lalita seperti melintasi dimensi dan abad yang berbeda dengan pemberian kesan yang detil di masanya. Pertama di bab Indigo kita diajak untuk berdiri di kekinian era. Kondisi persahabatan Parang Jati dan Yuda serta romansa percintaan Sandi Yuda dengan Marja dan Lalita Vistara. Adalah Lalita Vistara, yang menjadi seutas benang yang mengikat antara cerita dari abad ke-15 dimana cerita misteri vampir bermula di Transylvania dengan abad ke 20 di wilayah Nusantara.

Lalita adalah wanita indigo, penyuka benda-benda bersejarah yang selalu berpenampilan mencolok, dengan make-up penuh seperti topeng, layak untuk dijadikan pusat perhatian. Ia kerap menuai kecemburuan gadis-gadis metropolitan di zonanya. Kakak Lalita, Janaka atau Jantaka berkebalikan sifat dengannya. Janaka melihat adiknya adalah musuh yang haus akan perhatian, seperti vampir, tapi tidak menyedot darah, melainkan pusat konsentrasi dan perhatian tiap orang yang dihisapnya. Ia pencari konsentris dengan caranya.

Sedangkan tokoh Oscar hadir sebagai pelengkap untuk memaknai tren pemuda zaman kekinian yang tergila-gila dengan fotografi (modern). Meski tidak sinis, namun pesan Ayu Utami terbaca bahwa fotografi tidak hanya menenteng kamera DSLR kesana-kemari, mengalungkannya dengan penuh wibawa, memoto diri sendiri di depan cermin, atau mengabadikan gambar dengan bidikan tajam. Lebih dari itu, fotografi adalah seni kolaborasi antara mata, warna, ruang gelap cuci cetak, dan insting. Sekali lagi, belum-belum saya sudah ‘ditampar’.

Pada bab Hitam, kita akan dibawa pada cerita abad dimana Lalita merasa pernah hidup di dalamnya. Anshel Eibenschutz yang tidak lain adalah kakek Lalita, menjadi tokoh sentral dalam bab ini. Dijlentrehkannya semua riset tahun 1900an dengan utuh oleh Ayu Utami, tidak lain untuk menjelaskan nama-nama dalam sejarah sekian abad lalu menjadi hidup. Hingga mungkin bagi pembaca awam seperti saya, harus mengulang dua tiga kali untuk mengerti alur dan kaitan satu sama lain. Sebut saja psikoalanisis Sigmund Freud yang hadir menjadi guru yang mengusir Anshel dari ruang diskusinya, mitos vampir dari cerita Vlad Sang Penyula, kemiripan Copernicus dan Galileo yang melihat alam semesta dalam model konsentris/heliosentris, semuanya dipertemukan dan dihidupkan dengan presisi.

Cerita menjadi utuh dan akan dibawa ke abad 20 ketika Anshel memulai pencarian diagram-diagram konstentris atau mandala yang dianggapnya sebagai struktur dasar yang ada dalam alam semesta. 156 halaman hingga bab Hitam ini saya habiskan dengan tercenung dan sengaja tidak menamatkannya saat itu juga. Saya memulai 'momen autis', sudah menghabiskan berapa banyak buku kah si pengarang ini dalam merangkai kata dan memadatkan ikon-ikon sejarah sehingga menjadi lebih mudah ‘terbaca’?.

Anshel kemudian melanjutkan cerita si Pengarang buku ini ke Tibet, disana lah ia lebih mendalami apa yang ia cari. Mandala masih menjadi tradisi bagi warga Tibet. Ajaran-ajaran Buddhisme memikatnya, ia mencukur habis rambutnya seketika ia tahu bahwa Buddhismelah yang ia cari, bukan teori-teori Freud yang dulu sering ia sangkal. Dua orang teman Tibetnya menyarankan Anshel untuk berhijrah ke Sumatra dan Jawa Tengah dimana mungkin saja jawaban akan axis mundi, pusat dunia, atau konsentris bisa ditemukan.

Pada bab Merah, buku ini mengajak kita kembali ke era kekinian dengan komposisi trio Sandi Yuda-Parang Jati-Marja ditambah lagi Lalita. Hilangnya buku catatan indigo yang berumur ratusan tahun di rumah Lalita serta ditemukan secara tragis wanita indigo ini setelah diperkosa di rumahnya, menjadi warna penutup yang klimaks. Namun sesekali kita diajak untuk menengok abad ke-20 dimana Borobudur membuktikan dirinya memiliki apa yang seluruh dunia cari yaitu axis mundi, konsentris atau poros dunia. Relief Karmawibangga atau lantai dasar Borobudur dahulunya ada, sebelum akhirnya ditutup kembali pada tahun 1890-1891. Lagi-lagi saya ‘ditampar’ kanan-kiri depan-belakang. Apa yang saya tahu tentang Borobudur?, tempat wisata?, candi yang masuk ke tujuh keajaiban dunia? versi siapa?, arca-arca yang seenaknya wisatawan main ambil foto dengan mendudukinya?. Tidakkah di antara kita ada yang ‘merasakan’ bahwa Borobudur bisa saja sebagai ‘love letter’ dari para pendahulu kita?.

Kepingan-kepingan berlabel tanda tanya di atas belum cukup untuk menandai betapa buku ini sangat bernyawa (setidaknya bagi saya). Sehari sebelum saya membaca Lalita, saya mengerjakan tugas pekerjaan translasi saya dengan tema museum. Di dalamnya saya menyelami Museum Nasional, arca Adityawarman, Parvati-Siva, candi Mendut, sejarah Nusantara dan segala sensasi museum yang lembab, dingin, memberi kesan misterius dan mendalam. Malamnya saya membaca Lalita. Ini kebetulan macam apa!. Saya berteriak dalam hati, mendapati pola aneh. Apa yang saya kerjakan sebelumnya mampu mengantarkan saya pada seri lain yang hampir sama. Sesuatu yang tidak berhubungan sebab akibat tetapi berhubungan makna.

Belum selesai di sana, sewaktu saya menjeda sebentar Lalita hingga bab Hitam, saya meminjam film DVD dari tetangga kamar. Bukan bosan, tapi saya mau membaca lagi Lalita di lain waktu yang lebih menjamin poros pikiran saya bersinergi. Saya masih terbata-bata akan pola ‘kebetulan’. Tahu apa film yang disodorkan tetangga kamar kepada saya? The Dark Shadows!. Saya tahu itu tentang vampir dilihat dari Johnny Depp sebagai Barnabas Collins yang duduk di singgasana di sampul film, tapi saya tidak sesadar itu dimainkan dalam ‘kebetulan’. Beberapa dialog dalam film mencatat kembali apa yang sedang saya baca sebelumnya. Setiap kita punya sisi gelap, setiap kita punya bayang-bayang. Merinding? Tentu saja.

Pikiran saya lalu berlari kejar-kejaran dengan kebetulan-kebetulan yang terjadi sepanjang hidup. Semakin kencang larinya, semakin pusing saya dibuatnya. Seakan semua yang saya lakukan bermuara pada diri saya. Lambang aurobros, ular yang menelan ekornya sendiri, sebuah simbol dari zaman pagan Mesir Kuno menjadi selingan di bagian akhir Lalita. Saya ragu-ragu membenarkan jika kebetulan-kebetulan yang terjadi adalah dari dalam diri. Seperti Anshel yang merasakan desir lebih kuat ketika pada momentumnya ia memutuskan perjalanan ke Jawa. Ia, diberi ucapan selamat oleh kawannya, Tuan Bell dengan memainkan piano dari komponis Claude Debussy berjudul Pagodes!. Belum selesai disana, Tuan Bell membuat pengaruh musiknya dengan bunyi-bunyian gamelan jawa!. Claude Debussy, pagoda, dan gamelan Jawa adalah jembatan kebetulan (yang pernah disaksikan) Anshel di masa kecilnya hingga tiba saatnya ia harus melihat Jawa. Mungkin saya atau di antara kalian yang pernah berkebetulan senada dengan Anshel akan juga mengalami momen 'tiba saatnya'.

Saat kalian sesekali bertanya, pernahkah menganggap jika alam semesta, indera, warna yang tertangkap kornea, bisikan yang terabai dengan sengaja, akal budi, partikel, semuanya menyeutuh dengan memberi kesempatan kepada kebetulan-kebetulan itu ada?. Sebagian hanya mampir sebentar, sebagian menyapa agak lama, terkadang sempat memberi makna atau (justru kita menganggapnya) hal yang biasa?. 

November 21, 2012

Two Broke Broken Heart Girls

Malam-malam ini, ada two broke girls yang lagi broken heart entah kenapa yang satu, lagi suka ama hashtag Pecah di Ubud, Pecah di Nusa Dua, dan pecah-pecah yang lain, yang satunya lagi nyeriusin CLBK sama facebook.

Tau apa yang mereka lakukan malam minggu di kos?. Mata dan gerakan tangan mereka gesit pindah kesana kemari, memindai dan mengais-mengais benda-benda di kamar, berharap menemukan lembaran uang yang ditinggalkan secara alpa jaman kejayaan masa lalu yang kaya. Haha.

Jadi adanya sepuluh ribuan, lumayan lah bisa buat beli pengganjal perut yang gak setengah-setengah mengganjal. Jadilah two broke broken heart girls ini dengan pakaian yang nyaris tidak menyiratkan kegemilangan hidupnya (di tanggal muda), menyusuri jalan menuju pasar sayur tradisional.

Beli tempe dan kembang kol, sama bumbu semacam bawang merah-putih, two broke broken heart girls ini bangga bukan main kalo dengan sepuluhribuan bisa survive di metropolitan. Telur di kulkas sudah tinggal plastiknya, minyak goreng sudah tinggal botolnya, masih ada mentega dengan sisa-sisanya yg nempel di ujung-ujung plastik pembungkusnya. Gas di dapur (untungnya) masih di subsidi gratis sama bapak kos.

Two broke broken heart girls ini lupa kalo beras mereka tinggal satu cup.

"mayan lah buat seporsi makan malam" bilang si broke girl yang pertama sambil mulai ngupas bawang.

"Lu makan jangan maruk fokus ke nasi, banyak-banyak minum aer biar berasa kenyang ya ntar". Nasehat broke girl yang satunya sambil ngiris tempe.

Sambil sesekali yang satu, yang broken heart gegara selalu ketemu sama pacar yang beda agama bilang:

"kapan ya bok gue kawin?".

Satunya, yg broken heart akibat pacaran-lama-belom-tentu-bakal-nikah bilang:

"lu kawin udah bisa kapanpun, umur lu udah emergency, cuman kapan nikahnya entar dulu".

Lalu si broke girl yang tadi ngupas bawang dan berlanjut ke nguleg bumbu, mulai nangis sesenggukan. Berasa kayak sinetron, dia nangis bombay sambil bilang,

"lu fotoin gue ya sambil nangis kayak gini, tapi ulegannya jangan lu ambil".

Pasrah si broke girl satunya iya-iya aja sambil motoin pose request menggelinjang itu.

Si broke girl pengupas bawang mulai bernostalgia ke jaman dimana dia digdaya dan jadi primadona pemberontak di SMA. Broke girl penggoreng tempe yang pasti yakin hasil tempenya item eksotik (gegara minim minyak) nimpali sambil bilang:

"iya bok, dulu gue pernah bikin guru di sekolah marah tingkat dewa sambil gebrak meja. Seisi kelas nangis, gue cengar-cengir doang, gue gak ngerti kalo gue salah".

"Lu emang heartless and senseless kayaknya bok(?). Lu tau ga, gue dulu tiap taun baruan selalu kabur dari asrama, tapi ga pernah yang namanya gue di sidang, licin teknik gue kayak belut" broke girl penguleg bumbu memproklamirkan jenis kedigdayaannya dengan bangganya. "Lu, kayaknya satu atap dan seblok kan sama gue di asrama sekolah?, kok lu dulu gue liat pendiem sih bok?". Lanjut si broke girl penguleg bumbu menaroh curiga, jangan-jangan temannya itu penyusup di asrama sekolah.

"Gue emang orangnya selow dari dulu, sampe sekarang pun masih selow." Broke girl si penggoreng tempe cengengesan sambil nyuci teflon.

"Kita emang ditakdirin jadi bengkok kali ya bok?" broke girl penguleg bumbu bilang sambil mumbling. Lalu dia mulai bikin tumis alakadarnya dengan polanya yang asal masuk-masukin irisan kembang kol. Broke girl satunya lagi naroh prakarya tempe goreng ala kulitnya agnes monica hasil tanning.

Every perfect straight line would have a few broken line fails. For some, there must be a few people that born to be perfect part, other been set up to be fail-then-perfect part.


--Kimmi--




November 20, 2012

Man and Boxes



Laki-laki dan kardus-kardus yang diangkut di atas sepedanya ini membuat saya berhenti sejenak. Apa yang ia lakukan seperti merayu saya untuk mengabadikannya dalam kamera. Ia dengan telaten mengambil kardus-kardus dari beberapa toko lalu kemudian (mungkin) akan dia jual kembali atau didaur ulang?. Seperti makna menggenapkan, ada kaya-miskin, cantik-jelek (meski ini masih relatif), kota-desa, benar-salah. Laki-laki dan kardus-kardus dalam foto tersebut seperti melengkapi majunya negara Singapura dari sisi lain penggenapan. Akan selalu ada orang-orang seperti dia di setiap sudut kota satelit dan tercanggih sekalipun. You can only be lively lived among the mediocre people.

Foto diambil di Haji Lane, salah satu jalan di kawasan Arab Street. Jedalah sejenak dari gemerlapnya Orchard Road, panasnya Siloso Beach, ramainya Universal Studio, lalu mampirlah ke jalan tersebut.

--Kim--

November 14, 2012

Spontaneous

Belum tahu kapan persisnya saya menilai diri dengan presisi. Tahun baru yang umumnya digunakan banyak orang menulis resolusi dan proyeksi hidupnya ke depan dan another blah blah.., Men! saya malah nonton beberapa DVD dan sesekali melongok kondisi langit kota yang menyeruakkan byar-byaran kembang api.

Ulang tahun? Ah, ini lagi. Dulu saya rajin menulis kenangan 'hari jadi' tiap tahunnya. Jangan dibayangkan saya dapat kado mobil seperti Nikita Willy, jangan plis jangan. Teman-teman SMA yang tergabung dalam geng kekurang-ajaran type selalu menghadiahi saya dengan rentetan penggebyuran dan kelakuan lain kaum bar-bar (baca: ngacak-ngacak loker dan lemari baju, kebetulan pelaku tinggal di asrama sekolah).

November 13, 2012

In coincidence


Has anyone of you love what Ayu Utami's wrote?. I have. I love Ayu Utami's composes. from Saman until Lalita. I found some phrases in Lalita which touches me much. It's like I've been there before. That book feels me, that book is eyeing on me. There is no wonder I hit it with spending 3 days after working hours. Let's not forget, I'm such a consumer book with its right precious time to read. I don't want to come understanding the book in hurry. Hurry is exhausting. I sometimes re-read the chapter which slightly caught me. I highlight for stunning words. Why is this so? just because it bloody believed that a small word, even the writer must have been spend a lot time to make it.

You have to bear. I'm working for preparation column to my boss Friday in every week. At that time, I do some materials regarding to temples, statues, history and museum. You know what, back to history topic is dazzling me. I like to prepare to the things I love. If  I don't have a heart to the topic, I rather to do in a half-baked, or whatnot I do is only pretending. Am I not compromising type?, whatnot people say.

November 07, 2012

Movie: Skyfall 007


I'm neither a fanciful person, nor an idealist. I'm in a center of grey, midst of gloomy. When I watch movie, I follow the intuition. I'm neither always watching Blockbuster movies, nor some indies. If I want to watch that movie so badly, people can't get me off. As easy as if I fall, I just fall.

Anyway, movies are not lookalike fashion, aren't they?. You can go to the cinema as you are. No need to dress up or bringing someone special. You go there for watching. Not for other purposes (ehm, dating maybe?). But the point still have: watching a projector film-in a dark chamber. Act like normal people. If you just want to watch, just watch. As I take these words always, I'm not being (or feel) alienation-ed by someone else's staring (do I delivered word cynically uh?). haha forget it.

Oh friends, Daniel Craig awesomely still dazzling people on being Bond. But it is not as wow as before. I think he's getting old, did everyone notice his wrinkles in the edge of his blue sea eyes? Okay, maybe it’s just me. #ignore please.

The story begins in chasing scenes when Eve (Naomie Harris) and Bond (Daniel Craig) racing a car, bike, and brawling  on the top of train to get Patrice (Ola Rapace) who stole the hard disk includes top secret information of  MI6’s body. Took place in a Bazaar Turkey, in a zoom in-out shoot, boisterous trading, yelling  out people, the crashing colorful things, audience won’t missed the eyes off on it.  Whilst the train will pass the tunnel, Eve who still being contacted with M in the MI6 quarter, won’t have a minute to amend the mind to cancel a shot. A target is hardly undetected, while the two wrangling to get the disk. M gives an order to pull the trigger to whomever its shot *my emotion is being shaken it off more by the way*. Patrice is safe, but Bond is falling to the waterfall and assumed death, deep, down, inside. Adele turns the time.

Let the sky fall
when it crumbles
We will stand tall
Face it all together, at Skyfall

Adele's prelude soundtrack gives a mellow tone to audience to follow the stories. That’s the time a flashed text running on my mind: This gonna be a different Bond.

M (Judi Dench)’s capability as a head MI6 is being questioned by Public Inquiry as an attendant of losing the secret data. While she’s being alerted by Mallory (Ralph Fiennes), and back to the HQ, her computer is hacked and a minute later HQ is bombed, eight staff were death. The crisis is spreading on each MI6 body’s function.

Then Bond is coming back to town. The only Bond that M believes and able to solve the matter is only him. Although Bond wouldn’t able to pass the physical test for being an agent again (4 score for shot test, Bond always misses out to shot the target), M hides the result and allow him to track the trail of the MI6 enemy in Shanghai.

Mostly filming location took in London and Shanghai (even Scotland: Skyfall Bond’s lodge took in Elstead Surrey UK), Sam Mendes seems like deliver the calmness and solitude message of the whole film and “no more glamorous and hi-tech in this Bond okay?”

Forget about shaking wine, gambling trick, and seducing woman a lot, in Shanghai, Bond took a while time only. This is when I can say again, this series lack of glamorous sense (personally I like it!, exaggerate sometimes is boring). It really shows that Bond is a human too. This signs when Q [(Ben Wishaw): oh yes he is adorable geeky face! I don’t believe he is starring as Jean-Baptiste Grenouille in Parfume. Not bad acting] talks to Bond “What? Were you expecting an exploding pen? We don’t do that anymore”, Q getting an answer of Bond’s expression while receiving the tech: a gun which only his hand detection can use it and a small radio which find the location wherever he is.

In Shanghai, Bond meets Sévérine (Bérénice Marlohe). She leads Bond to see Silva (Javier Bardem). This is the humorous of James Bond movie's character, I don’t see that Javier who starring as Juan Antonio in Vicky Christina Barcelona could be a very smooth and best as Silva. I’m mumbling and laughing to myself that Silva is a twin of Indonesia comedian; Komeng. (here the picture of him). LOL! another imaginary.

To any scenes, I proud Silva’s act most. He’s doing his job as a ’human’ murderer. He has an unpleasant memory as a former agent MI6. So that he crumbles against MI6 as revenge. I should say that the reason and the intention are quite acceptable and humane for the entire James Bond movies ever. Silva is captured by the Bond’s power guards (thanks for the small radio!), and being jailed in a MI6 underground HQ. But Silva is clever (don’t play a trick with Bond agents), while Q is encrypt the Silva’s computers; Silva escapes from the tube jail, and ready to shot M for delivering his anger. But Bond unaccomplished Silva’s mission, and save M and drive her to the far, far, far away from London. Scotland. 
"Hold your breath and count to ten"


Welcome to the Skyfall. It is the Bond’s childhood, the place where Bond hurts as an orphanage, and recruited to be an agent by MI6. With three of them (Kincade as a lodge keeper), Bond arrange the traps to welcome Silva. Again, no more huge guns, a fantastic tech, a perfect weapons, lodge doesn’t provide any kind of, as Kincade (Albert Finney) told to Bond and M: “sometimes the old ways are the best”.

With the two LPG (liquefied petroleum gas) Bond is trying to explode the lodge by saying: “Oh I hate this house”. He follows the tunnel way-out to the chapel where M and Kincade were there earlier. In the midst of escaping, he’s been brawling by Silva’s guards, in the top of frozen lake. As Bond pull the trigger to break the ice, the guards were falling down to the crazy cool water, Bond still rescue himself. He has been there before, in a waterfall. Enjoying death.

In the chapel, Silva finds M and Kincade, and forces M to shot her and him both. Bond is coming, and kills Silva by throwing a knife in his back. But M collapses from earlier bounds, and here we go, not the beautiful woman in the Bonds hands, but Mama takes the place. Another touching and old final scene uh?. 

All I got from this movie is: do and solve everything with the old ways!.
From the first (as always a rush actions as a prelude), antagonist actor, fighting scenes, plot, script, title, soundtrack, until the sad moment, they perfectly wrap these in the old fashioned. Some people says that it is fine when you don’t watch. It does not tend to be like that. Skyfall is not plain, it’s more sentimental, and it’s melancholy.

Scotland to be the final setting place which is very cold, leads to be a perfect the plot. I floated to the emotion like Bond felt (Ohyeaaa?). By mentioning "Skyfall", the chest an extra mile speeding becomes narrow, cold and warm to be one. Suddenly I little bit dye. *haha sorry, a bit drama*

I think this is a humane of James Bond ever, who Bond is not a big person without feeling hurt or weak. It’s logic. By taking an old version, the ending is not as dramatic as the usually Bond; exaggerate exploding, fire or bleeding everywhere. (It is an old, isn’t it?).  Just hear what Silva highlighted: England... Mi6... *pheww..* so old-fashioned! 

So, from 1-10 band score, I probably give it the 8.

Enjoy the heart beating of spelling Skyfall people!

--Kimmi--




October 22, 2012

Ramadhan Blues

"What are you having darling?"

"A main course and mineral water, and you?"

"Coffee, a black coffee"

Semenit setelah menyelesaikan order, kami berdua mulai dibuat sibuk dengan gadget di tangan. Kami, masing-masing mulai menelusuri ruang dan waktu yang berbeda, menjaring pikiran-pikiran yang terliar di luar sana, mencecah gambar-gambar penuh pesona, mendatangi tulisan-tulisan yang melambai-lambai penuh pikatan. Kami baru akan menghentikan aktifitas berselancar di dunia maya dan kembali ke alam "asal" ketika sang juru antar makan yang berambut ginger kekorea-koreaan itu datang menyajikan pesanan.

Layar besar di cafe ini menjadi distraksi kedua setelah seperangkat alat komunikasi digeletekkan di atas meja. Oh nampaknya sedang ada siaran pekan olahraga tingkat dunia. Lagi-lagi tidak ada komunikasi di antara kami, ya terang saja karena kami sibuk makan. Namun tetap sesekali menengok sepintas ke alert signs yang  berkedip-kedip seperti menyimbolkan alat perbudakan komunikasi saya on running position. Another distraction.

Akhirnya mungkin kalian kira pertemuan ini tak ubahnya dua orang yang berjumpa dan bertemu raga namun jiwa sedang absen tidak hadir entah kemana. Malam ini, malam Ramadhan. Angin malam jelas tak baik bagi badan, namun tetap kami hela dan lawan demi bisa bersua. Ia datang ke Jakarta untuk bertemu saya. Namun rupanya perjumpaan dua orang secara fisik tak menjamin keduanya benar-benar "hadir" di tempat. Ah anak muda jaman sekarang.

Kami setidaknya sudah membicarakan "apa maumu-dan apa mauku", dengan berlembar-lembar tulisan yang berisi masalah dan solusi yang saya tawarkan. Ia memberi waktu longgar dengan menambahkan lembaran kertas lagi dan meninggalkan saya sementara untuk melihat konser band beraliran musik metal di seberang cafe. Dengan secangkir coklat hangat emosi saya bermain maut dengan apa yang ingin saya tuangkan. Kami memang tak sepakat dengan saling berbicara pada malam itu, karena hanya akan berujung dengan pernyataan terbuka sementara. Dengan menuliskan segala sesuatu yang dirasa, setidaknya tidak ada lagi obrolan yang mau menang sendiri saja. Berharap tidak ada lagi makna yang bias, karena percakapan kami yang tercipta sudah berupa cabang-cabang dari mapping yang saya bubuhkan di atas halaman satu hingga lima.

Aneh memang, tapi begitulah kami.


--Kimmi--





October 09, 2012

Off to Kuala Lumpur (Bangsar)


Hi There!

I've been traveling around Kuala Lumpur last week for about 3 days. It was tiring but fun. Paced my feet on the wet way around landing area at LCCT has been blowing my mind far away to the range of peacefulness, frigidity, cold, and felicity. I am indeed a person who comfy the mood into the weather. And I love raining (It is no wonder I welcome so much to September and the rest months afterwards). I hate an extreme sun. But I still don't mind of perceiving the warm sun shining on 7-8 AM or the sun shine after the long night raining.

Anyway I got my Sky-Bus for leaving LCCT to KL Sentral. It costs 9 RM (approx IDR 30.000). You can buy the ticket to the booth in exit area or nearby the guest arrival doors. I have appointment with my friend in KL a week before to meet up. I met him at KL Stesen Sentral after having an over 30 minutes to wait. It because of my communication device called a Blackberry Sucks! was very suck! (and so the provider). I have been following the tips to register the linked-provider and set to the roaming and bla bla just a day before departure, but technically it was a perfect failure. Other panic was either I can not lead my friend to find my position or there will be a news on papers tomorrow " A cute girl was found at KL-Sentral fainted after a long hours waiting so long her friend picking her out". Haha. Another "gooood" were my friend at Jakarta and KL called me, the BBM also still running. Yes, you can guess it, the credits on my celly utterly decreased into a limit. *sigh*

My friend picked me up me in front of Information Desk at KL-Sentral, Oh God, the unyu and comel girl was just rescued out from the unsafe world. Haha. We then moved into Bangsar Kedai, (forget to capture togetherness of us) just because we talked and talked and talked. We chatted about bilateral issue (ciyeeeh...crucial topic eh?), Melayu languages, movies, singer and the bands (and that time Noah has a concert at KL), what Melayu means, and Indonesian workers at Malay. Until the friend of mine (who has already stayed and will accompany me at my office apartment) called me, we should have ended up the lepak-lepak chill (bahasa: nongkrong).

KL was just same as real Jakarta on SUNDAY. No more traffics (yes!), and differentiate for both is KL often of getting rain rather than Jakarta. Having a seat in a back with my luggage (men are in front) gave me a chance to view Bangsar out of windows freely *AADC scene eh?*

End up searching to the streets, after all, we found out the apartment building which is the opposite of Menara Bangsar UOA. The crib is taken a place in level 11 (I saw it clearly to the address details, that was right on level 11). It is the old apartment indeed, with standing of many old building around, I then imagining  myself took a scene of The Raid Redemption or some of the scene Hang Over II (Lost in Bangkok), Haha. The lift looks so frightening, old, and use a material steel doors. We've already at level 11 but we couldn't find out the crib even I already stepped up and down the length of the aisle level 11. Then we were going down to the base level to pick up my friend. She wasn't there, she said already in the level 11. We were going up again. Huhu. Finally my friend bumped me (with the "hosh-hosh-hosh breathing", she just back and forth between Menara UOA to the apartment to catch me down), she then lead me to the level 11 1/5!. There is a branch stairs in front of the lift that show us to the 2 rooms left of level 11. "seka keringat, kibas saputangan* Phew!

Having a glass of Teh Tarik at Jalan Bangsar

Me and my friend decided to go out after finishing some alerts information and confirmation about tomorrow's event in front of laptop. It was 1030 pm already, and we couldn't find any good warungs/cafes/mamak outside the apartment. FYI, mamak is known for kedai/cafe opening 24 hours which is owned by Hindusthan people. We found some, but we didn't give a try. Because seemingly we're starving enough, and we would like to satisfy our stomach into the 'right bite'. Sight in glance that time shows 1030, we stopped a cab, and drive into Pelita Nasi Kandar. 

Number 1!
I'm having maggie.
My friend having a chicken soup and Teh O'.

Another pictures above are taken when we just prepared the dinner meeting. We bought some foods such as Satay Melaysia, Tofu, and Nasi Lontong. Damas is the name of place. There are some of shops, cafes, high class apartment and medium mall. 

the three unyu commitee at kedai. It is the cozy place isn't it?

Petang at Damas
Put me something
The day later, I and the two friends of mine (he is a Journalist) having around to KLCC. For my second visit  there, I would have a back view of twin towers. We took some photos with a background of Petronas alternately with each cameras in hands. We were asking favors a minute to the couple who passed us by, to take a picture of us. I can see that the girl felt like So-oh-you-piss-my dating-already. Haha we don't care. At least we can captured together, yet the Petronas is cut! :(


the three again

a pond in front of the Suria Building (KLCC)
Kim (me)

We have a great days at Kuala Lumpur. And I can say that these words are echoed my head already.

"I've been caught by Malay's stuff".

: )
--Kim--


October 04, 2012

Let It Rain Over Me

It is not even you look in a glance into my posting, so why do I stalk to your sites?.
It is not whilst you have spare time to 'listen' me and sometimes my activity, so why do I give my particular time to check the whole you did?.
It is not thought you think of me a second, so why do I give my hours to wait your sending words to me?.
I have been waiting you so long, just to say I do I care to you actually.
But your ignorance made me aware. So it is my turn to take my life far away from you.
I let you know,
It is your turn to understand,
That
You are
not
my
business
anymore.



--Kim--


Ps: And I don't give a shit whether 'you' read this or not. I will always write what I want, what I feel, and what I hear. And yeah, Jakarta is raining now. Just finished my notes, I grab my umbrella and decide to go around Rasuna Said to either get wet or feel the rain. I embrace the drop water into my skin. Rain...rain..rain..!


October 03, 2012

Kliyengan

Bulan September!

Bulan kelahiran saya, bulan bahagia saya pernah berjumpa dengan si Bona, bulan ketika semua orang pasang status minta dibangunin kalau September udah berakhir, bulan di mana saya akhirnya kliyengan (sempoyongan). 

Saya harus bolak-balik Jakarta-Surabaya hingga ke Kuala Lumpur demi sekali lagi demi menafkahi diri sendiri (Ya tapi enggak lebay gitu juga sih) . Mayor Surabaya sempat mengadakan kunjungan ke Kuala Lumpur di pertengahan bulan. Saya sebagai person in charge harus mempersiapkan segala sesuatunya in control. Perfectness is particular matter for us.

One Day Trip to Surabaya

Tiket ke KL sudah di book dari Jakarta, dan saya diharuskan briefing ke Surabaya 2 days before departure time. Jadilah saya ke Surabaya in one day trip. Okeh, let's go aja. Jumat pagi-pagi saya berangkat ke Surabaya, Bangun pukul 4 subuh karena taxi sudah stand by pukul 4.30. Saya ambil pesawat pukul 6 pagi. Lalu kembali ke Jakarta petang hari (pakai delay!). Setiba di Jakarta antrian si taxi biru udah sampai nomer 27 aja. Ditambah kawasan Grogol macet parah, jadilah saya kembali ke rumah dengan perasaan nestapa dan sempoyongan tepat pukul 11.30pm.

Tidur dan mendapati mimpi buruk menyeruak di seluruh kendali alam bawah sadar saya itu nyesek banget. Alam bawah sadar saya mempercayai bahwa Sabtu pagi hari adalah keberangkatan saya ke Kuala Lumpur (saya book tiket ke KL pukul 6.25 am), dan saya terbangun pukul sembilan!. Kucek-kucek mata, dan mengambil kalender, yeah it's true today is not my exact departure. Ambil hape, berkicaulah saya "Thanks God, Today is Saturday, I thought it was Sunday".

Absen hip-hop dance dan yoga di hari Sabtu, saya membangun energi positif bahwa saya akan sehat kalau saya percaya saya sehat.  Saya beringsut untuk menghalau "aura bantal guling" di lubuk hati terdalam dan jasmani saya (Euh! le le le lebay). I went to All Fresh market and I ate lot of fruits  that day. Entah karena stress entah karena kecapekan, I don't give a damn. Ohya, ada lagi yang perlu dibereskan, kolom yang belum selesai diterjemah. Malam minggu saya habiskan di depan kendali laptop dan seonggok travel bag yang minta dijamah. Oh I hate packing.

Berangkat ke KL

Kolom yang dibereskan 'agak berat' pula temanya, tentang US Elections. Lepas midnite akhirnya saya menyelesaikan packing dan kerjaan. Pagi di hari Minggu saya bangun pukul 4 lagi. Sepanjang perjalanan menuju Soetta, kantuk itu sudah hilang terbang terbawa dinginnya udara pagi. Saya nih ya, udah niatan untuk beli hot milo di mesin otomatis terminal 3 ruang tunggu penumpang. Tapi ternyata pecahan lima ribu dan sepuluh ribu saya udah habis dipakai bayar taxi tadi. Yasudah akhirnya mood saya agak kacau pagi itu. Untunglah AA tak ada delay. Saya mendapatkan window seat dan (lagi-lagi salah pre-book menu sarapan yang terlalu berat). Nasi Lemak udah di depan, harus saya makan.

Setiba di LCCT, saya baru sadar ternyata Kuala Lumpur baru saja diguyur hujan,. Lapangan landas basah, bau benda-benda tersentuh oleh air hujan saya hirup dalam-dalam. DAMN! I GOT THIS FEELING!. Oke, oke that particular part I'll tell you apart from this.
a view from my window

a view before landing at LCCT

Saya kembali ke Jakarta pada hari Selasa malam, AA ada delay. Akibatnya agak larut setiba di Terminal 3 Soetta. Sampai ke rumah sekitar pukul 11.30 pm. Lusa kantor libur karena ada Pilgub DKI Jakarta. Saya harus menemui teman dari Iran untuk sekian lama bikin appointment, baru ini bisa terjadi. Sambil sesekali berkomunikasi dengan Bahasa Persia, akhirnya saya mengaku kalah. Bahasa Persia saya banyak yang sudah hilang. Sedihnya..

Setelah drop sebentar di Carrefour, saya pulang dan baru ingat ada Gala Dinner Maybank-BII di Pasific Place pukul 6 petang. Saya kesana dan pulang cepat pukul 9 malam. And it's turn I call "I love weekend". Jumat selepas kerja saya menghabiskan waktu 'menyenangkan diri' di Pasar Festival, I need to buy girls' stuff. Sabtu saya ada janji ke dokter gigi untuk medical check-up. Karena ternyata ada gigi geraham yang tumbuh tidak simetris yang mengakibatkan kata "cenat-cenut" happening lagi (setidaknya dalam minggu ini bagi kehidupan saya, Oh Crap!). Saya harus foto rongten pula. Okay, preparation tooth surgery (baca: mulai minum obat penahan rasa sakit a.k.a stop makan yang enak-enak) ini akan dimulai hari Kamis untuk Sabtu sebagai hari H nya.

Silaturahim ke Soetta

Minggu pagi-pagi saya harus naik Damri ke Soekarno-Hatta. Ini bukan melancong dan tugas lagi, melainkan saya menepati janji untuk silaturahmi ke kakak tingkatan sewaktu kuliah dulu (si Teteh). Mereka memiliki rumah di komplek Garuda. Ohya, saya jumpa dengan si unyu-unyu Tiara, putri si Teteh yang masih berumur tujuh bulan. Sayapun diajak ke rumah orangtua si Teteh, yang sama artinya dengan berjumpa dan mendapatkan obrolan seru dengan adik cowoknya. Satu angkatan, satu ospek, beda jurusan, dan sering ketemu di Pare, Kediri membuat obrolan saya dengannya gak bisa keputus. Warm Family..., nice. Saya baru pulang ambil Damri lagi sekitar pukul 7 malam., turun di Gambir lalu naik Kopaja 20. Sampai di rumah pukul 9.30 malam.
with Mutiara Fakhira Salsabila


Monday, Tuesday, Wed, Thru are the days which I have to prepare talking points to Surabaya trip that will be going on Friday. Ya, saya harus ke Surabaya lagi untuk kunjungan follow-up. Untungnya kali ini saya gak sendiri, ada rekan dari Jakarta yang ikut menemani. That will be better.

Pergi ke Surabaya Lagi

Jumat pagi saya bangun pukul 4 lagi, taxi sudah standby pukul 4.30. Pesawat kami pukul 6 pagi. Semalam sebelumnya saya mampu memejamkan mata pukul 1.30 pagi. Ini karena sabotase waktu dari teman saya di Malaysia, bahwa dia mengumumkan pernikahannya thru WhatsApp!. Praktis dua jam setengah waktu istirahat saya. Maunya sih bisa istirahat di dalam pesawat selama satu jam, lumayan. Eh tapi, enggak jadi. Kami habiskan waktu di pesawat untuk brush-up talking point dan question list yang ada. Acara agak padat sampai malam. Saya memilih untuk tidak kembali ke Jakarta, pun tidak pulang ke rumah malam itu, karena terlalu larut. Akhirnya saya menginap ke rumah sepupu di Surabaya. Lama tidak berjumpa juga dengan sepupu yang sudah dikaruniai anak berumur dua tahun. Mereka sebenarnya akan tiba dari Ponorogo ke Surabaya dinihari. Jadi mau tak mau, akhirnya saya masuk rumah orang tanpa ada penghuninya, dan cepat pergi tidur dengan lelapnya!. Sedikit engga peduli gitu ya?.

Kawasan KYA-KYA Kembang Jepun


Pulang ke Jember

Pagi di hari Sabtu saya ada janji berjumpa dengan si Bona di Surabaya. Karena jadwal bus saya ke Jember pukul 11.30 am, maka kami berjumpa dan berbagi kabar di terminal. Ah...jadi teringat perjumpaan dua orang kekasih di terminal yang sering muncul di film Rhoma Irama, and I did.

I just reached my hometown before 5pm. Finally...enggak nangis-nangis seperti kejadian pulang kampung Lebaran bulan lalu akibat bus yang jalannya lambreta (lambat bangeet). FYI aja, bus jurusan Jember dari Probolinggo biasanya nih ya, suka banget geyal-geyol sana-sini, macam bus wisata kota. Pengen deh rasanya ngasih mercon dari belakang Pak Sopir atau pengen deh ngasih duit limapuluh ribu cuma buat memohon "Pak...tolong dong ya bus-nya dicepetin dikit mampu gak?", atau pengen neriakin "Sinih pak, biar gueh aja yang nyetir".

Minggu pagi berada di rumah dikacaukan dengan reaksi perut saya yang menandakan asam lambung naik-naik ke puncak gunung. Batin saya "Ah Finally!". Udah lama maag saya enggak kambuhan kayak gini. Bahkan obat maag yang dulu jaman kuliah menjadi item wajib yang saya tenteng kesana kemari udah expired kali  ya di kos. Malam harinya saya harus jadi speaker (ceilah speaker!) buat acara di Pesantren dekat rumah. We invite also our Kansas friend to join. Dia baru empat bulan tinggal di desa saya. Namanya Blake, orangnya ganteng (Ahay!). Dia jadi volunteer dari program DIKNAS sebagai guru Bahasa Inggris di Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember. Blake bilang sih, dia dikontrak Diknas selama dua tahun, if everything goes on planned. We both float either his story or my story. Iya, Blake emang asik diajak ngobrol ngalor-ngidul.

Ke Surabaya untuk kembali ke Jakarta

Senin paginya yang seharusnya bisa saya buat untuk operasi gigi, harus batal karena ternyata perut saya gak bisa diajak kompromi. Selain maag, diare pun menyerang. Judulnya "Operasi Gigi yang Tertinggal". Sebab seharusnya terlaksana di Sabtu kemarin, pun di Senin tidak bisa dilakukan. Pesawat saya kembali ke Jakarta petang hari. Namun seperti biasa, saya harus berangkat siang hari. Jember-Surabaya harus saya tempuh setidaknya empat jam. Dalam hati was-was, takut aja tiba-tiba saya harus turun di tengah jalan hanya karena mau cari toilet. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti.

Anak Garuda yang saya naiki menuju Jakarta ini tumben ya enggak delay?. Pas banget ketika saya selesai makan di Singgalang, terus dipanggil untuk masuk gate 7 langsung masuk pesawat. Gak disangka, di dalam pesawat saya bertemu kolega kantor, founder @GNFI. Sayangnya, duduk kami berjauhan. Parahnya saya lupa namanya!.

And here we go, saat ini saya sedang duduk di kursi kantor, sambil menahan mules tiada tara. Ya teman, saya masih kena diare. Dan rasanya bit suck!. Harus selektif dalam memilih makanan. Semoga nanti malam perut saya enggak tambah parah hanya karena saya memulai program belajar TOEFL dan IELTS lagi. Iya, saya harus brush-up lebih keras. Si Bona yang jadi tutor saya dari jarak jauh, dan itu lebih horor teman. #IfYouKnowWhatIMean.


So, kalian udah boleh bangun sekarang. Karena September udah usai. 
Welcome October!


---Kim---

September 10, 2012

8 September 2012: Earthy Things



If I have time for having some ages. I would become a better person. (Yeah, does it echoed cliche?). A better me ahead, that myself can only measure the goodness. Indeed, I would 'enjoy' my life more and more. I don't need to think hardly  for gaining money, money and money. I'm neither a pretty penny person, nor pretended everything will be good without money. I just highlight that money is not everything for me anymore. I want to left them behind, just to let my life easy and far from burden things. As this is Jakarta which a city won't stop to turning over money, doesn't mean my days is in its wheel.

I'm happy within 25 years that God still allow me to breath. I'm blessed with long live, health and prosper. Whilst since high school I have out of home, I still own my family in my every single distance day of course. The sisters who coloring my paradigm value, the parents who have a health condition in their around 70th old years. The brother who love my family. The fun relatives, solid cousins, cheers nephews, the good friends, and so on.

What should I say more?. What God favors given me that I deny?. I don't want to ask, ask, ask again and again  to God. Asking many things doesn't react expressly you being a rich body but kinda forcing God to do what you want. So what is the point?. Okay, this is not a preaching essay, I remind myself. Let them to be my own opinion.

Acapkali kita lupa atau terkadang meremehkan hal-hal kecil yang ada di sekitar. Mungkin tak jarang di antara kita menganggapnya hal sepintas lalu yang tak bermakna. Namun sebagian adakah yang masih berfikir bahwa hal kecil adalah inang, embrio dari sesuatu yang sudah besar?. Seringkali saya menginginkan hal baik menjadi rutinatas, pun dalam berfikir sederhana, sesederhana kita 'bisa melihat' hal-hal kecil bermakna di sekitar kita. Kali ini, saya berdoa untuk itu. Untuk tak lalai dalam 'melihat' susunan-susunan kecil yang Tuhan sudah rangkai untuk kita. Hal-hal remeh yang sejatinya justru mengimbangi hal-hal hebat lainnya ada. Kalian percaya kan jika sesuatu hal kecil datang terus menerus, itu berarti mereka sengaja datang mencubit dan menyapa, bukan lantas ditidakacuhkan oleh kita. Pernahkah merasa hal-hal kecil yg sering nampak di depan mata, sering menyapa raga namun justru terabaikan?. Apa kalian juga masih belum percaya jika hal-hal kecil ada muncul bukan tanpa alasan?.

Terimakasih Tuhan, ada Ayah yang selalu murka jika saya suka bangun kesiangan sholat subuh di rumah. Ada Ibu yg memarahi saya dengan sinisnya saat tau H-1 Ramadhan saya masih ganti hutang puasa.  Ada teman-teman baru yg memberi warna, iya saya jadi olahraga hip hop dan yoga gara-gara ajakan mereka. Ada tanah kelahiran yg tidak panas seperti Jakarta, meskipun menempuhnya butuh ganti bus berkali-kali, oper sana oper sini yang seringnya berakhir pada gumaman kesal dan sesal "mengapa mencapai rumah saja susah sekali?". Ah.., saya lupa untuk ingat kalau surga dicapai dengan bersusah payah juga bukan?. Saya juga sudah tidak pegal menjalani rutinitas belajar menulis di blog; dan mendapatkan banyak pembelajaran dengan blog walking. Bahwa ada dua dunia, maya (setiap 5x dalam seminggu, 9jam dalam sehari) yaitu ketika saya menyapa dan 'bercengkrama' dengan orang-orang baru dan dunia nyata saya dalam keseharian yang membuat saya banyak belajar.

Terima kasih Tuhan atas segala karunia yg terlimpah dalam seperempat abad umur ini. Tidak ada lagi kebiasaan lupa terlalu lama simpan makanan di kulkas, tidak ada lagi kebiasaan menyisakan kue sebiji di dalam tupperware. (My worst!). Bahwa masih ada durian montong kupas dan pisang ambon serta buah-buahan lokal yang belum musim di All Fresh Store adalah kejutan nyata yang tidak bisa dipungkiri. Dan tahukah kalian jika September tahun ini, tepat sehari setelah hari ulangtahun saya, tanggal 9 adalah pernikahan sahabat saya di Sumatra, lalu sehari kemudian tanggal 10 adalah pernikahan sahabat saya di Malang. Uwoooo....mereka membuat September saya kali ini makin seru saja ya? *jitak satu satu ke kalian yang milih marriage date paling fenomenal dan memorable*. Nah, dari sini saya bertaruh akan kembali kepada hidup yang sehat, jiwa yang sehat dan (bukan) (di ) kuat (-kuatkan). Hahaha Own my words!. 

Well, dari yang terbaca mungkin tidak salah jika dibilang ucapan syukur saya mungkin masih di tingkat bawah yang merasakan nikmat Tuhan dari yang dicecap, dilihat, didengar saja. Untuk hal-hal dimakna dan dirasa masih jauh dari fasih, namun biarkan itu menjadi keintiman saya dengan Sang Pencipta. Bahwa terkadang saya mengira diketidaksengajaanNya ada kesengajaan yang Tuhan cipta dalam setiap sesi hari-hari saya. Tuhan pasti tahu sebenarnya apa yang terbaik bagi saya, to be honest and true: saya merasa cukup dengan nikmat yg ada.  I believe a complete puzzle can be perfect by set the little piece one by one. Let's embrace the ups and downs!.



Selamat Hari Jadi untuk Kim, Kimmi, Fahma, Fahim, Windu.


---Saya---



September 05, 2012

Been a week in Random Phase

I do random things sometimes. Been a week, I surfed to blogging sites. Drop my self a half time in my whole loading work time a day there. From Nila Tanzil blog, Morgan Mellish blog (and knew that he has passed away by accident trash GA 200 in Yogyakarta, May God bless him), Dwi Putri who won a prize ticket to festival Jailolo (how lucky she is) until Muhammad Alfayyadl's note in which telling a prelude story came to Paris.

I almost read all Nila Tanzil wrote in her blog  from past to the now. Yeah, I keep curious to the what-happened -with-her after her boyfriend has been long away leaved her. Surprisingly, I didn't find any sad stories in her blog. I guess that she kept away her personal things into public. I think she right. She probably agrees with "don't let somebody look pity on you by your trashing  your real life stories a.k.a curcol into your social media". Dwi Putri also has D(e)wi Fortuna in her life (I guessed). Look, she won a prize to festive The Fest Jailolo in about 20 days! what a heaven eh?. I like the way she writes all the bored things into the good and proper things to read. Surprisingly, she is coming with the same hometown with mine. (So what's in it? Hehe nothing). The already Franko-Indo man, Alfayyadl (difficult to spell it?). He is a man who I saw rode an old bicycle in front of my boarding house in Yogyakarta. Since he is an author a tough philosophy, some lecturers applaud him much and he become well-known. Just looking his face, perhaps you can say that he is plain. But for my personal mark, something bigger hidden behind. 

By surfing, I used to listen Malay songs mostly. Don't ask me why? I just love to do it. Since back then, I can say that Yuna, Najwa Latif, Sleeq, are lovable singers. I mean, trying to listen different sound, the way to sing, the performance can even shape the moods. Have I said earlier that my mood is easily changed by the song (book and movie also)?. I tell you one, I am not an easy person to settle my self with a new friend. Sometimes I feel bit lost when I discomfort with the vibe and place. But just listen to the songs can set my mood into "welcome world, I'm ready to hit your offers". Or just by reading the best chapter of  Dee or Ayu Utami, or another writer imagine me take the part into their book characters. A latter day I become a stranger. Haha. Or in a day I felt so bored with a flat routine going, I tried then to catch a good movie that can be a best choice ever than hanging out with the girls. So that I can say that song, book, movie are never failed!. I'm not a freak geeky movie, a book worm, or even Miss.know everything about music. But can you polarize how could be your days (or my days) survive without a book, movie and song invasion?

My iPod nano (the veryyy old version iPod with 2GB capacity; someone bought me in my 18th birthday) still get its favorable condition till now. In that way because I always take care the stuffs somebody ever gave me. My dvd player and dvd collection both in a good track. I bought dvd player made in China, We obviously know the quality under sign "Made in China" than another sign "Made in xxx" right?. What about my books? ask to my Mom in home. She has a lot of care with my stuffs. You know that I have been leaving home since Senior High School, so I have no time to stay at home for long but in a holiday. I get My Mom to buy the good shelf for my books at home (the big, each shelf has a key, and the front covered with glass).  She did exactly like I ordered. My Mom is best. My Father has a good documenting in particular things. So Probably his nature descent to me. I'm good as well in keeping on track my books since Junior High School up to University. Ask me to the examination papers mark in High School year, I filed most of them in one.

I think one of you ever plunged yourself into the phase you call "I don't know where I've been" or bit lost. The hit word to represent it is maybe "Random". There is nothing wrong with the randomness. For me, somehow it is just a flash of the run looping life. Either notice or leave it behind is everyone's choice. I'm enjoying my random activity, even some judge me a focus disorder person. I don't mind. What I feel just like I have load re-charge energy to be me after doing them. That random.

Anyway, try to listen Yuna songs: Live your Live (producer under Pharell Williams), Lullaby, Random Awesome, Island, Fading Flowers and so on. You will know what I'm talking about.

Yuna Zarai
Have a Wonderful September People! Rain..Rain...Rain..!

---Kim---

September 03, 2012

Pergi ke Kalimantan Barat (Tayan)


We've headed off to Tayan Hilir about 12 noon. It took about 2 hours and more. Best is, jalur trans-kalimantan yang dibangun pemerintah sejak enam tahun silam sekarang sudah bisa dilewati. Sebelumnya, menempuh Tayan dari Pontianak membutuhkan waktu hampir 5 sampai 6 jam karena harus mengitari gunung. Nah, jalur trans-Kalimantan ini justru membelah gunung (gitu deh singkatnya), makanya bisa cepet sampe.

Di Tayan Hilir untuk mendapatkan solar atau bensin sangat susah. Antrean bisa berhari-hari. During my trip to Tayan, saya sempat mendapatkan gambar antrean truk yang mengular tanpa sopir. Bisa jadi truk-truk itu sudah berhari-hari ngetem di sana. Bahkan di Pontianak tidak semua SPBU bisa seharian penuh beroperasi. Terkadang menjelang petang sudah diberi palang dengan tulisan “Bensin Habis” di depan jalan masuk SPBU. Kami sempat kena dampaknya, driver kami yang satunya harus membeli stok bensin secara ecer di pasar Tayan.

Rasanya saya tak ingin memejamkan mata sekalipun melewati jalur trans-Kalimantan ini. Sepanjang mata memandang di jalur yang ‘membelah gunung’ ini yang nampak adalah hijau-hijauan. Sesekali kami menemukan rumah kayu milik penduduk yang hanya berjumlah tak lebih dari tiga rumah, lalu kembali dijumpai pohon-pohonan. Begitu seterusnya. Kalau masih amatir mengendarai kendaraan melewati jalur ini, terutama malam hari disarankan agar berhati-hati. Kejahatan seperti begal, rampok, ditodong di tengah jalan, dipaksa berhenti dan berbagai jenis kejahatan kadang masih ada.

We visited some heritage sites, such as Keraton (kingdom) Tayan Hilir, Tayan Mosque etc. Also we passed by the Pesantren near river Kapuas. The Pesantren has two main buildings, one divided into two chambers (for girls and for a teacher family) and the rest for boys.

Hotter than Miami! (ciyee...uda pernah gitu ke Miami beroh?).
I must admit panasnya Jakarta atau Surabaya dan apalagi Jogja or even Madura lebih panas lagi dibandingkan dengan Kalbar, terutama di kecamatan Tayan Hilir, yang bersebelahan dengan sungai Kapuas. Gak heran ya, karena Kalbar memang tepat dilintasi garis khatulistiwa. Sensasi panasnya pun berbeda dengan panas pesisir Surabaya, panas polusi dan banyaknya penduduk Jakarta, atau panas pulau Madura. I’ve been there mentioned places, but stand in a yard in front of Keraton got my skin with a kind of ‘strongest’ sun. Saya sesorean mengurus acara di sini bersama team, juga dengan para santri dan pelajar Madrasah. I feel the different sensation, a sweat day apart of sunbathe. Buru-buru saya harus mencapai dan memasuki Keraton untuk menghalau panas halaman depan. Keraton yang masih berupa rumah panggung dari kayu membuat hawa terasa lebih dingin.

Here some hits:




Jalur trans-Kalimantan

Keraton Tayan

Santri Putra

Masjid Pesantren


Get some pics by visiting my facebook page or flickr.

Minal Aidin wal Faizin ya. Mohon maaf lahir dan batin.
Cheers!

---Kim---


There was an error in this gadget

Follow