Try to search for The Things?

October 31, 2011

Have You Ever?



Menemukan satu buku lalu kamu jatuh cinta padanya? Selebihnya adalah tergila-gila. Pernah tidak, bahkan sebelum buku itu terbit, dalam suatu perjalanan/sore hari yang hujan kamu sudah membayangkan dan bergumam dalam hati “mungkin jika ditemani dg buku tsb, momen ini pastilah bertambah sempurna”.

Atau pernah salah satu dari kalian menguntit toko buku per minggu sekali hanya untuk mencari tahu kapan buku itu resmi dipasarkan?. Mungkin ini sedikit lebih gila, tapi adakah seseorang saja dari kalian yang jauh-jauh hari pre-order buku itu, lalu ketika buku itu sampai di tangan, tak juga bersegera kamu membacanya?. Namun kamu justru memandanginya dengan syahdu. Kamu lebih suka membacanya di “saat yang tepat”. Seolah-olah kamu memang menempatkan ia bersamamu di ruangan khusus dengan desain alami yaitu mood terbaikmu sepanjang abad.

Atau mungkin saja kamu tipikal orang yang tak cukup kuat menahan akhir kenikmatan. Buku yang kamu harap-harapkan terbit dan hanya setebal 160 halaman, lalu tanpa rasa sopan kau habiskan dalam satu malam?. Rasanya tak begitu elok jika kamu memperlakukan “hanya semalam/hanya seberapa jam” buku itu ditanganmu, sedangkan pengarangnya membutuhkan berjam-jam,berpuluh-puluh hari dan bulan untuk menamatkan pembuatannya. Sebuah mahakarya yang tak sampai hati terbaca habis dalam tempo singkat. Ia harus di spesialkan, Ia harus di anak-mamakan.

Ah, pertanyaannya adalah, Have You Ever?

Saya menjawabnya dangan Sure, I Have.

Ini juga bagian dari rasa cinta saya dengan bahasa si pengarang buku itu. Ohya, fyi Dia pengarang wanita yang cukup masyhur. Dan akan saya sebut juga Ia pengaduk emosi yang elegan. Karena sestabil-stabilnya emosi saya, tetap saja teraduk-aduk dan runyam hancur ketika membaca bahasa buku itu. Pokoknya kacau-lah, seakan-akan saya yang jadi tokoh utama di buku tsb. Ikut menangis betulan jika si tokoh utama sedang berada di cerita patah hati. ikut lega jika suasana hati si tokoh lagi ceria. Serba sentimentil ujung-ujungnya.

Kebetulan buku yang saya maksud adalah novel, maka lengkaplah sudah drama pergolakan batin saya ketika harus membacanya perlahan tapi ingin segera habis. Tak sabar ingin tahu akhir cerita, namun sedih mengetahui halaman akhir semakin dekat mengintip. Ah inilah bagian hidup saya yang serba dilematis. : D

Saya menjalani kehidupan tak normal mencintai karangan si pengarang itu sejak di bangku kuliah. Tak normal? ya, call me a two-thousand thing year late reader, karena saya baru memborong semua novel pengarang ini di satu waktu yang tidak dapat ditoleransi sejak terbitnya novel pertamanya. Beli novel itu juga pas dapet beasiswa di kampus yang diniatkan separuhnya untuk beli bahan bacaan. Saya rakus melahapnya dalam beberapa minggu (waktu itu saya belum paham teori gila menganak-mamakan novel spesial). Saya sedang dimabuk cinta. Segala serba-serbi tentangnya harus saya ketahui dan tempo waktu sesingkat-singkatnya. Memborong novel si pengarang ini pun adalah akibat, dari sebab saya membeli dahulu novel ke-empatnya.

Have you ever fall in love with someone and something in your fourth chance?

What if  I say, I have.

Saya bertemu langsung dengan si pengarang ini secara tak sengaja melewati auditorium kampus yang sedang ramai-ramainya. Ternyata berlangsung acara meet and greet dengan pengarang ini. Sekaligus peluncuran novel ke-empatnya. Inilah awal saya membaca “FILOSOFI KOPI”. Sebuah tema yang sederhana pikir saya waktu itu, namun bisa membuat kamu mabuk kepayang akan aroma kopi jika benar-benar hanyut membaca part cerita ini..

Jangan heran kalau kemudian saya seperti keranjingan menulis di binder kuliah dengan tema-tema sederhana yang menyinggung alam: filosofi hujan, hijaunya daun, secangkir teh dalam hujan, dan sebagainya dan sebagainya. Ahh..saya berasa kena Dee’s syndrome. Dia mahir dengan kalimat kece-nya dan tentu saja saya nyesek dengan hasil tulisan karya saya yang serba amatir. Yah, pokoknya gitu deh, katrok tapi maksa pengen seksi. You can imagine kan ya in this part?

Dan novel yang ada di samping laptop ini, berjudul “MADRE” yang sudah beberapa bulan lalu terbeli di pre-order session+ bonus tandatangan+gantungan kunci, plus maaf mba @DeeLestari baru saya selesaikan sekarang. Karena ya itu tadi alasannya: saya selalu ingin mendapatkan surprise dari potongan-potongan kalimat di dalam buku ini di “saat yang tepat”. (-____- dalem yg dibuat2 ya? = ).

Jadi sebenarnya teman-teman inti tulisan ini di awal-awal tadi, Have You ever had something drove you crazy, even yourself said will made it mad?. Something that made you go insane just in insanity yourself knew about. Or anything made you believe you have some love left unsaid there, unspoken, soft and barely surprising you when “the something” touch you back someday.

What if it’s happen to you?

If I were you, I wish I could touch the love of smart sacred part in Dee’s words. I got Gennie to steal hers someday. LOL!


Madre mendekapku di segala penjuru
--Kimmi--

October 04, 2011

Sebaskom Rindu dalam Beberapa Tahun




Secangkir kopi mengingatkanku pada senyum di akhir tahun 2007. Segurat pertanda yang menjadi awal roda mekanik berputar dari asnya. Aku mau, karena kita sama-sama tahu dari jauh. Tapi aku benci sesuatu; ruang hampa yang bernama 'jarak' akan bersanding antara aku dan kamu. Kamu menguatkanku untuk sabar. Ini baru awal.

Sepoci teh menghempaskanku ke ranah pertigaan 2008, dengan gelak tawa saling bertemu.  Kita berpacu meraih mimpi bak berada di arena pacuan kuda yang tak berbeda. Lari, jatuh, lari kencang, tumbang, berdiri dan lari lagi dengan semangat memburu. Satu tempat yang sama, untuk beberapa semester cukup melegakan puasaku.


Lalu segelas air putih kuteguk pada pertengahan 2009, dengan kesedihan menggugu. Aku tak menyoal seberapa sakit aku waktu itu, tak sebegitu ingat bagaimana kronologis masa pemulihan sakit kala itu. Tau-tau aku sudah memaafkanmu. Aku mafhum  ini hanya soal perbedaan maksud, jarak dan waktu.


Sekaleng susu beruang kita bagi berdua membawaku berada di 2010, aku duapersepuluh, kamu delapanpersepuluh. Kita selalu membelah yang kita punya menjadi dua, berapapun itu. Agar kamu juga ikut merasakan rasa apel jika aku tengah mengunyahnya. Kadang aku harus kamu paksa tahu rasa soto daging, bahkan hanya lewat ceritamu dari jauh.


Seplastik susu jahe tercecap aneh di triwulan 2011, aku disini kamu disitu saling menjauh. Tentu saja aku ngilu, kamu lebih memperhatikannya daripada aku. Tak seberapa paham mengapa aku begitu ingin memproteksimu. Hanya saja kemudian hari aku tahu; semakin kencang genggaman kita, semakin dibuat tak nyaman saja rasanya. Di aku, dan di kamu.


Segenggam rinduku membeku di bulan ke 10, menyatu bersama mimpimu yang sengaja kau tepis jauh. Lalu aku ini harus bagaimana? Kamu yang menawarkan senyum itu dulu, sekarang senyum itu kau tarik membisu.

Dimana lagi kita bisa saling menyapa? Kalau dalam mimpi dan ruang beku saja kau tak mau tahu. *Tak ada jawaban darimu*


Disini saja kita bertemu, lewat innerco yg siap datang memanggil kapan saja ia mau.


Jakarta, 4 Oktober 2011

October 03, 2011

Barangkali memang karena memaksakan kehendak



Bukan saja efeknya pernah aku ulas sebelumnya di postingan ini : Ayah dan 3 Kalimatnya, namun diluar itu seseorang mengatakan dan memberikan peringatan kepadaku berlabel “Dangerous Warning, Beware on your bad character; Obtrude!” untuk menjustifkasi sifatku ini.


Barangkali memang benar, aku tidak akan pernah  sampai di 4 tanah pencarian ilmu-ku  jika aku tak berkeras hati untuk menujunya. Barangkali aku tidak akan sampai ke tanah Pare kalau saja aku tak memaksakan kehendak untuk menjadi relawan gempa Jogja tahun 2006 silam dan tertolak!. Meski ayah dan ibuku pada saat itu lebih mengkhawatirkan kondisiku yang ironisnya berangkat justru untuk menolong kondisi orang lain. Aku tertolak dan merubah kompas liburanku ke kota Pare. Bisa baca disini kalo mau di sini


Barangkali karena aku pemaksa kehendak, dan ingin semua sesuai seperti yang aku inginkan. Aku sering gagal lolos jika mengirim application form untuk beasiswa. Bahkan dengan muka tak tahu malu aku mencoba mendaftar di ajang oversea untuk para tokoh muda se-Indonesia. See? Aku memang tak tau malu. Aku gagal, karena aku tahu aku memaksakan kehendak tanpa memandang kemampuan diri.  Lalu datang waktu dimana kemudian aku bisa ngelesot di rumput halaman university of western Sydney. it's called by 'the moment' means you can measure yourself by forcing yourself.


Barangkali karena aku memang memaksakan kehendak. Sejak awal memilih orang yang tidak bisa memberikan label 'acceptance' pada sifatku ini. Meski seringnya aku menerima dengan baik sifat-sifat yang belum tentu aku suka padanya. Ah, barangkali 'memaksakan kehendak-ku' ini memberi efek negatif padanya. Sorry, i didn't mean it. Kelebihan dan kekurangan mutlak ada.


Barangkali memang ada kelegaan tersendiri when we try to pursue thing that we dream, when we try to get finest thing in life, to be well-traveled, to reach some loves, to gain some happiness, to paint some smiles.., even in a force will sometimes..Is it wrong?. Barangkali iya, barangkali tidak.


Barangkali memang tiap orang berbeda untuk mengambil cara demi ‘value’ yang ia harapkan. Ada yang mungkin harus memaksakan kehendak bisa meraih semuanya. Ada yang dengan santai ia mendapatkannya, dan ada pula yang harus menggunakan kekuatan ala militer untuk menjadikan semua miliknya.

"Everybody has his/her own character to pursue anything.  Do not so judge her/him madly blindly".


If bad character is on you, and always impacting people around you, do you mind if you change it? 

No, you will not change a single thing about yourself just to please anyone; it’s about please yourself and makes yourself better. That’s a lesson.


July 13, 2011

MIMPI

Mimpi kerap menyisakan pegal dan rasa sesak ketika kita bangun. Saya membenci hal ini.
Pegal ketika mimpi yang hadir merujuk pada rentetan adegan yang membuat badan kita ikut bekerja. Terkadang cerita yang diputar dalam mimpi bak roll pita film yang sedang diputar di layar tancap. Seketika kita terjaga, buru-buru menyadari hal-hal baik yang terjadi itu hanya mimpi, begitu cepat menurunkan satu tone gejolak hati yang sebelumnya berbunga-bunga. Inilah yang mengakibatkan dada kita sesak

Dalam hati inginnya kita meneruskan mimpi baik, bagaimanapun juga sekerasnya kita berupaya menyambung mimpi itu, tak akan pernah berhasil kawan. Kali ini aku nasehati kalian ada baiknya jangan mencoba-coba, ikhlaskan saja mimpi itu terpotong oleh terjaganya kamu dari tidur.

Semalam, mimpi aneh menyambangi tidurku. tidak jelas pukul berapa, mungin sekitar jam 4 subuh. Oke mungkin adegan mimpi ini tak begitu penting untuk divceritakan di bagian ini, tapi tak apalah aku ceritakan saja, daripada kalian penasaran. Mimpi ini menggiringku pada pertemuanku dengan seseorang berwujud laki-laki memberikan pundaknya untuk saya sandari. Hati saya berdegup kencang. mungkin jika ada video yang merekamku tidur, acapkali nampak senyumku tersungging sewaktu saya tertidur. Yang membuat sesak tak karuan adlah, 'siapa orang itu?' dan mengapa hanya mimpi?.  Bangun kesiangan, dan aku cuma tersenyum kecut gara2 mimpi ini.

Kata orang, mimpi hanyalah bunga tidur, tapi kata orang lagi, mimpi adalah bagian dari perjalanan kita untuk berhasil. Semua berawal dari mimpi. Kata orang lagi, hari gini masih percaya mimpi, buang-buang waktu. Sounds so controversial right?.

Aku suka bermimpi, tapi memilih mimpi yang tak melenakan. Aku juga sesekali mengacuhkan mimpi, untuk yang tak begitu penting diingat. Aku seringkali menjaga mimpi untuk sesuatu yang ingin kucapai. Semua terbalut dalam satu kata: MIMPI.
Kita tak akan pernah lupa menjaga mimpi-mimpi itu, menyirami, mengundangnya kembali masuk ke alam tak sadar sewaktu kita tertidur. Bergarap suatu saat nanti, mimpi itu bersanding satu kata lagi : KENYATAAN.

It Makes Me ill

"It Makes Me Ill"
by: N*Sync

[Justin:]

I was hanging with the fellas
Saw you with your new boyfriend, it made me jealous
I was hoping that I'd never see you with him
But it's all good, 'cause I'm glad that I met him
Heh
'Cause now I know the competition's very slim to none
And I can tell by looking that he's not the one
He's not the type you said you liked
His style is wack, clothes are bad
Come on, girl, let him go
I want you back

[JC:]

Call me a hater, if you want to
But I only hate on him 'cause I want you
Say I'm trippin' if you feel like
But you without me ain't right (ain't right)
You can say I'm crazy, if you want to
That's true-- I'm crazy 'bout you
You could say I'm breakin' down inside (inside)
'Cause I can't see you with another guy

[Chorus:]

It makes me ill
To see you give
Love and attention at his will
And you can't imagine how it makes me feel
To see you with him
Oh, it makes me ill
To see you give
Love and attention at his will
And you can't imagine how it makes me feel
To see you with him

[JC:]

Girl I know that we broke up
But that doesn't mean you should give the cold shoulder
'Cause you know that I truly do adore ya
And that other guy can't do nothin' for ya
Uh, see
I can tell that you don't really love that guy
But there's no need for you to go and waste your time
I think you know I love ya more
Girl you gotta let him go
I want you so just give him the boot

[Justin:]

Call me a hater, if you want to
But I only hate on him 'cause I want you
You can say I'm trippin' if you feel like
But you without me ain't right (ain't right)
You can say I'm crazy, if you want to
That's true-- I'm crazy 'bout you
You could say I'm breakin' down inside (inside)
'Cause I can't see you with another guy

It makes me ill

To see you give
Love and attention at his will
And you can't imagine how it makes me feel
To see you with him
Oh, it makes me ill
To see you give
Love and attention at his will
And you can't imagine how it makes me feel
To see you with him

Ohh...

It makes me ill cause you used to be my girl
Used to be (my girl) used to be my girl yeahhh
It makes me ill (ooh) cause you used to be my girl (c'mon)
My girl
So baby come back to me (baby...)

It makes me ill

To see you give
Love and attention at his will (at his will..)
And you can't imagine how it makes me feel
To see you with him (when I see you with him)
Oh, it makes me ill
To see you give
Love and attention at his will (at his will)
And you can't imagine how it makes me feel
To see you with him (baby I'm jealous)

Oh it makes me ill

To see you give
Love and attention at his will
And you can't imagine how it makes me feel
To see you with him (you can't imagine how it makes me feel)

Oh oh oh oh oh oh oh oh oh oh..

Oh oh oh oh oh oh oh oh oh oh...
Oh oh oh oh oh oh oh oh oh oh..
Oh oh oh oh oh oh oh oh oh oh..

[Justin (screaming):]

What?! We done and done it again!
Messaaaaage ohhhh! [laughter of the guys]

It's gravy baby.. aha..

July 12, 2011

Wasit Tinju dan Perasaannya

Merasa menjadi orang yang paling tolol sedunia ketika aku harus mengikuti detik-detik mereka berada di antara kanan dan kiriku. Mengendus gelagat mereka akan menyerang atau menyampaikan strategi beradu. Mengeja bagaimana yang tak tampak di pikiran mereka menjadi visual. Mendengar kata hati apa sudah tepat waktunya untuk bergerak memisahkan.

Aku merasa sebagai seorang wasit, yang seolah-olah harus memisahkan dua insan ini.
bukan mencegah terjadi pertengkaran antara mereka berdua, tak juga untuk melerai,
tapi untuk memisahkan mereka dari perasaan yang akan tumbuh seiring kebersamaan yang menimbun. Entah mengapa, ada semacam ketakutan luarbiasa yang ingin ku bagi sebenarnya pada salah satu orang di kananku. Dan sepertinya jika ketakutan ini sungguhpun beralasan, penonton akan bilang wajar.

Apa perlu aku menjalankan tugasku dengan cakap dan sesegera mungkin memisahkan mereka yang sedang di ring ini?. Atau apa butuh aku lempar ke udara rasa ketidakterimaanku berprofesi sebagai wasit yang hanya berdiam diri?.
Mungkin saja aku wasit yang kalah, yang tak bisa berbuat apa-apa, yang harus mundur dari arena ini.

"Biarkan perasaanku termaktub di kertas ini, sehingga kapanpun innerco memanggil,
cukup kau cari saja disini".


Rasanya saya menyampah cukup banyak dan sangat tak penting. Tapi ini memberi kepuasan dalam menyelami pikiranku sendiri.

"Rindu ini sudah mengkristal membatu di suhu yang terus kujaga beku, kau tau? apa sepoci air hangatmu mau kau bagi kepadaku?".


"Aku tak ingin engkau jauh, tak juga ingin sedekat kerat dengan genggaman kangkung,
bukan menjadi acar yang memiliki sensasi rasa yang hancur, aku mau kau terus ada di dadaku".


Wasit Tinju, meski berbadan tak besar, ia akan terlihat garang di arena, ia tak bisa dihasut oleh siapapun. Karena ia mengandalkan semua indera nya untuk mengetahui situasi yang harus ia tanggapi. Gesit, konsentrasi, tak mau kompromi. 
Wasit Tinju tau kapan ia berhenti berprofesi.
 

July 08, 2011

Resensi: Dilarang Melarat, Narasi Teologis Tentang Kemiskinan

Dalam rangka ikut2an teman yg mempublikasikan karya yg sudah dimuat di media, bolehlah kiranya saya juga mempublish karya resensi saya yg termuat di jurnal resmi Kanisius. Tak ada niatan resmi untuk ini sih, selain 1) Karena ikut2an teman yang juga mempublish karya mereka, dan 2)Menyemangati diri supaya tulisan selanjutnya ada yang termuat lagi. Padahal tulisan ini pun juga termuat tahun 111 sebelum Masehi (Antara malu, tapi tetep aja diposting).

Oiya sedikit cerita ajaib tentang asal-usul tulisan saya termuat (tumben banget saya nulis resmi dan termuat). Kejadian itu tidak serta-merta teman, ketahuilah menulis resensi ini diawali oleh ajaran Sang Guru; Mas Ali Usman. Dengan dibantu beliau, dengan bimbingan yang saya terima naik-turun (naik-nya ada di Guru yg selalu semangat, dan turun-nya ada di saya yang emang dasar murid tipe males). Berkat editan beliau berkali-kali, akhirnya, ya akhirnya resensi ini dianggap laik dimuat (meski bukan media cetak), dan satu lagi kawan: imbalan gratis 2 buku yang boleh dipilih langsung di toko buku Kanisius!. Amboi...bahagia itu simpel kawan, ketika kita mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dengan cara 6 huruf: GRATIS!
Well, enjoy reading..

Spiritualitas Kemiskinan

Alhimni Fahma *) (04/10/2007 - 11:57 WIB)

Jurnalnet.com (Jogja): Kemiskinan sering kita anggap sebagai permasalahan yang tidak bisa dicari penyebabnya dan tampak tidak bisa terselesaikan. Seandainya pun bisa, sangatlah sulit. Mari kita lihat di sekitar kita. Angka kemiskinan yang kian hari bertambah, semakin meyakinkan kalangan bahwa kemiskinan memang telah menjadi penyakit sosial yang mesti diatasi oleh semua kalangan.

Oleh sebagian kalangan, terjadinya kemiskinan itu merupakan imbas dari arus modernisasi. Modernisasi yang berlebihan itu telah menjadikan kehidupan modern saat ini demikian keras dan tidak bersahabat lagi bagi umat manusia. Akibatnya, salah satu indikasi yang paling nyata adalah semakin tampak adanya kesenjangan sosial berupa kelas-kelas dalam struktur masyarakat, antara masyarakat miskin dengan yang kaya.

Dalam kondisi demikian, situasi masyarakat yang sedang mengalami kelaparan (karena miskin itu) dengan orang yang merasa kekenyangan karena limpahan harta, semakin menganga dalam kehidupan nyata sehari-hari kita. Ditambah lagi, solidaritas antara sesama (telah) semakin pudar di sanubari setiap insan.

Karenanya, tak salah bila Peter L. Berger (1982) melukiskan manusia modern mengalamai anomie, yaitu suatu keadaan di mana setiap individu manusia kehilangan ikatan yang memberikan perasaan aman dan kemantapan dengan sesam manusia lainnya, sehingga menyebabkan kehilangan pengertian yang memberikan petunjuk tentang tujuan dan arti kehidupan di dunia ini.

Diakui bersama, bahwa kemiskinan menjadi problem sosial yang menimpa masyarakat di seluruh dunia. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, persoalan kemiskinan telah lama menjadi "momok", dan karenanya sudah sejak lama pula memunculkan semacam "manifesto"" untuk segera mengentaskan kemiskinan itu.

Tugas itu tentu saja tidak hanya menjadi tanggungjawab negara yang memang semestinya demikian. Tetapi juga seluruh elemen masyarakat, lembaga-lembaga sosial, termasuk di dalamnya lembaga keagamaan. Lalu bagaimana agama merespons dan menyikapi hantu sosial (kemiskinan) itu?

Dalam realitasnya, situasi seperti itu ternyata menggugat kaum beriman agama-agama dunia. Buku ini adalah salah satu bukti nyata yang ditulis oleh Michael Taylor, seorang profesor dalam bidang ilmu Teologi Sosial di Universitas Birmingham. Ditulis berdasarkan pergulatan pribadi berkat pengalaman langsung hidup bersama kaum miskin dengan segala kompleksitasnya.

Taylor yang telah bergelut dalam kemiskinan selama 12 tahun menginginkan keluar dari sebab akibat kemiskinan yang telah banyak diketahui. Sebagai direktur Christian Aid yang menghadapi langsung masalah kemiskinan dunia, ia mengambil sisi narasi spiritualitas untuk membedah kemiskinan. Keadaan yang memprihatinkan di Rwanda sebagai contoh jelas bahwa komunitas miskin disana tidak mengenal sisi spiritualitas dalam diri. Sehingga, tidak ada istilah untuk menginginkan kehidupan yang lebih baik kedepan, tidak ada hasrat untuk bangkit dan lepas dari penderitaan.

Berbeda dengan para Teolog lain yang masih memperdebatkan kebenaran tentang pertobatan dan rekonsiliasi sebagai solusi. Taylor beranggapan hal ini membutuhkan adanya perubahan fundamental pada lingkungan yang berdamai. Sebab, tidak mudah bagi orang Rwanda untuk saling memaafkan dan menghargai satu sama lain serta menciptakan tali kerjasama dan persahabatan. Sedangkan pertobatan terkesan seperti tawar-menawar pengampunan ilahi atas siapa yang bersalah dari krisis yang terjadi (hal 14).

Dalam buku ini, Taylor memberi tawaran solutif dari penelusurannya dalam spiritualitas yang didalaminya, sembari mengamati keadaan yang memungkinkan untuk keluar dari kemiskinan. Setidaknya ada empat proses kreatif yang bisa dilakukan.

Pertama, keterlibatan dan partisipasi semua pihak terus dipraktikkan secara luas dalam berbagai lingkungan pembangunan. Konsep partisipasi yang dimaksud adalah membenarkan adanya penyerataan antara yang miskin dan yang kaya. Mereka semua merupakan orang-orang bijaksana yang berhak tahu tentang kehidupannya dan bagaimana mewujudkannya. Karena ketika tanggung jawab itu ada, maka motivasi akan muncul. Selain itu, partisipasi menyulutkan kepercayaan dan harga diri orang.

Kedua, belajar dari kasus kemiskinan, rasialisme dan ketidakadilan di Brazil, maka konfrontasi yang biasanya mempunyai nuansa negatif justru bisa disebut langkah kreatif. Ia bisa membuka tabir ketidakadilan yang secara perlahan namun pasti. Ketiga adalah solidaritas, yang dimaksudkan disini adalah solidaritas yang memadukan semua sisi.

Keempat adalah pengorbanan. Berangkat dari kisah Taylor ketika bertemu dengan Chico Mendes, sang pejuang penyadap karet yang tinggal di daerah Amazon. Ia menentang pemerintah dan tuan tanah yang berlaku tidak adil terhadap penyadap karet dari dalam dengan yang datang dari luar. Ia pun terbunuh. Namun kematian Chico Mendes justru membuka mata berbagai kalangan akan ketidakadilan yang terjadi di daerah tersebut.

Akhirnya, yang harus dipahami oleh pembaca adalah bahwa buku ini menceritakan penelusuran spiritualitas seorang teolog dalam melihat dan memberikan persoalan tentang kemiskinan. Dilengkapi dengan pengalaman-pengalamn langsung bergelut dengan kemiskinan, sehingga solusi yang Taylor tawarkan tampak bukan omong kosong belaka.

Menikmati buku ini terasa menimbulkan simpati sekaligus empati yang diharapkan akan melakukan tindakan nyata ketika menghadapi kemiskinan. Maka layaklah bila kita jadikan referensi untuk mencari jawaban persolan kemiskinan di negara kita.

Judul Buku : Dilarang Melarat, Narasi Teologis tentang kemiskinan.
(Judul asli Poverty and Christianity: Reflection at the Interface between faith and Experience)
Pengarang : Michael Taylor
Jumlah hlm : 259 halaman
Penerbit : Kanisius
Cetakan : I, Juni 2007
*) Alhimni Fahma, Pencinta buku, dan aktif di Bamboo Runcing Community Yogyakarta.

July 06, 2011

Respect

Sebenarnya, ini adalah cerita kekesalan saya. Dan saya mengawalinya dengan prolog yang (akhirnya) harus saya potong karena saking tak ada nyambung-nyambungnya dengan paragraph di bawahnya. Saya sempat stuck bagaimana mengawalinya dengan menempel prolog untuk cerita kesal seperti ini. Namun akhirnya saya tulis saja semuanya dengan mengalir.

Di paragraph yang saat ini kalian baca, saya hendak menceritakan miscelleous thought yang sedang menghampiri saya saat ini. Ada banyak macam-macam, salah satunya saya mau ceritain orang yang sering saya temui duduk di tangga jembatan penyebrangan. Disinilah awal kekesalan saya bermuara. Sebenarnya bukan juga disebut kekesalan, mungkin tepatnya ketidaknyamanan. Yang seharusnya A, kenapa jadi R?.

Bapak yang duduk di tangga jembatan penyebrangan itu tak tampak tua, (maaf) cacatpun juga tidak. Senjata utama dia adalah sapu ijuk yang menjauhi ukuran sapu ijuk normal (karena panjangnya cuma separuh dari lengan orang dewasa). Dengan senjata yang ia genggam itu sembari duduk di anak tangga sungguh sangat menyusahkan jalur pengguna tangga (di kota ini macet pun tak hanya di jalan, bahkan di jembatan penyebrangan pun disabotase macet oleh orang ini).

Apa pekerjaannya? Ia menunggu orang yang melewatinya untuk memberikan uang receh. Apa dia pengemis? Tidak, dia cuma berpura-pura telah mengumpulkan sebagian sampah di tangga itu. Untuk apa coba? Supaya pengguna tangga penyebrangan di situ nyaman dengan tidak adanya sampah berserakan. For God’s shake! Jujur dalam hati, saya benar-benar tidak butuh jasa anda wahai bapak yang budiman. Karena saya cukup tahu bahwa jika anda absen (gak lagi nongkrong di tangga tersebut) tidak ada sampah-sampah yang berserakan. Kalaupun ada, tak sebanyak jika anda hadir dan menduduki singgasana itu. Jadi apa ini rekayasa anda juga wahai bapak yang budiman? Oh Jhon Pantau, saya butuh bantuanmu untuk menginterogasi orang satu ini.

Masih banyak cara-cara yang lebih terhormat mencari uang daripada duduk di anak tangga jembatan penyebrangan yang membuat kami pengakses area tersebut menjadi tak nyaman. Sekalipun saya pengguna aktif jembatan penyebrangan itu, saya tidak akan berniat memberikan uang receh padanya (ini semacam efek ketidaknyamanan saya, seolah-olah jika lewat situ, kita harus membayar pajak padanya dengan memberi uang receh).

Entah mengapa rasa respect saya terhadap orang-orang macam ini hampir tak ada sama sekali. Saya lebih respect terhadap orang yang mau berusaha keras dengan segala kelebihan yang Tuhan karuniakan padanya meski dengan keterbatasan fisik yang ada. Seperti seorang bapak yang cacat kaki dan tangan, ia masih berjuang untuk menafkahi keluarganya dengan berkarya di Betawian (semacam ketoprak kalau versi jawatimuran). Recently i watched its show in TVRI. And I’m apparently comparing both.

Tiba-tiba saya begitu cerewet sekali dalam hal ini, dan saya baru menyadarinya. Saya banyak menggerutu akan keadaan yang semestinya harus sesuai dengan yang saya inginkan. Saya jengah dengan keadaan bangsa yang tak kunjung sembuh dari penyakit akutnya. Saya menjadi sinis jika harus dihadapkan dengan berita sehari-sehari yang cenderung negative tentang bangsa ini. Kondisi wakil-wakil rakyat kami yang tak berhenti menjadi gila. Saya berharap wakil-wakil rakyat yang tak punya higher-self menjadi sadar untuk menatap rakyat, untuk lebih respect kepada ‘siapa’ yang dulunya telah memilih mereka untuk duduk di gedung kura-kura itu, untuk tak merampas duit rakyat. Sehingga tak ada lagi mental-mental ‘kalah’ dari sebagian kami sebelum ‘bertanding’. Semoga bapak yang berada di tangga penyebrangan GOR Sumantri itu bisa mendapatkan pekerjaan yang mendayagunakan total kemampuannya.

June 30, 2011

Sepeda Onthel and Its Tragedy

Waktu itu tahun 2005-an aku memang berniat serius buat belajar naek motor. Meskipun, aku dihina dina oleh sepupu-sepupuku yang lain, karena menurut mereka umurku sudah uzur untuk latihan naek motor. Tapi toh akhirnya mereka (para sepupuku yang walapun lelaki tapi cerewetnya aih..melebihi cerewetnya emak-emak) mendukungku dalam misi menaklukkan Yamaha Vega R merah. Mari kita ikuti alur ceritanya.

Title : Kemplengan on mission (bhs jawa: bonceng tiga)
Venue : NotoHadinegoro Airport, Jember


Pagi itu kami berangkat dari rumah kakek menuju bandara, You know lah landasan bandara di Jember ini masih baru dan belum beroperasi benar, jadi lahannya yagn luas bisa multifungsi. Disanalah aku akan belajar motoran. Karena ternyata my sister juga ikut-ikutan ingin melihat aksi perdanaku dalam misi ini, akhirnya kami berangkat satu motor bonceng tiga.

June 26, 2011

Ayah dan 3 Kalimatnya


Banyak lagu yang menggambarkan sosok ayah, selain sosok ibu yang sudah lebih dulu mendapat ‘tempat’ di hati pendengar musik. Saya tidak begitu suka mendengar lagu mellowdramatic tentang sosok seorang Ayah. Entah kurang sreg dengan lirik atau apa. Hanya saja saya kurang setuju jika lagu tentang ayah didasarkan alasan karena sosok Ibu bisa digambarkan lewat lagu, mengapa ayah tidak?. Menurut saya, tanpa dilagukan, sosok ayah ya tetap ayah, yang kuat, tak mellow, dan memimpin seluruh anggota keluarga dengan kebijaksanaannya.

Kali ini saya ingin bercerita tentang Ayah saya. Ayah saya tak pernah marah, tak pernah menegur dengan ucapan atau tindakan. Kalau disebut pendiam tidak juga, lebih mendekati sosok yang tenang, dan tidak banyak bicara selagi tak penting. Ia jarang bercakap-cakap dengan kami untuk urusan personal. Dan itu kami maklumi, ia juga meyakini kami sebagai putra-putrinya sudah mengerti bagaimana berkelakuan dan bersikap sesuai kehendaknya. Ia memberi kebebasan-yang-bertanggung jawab kepada kami. Saat itu, saya menerimanya karena semata-mata kebiasaan, bukan kesadaran.

Hingga kejadian yang saya sebut sebagai pelajaran berharga bagi saya, dan merubah arah karena terbiasa saya pada Ayah  menjadi penuh dengan kesadaran. Tujuh tahun lalu ketika saya masih unyu (polos, lugu lebih tepatnya), dan baru saja lulus dari sekolah menengah pertama dengan hasil lumayan (standar saja maksud saya). Sudah kebiasaan di keluarga kami, jika selepas MTs (setingkat SMP), kami harus keluar dari rumah, untuk melanjutkan sekolah di luar daerah kami.

Kakak saya yang menganjurkan untuk mendaftar di sebuah sekolah negeri di Malang, dan saya hanya manggut-manggut. Kebetulan sekolah tersebut juga menyediakan fasilitas asrama yang sistemnya mirip pesantren Gontor, cuma bedanya karena dikelola sekolah, jadi agak lebih moderat, dan mengikuti kultur sekolah.

Saya berhasil masuk ke jurusan agama (and badly to say it was not like i wanted at that time). Saya berkeinginan untuk masuk jurusan umum saja, yang tak perlu bersusah-payah belajar bahasa arab-inggris. FYI, all the matters in this department need people with more ability of foreign language specification. Especially text book in every subject printed in Arabic, and totally to say i was suck to eat them suddenly. It was just my first time lived out of my family. Yes I said it was shocking me badly.

Alhasil, bulan pertama di asrama saya lalui dengan tak bersemangat, begitupula di kelas. Tiap pagi, bergegas ke wartel, saya menelepon orang rumah hanya untuk menyampaikan keluhan-keluhan saya yang cenderung menyesalkan kenapa harus masuk kelas ini. Betapa tak nyamannya tinggal di asrama yang memiliki aturan ketat berbahasa asing 24hours nonstop. Betapa pusingnya saya harus masuk kelas dan mengikuti pelajaran dengan pengantar bahasa Arab dan buku-buku cetak berbahasa arab juga. Sampai saya memutuskan untuk memberitahukan ayah bahwa saya ingin pindah jurusan saja, kalau tidak, saya pindah sekolah saja. See? Betapa saya sangat membebani ayah dengan keputusan yang mirip ultimatum ini.

Ayah hanya bertanya kepada kakak-kakak saya “kenapa adikmu ini kok gak krasan?”. Hari itu juga, ayah bergegas ke Malang untuk menemui anak bontotnya ini. Dan saya gembira luar-biasa, karena sedikit lagi saya akan pindah dari kelas yang membuat saya tertekan ini. Tapi kondisi berkata lain, sekolah tidak bisa memindahjurusan dengan begitu cepat, pun jika harus keluar, menunggu untuk akhir semester. Ayah saya tak sempat beristirahat, tiba di Malang jam 3 sore, bertemu dengan Bpk Kepala Sekolah, kemudian ia memulai perbincangan dengan saya di masjid sekolah selepas sholat maghrib. Disitu, di teras masjid kemudian beliau menasehati saya.

“Nduk, dicoba dulu. Apapun yang belum dicoba pasti akan kelihatan sulit.”

Saya terdiam sesaat, kalimat Ayah ibarat tegukan air dingin untuk tenggorokanku yang mulai tercekat. Ada perasaan melunak seketika itu juga. Tiba-tiba saya sadar, setelah bahkan seminggu2 sebelumnya nasehat yang sudah saya dapat dari kakak atau Ibu mental dengan sukses, saya dengan keras kepala masih bersikukuh untuk tak lagi bertemu dengan buku-buku berteks arab itu. Dan detik itu juga, hanya ucapan ayah yang singkat, padat, jelas cukup membuat saya tenang.

“Kalau ndak krasan, ya nanti setelah semesteran, bisa pindah.”

Kembali kalimat tambahan Ayah ini malah membuat saya terisak. Betapa saya terlalu memaksakan kehendak, betapa saya merepotkan ayah, ibu dan kakak2 saya dengan acara ‘gak krasan’ saya yang kelihatan sekali kekanak-kanakannya. Kenapa saya tidak membuka diri untuk menerima hal-hal baru yang belum saya ketahui sebelumnya.

“Wis ya Nduk, tak wangsul ndisek. Mundak kebengen nduduk omah.”
(Sudah ya nak, Ayah pulang dulu, takut kemalaman sampai rumah)

Seketika itu juga, luruhlah semua keegoisan saya. Betapa 3 kalimat tersebut mampu membuat hati saya terbuka, membuat saya harus kuat dan tak lagi cengeng. Setelah salim dan berpamitan dengan ayah, ia mengambil mikrolet LG (Landungsari-Arjosari) di jalan depan masjid. Hingga ia masuk dan mikrolet itu membawanya berlalu dari hadapan saya, kaku tak beranjak kemana-mana kaki ini terasa. 6jam kira-kira perjalanan Malang ke rumah saya. Dan ayah melakukan perjalanan pulang-pergi itu untuk saya.

Semester pertama, saya menghadiahi beliau dengan nilai-nilai raport yang nyaris tak bisa dipercaya, tidak ada angka 6 teman!, saya masuk ranking 3 besar. Saya melahap buku-buku berteks Arab itu dengan excited. Seakan-akan ini adalah tantangan (begitu pikir saya waktu itu). Lalu beberapa prestasi non-akademik tingkat provinsi pun sempat saya raih di sekolah ini. Semua saya jalani tanpa paksaan, melainkan karena kesadaran taat saya kepada orangtua. Dan kesadaran itu bersumbu dari 3 kalimat ayah saat itu. Ah, ayah..saya menulis ini dengan ‘rasa rindu’ kepadamu. Semoga ayah diberi kesehatan disana.


We Love You Dad!


June 21, 2011

Fakta?

Saya selalu bingung kalau disuruh nulis sesuai tema, rasanya sebingung orang yang harus disuruh maju ngapalin Dasa Dharma Pramuka pas upacara. Meskipun hafal di butir awal, dijamin pas tengah-tengah blank dan mulai ngelantur. Karena 10 butir kalimat itu susah sekali dihafal dalam kapasitas memori otak saya yang terbatas. Sebagaimana tulisan, 10 angka merupakan rangkaian rumit nan panjang untuk menjadi tulisan yang lengkap dan layak dibaca.

Hobi ngelantur saya selalu terbukti sukses dan terjadi alamiah kalau saya disuruh menulis dengan tema “A” atau tema “B” atau tema “ABCD”. Maunya saya nulis, ya nulis sesuai yang keluar dari pikiran saya, tidak perlu memikirkan bagaimana tulisan ini akan berprolog dan berepilog, bagaimana tulisan ini akan dibaca orang dan sesuai dengan tema, bagaimana tulisan ini mengantarkan pembaca tidak bingung hingga ke titik akhir bacaan dsb dsb. Tapi seegoisnya saya menulis, kalau dipikir-dipikir, jika memang mau menulis yang model sesuka saya, dan tidak ditakdirkan untuk dibaca orang lain, saya bisa menulisnya tanpa dipublish (apalagi di blog semacam ini). Akhirnya saya mengalah dengan ego aneh saya tentang menulis. Konklusinya: saya harus banyak belajar menulis dengan tema. #c.a.k.e.p! Yukyak yuuuk..

June 07, 2011

Side Effect


Karena kita tahu ada side effect dari apa yang kita lakukan sebelumnya.


Seperti kata Herman Melville: We can not live only for ourselves. A thousand fibers connect us with our fellow-men; along those fibers, as sympathetic threads, our actions run as causes, and they come back to us as effects.


Adakah diantara kita merasa jengah dengan penisbatan Lady Gaga yang oleh publik disebut-sebut seorang fashion icon jaman sekarang? Jawabannya adalah saya salah satunya. Saya sempat merasa keanehan-keanehan yang diciptakan oleh Lady gaga seolah-olah dipaksakan. Terkadang saya justru memikirkan dimana letak kenyamanannya jika ia harus memakai gaun dari daging mentah, sepatu dengan hak tinggi yang menyerupai bentuk kelamin laki-laki, hingga ia terjatuh/keseleo dengan sepatu yang mirip engrangnya sewaktu keluar dari Bandara (and catched by paparazzi). Berasa kasihan aja betapa tersiksanya ketidaknormalan untuk disebut sebagai 'fashion icon', but if she's okay and being comfort with outfit and wardrobe she wears, totally not problems with that.

I mean ketidaksukaan saya ini akan digiring ke pertanyaan "so what if u don't like and hating her?" "does it take any benefit for you?" or "did you ever see in a glance another theme than hating her?". Well, kita tidak tahu kan kalau salah satu dari 7 gaun yang dipakai Lady gaga untuk pemotretan Herper's Bazaar magazine juga dirancang oleh seorang anak muda dari Jakarta?. Nama anak muda dari Pluit itu adalah Tex Saverio, asli Jakarta. Usianya masih 27 tahun. Dulu dia sempat sekolah di SMA 1 BPK Penabur, salah satu sekolah bonafide di Jakarta. Tapi dia harus keluar dari SMA tersebut karena memang minatnya justru lebih besar di dunia fashion. Lalu dia mengakomodir passion nya tersebut ke Bunka School of Fashion. Seorang anak muda biasa yang sekarang sejajar dengan Alexander McQueen, Thiery Mugler, Versace, Dior, Francesco Scognamiglio. Dia dinilai sejajar karena karyanya yang dibuat segenap jiwa.

See? Side effect-nya mungkin agak terlalu jauh, tapi mampu menjawab apa yang akan kita lakukan dengan kebencian kita terhadap sesuatu. Gak suka bolehlah..wajar, hak-hak kita kok, gak suka aja udah cukup kok daripada benci. Apa deh efek benci kita yang berkelanjutan? Buat kita gak membuka diri dengan hal-hal lain yang baru. Karena kita sudah antipati dan judging berlebihan terlebih dahulu.

Mungkin diantara kita pernah memaki-maki kesal atau bersikap menyayangkan kepada semua pembuat kebijakan atas diberhentikannya film-film impor dari rumah produksi yang tergabung di MPAA (Motion Picture Assosiation οf America atau Asosiasi produser film Amerika). Hey, saya juga salah satunya dari sekumpulan orang yang memaki-maki kesal tersebut! Saya terus terobsesi dengan ego saya bahwa sesuatu yg saya inginkan harus dipenuhi, tanpa melihat ada seseorang yang juga boleh kita beri kesempatan senada. Bisa jadi, dengan hadirnya film2 Thailand, Korea, India dan dari negeri2 Asia yg lain, kita seperti melepas ketergantungan dengan negeri adidaya, negeri uncle Sam tersebut. Oke saya tahu film2 barat memang bagus dan layak ditonton. Siapa sih yang bakal menolak tontonan apik semacam Fast Five, Pirates of the Caribbean on Stranger Tides, The Hangover: Part II, Kung Fu Panda 2, Thor, Green Lantern, X-Men: First Class, Mission: Impossible – Ghost Protocol, Transformers Dark of the Moon dan Harry the Deathly Hallow: Part 2. Bahkan saya juga penikmat film2 barat dengan efek2 dramatis teknologi yang memang belum mampu negara kita bikin.

Awalnya saya juga tak terima (nangis2 semalaman, jeduk2in pala di tembok, jambak2 rambut sendiri, lebay deh Kim!), ketika kenikmatan tersebut seperti diambil paksa dari kehidupan normal saya. Bahkan saya pikir, terasa naif sekali jika kemudian film-film impor diberhentikan, karena jelas pemasukan Ditjen Bea Cukai/Ditjen Pajak/Pemda/Pemkot/Pemkab akan kehilangan pendapatannya sepersekian persen, atas bea masuk barang sekian persen. Bahkan menjamurnya bioskop di berbagai daerah akan kena imbasnya juga, korelasinya seperti ini: animo penonton surut, pendapatan asli daerah juga menyusut. Tapi saya yakin pajak yang seharusnya MPAA bayar dari tiap-tiap film yang masuk ke negara kita jika ditotal akan banyak dan berlipat2 juga. Tapi ah..sok tahu banget kayaknya kalimat saya sebelumnya.

Okelah terlepas dari rantai simbiosis itu semua, saya berbaik sangka bahwa masalah ini akan selesai dan ditangani dengan baik oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dan benar kan, ada semacam angin segar untuk film-film dari MPAA bakal bisa kita nikmati lagi. Baru-baru ini Kemenkeu sudah berbaik hati 'akan' mengatur SK untuk perpajakan film impor. Kenapa lama banget? karena film impor mencirikan barang yang punya unsur budaya, maka perpajakannya beda dengan pajak barang umum lainnya. Nah, di Indonesia film-film MPAA diimpor oleh 3 perusahaan (PT Amero Mitra, PT Camila Internusa dan PT Satrya Perkasa ). Ketiga importir film sebenarnya sudah ngerti-ngerti amat berapa tunggakan pajak yang harus ia bayar, nah masalah pertama: yang satu sdh bayar lunas yaitu PT Amero Mitra (and you know ternyata pajak yang harus dibayar 1importir cuma 9 miliar! sangat sedikit dibandingkan imbalan yang dibayarkan ke produser film di luar negeri sana yang mencapai 314 miliar). Yang dua importir sisanya ini nih masih membelot belum mau bayar, padahal kita nunggu-nunggu eksyen mereka kan..*gemes geregetan, sini deh aye yang bayarin*

Nah masalah yang kedua (aduh banyak banget ye masalah yang mampir di bacaan ini) dua importir yang belum bayar tunggakan pajak + denda adalah importir dari rumah-rumah produksi film-film Blockbuster yang rilis pada Juni–Agustus nanti. Blockbuster adalah istilah bagi film-film ber-budget besar yang dirilis studio-studio besar di bawah naungan MPAA. jadi intinya, kita gak bakal bisa lihat tuh film-film cihuy yang sudah saya sebutkan di paragraf sebelumnya.

Well, beritikad baik meluruskan masalah yang terlanjut melenceng memang akan banyak ditentang, maksud saya pasti akan mengandung pro-kontra yang mengiringinya. Dan siapa tahu lebih keren jadinya kalau kita mencari solusi buat kita sendiri. Sekarang saya mulai membiasakan merapel film-film indo bermutu (selain genre horor-seks tentunya!) yang belum sempat saya lihat, browsing film-film dokumenter karya anak negeri, dan coba lihat film Asia lain. Oiya film Thailand juga oke lho kaya Suck Seed (padahal asumsi saya tentang film Thai sebelumnya yaaa..gak jauh beda lah ama film Thai “gadis berambut ular”, atau horror Thai). Sekian saja share saya, terimakasih yang menyempatkan membaca. Jangan Lupa Banyak Minum Air Putih ya!
Salam "Sensor Pendeteksi" di dunia bahasa khayalan saya.

Kimmi

June 03, 2011

Main ke Inggris di Kampung Pare Kediri




See You Later Alligator!
This simple words just made me drunk for the first time in pronunciation of ACCESS-ES brought.
Very simple right just for drunk?

Persis seperti yang diucapkan I. Ketut Liyer (Hadi Subiyanto) dalam dialog nya dengan Liz Gilbert (Julia Robert ) di film Eat Pray Love. Bedanya apa yang diucapakan I.Ketut Liyer adalah aksen saya dulu dalam versi medhok berbahasa inggris, sebelum akhirnya saya tahu aksen-aksen lain yang menyerupai foreigner. Itu setelah saya tau ACCESS-ES yang mengembangkan ilmu pronunciation dalam pilihan studinya. Meski, saya tahu (ralat: sedikit sok tahu) kalau untuk main film asing, bisa jadi most of Foreign Producers want Indonesian people say English dialogue in their mother accent, dengan aksen orisinal orang Indonesia. Tidak dimix dengan accent yg dimirip-miripkan dengan foreigners.

Bersamaan dengan ketakjuban saya terhadap kalimat See You Later Alligator, saya telah menyerap 2 ilmu pronunciation sekaligus: pelafalan huruf T yg biasa disebut middle T, sekaligus pola diphthong yang bikin kalimat terbaca seakan-akan menumpang liukan roller coaster. Dan hari-hari selanjutnya saya belajar di ACCESS-ES membuat pengetahuan saya bertambah. Tentu saja adegan utamaku setelah keluar kelas pronun hanya ada 2 scene: 1)terbengong-bengong karena menganggap saking ‘wow’nya kelas tsb bagi saya yg pemula belajar pronun, atau yang ke 2) mulai memonyong-monyongkan mulut seperti yang dicontohkan coach saya di kelas sebelumnya.

Terkadang saya bersama temen-temen seperjuangan yg baru tau pronunciation menirukan gaya coach kami dikelas, hanya sebagai lucu-lucuan. Tapi aneh bin ajaibnya, kami jadi lebih terbiasa practice dengan cara menirukannya tiap kata-kata yg kami pronunciate. (FYI, kami memang belajar NOL BOLD ttg ini, jadi mau tak mau kami harus taat pada perintah guru untuk menghafal simbol dan cara baca tiap kata tertentu yang ditemui dikamus, alhasil kamus Oxford kami penuh dengan pelangi stabilo). Oiya, saya juga baru tahu kalau mau ngomong enggres gak cuma EKSYEN, tapi juga harus apal simbol-simbolnya.

Awal Mula ke kampung Inggris

Jadi awal mula aku ke Pare itu adalah sebuah laka-lantas (kecelakaan lalu-lintas, oiya laka lantas ini menurut versi saya). Ceritanya begini: waktu itu saya berniat mendaftar untuk jadi sukarelawan Gempa Jogja, dengan semangat heroik bak fantastic four, berangkatlah saya dan berencana masuk ke kloter KKN-Gempa yg diadakan oleh kampus. Tapi sampe sana, kuota penuh oleh mahasiswa semester 2, jadinya dibatasilah calon pendaftar semester bawang ini. (inilah alasan yg sampe sekarang aku benci). Akibat tertolak mentah-mentah itulah, tak mau berlama-lama di Jogja, saya langsung banting setir menuju Kampung Inggris, Pare-Kediri. Perkakas-perkakas yang sedianya saya persiapkan untuk jadi sukarelawan ikut terbawa ke Pare. Jaket tebal, kaos kaki, sepatu, energen, obat merah, plester (2 benda terakhir adalah benda yg tak habis pikir kenapa saya bawa di lokasi gempa, yg notabene menjadi surga para petugas P3K).

Dengan semangat desperate, berkelanalah saya mencari tempat tinggal camp, dan bergerilya pula untuk mencari tempat kursusan. Ah, Karena kemalaman nyampe pare, destinasi Tulungrejo (tempat pemberhentian bus terdekat dengan Pare) tak bisa dicapai. Saya diturunkan di tempat antah berantah. Dan suksesnya pak Becak mengelabui saya kalau tempat yg sedang saya injak gak bakal ada bus menuju Pare lagi. (memang bener sih, bus menuju tulungrejo gak ada, tapi bus yg turun sebelum tulugrejo itu ada, lewat jalan depan BEC. Tapi yasudahlah, pak becak itu baik kok).

Singkat kata, singkat cerita, Jadi di tempat ini kita bisa milih tempat kursusan apa, dan juga memilih jadwal sesuai kebutuhan kita. Karena disini ada banyak sekali tempat kursusan berjejal, pun dengan metode pembelajaran aneka rupa. Soal harga, gak usah ragu bin mikir, sangat-sangat terjangkau. Menurut saya sih mungkin karena masih pure pengendalian ekonomi dipegang masyarakat sekitar. Belum ada tuh campur tangan asing yang membuat perekonomian mereka harus dikendalikan. Ah sok very-know-well banget deh opiniku ini. Selain itu, saya bisa kenal dengan banyak teman dari berbagai universitas dan daerah. Just trust me, for me I never found this wonderland before: Kampung Inggris Pare-Kediri. (noted: yang entah kenapa beberapa media harus menuliskannya dengan Kampong?, seriously I found in dictionary of Bahasa Indonesia just use letter U than O for meaning: place, village, land. So, this is officially the wrong writing: Kampong, and the right writing is Kampung. I’m sure that ‘Kampong’ maybe taken from Malay language).

Ampun...tulisanku panjang bener kali ini. (dan saya jamin kalian pasti sudah mati akibat bosan yang tak terperi). So kapan kalian juga mau tahu Kampung Inggris ini?
Ini nih website ACCESS-ES kalau memang penasaran: http://www.access-es.info
ini juga kalau mau tau tentang phonetic symbols: http://dhqzkow.bee.pl/l5p3yg/

Salam 'Sensor bahasa' dan Dilarang Buang Sampah Sembarangan!

May 30, 2011

Selamat! Anda Ahli Bahasa (part 2)


Dilarang Penasaran

Penasaran=arwah penasaran?
Baru kemarin saya jadi tempat curhat kawan lama saya. Dan ia mengusung kata “penasaran” berulang-ulang dalam curhat seri affirmative dan bahagia-nya. Sebulan setelahnya kawan saya datang lagi, tetap dengan “penasaran” yg dibawa2, bedanya episode kali ini adalah seri negative dan sad-endingnya. Hingga akhirnya “sensor pendeteksi” saya tertarik untuk tahu apa sih “penasaran” itu. Entah dari mana dan dari siapa pertama kalinya saya dengar kata tsb, tiba2 terdengar lumrah di telinga. Apalagi ketika momen yang terkait dengan “penasaran” adalah ketertarikan-gebetan-lawan jenis-pdkt. Ouw ouw ouw..semua terasa terjebak dalam jaring spiderman!

Apa iya kalau kata penasaran sahabatan sama kata ketertarikan? mungkin iya, mungkin juga tidak. ok, let's make it clear by checkin' dictionary out.
“penasaran” menurut KBBI edisi ketiga:
1. Berkeras berbuat sesuatu (karena kecewa)
2. Sgt ingin hendak mengetahui sesuatu.
3. Merasa tidak puas
4. Sangat marah (karena dihina, tdk sampai maksudnya dsb).
Well, kalau arti “penasaran” yg sahabatan ama “ketertarikan” kita kategorikan ke arti 1-3 mungkin masih berasa ada nyambungnya. Tapi kalo arti ke 4? bayangkan jika “sangat marah” kita sandingkan dg “ketertarikan-gebetan-lawan jenis-pdkt”, justru bertolakbelakang. Lebih tepatnya jika “penasaran” kita kawinkan dengan kata arwah, mnjadi “arwah penasaran”. Dan artinya kira2 jadi begini, arwah yang sangat marah karena dihina dan tak sampai maksudnya. Seriously?....(kali ini sy sdh tak tahu kenapa dan bagaimana bisa kata "penasaran" juga punya arti "sangat marah", tapi toh KBBI edisi ketiga sudah terbaharui oleh KBBI edisi terbaru skrg, dan kalaupun ada yang punya, tolong lihatin sekalian ya.

Gak penasaran=Gak tertarik
kalo si dia tertarik denganmu, berarti dia akan sangat (penasaran) ingin hendak mengetahui sesuatu tentangmu. Guna melengkapi rasa tertariknya ia padamu, ia manifestasikan melalui kawat2 teknologi yg kira2 mampu mengakomodir rasa penasarannya itu. Lewat saling bertukar bahasa di sms, saling berbicara di telpon, mengecek primbon dan tgl lahirmu, atau tiba2 jd komentator paling rajin di status fb-mu, bahkan ada saja rupa2 topik yg dibuat2 supaya bisa nge-wall di fbmu. Serta berbagai ragam jalan lain agar bs "tahu" sang target lebih lanjut dan menjadi puas dengan kumpulan informasi yg di dapat.

Ketahuilah Rosalinda.., (maaf paragraph kali ini cenderung ditujukan ke kaum hawa) adapula jalur2 tak resmi yg perlu cepat2 dideteksi kalau sang pembidik target sudah tak penasaran lagi alias sudah “merasa puas” (merujuk ke arti “penasaran” nomer 3). Dan dalam jalur sms saja, ketidaktertarikan sudah bisa dilihat jelas dlm jumlah kata dan huruf dalam balasan smsnya. Percayalah, apapun alasan yg digunakan laki2 yang membalas sms tidak lebih dari 5huruf atau 3 kata, bagi kami (para perempuan yg peka bahasa Huwahahaha…lagu2nya!) sama artinya dengan laki2 normal yg lebih memilih pindah chanel tv utk melihat telenovela di jam yg sama saat tayangan sepakbola live!
alias tidak ada ketertarikan atau bisa saja bola-nya lagi jeda! Hihihi…

Oke darling, begini, analogiku memang terbaca kurang tepat nan tak efektif, tapi coba deh, lelaki normal memang suka sepakbola kan?. Jika saja sepakbola adalah perempuan normal, dan kalau saja sepakbola tidak lebih laki-laki gemari dibandingkan dg telenovela, yiyiyi...! sepertinya kamu memang tak masuk lagi ke dalam daftar "list penasarannya" itu. Tapi jangan gentar, berhubung kata penasaran no.3 menurut KBBI “merasa tidak puas” gak berarti kan kalo ia penasarannya habis means sudah puas, and dia justru menjauh dari sang-target! Siapa tahu setelah penasarannya habis dan terpenuhi, ia akan melangkah ke level selanjutnya, yaitu kata invasi dan ofensif. #halah kim..!

Well Darling, akhirnya kata penasarannya sudah terpecahkan. Jadi, siapapun yg sedang memiliki masalah dengan kata “penasaran”, dan kalaupun memang suka mengaitkan kata ketertarikan dengan penasaran sebagai jalur tak resmi mendeteksi perasaan, saya anjurkan kalian melihat kamus KBBI edisi terbaru saja. Karena penasaran yang sahabatan dengan ketertarikan dan pola2 balasan sms 5 huruf dan 3 kata adalah jalur tak resmi pula dari teori saya tentang perasaan.
Saya senang bisa berbagi (kebingungan) dengan siapa saja, dan dilarang marah!

Salam “sensor pendeteksi” di Dunia Bahasa khayalan saya.
Kim-kim

Selamat! Anda adalah Ahli Bahasa (part 1)


Akhir akhir ini, tiap mendapat dan mendengarkan orang lain berbicara dalam bhs.Indonesia—entah sengaja saya memang ingin mendengar pembicaraannya atau hanya numpang lewat mendengarnya—saya selalu terusik dengan kata yg sering terucapkan dan sering digunakan sehari-hari. Bisa kata takjub, khawatir, cemas, terlena, penasaran dsb. Tapi jika kata2 tsb saya ulang lagi, maka terkadang saya tak yakin bagaimana penggunaannya, apa artinya, apa pengaruh kata tsb dan banyak hal. Karena mungkin, saya sering malas membuka kamus KBBI utk mengetahui arti yg bisa dipertanggungjawabkan (dan bukan sekedar rekaan org malas spt saya).

Lalu kok ajaib ya, sebenarnya Intuisi atau karna pengalaman yg membuat saya tahu arti kata2 tsb tanpa melihat kamus? mungkin yg terakhir adalah opsi yg sering saya gunakan sebagai dasar alasan—jika sewaktu2 ada ahli bahasa mempertanyakan arti sebuah kata itu kpd saya nanti (biasanya sih ahli bahasa malah jarang tanya hal begenian, kalo di kelas filsafat mgkn iya). Opsi terakhir tsb juga menggiring saya secara alamiah sudah memiliki bank kata dg arti yg kita reka2 sendiri menurut pengalaman kita.

Kita juga tak begitu sadar sejak dan mulai kapan kita gunakan kata tsb. beda2 kali ya sesuai dengan umur dan pergaulan.
Pernah suatu saat saya dibuat tercengang oleh anak SD kelas satu di kota besar yg telah menggunakan kata "antropologi" dlm kalimatnya sewaktu bermain dg kawan2nya. “Gila, ini anak titisan siluman kali ya”. Padahal umur saya segitu juga kosakata gak jauh2 dari cilok, saos, es puter, gulali, es cendol, arum manis, lompat tali, gobaksodor, dan kosakata terkerenku waktu itu adalah kebetulan “main gaplek”. Well, saya rasa jika bapaknya mmg seorang antropolog atau ibunya adalah guru antropologi, atau ia termasuk golongan ank2 indigo masih terbuka kemungkinan kalo pose tercengangku dicabut dr adegan kalimat diatas. Tapi misalnya nih, kemungkinan yg paling zero limit, dia bakal tau gak apa arti dari antropologi yg ia ucapkan berdasarkan KBBI edisi terbaru? Kita kadang sama dg anak kecil, kita dg umur segini sdh memiliki beribu kosakata yg terekam di otak kita, ada yg lolos seleksi—pernah dilihat—artinya meski sekali di kamus. Adapula yg tdk, namun terlanjur kita gunakan dlm sehari2 dan—mudah2an—arti rekaan hasil karya kita sesuai dg kamus.

Tapi kenapa sih harus kamus yg jadi patokan? Easy Darling…ya minimal kita gak perlu repot2 ikut dlm tim perumus penyusun KBBI tsb dan berpusing2 ria menyusun arti dr kata sesuai dg rumpun ilmunya.

Sebenarnya saya tak terlalu menganjurkan kalau tiap kata yg kita sudah sering gunakan lalu dicek lagi di kamus untuk tahu arti harfiahnya (selain tdk efektif, alih-alih menganjurkan, mengambil KBBI setebal 1350-an halaman saja saya malas luar binasa!). Pun juga tdk menyalahkan mendayagunakan hasil pengalaman yg membantu kita utk tau arti dari kata2 yang tertangkap dalam keseharian kita. Namun selain upaya kita mendapatkan arti tsb, upaya mencerna dan memahami tanpa tahu dari kamus, kemudian bermain2 akrab dengan kata tsb menggunakannya, mengeksplornya, saya rasa adalah hal terbaik yg kita lakukan untuk menjamu kata2 dlm perbendaharaan kita! dan kita sdh berkelakuan baik dg alokasi kata2 kita! Sayang kan kalau kita hanya menyimpannya saja di bank bahasa milik kita.

Bereksplorlah dg kata2 lama namun baru dlm “sensor pendeteksi” kita. maka jangan ragu untuk menggunakan dan mencari lagi kata2 lain yg kita blm tahu dan bahkan blm kita dengar sekalipun. Karna itu akan sgt menjadi hal yg terkeren bermain-main dengan kata-kata yg baru dan segar dalam dunia bahasa (jgn GR dulu, dunia bahasa tsb versi khayalan saya). Dan akhirnya kita menjadi ahli bahasa, minimal di Dunia Bahasa versi khayalan masing-masing. Menggunakan sensor pendeteksi bahasa akan menjadikan kita peka!. Wow..that sounds so hard to get! #halah, yg nulis ini juga masih bingung kok kemana jalan keluarnya paragraf ini... :D

May 08, 2011

Procrastination


 Procrastination

Sekarang atau nanti, tetap sama saja kita bakal melakukannya. Inilah semboyan saya untuk bisa menghilangkan jiwa penunda. Saya cenderung memiliki sifat procrastination, bahkan itu sudah melegenda seantero jagad keluarga saya di rumah. Hadeeuhh...parah bgt dah kalau diceritain disini, gak bakal muat merujuk ke tiap adegan2 dimana saya selalu melakukan akting penundaan saya dlm hidup. 

Bahkan ketika pikiran tergila saya sedang berkelana, kalau saja Oscar bikin kategori Best Procarastinator, saya bakal masuk nominee teratas (tentu saja! karna saingannya gak ada). Saya membayangkan bakal naek ke pentas (ya ampun 'pentas'? berkelas dikit dung kim, pake 'stage' gitu ah) dan tentu saja berdadah-dadah di karpet merah dulu, lalu menangis2 haru menyebutkan acknowledgment atas piala Oscar yg saya dapat.

Tapi itu semua tidak lagi terjadi untuk sekarang. This new life really makes me an -update person in present, this new life build me to be responsible human in my whole time, this new life made me so workaholic (kali ini edisi lebay). Karena saya selalu bilang ya untuk tugas apapun yg datang, karena saya sanggup untuk melakukannya semua. (oiya, kata 'sanggup' mengganti kata 'akan' yg sering saya pakai sebelumnya, and you know what, kata 'akan' cenderung memiliki makna negasi, karna di dalamnya membawa atribut penundaan, pekerjaan itu terselesaikan tidak dalam waktu sekarang, tapi nanti).

Saya sudah bangun dari kebiasaan buruk yg sangat merugikan saya. Saya sadar untuk berubah membutuhkan pengorbanan, alias keseriusan mau keluar dari zona aman kita, kayak misahin getah dari buah nangka, untuk bisa menikmati manisnya buah tsb, kita memang harus bersusah payah bergetah-getah ria kan?

well, saya sanggup menunjukkan integritas saya. Ituu yg saya bilang di pagi hari.

Hmm...So-oh-my-God banget gak sih kelihatannya?, tapi percayalah saudara-saudara, kata-kata tsb justru membuat saya dibanjiri perasaan semangat dan 'keharusan untuk more capable di bidang yg saya tangani'.

Jadi begitulah upaya saya yang terekam ini untuk menanggulangi sifat procrastination.

April 19, 2011

Seledri Hijau

SELEDRI HIJAU

Kadang seledri bahkan tak lagi berwarna hijau terus menerus. ia bisa menjadi menguning karena layu atau karna tak tahannya ia terhadap cuaca, lupa kamu masukkan ke dalam kulkas.
saya menyadari "apapun yang saya tuangkan" disini yang semula sooo green di kepala saya sendiri, bisa jadi berubah warnanya jadi kuning, coklat (saking layunya) di benak orang lain.
And for that reason, saya butuh komentar2 yg bisa membuat saya tidak sendirian menulis dan mengawali proses saya ini. agar saya juga tahu warna apa di luar sana yang lagi in!
go blogging go kimmi go..

di seledrihijau, kalian bisa menemukan
_ulasan bahasa ASING (perancis, persia, dan english)
_segala yg berhubungan dengan BAHASA.
_oh iya, aku juga suka FILM.
_dan juga tentu saja NOVEL dan BUKU.

ah kelihatnnya soo-well-prepared ya dg blog ini? padahala sli saya bingung terhadap bahan apa yg akan saya masukkan dlm blog ini.
hmm...bgmn kalo kita bilang semuanya akan mengalir saja? dju think that sounds so cool rather than looks so forced.

February 20, 2011

sby vs jgj

Beberapa hari yang lalu, saya berada di Surabaya.
Berada di antara orang-orang yang berlogat jawatimuran membuat saya semakin merasakan alangkah beragamnya bahasa yang dipunyai negeri ini. Disana, tepatnya di universitas islam di Sby, saya menyempatkan diri berjalan menyusuri lorong tempat dimana mahasiswa melakukan transaksi per-kertasan, penjilidan, perfotokopian, dll.
mari kita lihat,contohnya seperti ini;

"mene ae yo cak di jupuk"
"apane?"
"yo iku terjemahane"
"gak iso, rodok awan piye?"

well,saya tersenyum2 sendiri,
seakan dlm bagian otak saya sudah tergelar papan yg tergambar dua kolom, disisis kiri dialek khas jawatimuran, sedangkan di sisi kanan logat medhok jogjakarta-an.

"sesuk kepiye di jikek"
"ngopo'e?"
"kuwi terjemahane dab"
"ra iso, awan2 sithek gelem po?"

Dulu, tahun pertama kuliah d jogja, saya sempat tercengang ketika hrs dg cpt melebur ke budaya jogja-
dan meninggalkan logat khas saya "iyo ta rek?". Karena mrk dibuat tertawa dg logat saya tsb. Dalam hati,
justru saya yg tertawa dan terasa asing dg bahasa org jogja yg sopan, lembut, gemulai, seperti tak ada duri. Bahkan saya harus menunggu sepersekian detik untuk memahami arti pembicaraan saya dg teman2 yg asli dr jogja. kelihatannya tak rumit, tapi njlimet. hahaha...podo ae.
seperti kata penegasan "po" dengan "ta", keduanya memiliki arti yg sama di akhir kalimat tanya.
saya pikir "po" itu sama dengan "po'o?" yang juga berfungsi sebagai penekanan yang artinya "ya begitu itu".

"ono opo" dengan "ngopo?" yang artinya ada apa. "njelehi" dengan "nggapleki" yang kira2 artinya menyebalkan.
atau kata kata "gasik" dengan "mruput" yang artinya pagi-pagi buta.
ada lagi kata "bajigur" dengan "jasik" yang artinya? hmm...ya kata2 umpatan lah. (pdhl bajigur makna aslinya adalah minuman khas jogja)
tapi yg lucu adalah kata penegasan "pokokmen" yg sering org jogja ucap dengan "poko'e" jawatimuran . itu yg buat saya tertawa.
kok bisa ya kata kelamin "men" tiba2 aja disandarkan ke kata dasar "pokok". akarnya bagaimana, ada sejarahnya tidak? (he3 siapa mau neliti ini?).
well...saya rasa bahasa-bahasa dialog seperti ini memang membuat colouring our days. it makes our life so colorfull..

January 29, 2011

Journalist development program (JDP)

Dear bloogers..
Hai..ini baru pertama kalinya saya re-connect dg blog, setelah sekian lama tak berhasrat megutak-atiknya.
saya putuskan bikin blog lagi sadja. dengan format baru, cerita baru, semangat baru.
cerita pertama akan saya mulai dari pengalaman saya yang 'parah' bgt waktu mengikuti audisi JDP metro tv.
huaaaah...pokoknya bikin heboh satu RT (menurut pengakuan polos teman baik saya Rooney). padahal sebenarnya saya berheboh ria karena tak tahu menahu audisi metro seperti apa. Pelabuhan kegundahan hati saya berhenti kpd teman baik saya yg kebetulan sudah nangkring di Indosiar lebih dulu. Dia mati-matian mendukung buat ikutan. "karena kita gak bakal tau gimananya kalo gak pernah coba".
karena sistemnya walk in-interview, jadi hari itu kita datang, absensi (dg mencantumkan kualifikasi kita yg disayaratkan), so tinggal tunggu panggilan intervew yg langsung dilanjut tes on-cam.
yg daftar banyak banget, jadi seharian juga gak bakal selesai. tapi untungnya saya dpt giliran ronde akhir.
dibalik keputus-asaan dan rasa pesimistis yang tiada ujung, akhirnya saya masuk juga di Cendrawasih Room Phoenix Hotell. ternyata gak seserem yg saya bayangin. materi questionnya mengalir. (of course by english)

dan beberapa menit setelahnya, saya masuk ke ruang Merak Room buat tes on cam. haduuuh...belepotan semua dah laporan yang aku bawain. mana pake di zoom close-up juga lagi, n dilihat oleh judges!

tapi toh, akhirnya judges bilang kalo besok saya bisa tes psikotes.


besoknya tes psikotes itu saya lalui dengan muka angka, balok, jajaran genjang, persegi dsb.
jiaaaaah...pegel rasanya tangan ini ngerjain soal-soal itu. dan dari staf metro yg membimbing kami ngerjain soal tadi bilang, bahwa pengumuman siapa yg lolos bisa ditungu di bulan April...whheeekz?! lama juga yah..
jadi...tunggu saja akhir perjuanganku di titik ini di postingan bulan april ya.;D
kata teman saya nothing to loose aja, boleh juga. tapi menurut saya semua pekerjaan yg memang rejeki mita, sesulit apapun kualifikasinya, sebesar apapun kesan Tidak Mungkinnya, akan ada saja sesuatu yang membuat kita meraihnya.
so keep on fighting guys..

Follow