Try to search for The Things?

September 10, 2012

8 September 2012: Earthy Things

If I have time for having some ages. I would become a better person. (Yeah, does it echoed cliche?). A better me ahead, that myself can only measure the goodness. Indeed, I would 'enjoy' my life more and more. I don't need to think hardly  for gaining money, money and money. I'm neither a pretty penny person, nor pretended everything will be good without money. I just highlight that money is not everything for me anymore. I want to left them behind, just to let my life easy and far from burden things. As this is Jakarta which a city won't stop to turning over money, doesn't mean my days is in its wheel.

I'm happy within 25 years that God still allow me to breath. I'm blessed with long live, health and prosper. Whilst since high school I have out of home, I still own my family in my every single distance day of course. The sisters who coloring my paradigm value, the parents who have a health condition in their around 70th old years. The brother who love my family. The fun relatives, solid cousins, cheers nephews, the good friends, and so on.

What should I say more?. What God favors given me that I deny?. I don't want to ask, ask, ask again and again  to God. Asking many things doesn't react expressly you being a rich body but kinda forcing God to do what you want. So what is the point?. Okay, this is not a preaching essay, I remind myself. Let them to be my own opinion.

Acapkali kita lupa atau terkadang meremehkan hal-hal kecil yang ada di sekitar. Mungkin tak jarang di antara kita menganggapnya hal sepintas lalu yang tak bermakna. Namun sebagian adakah yang masih berfikir bahwa hal kecil adalah inang, embrio dari sesuatu yang sudah besar?. Seringkali saya menginginkan hal baik menjadi rutinatas, pun dalam berfikir sederhana, sesederhana kita 'bisa melihat' hal-hal kecil bermakna di sekitar kita. Kali ini, saya berdoa untuk itu. Untuk tak lalai dalam 'melihat' susunan-susunan kecil yang Tuhan sudah rangkai untuk kita. Hal-hal remeh yang sejatinya justru mengimbangi hal-hal hebat lainnya ada. Kalian percaya kan jika sesuatu hal kecil datang terus menerus, itu berarti mereka sengaja datang mencubit dan menyapa, bukan lantas ditidakacuhkan oleh kita. Pernahkah merasa hal-hal kecil yg sering nampak di depan mata, sering menyapa raga namun justru terabaikan?. Apa kalian juga masih belum percaya jika hal-hal kecil ada muncul bukan tanpa alasan?.

Terimakasih Tuhan, ada Ayah yang selalu murka jika saya suka bangun kesiangan sholat subuh di rumah. Ada Ibu yg memarahi saya dengan sinisnya saat tau H-1 Ramadhan saya masih ganti hutang puasa.  Ada teman-teman baru yg memberi warna, iya saya jadi olahraga hip hop dan yoga gara-gara ajakan mereka. Ada tanah kelahiran yg tidak panas seperti Jakarta, meskipun menempuhnya butuh ganti bus berkali-kali, oper sana oper sini yang seringnya berakhir pada gumaman kesal dan sesal "mengapa mencapai rumah saja susah sekali?". Ah.., saya lupa untuk ingat kalau surga dicapai dengan bersusah payah juga bukan?. Saya juga sudah tidak pegal menjalani rutinitas belajar menulis di blog; dan mendapatkan banyak pembelajaran dengan blog walking. Bahwa ada dua dunia, maya (setiap 5x dalam seminggu, 9jam dalam sehari) yaitu ketika saya menyapa dan 'bercengkrama' dengan orang-orang baru dan dunia nyata saya dalam keseharian yang membuat saya banyak belajar.

Terima kasih Tuhan atas segala karunia yg terlimpah dalam seperempat abad umur ini. Tidak ada lagi kebiasaan lupa terlalu lama simpan makanan di kulkas, tidak ada lagi kebiasaan menyisakan kue sebiji di dalam tupperware. (My worst!). Bahwa masih ada durian montong kupas dan pisang ambon serta buah-buahan lokal yang belum musim di All Fresh Store adalah kejutan nyata yang tidak bisa dipungkiri. Dan tahukah kalian jika September tahun ini, tepat sehari setelah hari ulangtahun saya, tanggal 9 adalah pernikahan sahabat saya di Sumatra, lalu sehari kemudian tanggal 10 adalah pernikahan sahabat saya di Malang. Uwoooo....mereka membuat September saya kali ini makin seru saja ya? *jitak satu satu ke kalian yang milih marriage date paling fenomenal dan memorable*. Nah, dari sini saya bertaruh akan kembali kepada hidup yang sehat, jiwa yang sehat dan (bukan) (di ) kuat (-kuatkan). Hahaha Own my words!. 

Well, dari yang terbaca mungkin tidak salah jika dibilang ucapan syukur saya mungkin masih di tingkat bawah yang merasakan nikmat Tuhan dari yang dicecap, dilihat, didengar saja. Untuk hal-hal dimakna dan dirasa masih jauh dari fasih, namun biarkan itu menjadi keintiman saya dengan Sang Pencipta. Bahwa terkadang saya mengira diketidaksengajaanNya ada kesengajaan yang Tuhan cipta dalam setiap sesi hari-hari saya. Tuhan pasti tahu sebenarnya apa yang terbaik bagi saya, to be honest and true: saya merasa cukup dengan nikmat yg ada.  I believe a complete puzzle can be perfect by set the little piece one by one. Let's embrace the ups and downs!.

Selamat Hari Jadi untuk Kim, Kimmi, Fahma, Fahim, Windu.


September 05, 2012

Been a week in Random Phase

I do random things sometimes. Been a week, I surfed to blogging sites. Drop my self a half time in my whole loading work time a day there. From Nila Tanzil blog, Morgan Mellish blog (and knew that he has passed away by accident trash GA 200 in Yogyakarta, May God bless him), Dwi Putri who won a prize ticket to festival Jailolo (how lucky she is) until Muhammad Alfayyadl's note in which telling a prelude story came to Paris.

I almost read all Nila Tanzil wrote in her blog  from past to the now. Yeah, I keep curious to the what-happened -with-her after her boyfriend has been long away leaved her. Surprisingly, I didn't find any sad stories in her blog. I guess that she kept away her personal things into public. I think she right. She probably agrees with "don't let somebody look pity on you by your trashing  your real life stories a.k.a curcol into your social media". Dwi Putri also has D(e)wi Fortuna in her life (I guessed). Look, she won a prize to festive The Fest Jailolo in about 20 days! what a heaven eh?. I like the way she writes all the bored things into the good and proper things to read. Surprisingly, she is coming with the same hometown with mine. (So what's in it? Hehe nothing). The already Franko-Indo man, Alfayyadl (difficult to spell it?). He is a man who I saw rode an old bicycle in front of my boarding house in Yogyakarta. Since he is an author a tough philosophy, some lecturers applaud him much and he become well-known. Just looking his face, perhaps you can say that he is plain. But for my personal mark, something bigger hidden behind. 

By surfing, I used to listen Malay songs mostly. Don't ask me why? I just love to do it. Since back then, I can say that Yuna, Najwa Latif, Sleeq, are lovable singers. I mean, trying to listen different sound, the way to sing, the performance can even shape the moods. Have I said earlier that my mood is easily changed by the song (book and movie also)?. I tell you one, I am not an easy person to settle my self with a new friend. Sometimes I feel bit lost when I discomfort with the vibe and place. But just listen to the songs can set my mood into "welcome world, I'm ready to hit your offers". Or just by reading the best chapter of  Dee or Ayu Utami, or another writer imagine me take the part into their book characters. A latter day I become a stranger. Haha. Or in a day I felt so bored with a flat routine going, I tried then to catch a good movie that can be a best choice ever than hanging out with the girls. So that I can say that song, book, movie are never failed!. I'm not a freak geeky movie, a book worm, or even Miss.know everything about music. But can you polarize how could be your days (or my days) survive without a book, movie and song invasion?

My iPod nano (the veryyy old version iPod with 2GB capacity; someone bought me in my 18th birthday) still get its favorable condition till now. In that way because I always take care the stuffs somebody ever gave me. My dvd player and dvd collection both in a good track. I bought dvd player made in China, We obviously know the quality under sign "Made in China" than another sign "Made in xxx" right?. What about my books? ask to my Mom in home. She has a lot of care with my stuffs. You know that I have been leaving home since Senior High School, so I have no time to stay at home for long but in a holiday. I get My Mom to buy the good shelf for my books at home (the big, each shelf has a key, and the front covered with glass).  She did exactly like I ordered. My Mom is best. My Father has a good documenting in particular things. So Probably his nature descent to me. I'm good as well in keeping on track my books since Junior High School up to University. Ask me to the examination papers mark in High School year, I filed most of them in one.

I think one of you ever plunged yourself into the phase you call "I don't know where I've been" or bit lost. The hit word to represent it is maybe "Random". There is nothing wrong with the randomness. For me, somehow it is just a flash of the run looping life. Either notice or leave it behind is everyone's choice. I'm enjoying my random activity, even some judge me a focus disorder person. I don't mind. What I feel just like I have load re-charge energy to be me after doing them. That random.

Anyway, try to listen Yuna songs: Live your Live (producer under Pharell Williams), Lullaby, Random Awesome, Island, Fading Flowers and so on. You will know what I'm talking about.

Yuna Zarai
Have a Wonderful September People! Rain..Rain...Rain..!


September 03, 2012

Pergi ke Kalimantan Barat (Tayan)

We've headed off to Tayan Hilir about 12 noon. It took about 2 hours and more. Best is, jalur trans-kalimantan yang dibangun pemerintah sejak enam tahun silam sekarang sudah bisa dilewati. Sebelumnya, menempuh Tayan dari Pontianak membutuhkan waktu hampir 5 sampai 6 jam karena harus mengitari gunung. Nah, jalur trans-Kalimantan ini justru membelah gunung (gitu deh singkatnya), makanya bisa cepet sampe.

Di Tayan Hilir untuk mendapatkan solar atau bensin sangat susah. Antrean bisa berhari-hari. During my trip to Tayan, saya sempat mendapatkan gambar antrean truk yang mengular tanpa sopir. Bisa jadi truk-truk itu sudah berhari-hari ngetem di sana. Bahkan di Pontianak tidak semua SPBU bisa seharian penuh beroperasi. Terkadang menjelang petang sudah diberi palang dengan tulisan “Bensin Habis” di depan jalan masuk SPBU. Kami sempat kena dampaknya, driver kami yang satunya harus membeli stok bensin secara ecer di pasar Tayan.

Rasanya saya tak ingin memejamkan mata sekalipun melewati jalur trans-Kalimantan ini. Sepanjang mata memandang di jalur yang ‘membelah gunung’ ini yang nampak adalah hijau-hijauan. Sesekali kami menemukan rumah kayu milik penduduk yang hanya berjumlah tak lebih dari tiga rumah, lalu kembali dijumpai pohon-pohonan. Begitu seterusnya. Kalau masih amatir mengendarai kendaraan melewati jalur ini, terutama malam hari disarankan agar berhati-hati. Kejahatan seperti begal, rampok, ditodong di tengah jalan, dipaksa berhenti dan berbagai jenis kejahatan kadang masih ada.

We visited some heritage sites, such as Keraton (kingdom) Tayan Hilir, Tayan Mosque etc. Also we passed by the Pesantren near river Kapuas. The Pesantren has two main buildings, one divided into two chambers (for girls and for a teacher family) and the rest for boys.

Hotter than Miami! (ciyee...uda pernah gitu ke Miami beroh?).
I must admit panasnya Jakarta atau Surabaya dan apalagi Jogja or even Madura lebih panas lagi dibandingkan dengan Kalbar, terutama di kecamatan Tayan Hilir, yang bersebelahan dengan sungai Kapuas. Gak heran ya, karena Kalbar memang tepat dilintasi garis khatulistiwa. Sensasi panasnya pun berbeda dengan panas pesisir Surabaya, panas polusi dan banyaknya penduduk Jakarta, atau panas pulau Madura. I’ve been there mentioned places, but stand in a yard in front of Keraton got my skin with a kind of ‘strongest’ sun. Saya sesorean mengurus acara di sini bersama team, juga dengan para santri dan pelajar Madrasah. I feel the different sensation, a sweat day apart of sunbathe. Buru-buru saya harus mencapai dan memasuki Keraton untuk menghalau panas halaman depan. Keraton yang masih berupa rumah panggung dari kayu membuat hawa terasa lebih dingin.

Here some hits:

Jalur trans-Kalimantan

Keraton Tayan

Santri Putra

Masjid Pesantren

Get some pics by visiting my facebook page or flickr.

Minal Aidin wal Faizin ya. Mohon maaf lahir dan batin.


September 02, 2012

Pergi ke Kalimantan Barat (Pontianak)

Saya masih ingat gumaman -bakal ada perubahan tiket nih- di balik -ok, I'm available- saat teman di negara tetangga menelepon saya menanyakan my availability either tanggal 12 or 13 Agustus 2012. Teman dari negara tetangga sebelah itu bakal menyaru jadi atasan saya ketika bertugas di Pontianak, Kalimantan Barat saya iyakan. Anything he says, juga itinerary yang dia susun harus saya patuhi. Terutama ketika saya tahu flight kepulangan Pontianak-Jakarta bertabrakan dengan flight mudik saya Jakarta-Surabaya. Hardly to say tiket mudik return itu sudah saya book 3 bulan sebelum fasting month. Sebagai anak bawang yang punya banyak atasan, saya meminta petunjuk kepada yang lain tentang peliknya bentrokan flight ini (Duile..., pelik!). Willy nilly, saya memang harus tetap berangkat dan urusan bentrokan flight dinamakan urusan pribadi (yang segera diselesaikan sendiri).

Instruksi resmi jatuh seminggu sebelum keberangkatan, dan tentu saja saya harus segera membuat keputusan (which I have to say: this is hard but have to) untuk merubah tiket mudik saya Jakarta-Surabaya. The best choice-nya adalah saya mengupgrade tiket yang semula berangkat pukul 06.00 dari Jakarta menjadi pukul 09.15. Ini berarti persis saya akan mendapat waktu 1 jam transit dari penerbangan Pontianak/Supadio Airport pukul 06.25 yang mendarat ke Soekarno Hatta, Cengkareng pukul 07.55. Kenapa saya sebut the best choice, karena up-grading tiket inilah yang harganya paling logic, ya setidaknya menurut kantong pribadi saya. Lagipula saya tak mungkin kan akan mengambil pilihan flight sore/malam jika up-grading fee nya justru lebih mahal? Oh iya, bonus keleleran di bandara. Tidak ada rutukan sih, meski tetap merasa semendhal/kurang rela karena harganya setara dengan harga tiket mudik kelas affordable yang dijual burung besinya pelat merah.

Saya dijadwalkan tiba di Pontianak pkl 14.55 local time. Ini akan jadi kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Borneo, tanah di mana paru-paru dunia terhampar seperti karpet,  katanya sih. Di ketinggian beribu kilometer di atas permukaan laut, sebenarnya akan terlihat sangat indah pemandangan hijaunya Borneo. Apalagi cuaca saat itu (kata Pak Pilot) cerah tak berkabut dan tak ada noisy asap. Ingin sih sekedar menengok atau memotret pemandangan hijau itu, tapi niatan saya urung mengingat duduk saya berada di aisle seat. Sebelah saya dua orang bule yang badannya kekar-kekar. Alhasil, saya memilih tidur siang di bulan puasa.

Sesampai di Supadio Airport, saya tercengang. Ini bandaranya kecil amat ya? (maklumlah Kim, ini bandara skala nasional). Bahkan baggages surveyor belt pun gak muter-muter seperti yang saya lihat di bandara lainnya. Hehehe. Cukup satu line yang ujungnya berupa deretan besi rapi yang bisa menjalankan bagasi secara manual hingga terjatuh di lantai. Teman Melayu saya yang sudah berkali-kali ke Pontianak, sempat ikut tertawa bersama saya akan 'fenomena' surveyor belt ini.

"What r you laughing huh Fahma?" sambil tertawa, pandangannya mengarahkan saya kepada ujung baggage line di depan kami.

Kami dijemput oleh driver kepercayaan kantor kami, namanya Pak Dede. Orangnya baik dan sabar. Sepanjang perjalanan, dengan dialek Melayu dia bercerita tentang Pontianak the past, now and future kepada saya. Bagi teman-teman yang ingin berkunjung ke Pontianak dan membutuhkan transportasi, bolehlah jika ingin menggunakan jasa Pak Dede.

Kota yang terkenal dengan makanan khas dari olahan lidah buaya ini jika dibandingkan dengan kota di Jawa (bagi saya) sama seperti kecamatan Pare-Kediri-Jawa Timur. Sebelah kanan kiri kita masih berupa kebun, sawah atau lahan kosong. Ah, saya seperti balik ke kampung halaman. Kami menginap di hotel Mercure yang hanya berjarak tempuh 20 menit dari bandara. Sesorean ini saya belum bisa keluar karena ada janji bertemu dengan team yang ada di sana. Meski berjarak tak sampai 500 meter dari Mercure adalah Mall A.Yani (Mall terbesar satu-satunya di Pontianak), saya belum mood buat jalan kesana, saya mau berbuka puasa di kamar saja.

Malamnya setelah tarawih, saya mau putar-putar sebentar kota Pontianak. My work mate decided to have a best rest due to his unwell condition. I am okay with that. Sepanjang jalan, saya mengira ada pemadaman listrik sementara, soalnya jalanan disini gelap. Gedung-gedung pemerintahan hanya disinari oleh paling banyak empat atau lima lampu utama. Jalanan protokol seperti Gajah Mada mungkin cukup benderang, namun tetap seadanya. Lama hidup di Jawa yang menikmati cadangan listrik gemah ripah loh jinawi (umumnya batubara justru diambil dari Kalimantan) membuat hal ini terkesan ironi. Bahkan kata Pak Dede, dulu Pontianak hampir setiap hari ada pemadaman listrik, gak siang gak malam. Betapa terbengkalai dan wasting time jika sebuah pekerjaan yang menggantungkan pada daya listrik harus menyerah pada kondisi pemadaman rutin. Kalau sekarang sudah tidak sesering dulu keparahannya. Syukurlah.

Sejumlah toko yang memiliki satu lampu neon saja sebagai panjeran/lampu jaga kebanyakan sudah tutup. Tergantikan oleh lapak-lapak warung kopi yang semakin larut justru semakin ramai. Disinilah daya tarik Pontianak saya rasa. Pembicaraan dari hal remeh-temeh, persoalan politik, harga makanan pokok, pergantian pemimpin daerah, hingga yang berat-berat seperti jual beli tanah, bisnis kelapa sawit, kontrak kerja semua lumrah diselesaikan di meja 40x40 cm dengan kursi plastik seadanya. Ini sama seperti apa yang dituangkan Andrea Hirata dalam novelnya. Hampir orang Melayu (dalam novelnya disebut kawasan Tanjong Pandan, Bangka Belitong) gemar kongkow-kongkow di warung kopi. Diceritakan Arai yang meski lulusan Sorbonne University pun tak kuasa menolak ajakan pamannya untuk bekerja membantu di kedai kopi "Usah Kau Kenang Lagi". Hingga lalu warung kopi merupakan bisnis yang menggiurkan yang tak lekang dimakan usia di pulau yang berpenduduk Melayu. Dengan harga secangkir kopi dan kuatnya duduk berjam-jam, muatan informasi yang diunduh melebihi dari yang didapat intelijen sekalipun. (Lebay ya? iya iya, tapi begitulah).

Pisang Srikaya dan segelas milo hangat di warung kopi yang ngehits di Pontianak

Anyway, media di Pontianak yang kami kunjungi hari pertama adalah Pontianak Post (Jawa Pos Group) dan Tribun Pontianak (Kompas Group). Kami sempat berdiskusi dan berbuka bersama dengan mereka dalam silaturahmi kali ini. Dari pembicaraan yang ada, umumnya para jurnalis ini berasal justru bukan dari Pontianak. Beberapa dari mereka ada yang dari Bogor, Bali, Surabaya, Solo, Jogja dan Tangerang. Alhasil, semakin gayenglah bahasan dan bercanda kami mengetahui asal-usul mereka yang tiada berbeda jauh dengan saya dan team yang lain. 

The hit things from Pontianak:
1. Sebisa mungkin samperin itu Tugu Equator. Sadly, I haven't been there!
2. Bawa sunblock kalo bisa, you know lah Pontianak panasnya benar-benar caspleng ceu’.. karena dilintasi tepat garis khatulistiwa. U’ll feel it much hotter than Miami!. Jadi logikanya, gak perlu bawa baju yang tebel-tebel.
3. Beli makanan khas Ponti: nata lidah buaya/Aloe Vera, lempok durian, ikan asap. Lebih murah dibeli di toko ASIA (deretan toko yang jual oleh-oleh) daripada di bandara. Hahaha craziest, I bought at airport shop!
4. Beli souvenirs di pasar aja, murah tapi gak murahan. Pilihannya juga banyak.