Try to search for The Things?

January 26, 2012

Bahasa Jadoel = Berbahasa Indonesia baik dan benar?

Saya berjumpa dengan orang ini karena sebuah urusan dalam tugas. Saya pikir orang ini ya biasa saja seperti pada umumnya. Sudah berumur, memiliki bisnis dengan cabang bisnis dimana-mana, beristri dan memiliki anak-cucu, menjaga kesehatan, liburan bersama keluarga ke luar negeri, dan hidup bahagia.

Dan ternyata saya memang gak sedikitpun salah kok menilai orang ini, benar semua. Orang ini masih konsisten menggunakan bahasa Indonesia dengan ejaan ala Soeharto (akhiran kan menjadi ken). Di jaman gadget bertebaran dimana-mana, masih ada saja yang berbicara dengan ejaan seperti itu adalah langka sekaligus anugerah. Saya mendengarnya dengan sabar. Orang ini menjelaskan dengan runtut, jelas, dan hampir selalu dengan penutup yang melegakan. Dan saya rasa kawan-kawan sebayanya juga demikian adanya. Berbanding 180 derajat dengan muda-mudi yang sekarang mengakhiri kalimat justru dengan nada sapaan, menantang, pertanyaan dan menandakan kebingungan (eg: maksud loh?, lo kira?, talk with my hands!, helloo…?).

Rasanya senang masih bisa bertemu dan bercengkrama dengan orang-orang seperti ini. Atmosfer yang ada seperti back to 60’s-80’s. Disinilah saya jadi tau mengapa penulis skenario film-film Kak Rhoma Irama masih menggunakan dialog-dialog berbahasa baku. Film-film jadoel itu dikelilingi oleh orang-orang produksi yang masih taat berbahasa, dan taat aturan berbahasa baik dan benar. It’s a bless sampai sekarang film tersebut masih sering diputar!. Sekedar mengobati kerinduan mungkin ya, namun bagi sebagian orang justru jadi komoditi lelucon.

This, however we know kalo intensitas kita digempur oleh informasi ala portal berita yang masuk lewat jejaring sosial ala twitter, facebook, dan piranti canggih blackberry (bbm,broadcast), email, layanan I-pad dsb sungguh luar biasa traffic-nya. Bahasa gaul, alay, ababil dari kanan kiri sudah jamak kita dengar dari berbagai saluran. Lalu apa? Itu menjadi hal yang lumrah ada, pun berdampak buruk juga iya. Kalau gak ikut tau arti-arti tersebut, anda terjamin masuk dalam golongan manusia badged: hello-it’s-2012-you-know!-where-have-you-been?.

Indeed, buruknya bisa disimpulkan pas kita sudah menggenggam jaringan di tangan. Semua berita yang masuk pun boleh dan bisa kita saring sendiri. Kita mau apa, baca yang mana, terserah deh alias suka-suka. Apakah itu penting, serius, sampah, atau cuma “bacaan cemilan” bisa kita baca sekali klik. Semua disuguhkan secara cepat saji. Akibatnya, kita masuk dalam kelompok yang tereduksi untuk menyentuh bacaan/buku yang memiliki bab-bab yang panjang (yang melihat banyak halamannya jadi ogah). Pesan itu adalah: buang semua buku-buku anda, majalah cetak anda, buang semua bacaan yang berparagraf-paragraf panjang ria, buang semua analisis para tokoh-tokoh dalam jurnal-jurnal, buang semua, karena semua ada disini, di layanan cepat saji informasi yang tak sampai 20 paragraf dengan tombol ajaib “enter/ok”.

Alih-alih untuk membaca buku-buku tebal itu, berbicara bhs Indonesia yang baik dan benar mungkin akan menyusahkan kita. Berasa teralienasi dg bahasa sendiri. Kondisi yang formal itu hanya kita temui di seminar-seminar dan tertulis di laporan  penelitian. Sebenarnya saya pun tidak bermaksud untuk berkampanye berbahasalah Indonesia yang baik dan benar dimanapun berada. Hanya saja saya bertanya-tanya pada diri sendiri; apakah anak-cucu kita nanti masih akan terus mewarisi Berbahasa Indonesia yang baik dan benar?. That shouldn't excuse one from offering some thought on where we're headed: kita sekarang masih bisa melihat generasi orang-orang jadul 60's-80's yang solid dengan bahasa Indonesia "kan menjadi ken-nya", bagaimana dg anak-cucu kita nanti ya? they should used to be heard on our very-last-bahasa with kind of "maksud loh?, gilingan lo!, hello...?." Humorious as it is.

Where do we go from here?.

Kemalasan dan Ketergesaan! Layanan 24hours connected to the net membuat kita justru kehilangan berfikir penuh pertimbangan, semua harus tergesa-gesa secepat kita menerima berita dan gossip yang paling in. Malas untuk mengambil buku-buku yang ada di rak. Malas membaca, malas beribet-ribet dengan bacaan yang berbahasa Indonesia baku (kurang maknyus, kurang oke didengar), dan kemalasan-kemalasan lain yang merajalela. Ya, seperti saya ini yang malas nulis jadinya.

Saya pemalas tapi banyak keinginan---tagline dari kawan saya sejak MAN dulu.-----

No comments:

There was an error in this gadget

Follow