Try to search for The Things?

October 22, 2012

Ramadhan Blues

"What are you having darling?"

"A main course and mineral water, and you?"

"Coffee, a black coffee"

Semenit setelah menyelesaikan order, kami berdua mulai dibuat sibuk dengan gadget di tangan. Kami, masing-masing mulai menelusuri ruang dan waktu yang berbeda, menjaring pikiran-pikiran yang terliar di luar sana, mencecah gambar-gambar penuh pesona, mendatangi tulisan-tulisan yang melambai-lambai penuh pikatan. Kami baru akan menghentikan aktifitas berselancar di dunia maya dan kembali ke alam "asal" ketika sang juru antar makan yang berambut ginger kekorea-koreaan itu datang menyajikan pesanan.

Layar besar di cafe ini menjadi distraksi kedua setelah seperangkat alat komunikasi digeletekkan di atas meja. Oh nampaknya sedang ada siaran pekan olahraga tingkat dunia. Lagi-lagi tidak ada komunikasi di antara kami, ya terang saja karena kami sibuk makan. Namun tetap sesekali menengok sepintas ke alert signs yang  berkedip-kedip seperti menyimbolkan alat perbudakan komunikasi saya on running position. Another distraction.

Akhirnya mungkin kalian kira pertemuan ini tak ubahnya dua orang yang berjumpa dan bertemu raga namun jiwa sedang absen tidak hadir entah kemana. Malam ini, malam Ramadhan. Angin malam jelas tak baik bagi badan, namun tetap kami hela dan lawan demi bisa bersua. Ia datang ke Jakarta untuk bertemu saya. Namun rupanya perjumpaan dua orang secara fisik tak menjamin keduanya benar-benar "hadir" di tempat. Ah anak muda jaman sekarang.

Kami setidaknya sudah membicarakan "apa maumu-dan apa mauku", dengan berlembar-lembar tulisan yang berisi masalah dan solusi yang saya tawarkan. Ia memberi waktu longgar dengan menambahkan lembaran kertas lagi dan meninggalkan saya sementara untuk melihat konser band beraliran musik metal di seberang cafe. Dengan secangkir coklat hangat emosi saya bermain maut dengan apa yang ingin saya tuangkan. Kami memang tak sepakat dengan saling berbicara pada malam itu, karena hanya akan berujung dengan pernyataan terbuka sementara. Dengan menuliskan segala sesuatu yang dirasa, setidaknya tidak ada lagi obrolan yang mau menang sendiri saja. Berharap tidak ada lagi makna yang bias, karena percakapan kami yang tercipta sudah berupa cabang-cabang dari mapping yang saya bubuhkan di atas halaman satu hingga lima.

Aneh memang, tapi begitulah kami.


October 09, 2012

Off to Kuala Lumpur (Bangsar)

Hi There!

I've been traveling around Kuala Lumpur last week for about 3 days. It was tiring but fun. Paced my feet on the wet way around landing area at LCCT has been blowing my mind far away to the range of peacefulness, frigidity, cold, and felicity. I am indeed a person who comfy the mood into the weather. And I love raining (It is no wonder I welcome so much to September and the rest months afterwards). I hate an extreme sun. But I still don't mind of perceiving the warm sun shining on 7-8 AM or the sun shine after the long night raining.

Anyway I got my Sky-Bus for leaving LCCT to KL Sentral. It costs 9 RM (approx IDR 30.000). You can buy the ticket to the booth in exit area or nearby the guest arrival doors. I have appointment with my friend in KL a week before to meet up. I met him at KL Stesen Sentral after having an over 30 minutes to wait. It because of my communication device called a Blackberry Sucks! was very suck! (and so the provider). I have been following the tips to register the linked-provider and set to the roaming and bla bla just a day before departure, but technically it was a perfect failure. Other panic was either I can not lead my friend to find my position or there will be a news on papers tomorrow " A cute girl was found at KL-Sentral fainted after a long hours waiting so long her friend picking her out". Haha. Another "gooood" were my friend at Jakarta and KL called me, the BBM also still running. Yes, you can guess it, the credits on my celly utterly decreased into a limit. *sigh*

My friend picked me up me in front of Information Desk at KL-Sentral, Oh God, the unyu and comel girl was just rescued out from the unsafe world. Haha. We then moved into Bangsar Kedai, (forget to capture togetherness of us) just because we talked and talked and talked. We chatted about bilateral issue (ciyeeeh...crucial topic eh?), Melayu languages, movies, singer and the bands (and that time Noah has a concert at KL), what Melayu means, and Indonesian workers at Malay. Until the friend of mine (who has already stayed and will accompany me at my office apartment) called me, we should have ended up the lepak-lepak chill (bahasa: nongkrong).

KL was just same as real Jakarta on SUNDAY. No more traffics (yes!), and differentiate for both is KL often of getting rain rather than Jakarta. Having a seat in a back with my luggage (men are in front) gave me a chance to view Bangsar out of windows freely *AADC scene eh?*

End up searching to the streets, after all, we found out the apartment building which is the opposite of Menara Bangsar UOA. The crib is taken a place in level 11 (I saw it clearly to the address details, that was right on level 11). It is the old apartment indeed, with standing of many old building around, I then imagining  myself took a scene of The Raid Redemption or some of the scene Hang Over II (Lost in Bangkok), Haha. The lift looks so frightening, old, and use a material steel doors. We've already at level 11 but we couldn't find out the crib even I already stepped up and down the length of the aisle level 11. Then we were going down to the base level to pick up my friend. She wasn't there, she said already in the level 11. We were going up again. Huhu. Finally my friend bumped me (with the "hosh-hosh-hosh breathing", she just back and forth between Menara UOA to the apartment to catch me down), she then lead me to the level 11 1/5!. There is a branch stairs in front of the lift that show us to the 2 rooms left of level 11. "seka keringat, kibas saputangan* Phew!

Having a glass of Teh Tarik at Jalan Bangsar

Me and my friend decided to go out after finishing some alerts information and confirmation about tomorrow's event in front of laptop. It was 1030 pm already, and we couldn't find any good warungs/cafes/mamak outside the apartment. FYI, mamak is known for kedai/cafe opening 24 hours which is owned by Hindusthan people. We found some, but we didn't give a try. Because seemingly we're starving enough, and we would like to satisfy our stomach into the 'right bite'. Sight in glance that time shows 1030, we stopped a cab, and drive into Pelita Nasi Kandar. 

Number 1!
I'm having maggie.
My friend having a chicken soup and Teh O'.

Another pictures above are taken when we just prepared the dinner meeting. We bought some foods such as Satay Melaysia, Tofu, and Nasi Lontong. Damas is the name of place. There are some of shops, cafes, high class apartment and medium mall. 

the three unyu commitee at kedai. It is the cozy place isn't it?

Petang at Damas
Put me something
The day later, I and the two friends of mine (he is a Journalist) having around to KLCC. For my second visit  there, I would have a back view of twin towers. We took some photos with a background of Petronas alternately with each cameras in hands. We were asking favors a minute to the couple who passed us by, to take a picture of us. I can see that the girl felt like So-oh-you-piss-my dating-already. Haha we don't care. At least we can captured together, yet the Petronas is cut! :(

the three again

a pond in front of the Suria Building (KLCC)
Kim (me)

We have a great days at Kuala Lumpur. And I can say that these words are echoed my head already.

"I've been caught by Malay's stuff".

: )

October 04, 2012

Let It Rain Over Me

It is not even you look in a glance into my posting, so why do I stalk to your sites?.
It is not whilst you have spare time to 'listen' me and sometimes my activity, so why do I give my particular time to check the whole you did?.
It is not thought you think of me a second, so why do I give my hours to wait your sending words to me?.
I have been waiting you so long, just to say I do I care to you actually.
But your ignorance made me aware. So it is my turn to take my life far away from you.
I let you know,
It is your turn to understand,
You are


Ps: And I don't give a shit whether 'you' read this or not. I will always write what I want, what I feel, and what I hear. And yeah, Jakarta is raining now. Just finished my notes, I grab my umbrella and decide to go around Rasuna Said to either get wet or feel the rain. I embrace the drop water into my skin. Rain...rain..rain..!

October 03, 2012


Bulan September!

Bulan kelahiran saya, bulan bahagia saya pernah berjumpa dengan si Bona, bulan ketika semua orang pasang status minta dibangunin kalau September udah berakhir, bulan di mana saya akhirnya kliyengan (sempoyongan). 

Saya harus bolak-balik Jakarta-Surabaya hingga ke Kuala Lumpur demi sekali lagi demi menafkahi diri sendiri (Ya tapi enggak lebay gitu juga sih) . Mayor Surabaya sempat mengadakan kunjungan ke Kuala Lumpur di pertengahan bulan. Saya sebagai person in charge harus mempersiapkan segala sesuatunya in control. Perfectness is particular matter for us.

One Day Trip to Surabaya

Tiket ke KL sudah di book dari Jakarta, dan saya diharuskan briefing ke Surabaya 2 days before departure time. Jadilah saya ke Surabaya in one day trip. Okeh, let's go aja. Jumat pagi-pagi saya berangkat ke Surabaya, Bangun pukul 4 subuh karena taxi sudah stand by pukul 4.30. Saya ambil pesawat pukul 6 pagi. Lalu kembali ke Jakarta petang hari (pakai delay!). Setiba di Jakarta antrian si taxi biru udah sampai nomer 27 aja. Ditambah kawasan Grogol macet parah, jadilah saya kembali ke rumah dengan perasaan nestapa dan sempoyongan tepat pukul 11.30pm.

Tidur dan mendapati mimpi buruk menyeruak di seluruh kendali alam bawah sadar saya itu nyesek banget. Alam bawah sadar saya mempercayai bahwa Sabtu pagi hari adalah keberangkatan saya ke Kuala Lumpur (saya book tiket ke KL pukul 6.25 am), dan saya terbangun pukul sembilan!. Kucek-kucek mata, dan mengambil kalender, yeah it's true today is not my exact departure. Ambil hape, berkicaulah saya "Thanks God, Today is Saturday, I thought it was Sunday".

Absen hip-hop dance dan yoga di hari Sabtu, saya membangun energi positif bahwa saya akan sehat kalau saya percaya saya sehat.  Saya beringsut untuk menghalau "aura bantal guling" di lubuk hati terdalam dan jasmani saya (Euh! le le le lebay). I went to All Fresh market and I ate lot of fruits  that day. Entah karena stress entah karena kecapekan, I don't give a damn. Ohya, ada lagi yang perlu dibereskan, kolom yang belum selesai diterjemah. Malam minggu saya habiskan di depan kendali laptop dan seonggok travel bag yang minta dijamah. Oh I hate packing.

Berangkat ke KL

Kolom yang dibereskan 'agak berat' pula temanya, tentang US Elections. Lepas midnite akhirnya saya menyelesaikan packing dan kerjaan. Pagi di hari Minggu saya bangun pukul 4 lagi. Sepanjang perjalanan menuju Soetta, kantuk itu sudah hilang terbang terbawa dinginnya udara pagi. Saya nih ya, udah niatan untuk beli hot milo di mesin otomatis terminal 3 ruang tunggu penumpang. Tapi ternyata pecahan lima ribu dan sepuluh ribu saya udah habis dipakai bayar taxi tadi. Yasudah akhirnya mood saya agak kacau pagi itu. Untunglah AA tak ada delay. Saya mendapatkan window seat dan (lagi-lagi salah pre-book menu sarapan yang terlalu berat). Nasi Lemak udah di depan, harus saya makan.

Setiba di LCCT, saya baru sadar ternyata Kuala Lumpur baru saja diguyur hujan,. Lapangan landas basah, bau benda-benda tersentuh oleh air hujan saya hirup dalam-dalam. DAMN! I GOT THIS FEELING!. Oke, oke that particular part I'll tell you apart from this.
a view from my window

a view before landing at LCCT

Saya kembali ke Jakarta pada hari Selasa malam, AA ada delay. Akibatnya agak larut setiba di Terminal 3 Soetta. Sampai ke rumah sekitar pukul 11.30 pm. Lusa kantor libur karena ada Pilgub DKI Jakarta. Saya harus menemui teman dari Iran untuk sekian lama bikin appointment, baru ini bisa terjadi. Sambil sesekali berkomunikasi dengan Bahasa Persia, akhirnya saya mengaku kalah. Bahasa Persia saya banyak yang sudah hilang. Sedihnya..

Setelah drop sebentar di Carrefour, saya pulang dan baru ingat ada Gala Dinner Maybank-BII di Pasific Place pukul 6 petang. Saya kesana dan pulang cepat pukul 9 malam. And it's turn I call "I love weekend". Jumat selepas kerja saya menghabiskan waktu 'menyenangkan diri' di Pasar Festival, I need to buy girls' stuff. Sabtu saya ada janji ke dokter gigi untuk medical check-up. Karena ternyata ada gigi geraham yang tumbuh tidak simetris yang mengakibatkan kata "cenat-cenut" happening lagi (setidaknya dalam minggu ini bagi kehidupan saya, Oh Crap!). Saya harus foto rongten pula. Okay, preparation tooth surgery (baca: mulai minum obat penahan rasa sakit a.k.a stop makan yang enak-enak) ini akan dimulai hari Kamis untuk Sabtu sebagai hari H nya.

Silaturahim ke Soetta

Minggu pagi-pagi saya harus naik Damri ke Soekarno-Hatta. Ini bukan melancong dan tugas lagi, melainkan saya menepati janji untuk silaturahmi ke kakak tingkatan sewaktu kuliah dulu (si Teteh). Mereka memiliki rumah di komplek Garuda. Ohya, saya jumpa dengan si unyu-unyu Tiara, putri si Teteh yang masih berumur tujuh bulan. Sayapun diajak ke rumah orangtua si Teteh, yang sama artinya dengan berjumpa dan mendapatkan obrolan seru dengan adik cowoknya. Satu angkatan, satu ospek, beda jurusan, dan sering ketemu di Pare, Kediri membuat obrolan saya dengannya gak bisa keputus. Warm Family..., nice. Saya baru pulang ambil Damri lagi sekitar pukul 7 malam., turun di Gambir lalu naik Kopaja 20. Sampai di rumah pukul 9.30 malam.
with Mutiara Fakhira Salsabila

Monday, Tuesday, Wed, Thru are the days which I have to prepare talking points to Surabaya trip that will be going on Friday. Ya, saya harus ke Surabaya lagi untuk kunjungan follow-up. Untungnya kali ini saya gak sendiri, ada rekan dari Jakarta yang ikut menemani. That will be better.

Pergi ke Surabaya Lagi

Jumat pagi saya bangun pukul 4 lagi, taxi sudah standby pukul 4.30. Pesawat kami pukul 6 pagi. Semalam sebelumnya saya mampu memejamkan mata pukul 1.30 pagi. Ini karena sabotase waktu dari teman saya di Malaysia, bahwa dia mengumumkan pernikahannya thru WhatsApp!. Praktis dua jam setengah waktu istirahat saya. Maunya sih bisa istirahat di dalam pesawat selama satu jam, lumayan. Eh tapi, enggak jadi. Kami habiskan waktu di pesawat untuk brush-up talking point dan question list yang ada. Acara agak padat sampai malam. Saya memilih untuk tidak kembali ke Jakarta, pun tidak pulang ke rumah malam itu, karena terlalu larut. Akhirnya saya menginap ke rumah sepupu di Surabaya. Lama tidak berjumpa juga dengan sepupu yang sudah dikaruniai anak berumur dua tahun. Mereka sebenarnya akan tiba dari Ponorogo ke Surabaya dinihari. Jadi mau tak mau, akhirnya saya masuk rumah orang tanpa ada penghuninya, dan cepat pergi tidur dengan lelapnya!. Sedikit engga peduli gitu ya?.

Kawasan KYA-KYA Kembang Jepun

Pulang ke Jember

Pagi di hari Sabtu saya ada janji berjumpa dengan si Bona di Surabaya. Karena jadwal bus saya ke Jember pukul 11.30 am, maka kami berjumpa dan berbagi kabar di terminal. Ah...jadi teringat perjumpaan dua orang kekasih di terminal yang sering muncul di film Rhoma Irama, and I did.

I just reached my hometown before 5pm. Finally...enggak nangis-nangis seperti kejadian pulang kampung Lebaran bulan lalu akibat bus yang jalannya lambreta (lambat bangeet). FYI aja, bus jurusan Jember dari Probolinggo biasanya nih ya, suka banget geyal-geyol sana-sini, macam bus wisata kota. Pengen deh rasanya ngasih mercon dari belakang Pak Sopir atau pengen deh ngasih duit limapuluh ribu cuma buat memohon "Pak...tolong dong ya bus-nya dicepetin dikit mampu gak?", atau pengen neriakin "Sinih pak, biar gueh aja yang nyetir".

Minggu pagi berada di rumah dikacaukan dengan reaksi perut saya yang menandakan asam lambung naik-naik ke puncak gunung. Batin saya "Ah Finally!". Udah lama maag saya enggak kambuhan kayak gini. Bahkan obat maag yang dulu jaman kuliah menjadi item wajib yang saya tenteng kesana kemari udah expired kali  ya di kos. Malam harinya saya harus jadi speaker (ceilah speaker!) buat acara di Pesantren dekat rumah. We invite also our Kansas friend to join. Dia baru empat bulan tinggal di desa saya. Namanya Blake, orangnya ganteng (Ahay!). Dia jadi volunteer dari program DIKNAS sebagai guru Bahasa Inggris di Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember. Blake bilang sih, dia dikontrak Diknas selama dua tahun, if everything goes on planned. We both float either his story or my story. Iya, Blake emang asik diajak ngobrol ngalor-ngidul.

Ke Surabaya untuk kembali ke Jakarta

Senin paginya yang seharusnya bisa saya buat untuk operasi gigi, harus batal karena ternyata perut saya gak bisa diajak kompromi. Selain maag, diare pun menyerang. Judulnya "Operasi Gigi yang Tertinggal". Sebab seharusnya terlaksana di Sabtu kemarin, pun di Senin tidak bisa dilakukan. Pesawat saya kembali ke Jakarta petang hari. Namun seperti biasa, saya harus berangkat siang hari. Jember-Surabaya harus saya tempuh setidaknya empat jam. Dalam hati was-was, takut aja tiba-tiba saya harus turun di tengah jalan hanya karena mau cari toilet. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti.

Anak Garuda yang saya naiki menuju Jakarta ini tumben ya enggak delay?. Pas banget ketika saya selesai makan di Singgalang, terus dipanggil untuk masuk gate 7 langsung masuk pesawat. Gak disangka, di dalam pesawat saya bertemu kolega kantor, founder @GNFI. Sayangnya, duduk kami berjauhan. Parahnya saya lupa namanya!.

And here we go, saat ini saya sedang duduk di kursi kantor, sambil menahan mules tiada tara. Ya teman, saya masih kena diare. Dan rasanya bit suck!. Harus selektif dalam memilih makanan. Semoga nanti malam perut saya enggak tambah parah hanya karena saya memulai program belajar TOEFL dan IELTS lagi. Iya, saya harus brush-up lebih keras. Si Bona yang jadi tutor saya dari jarak jauh, dan itu lebih horor teman. #IfYouKnowWhatIMean.

So, kalian udah boleh bangun sekarang. Karena September udah usai. 
Welcome October!