Try to search for The Things?

April 16, 2013

Movie: Thank You for Smoking



Baru-baru ini teman ngasih saran buat nonton "Thank You for Smoking", nah didengar dari judulnya saja udah bikin penasaran, nyalahi pakem. Sehari kemudian, saya baca Creative Junkies Yoris Sebastian, judul film ini dijadikan contoh bagian dari hasil kreatif. Sehari setelahnya, satu lagi teman di Kuala Lumpur bilang juga kalau film ini mutlak ditonton. Okay, well weekend gagal ke Bogor, akhirnya buat marathon film sajalah.

Ternyata yang maen jadi Nick Naylor itu si Aaron Eckhart. Mula-mula cerita ditonjolkan sosok Nick yang kerap 'memenangkan' argumen dengan pihak lawan di sebuah acara talk show membahas dampak rokok terhadap anak-anak. Ia menang gara-gara menyatakan kalau lembaganya akan mengucurkan dana 50 ribu dolar untuk mengkampanyekan "no cigarette for children", which silently it's message of course will increase the demand market of cigarette and the good image of corporate as well. Pekerjaan Nick adalah seorang lobbyist mewakili Academy of Tobacco Studies (ATS), sebuah lembaga penelitian yang memiliki concern terhadap perkembangan rokok di Amerika. Lembaga yang pasti dibenci oleh semua environmentalist dan anggota parlemen yang tidak sepakat dengan kebaikan-apapun-yang-datang-dari-rokok. Lembaga yang berdiri dan pasti dibiayai oleh taipan rokok terbesar di Amerika. Lembaga yang berusaha ngasih kesan "baik-baik saja" terhadap dampak rokok pada kesehatan manusia. A cigarette will be a cigarette!.

Dalam sebuah rapat di ATS yang menyoal tentang upaya pendongkrakan image rokok di masyarakat, ide-ide Nick yang keluar sangat brilian. Ia mencontohkan, sudah banyak Hollywood memasukkan unsur rokok di film-filmnya. Adegan saat Forrest Gump menghisap dalam-dalam rokoknya dan mengeluarkan asap dengan membawa kotak coklat, lalu saat Hugh Grant medapatkan kembali cinta Julia Roberts di Notting Hill dengan membelikan dia Virginia Slim, dan contoh-contoh lain betapa Hollywood membawa kesan cigarettes are cool, elegant, and available and addictive. "Most of actors smoke already!".

Suatu hari, karena ide briliannya, Nick dipanggil si taipan rokok. Tentu saja undangan dibarengi dengan lavish service, a private Boeing plane, a luxury hotel, a 'white' special trip etc, sebuah keuntungan seorang lobbyist pada siapa bekerja dan apa yang dia kerjakan. Pekerjaannya memang sangat berisiko, termasuk berdampak pada pernikahannya yang tidak bisa dipertahankan. Namun sebagai ayah, ia ingin anaknya Joey tidak melihat ia sebagai "ayah pro-rokok yang tak berperasaan pada perkembangan anaknya", namun lebih melihat pada job seorang pelobi. Ia, tak jarang juga mengajak Joey untuk business trip bersamanya, juga mengajarkan Joey untuk bisa membedakan mana argumen, dan mana negosiasi, hal esensi yang dimiliki pelobi. Bagaimana menghandle juru warta, bagaimana mengendalikan diri pada sebuah talk show, bagaimana berpendapat di sebuah rapat dengar dengan Parlemen, dan bagaimana tentunya melobi agar target tercapai. Tapi naas, Nick bisa juga ceroboh dan termakan omongannya. Ia masuk perangkap Heather Holloway (Katie Holmes), seorang wartawan Washington Post. News about Nick appears in leading newspaper and harms his position, as a father, as a lobbyist, as a Vice President of ATS. Everything soon gonna be crashing down. Best thing he has Joey, who comes and says that he's a best father ever.

Bangkitlah Nick ke permukaan, setelah rapat dengar dengan parlemen, ia berbicara lantang kepada pers bahwa apa yang terjadi tidak lebih karena ulah jebakan seorang wartawan "an Irish blue eyes, a junior journalist of Washington Post, who fucks me to get the advantages of me, and so deliver the news for you". Matilah itu si Heather! Wah ini adegan mati kutu seorang si Kat yang sangat keren menurut saya. Well, the last, setelah menimbang dan melihat tanggung jawab moralnya kepada anak, ia akhirnya keluar dari ATS dan bekerja sebagai trainer khusus untuk pengembangan softskill.

Nick Taylor said: Ini semua gara-gara si wartawan cantik itu! :D
Film ini asik, plotnya berliku dan memberikan banyak fokus pada perkembangan rokok di Amerika, lebih ke pesan-pesan yang siapapun bebas menafsirkannya sih. Dialog-dialognya men!, saya harus sedikit-sedikit pause akibat menganalisa maksud kiasan yang dilontarkan. Contohnya saat anggota Perlemen (William H Macy, yang mukanya lucu, maen di Pleasantville) kesel banget sama Nick bilang "he should have a lil' pet goldfish and he carries around in a ziplock bag; hopeless". Finisterre! (end of the earth). Atau saat wawancara, Heather bilang: "Cigarette for homeless, we'll call them hobos, oh that's awful! Any better than sector sixes?". My other interviews have pinned you as a mass murderer, blood sucker, pimp, profiteer and my personal favorite, yuppie Mephistopheles. Yah begitulah, saya harus pause, dan mencatat di notes saya sebentar-sebentar. Film garapan Jason Reitmen ini diambil dari novel dengan judul yang sama karya Christopher Buckley. No wonder sih saya (dialognya banyak yang bagus), kalau novelnya aja laris, pun dengan filmnya. Mau gak mau kita pasti pengen liat visualisasinya setelah membaca habis novelnya, meski pada akhirnya hanya akan ada jawaban a) gak sesuai dengan bayangan pembaca b) lumayan lah. Anyway, Hollywood never failed of anything guys.

Sampe saya bisa paham semua dialognya, baru deh saya kasih 8 buat film ini.


~Kim



April 04, 2013

Godaan Tarot



Baru nemu buku tarot di Gramedia yang udah diterjemah ke Bahasa Indonesia. Ia seharga dua kalinya Parasit Lajang dan Ex-Parasit Lajang. Saya gamang, beli gak, beli gak, kok mahalan buku 'tak berguna' ini daripada novel-novel saya?

Mengingat kitab-kitab tarot yang habis diburu dari Kinokuniya masih ada, pun aplikasinya masih belum muncul up-gradenya, yasudahlah saya urungkan niat, means dipending dulu. Lain kali saya beli ya. Hehe


~Kim


April 03, 2013

Movie: Olympus has Fallen



Been a while for waiting Gerald Butler took a scene in action movie. Since I saw him in Glory Morning, a drama comedy movie, back then I rarely see him filming (or I missed the rest of him hello Gerald's freak?).

Film berkisah tentang jatuhnya Gedung Putih (yang disandikan dengan sebutan Olympus) di tangan teroris. Diceritakan Mike Banning (Gerald Butler) pernah menjadi secret security agent of President, dan dia kejatuhan apes akibat gagal  menyelamatkan Ibu Negara ketika perayaan Natal menuju Camp David. Dipecatlah si Mike ini, dan ditempatkan di kantor pemerintahan. Aksi terorisme berawal ketika kunjungan perwakilan dari Korut ke AS guna membahas persoalan pertahanan tentara AS di laut bagian Selatan Korut. Negara yang mempunyai presiden abadi dari trah Kim Il Sung ini, dengan pemerintahan komunis menciptakan gerakan terorisme diam-diam dan lebih kejam. Seakan mengingatkan kembali peperangan Korut Korsel yang menewaskan lebih dari dua juta sipil. This movie remains the dor-dor-dzing-dzing's soldiers dress uniformly, epitomize separation gang stepped into the Uncle Sam. Mike yang berada di area gedung putih akhirnya harus ikut menyelamatkan negaranya, apalagi melihat sejumlah secret agen gedung putih tewas dengan mudah oleh serangan separatis ini.

Singkatnya, semua pengamanan gedung putih bisa ditembus oleh teroris, dan tinggallah Mike sendiri di dalamnya. Sedangkan posisi Presiden dan beberapa tamu dari Korut (yang sebagiannya terrosist in disguise) berada di bunker rahasia, disinilah pemegang kendali cerita kemudian. Mike harus menyelematkan presiden dan oh wellyou know lah seluruh umat USA dari serangan nuklir yang dibuat oleh Amerika sendiri.

Mas Gerald on action

Agak impossible sih, melihat tayangan Hollywood sebelumnya banyak menceritakan the United State of America got the moves. Tapi mungkin Hollywood bosan jadi pemenang, being non-mainstream? maybe. Jadilah dalam setahun, selain Olympus has Fallen, ada lagi film yang bertema sama yaitu White House Down. Terorisnya pun jauh-jauh dari kelaziman, Hollywood memasang Korut sebagai musuh. No more nigga aite?. Kang (Rick Yune) menurut saya kurang bengis dalam ukuran menjadi seorang teroris. Adegan torturing yang biadab dan biasa dilakukan AS pun kurang 'dimainkan' dalam film ini. Maksud saya biar AS juga ikut merasakan gimana rasanya disiksa, hahaha semacam Zero Dark Thirty sih maunya. We don't get much torturing scenes on this movie unless main-mainan pistol bang-beng-dar-der, gasak-gasakan oleh Mike, dan mayat berjatuhan. Don't hope much rather than those ok?.

Kekurangan lain film ini, Aaron Eckhart menurut saya belum pantes meranin jadi sosok Presiden AS, masih kebayang dia main di The Expatriate atau No Reservation jadi koki. Dialognya juga kental so-oh-America, sok-sokan gitu. Mike sebelum menghabisi Kang sempat bilang di video camera "Here's a game we can play. It's called "Fuck Off". You go first." Atau ucapan Sekretaris Jendral AS saat selesai disiksa Kang "Gimana rambut saya, masih terlihat ok kan?", atau ucapan Presiden Benjamin saat Mike bilang "sorry for the White House sir! Ben cuma jawab "Its ok, it's being insurances " Humor seperti itu sudah  khasnya Hollywood, jadi ekspektasi saya try to have some other sih harusnya. The rest, soundtracknya menurut saya juga kurang digarap dengan maksimal. Kayak asal-asalan dan gak wah. Overall, film ini merupakan aksi gaya-gayaan si AS aja, as usual, as plain, as typical Hollywood, no more.

Dari 1/10, saya kasih 6 aja deh. Nonton ini karena pas ga ada pilihan lain yang bagus sih di teater.

~Kim




Temptation





Di sebuah pagi yang mengandung kesiangan, bukan Duccatti atau Ferrari yang menjadi godaan, tapi ojek Bang Nasri adalah sebenar-benarnya temptation.

Buka pintu kos, lambaikan tangan, tinggal duduk cantik, bayar seharga taxi, dapet bonus sepoi-sepoi angin kalau si babang ojek ngebut medium, sampe pas depan kantor. Ah, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?


~Kim

April 02, 2013

Movie: English Vinglish



English Vinglish!

Film garapan Gauri Shinde ini muncul tiba-tiba menjadi pilihan saat penerbangan saya dari Surabaya ke Jakarta. Tapi belum sampai tamat, pesawat sudah mendarat. Baru semalamlah saya bisa nonton lagi sampai akhir. Seru, ringan, tersirat pelajaran berharga, dan  kerasa drama komedi sekali film ini.

India adalah contoh negara demokrasi sekuler yang terkenal di Asia. Tentu saja bukan hanya penduduknya yang beragam dan berasal dari macam-macam ras, namun kesekulerannya itu juga mengilhami kultur dan kebiasaan yang dimiliki siapapun yang tinggal disana bisa melekat sejati ke dalam individu masing-masing. Katakanlah konvensional atau kuno jika memakai sari di tengah NY, namun bukankah sekarang banyak warganegara yang kehilangan 'jati dirinya' atau malu untuk menunjukkan sisi asli kenegaraannya?, seiring digerusnya nilai-nilai yang gampang dipengaruhi atau malah mempengaruhi?. India remains make them well. Mostly in their films making, mereka bangga menunjukkan kehindustaniannya, kepada siapa saja. What we did in our films?


Ehm! Mehdi Nebbou smoothlicious sekali ya? *iya

Film ini berkisah tentang petualangan Sashi (Sri Devi) di New York, guna mendatangi dan turut jadi seksi sibuk di pernikahan keponakannya. Karenanya, ia datang sebulan lebih awal dari tanggal pernikahan. Sashi sempat gamang karena ia sama sekali tak bisa berbahasa Inggris. Tak jarang sebelumnya ia juga sering diejek oleh putri perempuannya yang jago Bahasa Inggris, atau sempat ter-underestimate oleh suaminya yang well educated. Sesampai di New York dengan selamat (dengan menghafal jawaban yang pasti ditanyakan petugas imigrasi), Sashi diajak berkeliling di area sekolah keponakannya Radha (Priya Anand). Kejadian yang membuat ia harus beradaptasi dengan Bahasa Inggris bermula dari insiden pesan kopinya di sebuah kedai. She's being embarrassing by people, but since back then, she try to manage herself to be well-talk in English. Ia dengan sembunyi-sembunyi menghabiskan harinya untuk mengikuti short course English. Scene by scene, bertemulah ia dengan teman kursusnya, si chef ganteng dari Prancis, Laurent (irressistable Mehdi Nebbou) yang jatuh cinta kepada Shashi (duh gak rela!), lalu kepedeannya memesan kopi dengan berbahasa Inggris yang benar dan tegas (seakan membalas insiden memalukan pertama kali ia pesan kopi), hingga suaminya yang terkaget-kaget karena Sashi bisa berbicara di depan para tamu undangan dengan bahasa Inggris dan pesan yang sempurna.

Film ini dibangun dengan alur yang tidak rumit, dialog-dialognya ceria dan tak berat diterima. Ada beberapa adegan yang lucu, termasuk ketika Laurent menirukan gaya orang India yang selalu menggoyang-goyangkan kepala saat berbicara, ada juga ketika Laurent dan Sashi sama-sama berbicara dengan bahasa ibu masing-masing. Bisa dibayangkan gak Sashi nyerocos dengan Bahasa Hindi-nya dan Laurent merespon dengan Bahasa Perancisnya? Kacau! tapi lucu! Disarankan sih pake subtitle supaya nontonnya aman. Klimaks di film ini juga tetap ada, yaitu saat Sashi merasa 'gak enak ati' sewaktu Laurent jujur ngungkapin ke seisi kelas kalau kehadirannya di short course itu in the name of Sashi. Aw aw! Oiya, jangan diskip lho ya bagian Sashi ampir jatuh di atap gedung, terus Laurent nangkep tubuhnya. Oh-so-India-bangeeeettt!. Trus ketika Sashi pulang ke rumah, seluruh keluarganya (suami dan anak-anaknya) kasih surprise kalau mereka udah tiba di NY. Walah..., campur aduk deh perasaannya. Apalagi pas hari-H Laadoo yang dibuatnya jatuh berantakan, sedangkan ia juga harus ikut final test. Tambah kocar-kacir deh itu bikin Laadoo-nya, eh perasaannya. Haha..

Semakin kuno dan 'ancient' semakin All-Star!, begitu mungkin penganut konvesionalis masa kini. Dan itu kesan yang saya tangkap dari Radha yang sudah lama menetap di New York. Dia masih menghargai budayanya, dan bahkan tak jarang berujar 'awesome' pada lagu-lagu tradisional/lama India yang dinilai membosankan oleh sepupu-sepupunya dari India. Kebanggaan memiliki darah asli Hindustan selalu tidak bisa dilepaskan di hampir setiap film Bollywood. Keluarga Radha yang meski bermenantu orang bule (oh, I hate actually mention the word "bule"!), malah menggelar upacara pernikahan dengan adat Hindu di kota NY. Everybody gets happy, fabulous, shine, and gives each other respect.

Pesan moral dalam film ini selain belajar bahasa asing itu penting, tanpa perlu menghilangkan keorisinalitasan 'jati diri' kita, adalah bagaimana melihat lagi companion dalam rumah tangga itu tidak sekedar hadir untuk 'menemani'. Sashi memang istri yang solehah (yak! pilihan kata saya uda alim gini?) yang hanya bisa buat Laadoo dan tak berpendidikan tinggi, namun tidak berarti suami atau anak-anaknya tidak bisa membangun rasa hormat terhadapnya meski Sashi tak bisa berbahasa Inggris kan?.

Dari 1/10 saya beri 7 untuk ini. Tambah 1 poin deh buat Mehdi Nebbou! ^_^


~Kim


April 01, 2013

Internet Love Scam: Penipuan UK - Malaysia?



Untung aja dia mintanya gak logis 2.000 dollars! gilingan 19 juta rupiah mamen!

Ihwal cerita, saat ada yang kirim pesan via inbox FB saya. Asal niatnya baik, dan saya lagi ada waktu, saya respon alakadarnyalah. Dia mulai ceritain personal backgroundnya. Ibunya asli Malaysia, bapaknya asli UK (sebelumnya tinggal di Malay for works) dan sekarang bapaknya udah meninggal. Kerjaan dia Engineer and Supply in some other company di UK. Sibuk dan sering travel to some other countries. Foto-fotonya look so clean guy. Very smooth...

Lama-lama dia nawarin cinta, rayu sana, rayu sini. Wah mulai curiga dong (nawarin cinta, nawarin barang terlalu mainstream ya?) pasalnya doi baru create account FB in this 2013! C'mon. Alasanya sih sibuk kerja, gak sempet socmed-an. Hah masa' iya?. Ditanya pake aplikasi yang lagi tersohor sejagat? dia jawab gak. Untung cerita 'pertemanan' ini saya curhatkan ke temen sebelah, iya dong memang harus waspada dan butuh second opinion. Oiya doi ganteng? pastinya. Tapi  hold on guys, ingatkah kalian film CATFISH? film indie yang nyeritain internet love scam happens. Pelakunya ibu-ibu gendut dengan ketidakpedean dalam dirinya demi menyongsong hari-hari, desperate? yes, could be. Dia nyomot (yang baru-baru diketahui) foto-foto model yang diklaim bahwa itu dirinya, trus dia juga create puluhan akun yang mengindikasikan saudara-saudaranya. Very smooth.. Targetnya adalah cowo cakep fotografer di benua sebelah. Motifnya bukan penipuan uang, tapi karena si Ibu ini haus akan cinta kasih dari lelaki ganteng and realize she couldn't make it with her flaws and obesity. Atas anjuran sodara dan temen si fotografer, mereka memberanikan diri untuk melakukan perjalanan panjang ke alamat si cewe. Seeking the truth and unexpected discoveries. Ah, you should yourself check it out here.

Balik lagi ke kisah internet love scam versi saya. The number is quite identified by oversea number, +447xxx. Rajin nelpon hanya untuk tanya kabar, dan melancarkan rayuan gombal gaek (pasti copas dari quote lapak sebelah). Pas saya cek apakah hafal nama saya? doi bengong. Online nya istiqomah sekali tiap jam-jam tertentu yang dibilang lagi lunch, break, dan santai-santai. Bahasa inggrisnya kacau pake "am" daripada "I am" dan keganjilan lain-lainnya immediate arise. Saya minta teman saya add dia, eh besoknya doi bilang ke saya "jangan kasih tau saya ke temen-temenmu ya, ntar kamu gak jadi tak ajak ke UK lho". Preeet...!

Tiba-tiba setelah gencar melakukan serangan 2 mingguan, pelaku bilang dia punya rencana untuk visit Malay dengan Ibunya dalam minggu ini. Dia bilang harus beresin sisa-sisa kerjaan bapaknya. Beralasan pekerjaan yang dihasilkan bapaknya di Malaysia kena masalah, dia harus bayar tax ke Govt Malay. Kudu bayar 10,000 dollars, dan dia minta saya bantu bayarkan ke lawyernya cuma 2,000 dollars! Ntar kalau minggu depan dia ke Malay akan diganti itu duit. UDAH GAK BENER LAGI INI. Siapa elu?

Berselancarlah saya ke dunia maya, eh akhirnya dapet banyak artikel tentang penipuan jenis ini, modus macem-macem, motif tetep: minta duit dengan connection love sebagai trigger. OH PLIS! paginya beneran tuh ada nomer Malaysia yang kontak saya berkali-kali dan nomer +447 itu, ada 10 kalian lebih. Telpon aja teroooos..., belum puas doi nanyain pula di inbox. Poor you, block is talking now. Namanya Christopher Lewis (saya rasa namanya pun bo'ongan). Dan ohya kasian sekali muka ganteng yang dipasang di FB itu, dia kan gak bersalah kan ya? *teteup...radar pendeteksi orang ganteng bekerja* hahaha lol.

Gak cuma di Asia sih kasus ini terjadi, it happens in another continental. Semacam sindikat? iya. See the link Warning dari FBI atau curhatan teman-teman di Indonesia yang terlanjur kena tipu Victims from INA  atau Ciri-ciri penipu. Oh Dear...be careful what you do, kata Michael Jackson di lagunya.


--Kim--


There was an error in this gadget

Follow