Try to search for The Things?

May 31, 2014

Boss, Saya ke Inggris!


"Dreaming in it's simplest form is about displacement about wanting to be elsewhere".
-Karim Raslan,
(columnist who divided his life between Indonesia and Malaysia)


Kalau kuis ini serupa ajang pencarian model Amerika milik Tyra Banks, pasti alasan “saya mau diberi kesempatan ini karena ingin membuat perubahan” akan langsung disuguhi pelototan takjub terbaca ‘seriously?’ dari Tyra dan Rob Evans. Tidak, saya tidak melakukannya.

Saya mau berucap, karena Inggris sering sekali mampir di telinga saya semenjak tiga tahun terakhir. Nyaringnya diulang-ulang terdengar ambivalen, karena aksen boss yang british sekali. 

Semua karena boss saya yang serta merta dengan kalemnya sering menanda-nandai pelancongannya ke belahan dunia dengan sebuah tulisan. Dia separo Melayu dan Inggris. Sejak kecil hingga kuliah tinggal di London. Demi perasaan gemas diramu dengan sabar dan telaten kepada lulusan Universitas Cambridge ini, saya memendam harapan yang naik turun seperti ingus anak SD: suatu saat nanti, saya akan ke Inggris!

Saya akan berharap sama seperti perasaan boss saya yang mendamba tinggal di Indonesia sejak kecil. Ia menginginkan hari-hari yang dipenuhi limpahan cahaya matahari. Bangun tidur oleh belaian silaunya cahaya pagi dan mungkin suara kokok ayam. Ajaib tidak butuh alarm. Sedangkan saya? Tentu hari-hari selama sepekan akan diisi dengan rancangan tur ke berbagai tempat historis di Inggris. Memulai hari dengan minum teh Inggris, sembari melihat langit London dan menyampaikan pesan kepadanya: “Boss, I’m in London”. Sederhana bukan? Saya melihat hal-hal yang lebih bersifat batiniah dan kaya. Kami akan berbagi kehidupan sementara dan memandang kekayaan dan kepuasan batin secara berbeda. Dia di Indonesia, dan saya di London. 

Tidak hanya itu. Lain waktu, kolega saya lulusan Oxford, berdarah Melayu, berbintang Sagitarius dan senang bercanda memberikan oleh-oleh patung penjaga kerajaan dan key chain underground metro London. Oleh-oleh kecil yang mengingatkan saya akan keberadaan suatu kota, yang memiliki daya hipnosis dan menguarkan aroma autentik. Harus saya tekankan, saya menyukai hal-hal melankolis. Museum menjembatani saya untuk hal ini. Seperti memiliki kekuatan “travel time”, kegemaran saya dengan benda-benda masa lalu dan museum seakan berjabat tangan di London. Banyak sekali museum-museum yang kecil, terpencil di sudut-sudut kota Inggris. Mungkin kalau saya jadi warga negara disini, saya memilih jadi kurator saja.

Mari berandai-andai jika saya bisa berkunjung ke Inggris dalam tujuh hari. Saya tentu tidak menyiakan hari-hari berlalu begitu saja. Saya akan duduk di kafe untuk menyesap secangkir teh sambil khusyu mendengungkan lirik Sting “I don’t drink coffee I take tea my dear”. Cantik

Day one “Recognizing UK”:
Saya tiba di bandara Heathrow London. Sebaiknya saya menggunakan metro underground London yang tersohor itu. Saya akan mengambil peta di kios koran dan bercengkaram dengan local people. Saya akan mengontak teman-teman disana untuk ikut serta dalam petualangan saya. I’m not in the mood to travel alone on the first day. Saya bisa menentukan tempat pertama yang harus saya kunjungi adalah Victoria and Albert Museum. Di dalamnya berisi koleksi arsitektur, fotografi, teater, fashion dan masih banyak lagi.  Seperti paket kombo dapat semua hal dalam satu tempat. Saya juga ingin ke British Museum, kalau memang waktunya mencukupi. Konon, mustahil melihat isi museum di London dalam sehari.

Day two “Legend Tour”: 
Saya akan menuntaskan urusan memungut remah-remah masa lalu di Beatles Museum. Saya punya ingatan gila tentang ini. Bersama teman yang super sinting, kami meminta polisi penjaga kedutaan untuk memotret kami di jalanan Mega Kuningan. Kalian pasti tahu disana ada garis putih marka jalan yang serupa Abbey Road.

Day Three  and Day Four “I’m half visitor, yet the Britons”:
Memulai ritual pagi di London dengan mengunjungi Big Ben. Rasanya menunggu hari sedikit siang dengan menyantap sarapan ala orang Inggris adalah hal seru seumur hidup. Scrambel eggs yang dimasak oleh koki asli Inggris mungkin berbeda rasanya, ya. I’m all tea, jadi saya akan icip-icip segala the mulai dari Twinings, Earl Grey Tea hingga Black Tea di pinggir sungai Thames? Saya juga akan mengunjungi Buckingham Palace, London Eye, Westminter Abbey dengan membawa bentangan tulisan “I was been here”. Kalau masih ada waktu, saya mau-mau saja main ke Trafalgar square yang sering sekali dibuat syuting film-film Bollywood itu. Iya, Bollywood pakai huruf B.

credit picture: www.alloftea.com

Day Five and Day Six “History Said”
Sekali lagi, saya mau kembali ke masa lampau. Berapa kali ya saya berujar harus mendatangi tempat-tempat yang bersejarah? Kelihatannya saya salah pergi ke Inggris kalau hanya dalam tujuh hari saja. Mendatangi Stonehange adalah daftar kesekian setelah Maccu Piccu. Saya teringat Dee Lestari yang mengisahkan tentang sejarah Stonehange dalam Partikel. Oh saya seperti Zara yang tersesat sekarang.

Day Seven “Berasa Jadi Emak-emak”:
Buah tangan adalah keniscayaan. Saya mungkin akan dirajam oleh sanak famili jika pulang tak membawa oleh-oleh. Ketika saya pernah ke Sydney, pertama kali dalam sejarah pelancongan saya. Saya tidak memiliki list apa yang harus dibeli. Akibatnya pulang kampung saya harus ke Tanah Abang dulu membelikan buah tangan bertulisakn “I Love Sydney”. Kali ini saya akan mengisi bagasi tas saya dengan barang-barang vintage di Portobello Road Market atau di Flea Market. Aduh, saya kok seperti sedang syuting Notting Hill 2 ya.

Itu alasan dan itinerary saya untuk merayu Mbak Windy yang suka mengobservasi orang, Kak Christian yang semoga masih istiqomah suka minuman teh madu itu, dan Mas Vabyo yang ginuk-ginuk manis dalam tweet dan fotonya.



So, Smax and Mister Potato, May I go to UK please?
--Kim

May 05, 2014

Bicara Soal Bonus Demografi Indonesia


India dan Indonesia sekarang sudah menjadi negara yang tidak hanya disebut emerging country, namun juga pengendali dunia. Bukan hal yang melangit jika dikatakan demikian. Asia tengah muncul perlahan, dan tiga negara di dalamnya yaitu Tiongkok, India dan Indonesia benar-benar sedang dilihat dengan mata elang oleh negara-negara lain. Ini seperti yang sudah diungkapkan pakar ekonomi dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, Kishore Mahbubani di surat kabar nasional dan media asing berbasis di Praha. Opininya memperhitungkan dengan logis bahwa Tiongkok, India dan Indonesia akan menjadi penentu dunia dalam ekonomi global.

Adalah wajar bagi Kishore untuk melihat potensi di balik tiga negara yang dihuni oleh lebih dari sepertiga populasi dunia ini. Indonesia dan India tengah menunggu sebuah proses akhir dalam menentukan siapa pemimpin negara ini lima tahun ke depan. Narendra Modi, kandidat terkuat PM India yang digadang-gadang melengserkan Nehruvian (sebutan untuk klan Nehru) di sejumlah televisi dan media mengulang pernyataannya “…..My real thought is - Pehle shauchalaya, phir devalaya' (temple first, toilet later)”.

Modi, seorang pemimpin yang pragmatis berani memberi kesimpulan. Ketegasan serta fokus pada prioritas adalah kunci penting untuk membangun sebuah negara. NDTV and Hansa Research dalam memandu pemilih muda di perkotaan mendapatkan 51% suara untuk Modi dan 19% tidak memengaruhi suara mereka. Merupakan angka yang menjanjikan sementara kampanye Modi yang sederhana dan mudah ditangkap oleh masyarakat ini yang perlu diduplikasi.

Kebutuhan utama rakyat yang harus terpenuhi adalah kesejahteraan. Perilaku masyarakat kemudian akan bergantung pada bagaimana taraf hidup sejahtera yang dienyam oleh mereka. Ini yang menuntun pada identitas masyarakat untuk terus memilih maju atau tertinggal. Kesejahteraan adalah isu penting yang harus segera diprioritaskan baik di  India dan Indonesia.

Masalah infrastruktur, kurangnya pasokan energi dan ketergantungan pada impor minyak, inflasi, dan kemiskinan yang ekstrim adalah masalah utama India. Tidak hendak mengatakan kita sudah terbebas dari permasalahan tersebut, tapi kita melihat bahwa kesamaan India dan Indonesia saat ini adalah bonus demografi besar-besaran. Ketika India sedang melampaui populasi Tiongkok atau setara dengan empat kali lipat populasi Brazil dan Rusia, Indonesia dipasok dengan jumlah masyarakat di usia produktif di bawah atau di atas 15-65 tahun selama minimal dua puluh empat tahun, yakni tahun 2012-2035.

Jika Daniel M.Rosyid di opini Jawa Pos (22/3) menyebut bahwa bonus demografi menjadi pasif itu bukan karena disandarkan kepada jumlah penduduk dan mutu sumber daya manusia, melainkan daya dukung lingkungan, pendekatan schooling versus learning serta deschooling dan home-making. Saya ingin menggarisbawahi bahwa daya dukung lingkungan juga berarti pada pemberian kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak muda untuk berkarya. Terutama dalam hal pembangunan daerah.

Dalam Jawa Pos (29/4) disinggung bahwa sustainability award adalah penilaian terbaru dalam menyongsong Otonomi Awards 2014. Penghargaan khusus untuk mengapresiasi kabupaten/kota yang konsisten membuat terobosan dan berkesinambungan dalam menjaga program dan kebijakan yang telah dijalankan. Sepertinya nanti akan perlu ditunjang beberapa penilaian yang unik menyangkut peran serta pemuda dalam pemerintahan. Indikatornya bisa bermacam-macam, bisa melalui seberapa banyak putra daerah yang dirangkul pemerintah untuk kembali ke daerah dan memajukan daerahnya masing-masing. Banyuwangi bulan lalu diganjar Government Awards sebagai salah satu di antara sepuluh kabupaten terbaik di Indonesia tahun 2014. Pemerintahnya mendukung kemajuan industri kreatif berbasis pariwisata lokal yang juga melibatkan pemuda daerah.

Tentu saja saat ini kita berharap semoga pemuda-pemuda yang terpilih menjadi wakil rakyat, atau yang telah menjadi gubernur, bupati, dan menjajal menjadi lurah adalah benar-benar membawa amanah yang baik, bukan semata hanya ‘estafet sambil lalu’ dari pendahulunya, dan tidak untuk memperpanjang kekuasaan bayangan. Jika demikian, akan sangat disayangkan. Padahal kita meyakini pola kepemimpinan baru yang dibawa semangat pemuda akan memperbaiki kehidupan warga negara.

Alangkah membanggakan jika kelak pemuda potensial yang sedang berkelana keluar kemudian hari kembali ke daerah masing-masing dan mau membangun kampung halamannya. Butuh jiwa-jiwa segar dan gagasan penuh gairah untuk memulai membangun daerah. Industri kreatif seperti seni pertunjukan, desain, arsitektur, fashion, kerajinan, desa wisata adalah potensi utama daerah yang bisa berdampak ekonomi pada masyarakat. Pemerintah kabupaten/kota juga tak pantas jika menutup pintu bagi pemuda yang ingin berkarya. Semakin gencar mengajak putra daerah untuk kembali ke asalnya, semakin tidak membuat lama laju kesejahteraan masyarakat. Dengan mengoptimalkan potensi pemuda yang sedang memiliki daya kerja yang maksimal, akan mudah membuat perubahan di masing-masing daerah. John F Kennedy pernah berpetuah "The future promise of any nation can be directly measured by the present prospects of its youth."

Dibutuhkan hanya sepuluh pemuda untuk mengguncang dunia, begitu ujar founding father kita. Mengapa harus risau? Mengapa harus berkelana tak kembali? melancong kembali ke tempat muasal akan menjadi pemerataan bonus demografi Indonesia. Pemerintah dan siapapun yang terpilih menjadi presiden nanti harus cakap dalam merangkul kaum muda untuk membantu pembangunan bangsa. Bonus, layaknya kesempatan, tidak datang dua kali.


Pingin sharing pendapat.
--Kim

A Lil' Word for Him


“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari"
- Pramoedya (Child of All Nations).


Hari ini saya beradu argumen dengannya. Dia masih menetap di Turki, for goods. Saya tidak menyangka dia segahar itu dalam 'mempermainkan' saya. Berkali-kali saya lontarkan kalimat mengapa kita tak jumpa sejak dulu? Jawabannya seringai sinis dan kalimat bernada meledek "Tau sendiri kan JAKARTA macetnya gimana? pantesan kita ketemunya lama". Sok tahu! kapan dia tinggal di kota penuh siasat ini. Lalu dalam sebuah percakapan yang saling memburu, tetibaan dia berujar "There's no any boundaries spot for us. Just you and me could make like this. Let's get crazy". Dan well, saya berada dalam pusaran depresan dan halusinogen? He's different. Let's just get those in details.

Dia dengan sadar menghamburkan pujian terhadap sifat (yang baik-baik) saya. Saya senang? halah, itu kan trik lelaki saja. Di sisi lain, dia hantam saya dengan tebakan sifat buruk dan segenap kondisi saya secara relasi sosiologis dan situasi personal, dan kemudian dia off. Lain waktu dia skak-mat saya dengan beberapa kalimatnya. Tahu lagunya Holy Grail Justin Timberlake? Kiranya saya berada di lirik reff  itu sementara ini. Lagi, dalam kesekian kali saya merasa dikalahkan. Kalah itu tidak mengenakkan.

Dia teman saya, yang mengenal saya lewat tulisan saya, bukan yang lainnya. Saya juga tidak tertarik dengan yang lainnya sih. Dan dia dengan entengnya mencecar saya dengan pertanyaan tabu. Ia dengan gampangnya memercayai saya lewat sharing cerita-cerita (multi rahasia) nya. Dengan demikian, saya juga memercayainya. Ah sesederhana itu menjadi teman? Iya.

Soal fisik, kami sudah skip. Maksudnya sudah saling menghina satu sama lain. Karena dia tidak berjambang, dan saya tidak sefeminin dan lugu yang ia bayangkan. Dan kami tidak tertarik satu sama lain. Baiklah, ini adalah kelemahan kami, menolak dengan halus untuk saling tertarik urusan begituan. Tapi dia bilang "hati-hati". Rupanya dia masih memancing diri untuk tertarik dengan saya. Kali ini saya menang. Menang itu menggembirakan ya.

Semacam ledekan bagi yang tak berjambang, wahai..

Dia hanya teman bermain. Kata Ayu Utami, lelaki yang baik adalah yang menjadikan perempuan bukan mainan, tapi teman bermain. Dia memanggil saya Lala. Jelmaan dari temannya Lupus. Untuk alasan sekejap tak berguna, tak perlu saya utarakan apa filosofisnya. Selain nama penggilan paten saya, dulu saya dipanggil Abe, Kim, Kimmi, Bebe, Mabenz, Kimberly, juga karena tidak ada alasan spesifik. Konon dilafalkan asik saja, begitu kata teman-teman.

Hari ini dia ke Ankara, naik hizlitren. Kereta yang memiliki kecepatan 241 /km. Moda transportasi ini bagus bagi para lajang yang ingin lari dari masa lalu. Lalu dia off. Begitulah, selalu on lagi dan off lagi. Berbeda zona empat jam, kadang menyusahkan. Terutama jika mengingat selo dan tidaknya kami. Wait, barusan saya bilang apa? K - a - m - i ? Bukankah dua subyek yang dijadikan satu ini menimbulkan makna kebersatuan? Ambigu? Apa sengaja dibikin ambivalen, supaya terdengar "mendengung" di kepala masing-masing?


Baik-baik di negara Recep Erdogan ya.
--Kim
There was an error in this gadget

Follow