Try to search for The Things?

November 18, 2014

Galau Sebelum Akad


Sebenernya banyak banget yang kalian lewatkan gaes, gak keupdet di blog ini. Bayangkan sejak kampanye yang menguras hati, tenaga dan pikiran. Aku juga mengesampingkan upaya lirik sana-sini *WOY MAU NIKAH WOY!*. Kalian tau gimana rasanya kerja dengan tim Bapak Presiden RI? Apa kalian mau tau gimana sebulan menjadi nomaden alias tidur-jalan-ngetik-makan-aktivitas semua dalam mobil? Tau gimana ndaki ke gunung pas bulan puasa? Tau gimana rasanya yang menang hadiah ke London dari Mr.Potato itu ex-temen kantor? Gimana kalo bab ketika aku ditawarin kerjaan sama Tony Fernandes di Air Asia? Atau mau tau bagian di mana saya memutuskan untuk menikah? Ayo pilih gaes.

Jadi, seperti yang sudah aku tulis udahan, I’M GETTING MARRIED SOON YEAY! Mari sini, aku kasih tau menjelang sebulanan menuju gerbang akad nikah, YA ALLAH YA ROBBI gaes, aku kudu nyebut. Makin kesini makin banyak godaannya. Kata senior-seniorku hal itu wis biyasa alias  public secret ya? Kupikir dulu godaannya ya palingan seuplik dua uplik keinget mantan aja. TAPI gaes, lebih horor dari itu semua! Percayalah!

Mari kita runut apa saja bentuk dan jenis godaan pra-akad itu. Ini menurut aku, karena tiap orang cobaannya beda-beda sesuai tingkatan keimanannya *ngalungin tasbih*. Sebutlah ini godaan level anak SD kalau mantan ngglibet alias muter-muter entah di ranah ingatan atau tetibaan muncul di depan kamu. Itu cuma cobaan kecil gaes. Gak usah diperbesar. Ex remains Ex. Coba kalian inget2 kapan terakhir kalian tergoda nyobain es teler pas siang-siang terik di Bulan Puasa? Mari kita sandingkan mantan dengan es teler.

Tapi bisa kalian kategorikan godaan level medium, kalo udah mulai banding-bandingin calon suami kalian dengan gebetan baru yang entah tetibaan Tuhan Maha Esa jatuhin dari pintu mana. Mikirnya pasti gak brenti-brenti “Ya Allah, ketika aku berada pada kondisi jomblo berkualitas, kenapa tak Kau segerakan insan-insan ini datang menghampiriku?”. Yakin deh kalian keceplosan mbatin gitu, soalnya aku iya. Haha kelewat jujur. Jadinya kayak mubadzirin pesona mereka kan gaes. *dilempar mahar suami*. 

Satu lagi level paling sadis menurut saya, pas kamu ditawari gelimang keduniawian. Ya maklum jiwa dan raga kadang juga mau menerimanya. I’m not trying to be a hypocrite. Karir aku lagi asik-asiknya. Usaha dan upaya jatuh bangunnya pas awal di Jakarta dulu sekarang kayak tinggal dituai. Bisa riwa-riwi ke Istana Merdeka dan ketemu ngobrol sama orang penting that you can only see in the machine. How lovely can share everything with them? Absorbing their energies, spirits and thoughts. Siapa yang nyangka selama empat hari aku bisa bantuin Hannah Beech dan Adam Ferguson. Keduanya dari majalah TIME. Oh Okay, are you aware now? Ayo coba diinget-inget apa yang ngehits menjelang empat hari Pak Jokowi dilantik jadi Presiden, kalo gak potretnya  muncul di halaman depan TIME MEGEJIN.

Oke, fokus lagi ke godaan. Efek sampingnya itu sebenernya mengarah kepada diri kita sendiri. Kalau kata orang, kembali mempertanyakan niatan kita menikah itu untuk apa. Jadilah aku mulai dikit-dikit ngeh, intinya maksa banget mikir serius. Dasar akunya susah diajak mikir serius lama-lama, ini tuh beban banget. Akhirnya malah berujung keluar ide-ide serampangan, gimana kalau akad nikah tinggal beberapa minggu lagi dipending ajah?. Aku sempet sampein hal ini ke Si Mas’e. Dia cuma ketawa aja nanggepinnya. Loh kok? Langsung mental reaksionis saya meledak-ledak.

“Mase, gimana kalo dipending ajah lah ya akad kita, it’s too soon for us. Lagian situ juga sibuk onoh-inih kan” ujarku defensif.

“Sekali dipending, berarti kita memang niatnya main-main lho Mbak’e..” timpalnya dengan enteng sambil ngurai kabel headsetnya yang mlungker-mlungker.

Ya meskipun aku memang suka main-main, tapi emang bener sih Si Mas’e bilang. Akhirnya setelah curhat ke keluarga, mereka nyaranin harus pasrah dan harus diperbanyak berdoa supaya Gusti Allah ngasih jalanNya yang terbaik. Intinya biar aku diberi kekuatan menghalau godaan ini semua.

Jadinya gaes, Alhamdulillahnya aku (masih berusaha) ngelewati godaan-godaan itu. Lewat bantuan banyak pakar di luar sana dengan pengalamannya masing-masing yang membuat aku kaya akan pencerahan. Kayak dapet Silver Linings. Katanya, nikah itu gak hanya nyatuin dua manusia saja, adalah urusan keihklasan dan sebuah pilihan. Katanya, nikah itu ibadah yang harus disegerakan. Katanya aku disuruh fokus, fokus dan fokus (tatap mata saya). Ada lagi pakar yang ngasih tips-nya pas dia galo-galoan sebelum akad dulu, “Kudunya kamu iku semakin yakin kalo semakin kenceng godaannya, justru tepampang nyata kalo pilihanmu sekarang ini yang terbaik. Nek aku ya gitu”. Istilah anak muda sekarang “Fixed, Bye”. Di lain sesi curhat ada yang nambahi aku enlightment “Kamu bisa sadar gak kalau menuju akadmu ini, semua jalanmu tiba-tiba dipermudah?”.

Aku setuju gaes, aseli, sumpah. Tapi ya tetep, rasane itu: hari ini yakin banget, besoknya heleh…kayak orang gak inget kalo di rumah itu undangan sudah dibikin. Namanya juga hati, suka bolak-balik kayak roller coaster. Tapi asik kok, aku menikmatinya dengan riang. Once in a lifetime kan?.


Xoxo,
Kim

September 21, 2014

Ya Tuhan, Saya Jatuh (part II)

Ya Tuhan.
Saya telah terlalu dalam jatuh mencintainya. Lebih dari apapun. Lebih dari kesembronoan anak kecil bermain api. Lebih dari rasa sayang terhadap diri. Lebih dari kegirangan anak manusia mulai mengenal benda-benda baru pada usia dininya. Lebih dari kalimat "whateva" yang sering terlontar dari mulut asbun (asal bunyi) saya. Lebih dan lebih sampai tak terukur oleh perbandingan.

--Kim--

August 22, 2014

Memutuskan Berbagi Hidup (Part I)


(Sebenernya gak mau diposting, nunggu waktu yang pas. Tapi kalau ditunda-tunda nanti mood-nya juga ilang entah kemana)

Jadi, saya mau cerita, agak lama memang proses menuju keputusan dramatis ini. Jalannya dibikin berliku dulu, menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan yang sudah "dituliskan" di atas sana. Ekstrim. Dan saya terus tertegun sambil bergumam " kok berani ya saya?"

Memang bukan lamaran, tapi keluarga saya dan keluarganya sudah saling tahu, saling silaturahim. Dalam budaya keluarga saya, saling tahu itu bermakna dua keluarga sudah saling menerima, sudah "iya" dan tinggal menunggu prosesi sakral berikutnya saja: lamaran then ijab qabul.

Kesannya mendadak dan tergesa-gesa, padahal tentu tidak. Sejak putus setahunan dengan mantan terlama (Gosh! just realized saya jalan enam tahun ama dia tanpa restu), saya mulai membiasakan dipertemukan (dijodohkan) dengan anak teman Ayah Ibu, anak saudara, teman kakak dsb. Saya membuka diri, tentu saja karena life must go on kan.

Hingga, akhir Februari 2014, entah tanggal berapa saya dihubungkan oleh saudara sepupu saya untuk berkenalan dengan temannya. Namanya juga USAHA ya gaes, saya iyakan. Kami menjalin hubungan komunikasi jarak jauh. Kami menerka-nerka sejauh apa kecocokan kami terbangun, atau ya istilahnya chemistry. Alangkah ajaibnya, jalan yang kami titi dipermudah, kami bertemu ketika saya tugas ke Jawa Timur, Dan ohya gaes, dia masuk kategori lagunya Uut Permatasari "Pacar 5 Langkah". (Wait, did i just say lagu dangdut? ya ya I'm googling first). Rumahnya bisa ditempuh selama setengah jam dari rumah saya di Jember. Aduh, saya kan pernah anti-anti gitu dengan pacaran lokal gini. Haha mampuslah saya.

Upaya paling kerasa dan kayak dibuat-buat sempat terjadi di bulan-bulan Mei. Saya memaksa cocok dengannya. Haha tentu ini proses yang paling sulit ketika ketidakcocokan mulai muncul. Tapi toh, kita berusaha melihat ada langkah besar dan cita-cita lain yang perlu dipikir, lalu meluruhlah ego kami masing-masing. Singkat kata, bulan Juni, setelah melewati istikhoroh (ciyeeh istikhoroh, gak percaya deh saya bisa bangun malam) dan doa-doa dari orang tua, keluarganya datang ke rumah untuk memberitahukan secara terbuka "meminta" saya. Tahu posisi saya dimana? Sedang di Balikpapan ngetik talking points dan speech buat Pak Jokowi.

Bulan Juli, Bulan Ramadhan saya dipertemukan lagi dengannya, dalam tim kampanye. Sebenarnya dia bukan yang orang partai-partai gitu, lets call this volunterism for Pak Jokowi. Apapun itu, saya diberi banyak tahu tentang dia dilihat dari kacamata saya sendiri.

Dia memberi saya alasan, meski dia tidak memiliki banyak alasan mengapa memilih saya. Dia memberi jawaban meski dia tak pernah membuat-buatnya seperti jawaban. Ah dia sangat sabar, sederhana dan simpel, gak ribet kayak Pak Prabowo.



Udah segitu aja, sementara hidup saya tiap weekend selalu ke Surabaya dan balik lagi ke Jakarta untuk mengurusi hijrah saya dari Metropolitan ke kota Pahlawan.


Bises,
-Kim-


July 24, 2014

Riwayat Tentang Permainan

It's "rule of game" kinda night.

Setengah jam memasuki hari Jumat, saya sudah siap-siap tidur. Ada bunyi pesan Whatssap.

"You might be following me to Makassar tomorrow for campaigning. Please prepare and coordinate everything with your collegue in KL"
"Noted boss, will do now"

Begitulah, lalu saya dan kolega di Kuala Lumpur mulai berkasak-kusuk dalam bbm mempersiapkan segalanya buat besok. Materi selesai pukul satu pagi hari. Saya langsung beringsut tidur. Pikiran tidak bisa tidur sih, tapi dipaksa. Karena besok pagi will be a hard day, Thank God it's Friday?.

Pukul 3 subuh, saya terbangun karena perut meililit tak kenal kompromi. Ah ini maagh saja mungkin. Akhirnya saya beri obat maagh seperti biasa, lalu kembali tidur. Pukul 4 subuh, saya benar-benar tidak bisa beristirahat. This stomache is going to kill me.

And..saya sudah tak ingat lagi berapa kali saya bolak-balik kamar kecil. Tiba-tiba tubuh saya lemas tersungkur tak berdaya. Badan ini meringkuk di pintu wc, meraih handphone untuk menghubungi teman sebelah kamar. Akhirnya teman yang membereskan segalanya dan memberangkatkan saya ke rumah sakit. Kami langsung ke UGD. 

Karena diare dan dehidrasi, saya akhirnya tertidur di UGD hingga benar-benar kuat untuk pulang. Jarum suntik menempel di punggung tangan. Tak ingat lagi seberapa sakit. Yang justru saya khawatirkan adalah berapa jumlah obat yang harus saya telan nanti? kapsul kah, tablet kah? Ya ya..saya gamang karena saya tak bisa menelan obat. Penyakit gila anak muda nomer kesekian.

Namanya juga permainan, ada pelaku, subjek dan objek. Ada juga berbentuk aktif dan pasif. Minggu ini saya melewati permainan yang sangat seru. Setengah jam memasuki hari Jumat badan segar bugar tapi kemudian bisa loyo dan seperti sudah diingatkan untuk terus jaga kesehatan.

Saya sedang "diajak bermain" kata-kata dan logika dengan si itu tuh, anak bandel di Turki. Sumpah saya benar-benar jengkel dibuatnya. Tak pahamkah dia saya ini anti kalah? Dia mengambil celah ketika saya salah mengambil diksi. Saya menuduhnya manusia dengan sifat mesum, murni ingin bercanda dan bermain-main. Dia seolah bisa membebat habis pertahanan saya dengan dalih kata "mesum" tidak bisa begitu saja disematkan kepada orang dengan mudah. Saya merayunya lagi kalau saya bercanda. Ternyata dia sedang tidak mood untuk bercanda dan bermain (mau serius ya?). Berulang lagi dia pertanyakan mengapa saya melakukan begini, apa yang mendasari saya berkelakuan begitu. Seperti mau ikut kuliah filsafat batin saya waktu itu. Secara tidak langsung saya diajak ke pusaran "permainan" nya. Lalu ia menyasar saya dengan batasan "bermain". Saya kelimpungan, tak tahu mau menjawab apa dan bagaimana. Ia terus menyerang, saya terpojok. Seperti apa Lala? Maumu bagaimana?

Saya bilang saya tak tahu. Saya hanya bermain. Normalnya mungkin tiap permainan, kita harus paham mainan apa yang kita permainkan. Kalau saya tidak, lalu saya menjadi absurd? Lawan saya tidak jadi bermain?. Tapi saya mau terus bermain, tidak ada yang bisa menghentikan anak kecil sedang asyik bermain, bahkan hujan atau panggilan Ibu sekalipun.

Dia terus-terusan mendesak, saya terpojok. Saya kesal di ujung ubun-ubun menyumpahinya. Kesal saya berkelindan melihat upayanya akan menarik diri dari permainan absurd yang saya ciptakan. Saya memang sedikit terancam, dan saya tidak mau berada di posisi tidak terenak. Manusia kan memang begitu, tidak mau bersusah payah. Entah dapat ide darimana, saya bilang minta maaf pada sebuah kertas dan mengirim foto itu kepadanya. Saya ambil selembar kertas folio lagi tertulis "I'm Sorry, Would you be My Game Partner Again?"

Terlihat sudah dia menang tapi tak begitu terkesan-kesan banget. Dan saya tertegun akibat ulah saya sendiri. Baru sadar jika absurdity itu menarik banyak makna yang tak berkesudahan. Kalau tak mampu menciptakan dan mempertahankannya, lebih baik disudahi saja. Tapi kalau bisa bertahan, ya just stick and go with it. Jangan dibuat susah.

Malam-malam kemudian, saya menjaga jarak dengannya. Murni ingin menciptakan jeda sih. Katanya spasi atau jeda itu sedikit melegakan dan melonggarkan dari yang terlalu dekat sesak berdempatan. Berangsur-angsur kondisi kesehatan saya juga membaik. Saya bersyukur, sebab destinasi selanjutnya sudah ada di depan mata. Agenda yang mengharuskan saya sambang dari bandara satu ke bandara lain sudah di tangan. Menari-nari di pelupuk ini rasanya pengalaman yang akan saya jumpai nanti. 

Lima hari kemudian, saya ditanyai lagi sama Boss.

"Are you feeling better? well enough to travel?"
"Yes, feeling better."
"You may follow me to Surabaya tomorrow"

Begitulah, kemudian saya terbang ke Surabaya untuk pertemuan dengan Ibu Risma, walikota kesukaan kita-kita, sambil membawa obat-obatan lima jenis yang harus ditelan habis.


---Kim---

July 12, 2014

Hurting Me Now



You, you don't like my hair
You don't like what I wear
I'm trying, trying, you see I'm trying
Why you try to change me all the time?
You, you say I talk too much
I know it drives you nuts
You tell me you wish I was better, better, yeah
You roll your eyes forgetting I am in a room

You're hurting me now, you take me down, you don't even know it
You think it's a joke but, baby, you don't, you don't even know it
You're hurting me now, you take me down, you don't even know it
You think it's a joke but, baby, you don't, you don't even know it

You, you say I sing too loud
I want you to be proud
I want you screaming out, "That girl is mine, I love her, love her,"
But you've already tuned me out
You, you know these words you say
Are causing us decay
You feel like I'm withdrawing
I am running away
You're pushing, you're pushing me



--Kim via Sia Furler

May 31, 2014

Boss, Saya ke Inggris!


"Dreaming in it's simplest form is about displacement about wanting to be elsewhere".
-Karim Raslan,
(columnist who divided his life between Indonesia and Malaysia)


Kalau kuis ini serupa ajang pencarian model Amerika milik Tyra Banks, pasti alasan “saya mau diberi kesempatan ini karena ingin membuat perubahan” akan langsung disuguhi pelototan takjub terbaca ‘seriously?’ dari Tyra dan Rob Evans. Tidak, saya tidak melakukannya.

Saya mau berucap, karena Inggris sering sekali mampir di telinga saya semenjak tiga tahun terakhir. Nyaringnya diulang-ulang terdengar ambivalen, karena aksen boss yang british sekali. 

Semua karena boss saya yang serta merta dengan kalemnya sering menanda-nandai pelancongannya ke belahan dunia dengan sebuah tulisan. Dia separo Melayu dan Inggris. Sejak kecil hingga kuliah tinggal di London. Demi perasaan gemas diramu dengan sabar dan telaten kepada lulusan Universitas Cambridge ini, saya memendam harapan yang naik turun seperti ingus anak SD: suatu saat nanti, saya akan ke Inggris!

Saya akan berharap sama seperti perasaan boss saya yang mendamba tinggal di Indonesia sejak kecil. Ia menginginkan hari-hari yang dipenuhi limpahan cahaya matahari. Bangun tidur oleh belaian silaunya cahaya pagi dan mungkin suara kokok ayam. Ajaib tidak butuh alarm. Sedangkan saya? Tentu hari-hari selama sepekan akan diisi dengan rancangan tur ke berbagai tempat historis di Inggris. Memulai hari dengan minum teh Inggris, sembari melihat langit London dan menyampaikan pesan kepadanya: “Boss, I’m in London”. Sederhana bukan? Saya melihat hal-hal yang lebih bersifat batiniah dan kaya. Kami akan berbagi kehidupan sementara dan memandang kekayaan dan kepuasan batin secara berbeda. Dia di Indonesia, dan saya di London. 

Tidak hanya itu. Lain waktu, kolega saya lulusan Oxford, berdarah Melayu, berbintang Sagitarius dan senang bercanda memberikan oleh-oleh patung penjaga kerajaan dan key chain underground metro London. Oleh-oleh kecil yang mengingatkan saya akan keberadaan suatu kota, yang memiliki daya hipnosis dan menguarkan aroma autentik. Harus saya tekankan, saya menyukai hal-hal melankolis. Museum menjembatani saya untuk hal ini. Seperti memiliki kekuatan “travel time”, kegemaran saya dengan benda-benda masa lalu dan museum seakan berjabat tangan di London. Banyak sekali museum-museum yang kecil, terpencil di sudut-sudut kota Inggris. Mungkin kalau saya jadi warga negara disini, saya memilih jadi kurator saja.

Mari berandai-andai jika saya bisa berkunjung ke Inggris dalam tujuh hari. Saya tentu tidak menyiakan hari-hari berlalu begitu saja. Saya akan duduk di kafe untuk menyesap secangkir teh sambil khusyu mendengungkan lirik Sting “I don’t drink coffee I take tea my dear”. Cantik

Day one “Recognizing UK”:
Saya tiba di bandara Heathrow London. Sebaiknya saya menggunakan metro underground London yang tersohor itu. Saya akan mengambil peta di kios koran dan bercengkaram dengan local people. Saya akan mengontak teman-teman disana untuk ikut serta dalam petualangan saya. I’m not in the mood to travel alone on the first day. Saya bisa menentukan tempat pertama yang harus saya kunjungi adalah Victoria and Albert Museum. Di dalamnya berisi koleksi arsitektur, fotografi, teater, fashion dan masih banyak lagi.  Seperti paket kombo dapat semua hal dalam satu tempat. Saya juga ingin ke British Museum, kalau memang waktunya mencukupi. Konon, mustahil melihat isi museum di London dalam sehari.

Day two “Legend Tour”: 
Saya akan menuntaskan urusan memungut remah-remah masa lalu di Beatles Museum. Saya punya ingatan gila tentang ini. Bersama teman yang super sinting, kami meminta polisi penjaga kedutaan untuk memotret kami di jalanan Mega Kuningan. Kalian pasti tahu disana ada garis putih marka jalan yang serupa Abbey Road.

Day Three  and Day Four “I’m half visitor, yet the Britons”:
Memulai ritual pagi di London dengan mengunjungi Big Ben. Rasanya menunggu hari sedikit siang dengan menyantap sarapan ala orang Inggris adalah hal seru seumur hidup. Scrambel eggs yang dimasak oleh koki asli Inggris mungkin berbeda rasanya, ya. I’m all tea, jadi saya akan icip-icip segala the mulai dari Twinings, Earl Grey Tea hingga Black Tea di pinggir sungai Thames? Saya juga akan mengunjungi Buckingham Palace, London Eye, Westminter Abbey dengan membawa bentangan tulisan “I was been here”. Kalau masih ada waktu, saya mau-mau saja main ke Trafalgar square yang sering sekali dibuat syuting film-film Bollywood itu. Iya, Bollywood pakai huruf B.

credit picture: www.alloftea.com

Day Five and Day Six “History Said”
Sekali lagi, saya mau kembali ke masa lampau. Berapa kali ya saya berujar harus mendatangi tempat-tempat yang bersejarah? Kelihatannya saya salah pergi ke Inggris kalau hanya dalam tujuh hari saja. Mendatangi Stonehange adalah daftar kesekian setelah Maccu Piccu. Saya teringat Dee Lestari yang mengisahkan tentang sejarah Stonehange dalam Partikel. Oh saya seperti Zara yang tersesat sekarang.

Day Seven “Berasa Jadi Emak-emak”:
Buah tangan adalah keniscayaan. Saya mungkin akan dirajam oleh sanak famili jika pulang tak membawa oleh-oleh. Ketika saya pernah ke Sydney, pertama kali dalam sejarah pelancongan saya. Saya tidak memiliki list apa yang harus dibeli. Akibatnya pulang kampung saya harus ke Tanah Abang dulu membelikan buah tangan bertulisakn “I Love Sydney”. Kali ini saya akan mengisi bagasi tas saya dengan barang-barang vintage di Portobello Road Market atau di Flea Market. Aduh, saya kok seperti sedang syuting Notting Hill 2 ya.

Itu alasan dan itinerary saya untuk merayu Mbak Windy yang suka mengobservasi orang, Kak Christian yang semoga masih istiqomah suka minuman teh madu itu, dan Mas Vabyo yang ginuk-ginuk manis dalam tweet dan fotonya.



So, Smax and Mister Potato, May I go to UK please?
--Kim

May 05, 2014

Bicara Soal Bonus Demografi Indonesia


India dan Indonesia sekarang sudah menjadi negara yang tidak hanya disebut emerging country, namun juga pengendali dunia. Bukan hal yang melangit jika dikatakan demikian. Asia tengah muncul perlahan, dan tiga negara di dalamnya yaitu Tiongkok, India dan Indonesia benar-benar sedang dilihat dengan mata elang oleh negara-negara lain. Ini seperti yang sudah diungkapkan pakar ekonomi dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, Kishore Mahbubani di surat kabar nasional dan media asing berbasis di Praha. Opininya memperhitungkan dengan logis bahwa Tiongkok, India dan Indonesia akan menjadi penentu dunia dalam ekonomi global.

Adalah wajar bagi Kishore untuk melihat potensi di balik tiga negara yang dihuni oleh lebih dari sepertiga populasi dunia ini. Indonesia dan India tengah menunggu sebuah proses akhir dalam menentukan siapa pemimpin negara ini lima tahun ke depan. Narendra Modi, kandidat terkuat PM India yang digadang-gadang melengserkan Nehruvian (sebutan untuk klan Nehru) di sejumlah televisi dan media mengulang pernyataannya “…..My real thought is - Pehle shauchalaya, phir devalaya' (temple first, toilet later)”.

Modi, seorang pemimpin yang pragmatis berani memberi kesimpulan. Ketegasan serta fokus pada prioritas adalah kunci penting untuk membangun sebuah negara. NDTV and Hansa Research dalam memandu pemilih muda di perkotaan mendapatkan 51% suara untuk Modi dan 19% tidak memengaruhi suara mereka. Merupakan angka yang menjanjikan sementara kampanye Modi yang sederhana dan mudah ditangkap oleh masyarakat ini yang perlu diduplikasi.

Kebutuhan utama rakyat yang harus terpenuhi adalah kesejahteraan. Perilaku masyarakat kemudian akan bergantung pada bagaimana taraf hidup sejahtera yang dienyam oleh mereka. Ini yang menuntun pada identitas masyarakat untuk terus memilih maju atau tertinggal. Kesejahteraan adalah isu penting yang harus segera diprioritaskan baik di  India dan Indonesia.

Masalah infrastruktur, kurangnya pasokan energi dan ketergantungan pada impor minyak, inflasi, dan kemiskinan yang ekstrim adalah masalah utama India. Tidak hendak mengatakan kita sudah terbebas dari permasalahan tersebut, tapi kita melihat bahwa kesamaan India dan Indonesia saat ini adalah bonus demografi besar-besaran. Ketika India sedang melampaui populasi Tiongkok atau setara dengan empat kali lipat populasi Brazil dan Rusia, Indonesia dipasok dengan jumlah masyarakat di usia produktif di bawah atau di atas 15-65 tahun selama minimal dua puluh empat tahun, yakni tahun 2012-2035.

Jika Daniel M.Rosyid di opini Jawa Pos (22/3) menyebut bahwa bonus demografi menjadi pasif itu bukan karena disandarkan kepada jumlah penduduk dan mutu sumber daya manusia, melainkan daya dukung lingkungan, pendekatan schooling versus learning serta deschooling dan home-making. Saya ingin menggarisbawahi bahwa daya dukung lingkungan juga berarti pada pemberian kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak muda untuk berkarya. Terutama dalam hal pembangunan daerah.

Dalam Jawa Pos (29/4) disinggung bahwa sustainability award adalah penilaian terbaru dalam menyongsong Otonomi Awards 2014. Penghargaan khusus untuk mengapresiasi kabupaten/kota yang konsisten membuat terobosan dan berkesinambungan dalam menjaga program dan kebijakan yang telah dijalankan. Sepertinya nanti akan perlu ditunjang beberapa penilaian yang unik menyangkut peran serta pemuda dalam pemerintahan. Indikatornya bisa bermacam-macam, bisa melalui seberapa banyak putra daerah yang dirangkul pemerintah untuk kembali ke daerah dan memajukan daerahnya masing-masing. Banyuwangi bulan lalu diganjar Government Awards sebagai salah satu di antara sepuluh kabupaten terbaik di Indonesia tahun 2014. Pemerintahnya mendukung kemajuan industri kreatif berbasis pariwisata lokal yang juga melibatkan pemuda daerah.

Tentu saja saat ini kita berharap semoga pemuda-pemuda yang terpilih menjadi wakil rakyat, atau yang telah menjadi gubernur, bupati, dan menjajal menjadi lurah adalah benar-benar membawa amanah yang baik, bukan semata hanya ‘estafet sambil lalu’ dari pendahulunya, dan tidak untuk memperpanjang kekuasaan bayangan. Jika demikian, akan sangat disayangkan. Padahal kita meyakini pola kepemimpinan baru yang dibawa semangat pemuda akan memperbaiki kehidupan warga negara.

Alangkah membanggakan jika kelak pemuda potensial yang sedang berkelana keluar kemudian hari kembali ke daerah masing-masing dan mau membangun kampung halamannya. Butuh jiwa-jiwa segar dan gagasan penuh gairah untuk memulai membangun daerah. Industri kreatif seperti seni pertunjukan, desain, arsitektur, fashion, kerajinan, desa wisata adalah potensi utama daerah yang bisa berdampak ekonomi pada masyarakat. Pemerintah kabupaten/kota juga tak pantas jika menutup pintu bagi pemuda yang ingin berkarya. Semakin gencar mengajak putra daerah untuk kembali ke asalnya, semakin tidak membuat lama laju kesejahteraan masyarakat. Dengan mengoptimalkan potensi pemuda yang sedang memiliki daya kerja yang maksimal, akan mudah membuat perubahan di masing-masing daerah. John F Kennedy pernah berpetuah "The future promise of any nation can be directly measured by the present prospects of its youth."

Dibutuhkan hanya sepuluh pemuda untuk mengguncang dunia, begitu ujar founding father kita. Mengapa harus risau? Mengapa harus berkelana tak kembali? melancong kembali ke tempat muasal akan menjadi pemerataan bonus demografi Indonesia. Pemerintah dan siapapun yang terpilih menjadi presiden nanti harus cakap dalam merangkul kaum muda untuk membantu pembangunan bangsa. Bonus, layaknya kesempatan, tidak datang dua kali.


Pingin sharing pendapat.
--Kim

A Lil' Word for Him


“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari"
- Pramoedya (Child of All Nations).


Hari ini saya beradu argumen dengannya. Dia masih menetap di Turki, for goods. Saya tidak menyangka dia segahar itu dalam 'mempermainkan' saya. Berkali-kali saya lontarkan kalimat mengapa kita tak jumpa sejak dulu? Jawabannya seringai sinis dan kalimat bernada meledek "Tau sendiri kan JAKARTA macetnya gimana? pantesan kita ketemunya lama". Sok tahu! kapan dia tinggal di kota penuh siasat ini. Lalu dalam sebuah percakapan yang saling memburu, tetibaan dia berujar "There's no any boundaries spot for us. Just you and me could make like this. Let's get crazy". Dan well, saya berada dalam pusaran depresan dan halusinogen? He's different. Let's just get those in details.

Dia dengan sadar menghamburkan pujian terhadap sifat (yang baik-baik) saya. Saya senang? halah, itu kan trik lelaki saja. Di sisi lain, dia hantam saya dengan tebakan sifat buruk dan segenap kondisi saya secara relasi sosiologis dan situasi personal, dan kemudian dia off. Lain waktu dia skak-mat saya dengan beberapa kalimatnya. Tahu lagunya Holy Grail Justin Timberlake? Kiranya saya berada di lirik reff  itu sementara ini. Lagi, dalam kesekian kali saya merasa dikalahkan. Kalah itu tidak mengenakkan.

Dia teman saya, yang mengenal saya lewat tulisan saya, bukan yang lainnya. Saya juga tidak tertarik dengan yang lainnya sih. Dan dia dengan entengnya mencecar saya dengan pertanyaan tabu. Ia dengan gampangnya memercayai saya lewat sharing cerita-cerita (multi rahasia) nya. Dengan demikian, saya juga memercayainya. Ah sesederhana itu menjadi teman? Iya.

Soal fisik, kami sudah skip. Maksudnya sudah saling menghina satu sama lain. Karena dia tidak berjambang, dan saya tidak sefeminin dan lugu yang ia bayangkan. Dan kami tidak tertarik satu sama lain. Baiklah, ini adalah kelemahan kami, menolak dengan halus untuk saling tertarik urusan begituan. Tapi dia bilang "hati-hati". Rupanya dia masih memancing diri untuk tertarik dengan saya. Kali ini saya menang. Menang itu menggembirakan ya.

Semacam ledekan bagi yang tak berjambang, wahai..

Dia hanya teman bermain. Kata Ayu Utami, lelaki yang baik adalah yang menjadikan perempuan bukan mainan, tapi teman bermain. Dia memanggil saya Lala. Jelmaan dari temannya Lupus. Untuk alasan sekejap tak berguna, tak perlu saya utarakan apa filosofisnya. Selain nama penggilan paten saya, dulu saya dipanggil Abe, Kim, Kimmi, Bebe, Mabenz, Kimberly, juga karena tidak ada alasan spesifik. Konon dilafalkan asik saja, begitu kata teman-teman.

Hari ini dia ke Ankara, naik hizlitren. Kereta yang memiliki kecepatan 241 /km. Moda transportasi ini bagus bagi para lajang yang ingin lari dari masa lalu. Lalu dia off. Begitulah, selalu on lagi dan off lagi. Berbeda zona empat jam, kadang menyusahkan. Terutama jika mengingat selo dan tidaknya kami. Wait, barusan saya bilang apa? K - a - m - i ? Bukankah dua subyek yang dijadikan satu ini menimbulkan makna kebersatuan? Ambigu? Apa sengaja dibikin ambivalen, supaya terdengar "mendengung" di kepala masing-masing?


Baik-baik di negara Recep Erdogan ya.
--Kim

April 30, 2014

Hidup Dramatis nan Filmis


Jakarta berhasil membuat saya tidak bisa menemukan arti suasana hati saya sekarang di Merriam-Webster. Bagaimana tidak, perasaan dramatikal dan nuansa perfilman kerap menghampiri hari-hari saya sebulan terakhir. Ohya, saya belum memperbarui kalau bulan lalu saya mengikuti kampanye parpol di kota-kota besar di Jawa Timur. Ini pengalaman ekstrim karena hampir tiap hari saya naik turun berbagai macam alat transportasi. Praktis keberadaan saya di rumah Jember hanya numpang tidur.

Awal mula, saya berniat ke Malang dengan kereta gajayana pada hari Selasa malam, setibanya di Malang Rabu pagi saya beringsut ke sekolah saya di MAN3 Malang, nostalgia dan sedikit mengurus legalisir ijazah. lalu saya berjumpa dengan teman-teman hebat saya disana. Well, untuk mempermudah kronologisnya, jadi begini:

25/3: Gambir-Malang berkendara hampir 15 jam agak mampus.
26/3: Tiba di Malang 9am. Jam 5pm pulang ke Jember. Tiba jam 9pm, feeling: extremely tired.
27/3: Tidur dan selo di rumah
28/3: ke STAIN Jember, networking. feeling: happy
29/3: Berangkat ke Malang (Boss minta saya ikuti kampanye PDI-P dan temani dia) feeling: almost crazy. Gila saja perjalanan Jember-Malang yang biasa ditempuh hanya 4 jam tiba-tiba menjadi tujuh jam mampus.
jam 1 am boss baru tiba dari Surabaya-Malang. He's exhausting, and so do I. Dia yang awalnya bilang mau mengikuti safari politik ke Blitar, Pacitan, Trenggalekm Ngawi pun tak kuasa. Dia mau nyuruh saya ikut rombongan jurnalis. Well okay, hidup akan sangat rocks kalau begitu. Tetapi paginya ia batalkan. Ia mengajak saya ke Surabaya. Ini pilihan yang lebih baik.

30/3: Kampanye berlangsung seharian di Malang. Jam 6pm bertolak ke Surabaya. feeling: unwell, udah mau catch a cold. Jalanan macet keluar Malang menuju Surabaya.
31/3: Meeting, meeting, and meeting. Sesekali jumpa dengan teman jurnalis.
01/4: Meeting, meeting, meeting again. Malam jam 9pm bertolak ke Jakarta. Feeling: officially sick.
02/4: Sudah di Jakarta, ambil cuti seharian. Mau benar-benar istirahat.
03/4: Sudah di kantor Jakarta, menulis report. Lalu tiba-tiba bos menulis WA: "PDIP campaign in your hometown, do you wanna come in? if that so, pack your bag and go to airport now." Jam menunjukkan pukul 4 pm. Apakah saya harus naik jet atau pesawat pribadi Syahrini? dengan ketangkasan ala wonder woman, saya pesan tiket, mobil di Surabaya dan segalanya. Lalu melesatlah saya ke Soekarno-Hatta aiport. Jalanan ornag pulang kerja mencret tak bisa dihindari.

10pm: Tiba di Surabaya, saya dan kolega disana langsung menuju ke Jember, malam itu juga. feeling: There's a fine line between stress and fun.
04/4: 04am subuh tiba di Banyuwangi untuk mengambil segala yang diperlukan untuk kampanye Pak Jokowi. kembali lagi ke Jember. feeling: oh dear, where's pillow?. Kampanye di Jember berlangsung sangat emriah, sampai-sampai panggung Jokowi hampir ambruk. Sorenya Boss asked me: "Are you coming along with me to Probolinggo or stay at Jember?" Tanpa banyak pikir saya menjawab "I prefer to stay at Jember and report to you directly everyday"

9pm: kembali ke rumah, tidur. ada WA dari boss: "You might be come and join me at Democrat Party at Sidoarjo tomorrow. I would be there"  feeling: D A M N! Jember-Surabaya kan 5 jam gitu. Pantat saya tepos ini.
05/4: Ini adalah kampanye terakhir bagi setiap parpol, sebelum esoknya adalah hari tenang. Saya seharian di Siodarjo dan malam pukul 11 pm baru sampai ke Jember lagi. Butuh waktu sekitar 5 jam Surabaya-Jember.
06/4: Saya mau tidur, tidur, dan tidur.
07/4: Bertolak ke Situbondo. networking
08/4: Bertolak ke Probolinggo dan Pasuruan. feeling: my brain is dead
09/4: CO B L O S A N !!
10/4: It's Thursday, dan harus ke Surabaya lagi untuk bertolak dari Juanda ke Jakarta (lagi).

Tiba-tiba Sabtu (12/4) saya mendengar si dia akan melangsungkan pernikahan. YA, P E R N I K A H A N.
Trus, aku kudu piye? Betapa drama sekali bulan Maret dan April ini. Life is roller coaster road.


Jadi yang masih kuat baca itinerary saya di atas, tahu kan kenapa saya sering gagal pacaran dan saat ini gagal membina hubungan simbiosis mutualisme? Hahaha kalutnya pikiran saya. Abaikan saja.



--Kim

Masih Ingat


Saya masih ingat ketika dia diam-diam menyimpan keinginan saya. Lambat laun, kelak saya paham wataknya yang kaku dan kebaikannya kian sering berjabat tangan. Waktu itu, kami perlu berhemat ketika menjadi mahasiswa. Dan saya membolak-balik buku bersampul oranye karangan Ahmad Tohari di salah satu rak toko buku. Lalu meletakkannya kembali. Saya berceloteh riang bahwa buku ini bagus, meski saya juga baru mencuri dengar dari percakapan teman-teman di kampus.

Kami pulang. Kembali pada rutinitas. Suatu hari, dia datang menyorongkan buku bersampul oranye itu. Saya bungah bukan kepalang. Tapi aneh, buku ini tak terbungkus sampul plastik seperti di toko buku tempo hari. Saya tanyakan padanya, dimana ia mendapatkannya. Ia tersenyum cengengesan.

"Tadi nemu di jalan, ada orang yang jatuhkan buku ini, diambil deh".

"Ohya? Wah kebetulan sekali". Saya yang terlalu tak mau tahu dan bercampur keriangan yang tak terperi, tak lagi bisa membedakan bentuk kebohongan berbalut senyum simpul. Sebuah padu-padan yang teramat sukar diterima akal sehat.

Saya torehkan nama, saya bubuhkan tanggal beserta kota. Semoga saja suatu saat nanti ini akan bersejarah, batin saya. Setelah mengkhatamkan dalam sehari, ada semacam kepahaman yang tertunda mengapa bisa ia mendapatkan buku hasil 'nemu di jalan' ini dalam keadaan mulus.

"Kamu pasti membelikannya untukku kan?" Tuduhku pasti.
"Enggak kok, itu buku nemu. Palingan orang baru beli, trus jatuh di jalan"
"Aaaaah, kamu berdusta" sergahku tak percaya.
"Enggak kok, swear. Itu buku nemu" Tukasnya tetap dengan tertawa.
"Terima kasih ya, saya suka bukunya".

Kelak, buku ini kemudian difilmkan dengan aktris cantik Prisia Nasution. Saya menyukai filmnya, tapi lebih baik saya menyenangi novelnya saja. Novel itu penuh sejarah, ya isinya, ya bagaimana didapatkannya.

Pada malam pekan pertama September, saya sedang berulang tahun. Entah yang ke berapa. Saat itu, saya tergila-gila dengan penulis wanita yang juga menggilai feminisme. Dengan tulisannya, ia menelanjangi laki-laki.

Malam itu, dia datang dari Jakarta, mengetuk pintu kediaman. Dan menyorongkan (lagi) buku setebal 537 halaman, karya misteri dari penulis wanita indonesia yang memutuskan tidak menikah. Saya senang bukan kepalang. Kelak, buku ini telah dijadikan serial dan dielaborasi menjadi 3 bagian.

Kami menghabiskan pagi dengan pertengkaran. Ia cemburu karena teman lama saya mengucapkan doa-doa panjang umur kepada saya. Ah anak muda, kecemburuan itu konon pemanis hubungan. Dia kesal bukan main. Biar saja, esok dia akan reda. Karena saya akan berceloteh dengan riangnya apa isi buku yang diberikannya itu. Meski saya tahu, dia tidak begitu berminat dengan isi buku ini. Dia berminat kalau saya senang membaca, mengoleksi buku, dan terus menulis.

Ngomong-ngomong tentang buku, ya ampun saya pernah membantunya membopong seberat-beratnya tas berisi buku-buku dari stasiun Tugu sampai ke pelataran taksi. Ya ampun, kami berdua itu kurus. Tapi kami tak ingat kalau badan kami mungkin kalah berat dengan berkilo-kilo buku yang kami angkut. Isi peti yang kami seret dan panggul umumnya buku-buku soal sosialisme, kapitalisme, bahasa asing dan aliran Syi'ah kebanggannya. Lalu setelah itu, kelak buku-buku itu sering berpindah tempat dari rumah kos-kosan satu ke kos-kosan lain. Tidak, bukan kami menjadi perpustakaan keliling. Kami sering marah dan bertengkar, lalu barangnya dan barang saya entah mengapa 'harus dikembalikan' ke empunya. Menggelikan sekali ya.

Saya masih ingat.., tentu saja, semua hal-hal sentimentil lainnya. Ya, saya masih ingat, hal-hal yang baik itu melegakan. Terkadang membersihkan hati yang ditumbuhi rasa benci. Dan ingatan ini mengantarkan pada kondisi 'menjaga yang ada'. Memandang sesuatu yang putih lagi kepadanya.

Selamat Hari Buruh ya besok! Jangan lagi tidak minta ijin ke titik nol Yogya untuk berdemo.


--Kim

April 23, 2014

Ceritalah Indonesia di Ambon

"Seperti halnya Matahari, Indonesia ini akan terbit dari Timur."—Ramya Prajna. 


Pergi ke Ambon untuk syuting Ceritalah Indonesia dokumenter ini adalah kali kedua. Beberapa bulan sebelumnya kami datang untuk riset. Syuting dilakukan selama 8 hari. Saya kenyang makan sagu, ikan dan papeda!, dan saya mau datang kesana lagi!

Cerita tentang perjalanan dan pengalaman tim akan segera diposting. Celotehan proses syuting ini bisa dilihat di akun @CeritalahRI.



Commonwealth War Cemetery- Does the scenery similar to Rio de Jeneiro, Brazil?
View from my 7th floor Swissbell

TROTOART- Kind of independent art performance by young Moluccan artist. word derived from sidewalk ("trotoar")


A friend of mine from Malaysia, spotted at Pasar Mardhika

Enigmatic Ambon
Childnation
Thats ball is called: Papeda. it's sagu. Yes, it can be eaten!

Christina Martha Tiahahu, one of Indonesia woman hero origins from Maluku

Extremely heat. Photo location taken by 10 feet above the sea.

We have the same name "Ca", given by Ambonese to us.


Ambon has a truly breathtaking view. Its culture, people, and history build Athis city as a solid place even in the past Ambon has been tested by chaos and riots.

Kim,
Traveler (and so addicted) and wanderer

April 14, 2014

Melodramatic Hypocondriacs (part I)


“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit
 -Pramoedya Ananta Toer. 


Dari sekian lara yang paling lara menurut versi banyak orang adalah patah hati dan ditinggal oleh orang terkasih. Belum ada survei tentang ini sih, Cak Lontong* juga merasa tidak pernah menemukan data patennya. Tapi roman-romannya banyak orang yang sepakat. Demikian saya. Apalagi jika ditambah dengan circumstances yang mendukung upaya lara itu di level paling tinggi.

Ditinggal orang terkasih juga memiliki dua turunan, yang ditinggal karena umur tidak panjang, dan ditinggal karena persoalan lain. Kawin dengan pasangan lain mungkin. Ini masih mungkin loh.

Kalau sudah berada di turunan kedua, bagi seorang yang lahir di bulan September, ia akan mengalami fenomena melodramatic hypocondriacs. Apa itu? Jadi begini, misalnya si mantan kamu sudah menikah, dan kamu (yang berbintang Virgo) akan merasa "OMG, the world will end" atau terdengar "I'm gonna die". Semacam perasaan yang membangkitkan luka lara berlebihan.

Tentu saja ini hanya sebuah fase, terpedih dan terparah menurutnya. Ketika dilanda fenomena melodramatic hyphocondriacs, ia akan memberikan bookmark untuk kejadian yang menyita perhatiannya lebih. Di fase ini, ia mungkin saja melihat dunia memang berakhir, sekejap lebur seperti pasir. Ia juga bisa saja menempel seperti benalu pada orang-orang terdekatnya berharap mendapatkan belitan motivasi. Ia tentu dengan mudah saja menjelma menjadi makhluk paling produktif sedunia akherat. Sholatnya tiba-tiba jadi rajin, mulai dari wajib dan sunnah. Tulisannya pun semakin bernyawa (meski hanya berakhir di draft). Tak jarang, ia memilih hidup membiara. Haha masih ingat jaman artis sekaliber Reza Artamevia masuk infotainment dulu. Putus dari Adjie Massaid, lalu ia hidup membiara di pesantren. *oke ini skip saja* *ketauan anak jaman Cek and Ricek*.

Pertanyaannya adalah bagaimana fase selanjutnya?

Tentu, seperti halnya rasa sakit ia akan mengalami masa recovery. Mulai menemukan kembali jati dirinya yang hilang karena ulah perasaannya sendiri. Bebatan kesedihan yang menggurat sana-sini, mulai mengering. Ia jadi waras dan memakai logika yang ia kesampingkan sebelumnya. Di fase ini, ia lebih bersyukur karena masih diberi kesempatan berada di level paling bawah, lowest point. Ia menjadi manusia yang very weak and strong at the same time. Setidaknya ia tahu dua hal: mengekspresikan perasaan sesukanya adalah kelegaan dan menyembuhkannya adalah pendewasaan. Seimbang! 

Saya kira Hayam Wuruk pun tak pernah merasa ingin menjadi lemah di depan Gajah Mada. Meski ia tahu bahwa upayanya 'melepaskan diri' dari patihnya adalah kesalahan. Keterkejutannya menerima kenyataan hanya membuatnya reaksinonis. Sangat sesat dan sesaat. Melankolisnya Hayam Wuruklah yang membuat gajah Mada 'kembali' menjadi patih. Ia sadar ia datang untuk mengimbangi. Ah begitulah hubungan dua manusia yang terus diingat oleh sejarah ini. Semua memang harus seimbang. Ada sedih dan senang, ada sabar dan grusa-grusu, ada temperamen dan kalem, ada menerima dan diterima.

seperti halnya menerima kenyataan tanpa tendensi. Apa ya istilah sifatnya? Ikhlas. Sungguhlah sulit. Saya teringat Hamka dalam puisi monumentalnya "Nikmat Hidup": hanya ada dua tempat bertanya, pertama Tuhan dan kedua hati. Seharusnya memang lebih bisa merawat hati, daripada hatinya orang lain. Seharusnya memang lebih gampang bertanya kepada Juragannya Alam Semesta tiap lima kali sehari, ketimbang mengumbar disana-sini. Sememangnya harus lebih  tahu apa mau diri, ketimbang sok tahu orang lain. Ikhlas itu urusan hati (diri sendiri) yang legawa dengan kehendak Tuhan. Alangkah damainya hidup seseorang yang bisa memahami dirinya sendiri lebih baik daripada menyangka-nyangka orang lain dengan penilaian yang belum tentu absah.

Sekali-kali hidup penuh drama itu baik, jadi sadar kalau hidup ini terlalu lucu. Skenario Yang Punya Universe ini terlalu sempit kalau dilihat dari satu sisi mata uang saja.


You Only Live Once
--Kim


PS: *Cak Lontong adalah pelawak yang terkenal dengan lawakan ilmiah, silogismenya. Bercandanya selalu berdasarkan survei dan data. Manusia unik seperti ini sungguh berpahala banyak. Haha

Sebenarnya mau nulis yang agak melo sesuai judulnya, tapi mungkin masa itu sudah lewat. Sudah dilangkahi sama perasaan-perasaan yang lain, agar imbang. Tulisan ini rencana memang dibuat sampai tiga bagian. Seperti kata orang bijak, pandanglah suatu kejadian melalui banyak sudut.

April 03, 2014

Semangat Menulis



Demikianlah, hanya ingin berbagi pendapat. Tulisan saya dimuat di Jawa Pos. Berjudul "Bukan China, tapi Tionghoa" (21/3). Berangkat dari kegelisahan saya melihat bahasa dan kata yang perlu dikritisi. Dan beberapa kali diskusi bersama senior peneliti di kantor. Ya sudah, daripada hanya berakhir pada diskusi sore bersama secangkir kopi, baik lagi ditulis, begitu menurut saya. Dimuat sukur, gak dimuat juga tidak apa-apa. At least I write what I see. Prosesnya begitu cepat, sehingga ringan saja menulisnya sampai 900 kata. 

Padahal sebelumnya, tahun jaman anak kuliahan dulu, nembus Jawa Pos susah sekali. Saya pun hanya mencoba sekali ketika semester empat, setelah itu patah arang. Lalu mencoba menulis tulisan yang tidak begitu ilmiah, menyasar budaya pop anak muda. Dua buku (kolaborasi) tentang traveling sudah keluar: "Travelling Notes Competition" diterbitkan oleh Diva Press, dan The Hos[T]el II diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

Menyenangkan kedua, foto-foto yang saya upload di atas dan bawah ini adalah kiriman teman-teman. Much appreciated. Dari sana, dibangun sebuah silaturahmi, menyapa, menggali ilmu, dan bertukar kabar. 



Semangat lagi deh nulisnya.

--Kim

April 02, 2014

Merantaulah Kawan!


Merantaulah...
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah...
Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa.
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam.
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.


Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi’i, lahir di Gaza, Palestina pada sekitar tahun 150 Hijriah (767-820 M). Seandainya tidak merantau, Imam Syafi'i ini mungkin tidak bakal begitu berpengaruh di agama kita. Umurnya hanya 53 tahun, hanya 53 tahun,,, hanya 53 tahun....


Begitu dilematis-
--Kim

March 04, 2014

(Anak Rantau) Selalu Rindu Pulang


Pulang ke rumah biasanya karena rindu pada hal-hal yang tidak bersifat substantif. Hal-hal remeh temeh yang menarik-narik jiwa raga. Ada jarak dan jenjang waktu yang menumbuhkan rindu. Termasuk saat kita rindu masakan Ibu, atau jajanan murahan seperti cilok dengan gerobak sepedanya yang selalu terparkir di halaman sekolah kita dulu. Tak pernah berpindah, seiiring dengan kuatnya ingatan tentang masa kecil.

Di penghujung tahun 2013, saya pulang ke Jember. Cuti 5 hari sudah saya kantongi. Kebetulan dapat tiket murah seharga kereta Bima jurusan Jakarta-Surabaya. Tentu saja tak mahal, karena jam keberangkatannya dipaskan ketika semua orang masih tertidur lelap. Ini akal-akalan maskapai penerbangan nomer kesekian, yang sialnya harus saya setujui karena kita juga diuntungkan. Pukul 2.30 AM pagi saya harus segera ke bandara, karena pesawat yang membawa saya ke Surabaya akan bertolak pukul 4 AM.

Subuh di udara

Kenikmatan yang tiada duanya adalah saat meneruskan tidur yang terpotong di atas kursi pesawat. Saya terbangun silau ketika matahari menyembulkan sinar keemasannya. Saya ini gumunan orangnya, apa ya istilahnya sering dibuat takjub. Hati saya bungah, mengingat menikmati sunrise di atas ketinggian 36.000 kaki adalah peristiwa langka, saya abadikan momen ini dengan beberapa kali jepretan. Ah, langit pagi ini begitu indah, kayak ngasih sambutan trus dadah-dadah ke gumpalan rindu yang membuncah di dada.

Sesampai di rumah, setelah melewati jalanan Porong a.k.a kawasan lumpur Lapindo dan terpaan segarnya udara terminal Bungurasih Surabaya, saya disambut sama…patjar? Saya tersipu harus menjawab bukan, saya disambut sama hujan rintik-rintik. C’est parfait! Saya melonjak kegirangan, sumringah. Udah bener ini, hidup yang begini ini yang memang saya inginkan. Merantau lama dan jauh, lalu diam-diam menyimpan rindu, dan pulang untuk melepasnya. Aduh, bahasa saya ini lho ‘merantau’ udah mirip Zainudin aja yang harus ke Batavia sambil sesekali merindui Hayati. Haaaaayatiiiiiii.....!

Yeissara Amrouk (lovely nephew), Arini Rusyda (sister), and Me

Tapi sekarang, kalimat di atas yang dipertebal justru saya sangsikan keabsahannya. Percakapan seorang teman menggiring saya ke sebuah pertanyaan ontologis, "uuntuk apa perantauan ini kalau alasannya hanya untuk menjaring rindu?". Saya bisa mencari-cari jawaban lain dan berdalih sih, tapi sampai kapan.

Sebagai anak ragil (bungsu), saya memang tidak punya tanggungan apa-apa. Maksudnya, kakak-kakak saya sudah jadi seperti yang orangtua mau. Sedangkan saya memiliki banyak pilihan. Lalu, saya coba tengok kondisi orang tua yang sudah sepuh (tua). Asumsi awal versi seorang anak, saya masih punya orangtua yang (ternyata) masih mengharapkan semua anaknya untuk kembali. Ayah Ibu saya ini agak 'manja', ia selalu ingin dibutuhkan oleh anak-anaknya di hari tua nanti. Tahu apa saya tentang hari tua? ketika saya sekarang hanya berpikir enaknya jadi 'anak muda'?. Jadi baiklah saya putuskan untuk menurut, menuruti kata hati saya. Meski orangtua belum berkata, saya mengambil inisiatif.

Bukan hidup seperti yang dicetak tebal di atas yang terus saya jalani. Setiap perantauan butuh destinasi akhir. Setiap jalan punya ujung. Setiap permainan ada game over. Saya memilih jalan pulang. Bukan untuk game over dan mengalah, tapi justru lagi mengajukan tantangan, yang agak ngeri sih kalimatnya: "apa yang kamu bisa perbuat untuk kampung halaman?". Meski saya belum tahu saya mengerjakan apa nanti. Mmmm...mungkinkah saya akan ber(t)ani? Mengajak warga untuk melek kedaulatan pangan negeri kita? Haha...syedaaaaaappp.



--Kim
PS:  Sementara segini dulu, ini update-an dari draft-draft yang terbengkalai. Dilanjutkan sesuai dengan kondisi perasaan yang terkini.

February 25, 2014

Longing For Home


Life's been pretty busy this week, I might say it's crazy. The stuff and dramatic feelings been brought me to the path, my walk research in Surabaya. I woke up pretty early 6 am in the morning with panda's eyes as the night I've been enjoying (beer?) writings report till 2 am. I put aside my tiredness and my biggest mistake and regret: Asia's next top model in Star World. My report was my reason I put my Wednesday in a quick packing, rushing to airport, booking accommodation, and confirming last minute meeting. I didn't expect my boss gets me to Heroes City as fast as I thought.

This cleaner and neater city help me better with cloudy and drizzle along whole day. I can fit my feelings to be not more mundane. My second day starting by dragging myself from this place to that venue, and elaborating the issue and stuff. It was neglecting my stomach's need.

....and the weekend comes. I made a quick decision not to go to Jakarta on Friday night. Room in my Jalan Karet Pedurenan doesn't bring me special. So that, I again, hurrying to terminal in catching up late bus to very East Java, Jember, my hometown on 9.15 pm.

1.30 am: just arrived. I didn't see my mom, neither my sister. I really need a quality rest.

Saturday (doing whatnot stuff with 'lil Yesa and eating much favo food) and Sunday (early wake up and go around with other nephew). Sunday 1 pm: I can't help but really should leave this hommy place. My GA flight around 8.30 pm.

And yes, that subject called me on my way to Surabaya. I wish I could meet. Maybe next the other time. FOR GOD'S SAKE! Saya nerima telpon dengan amat deg-deg. :)


--Kim

February 18, 2014

China, bukan Caina


Dari Tjina, menjadi Cina, lantas diperbarui China (dengan "H"). Kita menghormati otoritas yang mengedit tata bahasa kita dengan dengan berbagai pertimbangan. Namun apakah lantas kemudian cara pelafalannya pun ikut 'diminta' berubah? dari dulu Bahasa Indonesia kita punya huruf "i" tetap dibaca "i". Entah diawali atau diakhir oleh konsonan lain atau tidak. Tidak berpengaruh.

Ini jelas berbeda dengan "Indon" yang dibuat untuk menyingkat Indonesia. Sebuah profan yang resonansinya sama dengan "nigga" Amerika kulit hitam. Sejarah berbicara, "nigga" dalam penggunaannya sangat melukai perasaan kulit hitam Amerika. Saat itu masih dibedakan area publik antara "colored" dan "white". Kemudian Kennedy perjuangkan melalui Civil Right Act of 1964. Sedangkan "Indon" berkonotasi negatif karena disandarkan artian kepada TKI-TKI Malaysia yang tidak memiliki kecakapan kerja, yang gampang dibully, yang seenaknya haknya tidak dipenuhi dan segala tindakan yang 'melukai' martabat pahlawan devisa Indonesia. Itu dulu, ketika sistem ketenagakerjaan kita masih amburadul, meski tidak yakin juga sekarang sudah sebaliknya.

"Indon" disepakati kedua negara untuk tidak dipakai, karena terdengar 'menyakitkan' bagi Indonesia. Kita melihatnya dari sisi historis. Lagipula negara ini bernama lengkap Indonesia dan tidak disingkat dengan semena-mena. Singkatan yang disepakati oleh kita adalah INA. Seperti halnya AUS dan USA atau NZ. Ini wajar untuk diluruskan, dan ini berbeda dengan C(h)ina.

Alasan penambahan huruf "H" adalah obat pelipur bagi perlakukan anti-Tionghoa yang pernah tercatat dalam sejarah bangsa ini pada mereka, cukuplah begitu adanya. Tidak perlu penambahan "H" ikut mengintervensi pelafalan dan cara baca kita. Saya setuju dengan tulisan Sapardi Djoko Damono dalam Tempo pekan lalu (17/2/14). Apakah kita terus-terusan mengangguk jika tata bahasa saja kita pun diintervensi?.

Kita bangga berbahasa Indonesia berarti melestarikan apa yang sudah disepakati oleh pemuda-pemuda pendahulu kita. Sepakat berbahasa satu, bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Toleransi tetap ada, tapi jangan keblinger, jangan berlebihan. Kita masih berhak 'saklek' untuk urusan 'harta' bangsa.

Untung saja, penamaan Kapal RI Usman-Harun kemarin bisa kita pertahankan dengan elegan. Meski negeri sekecil liliput itu 'ngambek'. Keteguhan pemerintah kita perihal penamaan yang bisa dipertahankan (meski bukan persoalan yang besar), entah kenapa telah menaikkan satu tingkat kebanggaan saya terhadap bangsa Indonesia, dan rasa terima kasih saya kepada pihak berwenang untuk ini.

Sekali lagi untuk itu, aneh rasanya kesepakatan penambahan huruf "H" sebagai permohonan maaf bangsa ini (mewakili rezim yang bersalah) kepada seluruh warga Tionghoa, kemudian diikuti pelafalan berbahasa Inggris menjadi "Caina".


--Kim--
PS: Sering gatel mendengar pembaca berita dengan fasihnya membaca China dengan pelafalan Bahasa Inggris.

February 11, 2014

Chennai Express: Penuh Komedi dan Reunian

Saya tak ingat persis kapan saya dan teman SMA saya ini menjadi bersemangat menceritakan hal-hal tidak penting. Menceritakan begitu cantiknya Rum (Rumanah "Tukang Bubur Naik Haji"), begitu kocaknya film Suzanna, gokilnya Chennai Express, dan bagaimana mahasiswa jaman sekarang ber-KKN dengan menyebut-nyebut 'bid'ah' ke warga kampung.

Enak rasanya membicarakan kesalahan dan ketidaktepatan orang dengan nada riang seperti ini, walaupun ujungnya gak enak juga sih. Karena apa sebenarnya yang sudah kita lakukan?. Untungnya ini bukan ajang berpendapat di ballroom hotel-hotel mewah seperti di televisi. Jadi kali ini kami bebas dikejar rasa bersalah akibat tidak bisa menjawab pertanyaan maut yang selalu mengintai itu.

Kembali ke film yang tengah kami bahas. Saya belum pernah berjumpa dengan seorang lelaki (setelah sepupu saya tentunya) yang begitu antusias diajak membicarakan film india. APA? Iya I-N-D-I-A. Mungkin bakatnya memang jadi perayu yang metesek di umur twenty something-nya, Saya harus memaklumkan ini sepertinya. Kalau ndak, saya bisa dikosek ampun-ampunan dan dijancuk-jancukkan. :-D

Bollywood, demikian sebutan tenarnya, mampu memproduksi ratusan film india yang bernilai multi-million dollar. Tentu ini berlaku hanya di Mumbay dan sekitarnya saja. Kita pasti masih ingat, pelajaran IPS ketika SD berapa luas negara India dan bertetanggaan dengan negara mana. Yang belum ingat, mari kita buka RPUL -Wikipedia. Banyak orang Pakistan melihat film India, karena mereka juga mengerti bahasa Hindustan. Begitu juga Bangladesh, Nepal dan Sri Lanka. Tidak heran rasanya jika film lokal Hindustan mereka berjaya di negara sendiri, dikonsumsi oleh warganya sendiri. Warga negara sebelah yang juga suka hanyalah sebuah bonus. Bollywood menjadi signature icon India.

Hiburan memang menyatukan perbedaan, bahkan konflik. Masih ingat Indonesia geger karena karena tim sepak bolanya kalah oleh Harimau Malaya, remaja Malaysia tak ambil pusing dan masih setia dengan sinetron "Yusra dan Yumna" kita. What a real..., fact (teens).

Salah satu dari sekian banyak daftar yang membuat saya tertarik dari Chennai Express adalah tidak lain genre komedinya. Juga, budaya yang ditampilkan tak malu-malu disandingkan dengan keindahan daratan India Utara-Selatan. Kita seperti diajak berwisata masuk ke rel terowongan, melintasi jembatan yang membelah gunung, melewati air terjun yang menakjubkan, shot-shot yang jernih, tokoh-tokoh yang multi-ras, warna-warni sari, tarian yang rancak, sembari disodori komedi yang effortless. Sebuah paket kombo yang siapapun tak akan tolak.

Saya menyebut film yang dibintangi SRK dan Deepika Padukone ini sebuah reuni. Bagi yang pernah mengikuti penetrasi film India ke kampung halaman masing-masing, tentu ingat tokoh Anjeli, Tina dan Rahul. Tokoh ini juga bagaikan sekawan dengan judul-judul seperti "Dilwale Dulhania La Jayange" atau "Rabne Bana Di Jodi", "My Name Is Khan" dan baru-baru ini "Ra One". Sutradara film ini asyik menyomot adegan-adegan yang tak terlupa dari film-film yang terkenal sebelumnya. Adegan lari-larian Kajol dan SRK di kereta dalam film DDLJ  menjadi pembuka di Chennai Express, tentu dengan balutan komedi. Dan juga "....My Name is Rahul, and I am not terrorist" juga bisa kita dengar lagi disini. Lagu-lagu dari film-film lain diambil bagian reff-nya dan disempalkan dalam dialog, menjadi cubitan bagi kita yang akan bergumam "sepertinya saya tahu lagu ini".



Lalu, sponsor utama film Nokia Lumia 920 juga tak basa-basi dimasukkan dalam dialog, tidak boros kesannya, masih bisa kita terima dan tetap lucu. Saya harus mengacungi jempol dua bagi pembuat skenario. Tagline SRK "dont underestimated the power of common man" ini sepertinya tidak asing kita dengar. Selain nukilan dari film Ra One, dengan guyon kita bisa artikan ini sentilan untuk gejolak politik di India. Partai "Aam Aadmi" (Common Man) yang dipegang oleh Arvind Kejriwal, seorang mantan insinyur yang berubah haluan  menjadi politisi sedang menentang partai incumbent Congress Party di pemilu nanti. Saya tidak pasti pembuat film ini memiliki kecenderungan politik kepada siapa, tapi rasanya bila ada dukungan bagi golongan oposisi yang menentang 'partai lama yang berkuasa' rasanya sah-sah saja ditampilkan lewat seni.

Cerita Chennai sederhana, tapi komedinya berhamburan dimana-mana. SRK, seorang penjual manisan di umurnya yang ke-40 dari Mumbay, ia harus ke Rameshwaran untuk melarung abu jenazah kakeknya. Di tengah berkereta itulah ia menemukan ceritanya. Ia bertemu Meenama Lohdchini yang melarikan diri karena menolak dinikahkan dengan Tangabali. Ayah Meena merupakan bos gengster di wilayah Komban. Ayah Tangabali begitu juga. Jadi jika keduanya menikah akan menambah zona kekuasaan si Ayah Meena. Drama lari-larian dari kejaran preman-preman ini menghiasi awal cerita Sampai suatu saat, Rahul jatuh cinta dengan Meena (klasik ya), dan memperjuangkannya untuk mendapat restu. Eciyeh.

Mungkin karena saya penyuka detil, kekocakan film ini diperpecah dengan kesan India yang tidak biasa. Saya pasti akan mengingat penduduk India yang cantik mulus. Tapi penduduk bagian utara asli yang berkulit hitam legam dan tetap ceria disini ditampilkan. Belum lagi warga Sri Lanka yang tertangkap di perairan India, penjaga kereta yang diuncalkan (dilempar) ke sungai, dan bagaimana proletarnya keseharian sebuah kampung di Tamil Nadu. film ini berlatar Desa Komban, India Utara.

Terakhir, apakah saya akan merekomendasikan film ini untuk kawan-kawan semua, bagi yang ingin tertawa-tawa melebihi 3 IDIOTS atau lucunya SRK di Rabne Bana Di Jodi, saya akan berkata begitu. Film ini juga bahkan sukses mengalahkan DHOOM 3 dan menjadi film ke-empat India dengan pasar yang sukses di luar negeri. Dan bagi yang tidak suka SRK, sudahlah, memang sudah jadi tuntutan akting, ia harus beraksi lebay sedemikian rupa.


--Kim--

January 05, 2014

Bertemu Teman Lama

Kemarin ketemu sama teman lama, teman yang berangkat dari Jember ke kota gudeg demi membuktikan sejauh mana kota ini mampu dikenang. Menyenangkan bisa bertegur sapa kembali dan mendapatinya di kota Batavia, di awal tahun 2014. Kami berjumpa di museum Mandiri yang kebetulan sedang tidak dibuka untuk pengunjung.

“Jadi bagaimana kabarnya? What’s bring you here?” saya bertanya basa-basi.

“Jadi begini Him, saya ini ketrima CPNS di Kementrian disini.” Dia menjawab enteng seringan kapas sambil menyusuri jalanan berpaving Kota Tua.

“Ohya? Wah selamat. Ini gilak banget, biasanya hidup di rerimbunan hutan, harus terbiasa dengan pola ‘nine to five’. Seorang yang anti-kemapanan harus berubah menjadi bagian yang membantu pemerintah”. Ujar saya sambil terus menahan heran.

“Yah begitulah, bukan kamu saja yang gak percaya, saya dan teman-teman pun iya. Ini keinginan Bapak saya sebenarnya, saya hanya mengikuti.” Teman saya mengucap lagi-lagi dengan gayanya yang ringan tanpa beban. Saya jadi sangsi, jangan-jangan anak ini memang tak mengenal kata ‘beban’ dalam hidupnya. Kece!

Saya terdiam sebentar, mencoba mengulik ke labirin ingatan saya yang dasarnya suka loncat-loncat. Antara keinginan orang tua yang bersambut dengan kuasa Tuhan. Ah, sepertinya saya kenal betul terminologi ini. Sekeras apapun kita berkilah, sehebat apapun kita menghindar, jika tak terdapat restu mereka secara utuh, bisa tahulah kita kemana arahnya nanti. Lalu saya mengangguk-angguk pasti, seperti mendapat sekelebatan pemahaman yang tak terduga. 

Begitulah, selalu ada doa Bapak atau Ibu di tiap kita melangkah. Di tiap jalannya kita membagi ilmu yang dipunya, di tiap pagi kita berangkat dan mengerjakan tugas-tugas yang menyita Senin-Jumatnya kita. Di kota yang kami menyebutnya “kota.macam.apa.ini” dengan segala ketergesaan sana-sini. Kali ini saya harus mengakui, saya kalah dengan teman saya ini. Urusan berbakti dan membuktikan kepatuhan, yang disusul kebanggaan orang tua, dia lebih dulu berjalan jauh di depan saya.  Kesimpulan saya secepat ini tentangnya. Mungkin saja ceritanya akan lain kalau dia mau bercerita lebih jauh bagaimana proses yang ditempuh dalam mengambil ‘keputusan’ besarnya. Saya mendiamkan pertanyaan ini.

Lalu kita ngobrol tentang kerinduan kampung halaman, tentang transportasi massal yang layak,  berlanjut membicarakan barang-barang masa lalu yang diawetkan (baca: museum). Iya, kita sedang berada di museum bahari, karena hanya museum ini yang buka di hari libur. Ingatan kami kemudian terbawa ke sebuah kota yang perlu ditempuh selama 5 jam dari ibukota Jawa Timur.

Kabarnya kampung halaman kami di ujung timur pulau Jawa ini sudah mengenal kata macet. Kampung kami disini sudah memiliki bandara yang berhenti beroperasi. Konon karena uangnya dikorupsi, ah sudahlah. Tapi bandara Notohadinegoro ini pernah menjadi saksi bisu kelihaian saya menjajal sepeda motor. Iya teman, karena tak berpagar, dulu ketika libur sekolah, tiap sore tiba saya biasa latihan bersepeda di landasan pacu pesawat di sini. Benar-benar ganas ya latihan nyetir sepeda saja di bandara.

Dari handai taulan, bercerita juga bahwa tanah kelahiran kami ini sudah sesak dengan mobil-mobil anyar yang turun di Jalan Kalimantan, jalanan pasar Tanjung, Jalan Trunojoyo dan jalanan yang lain. Selain itu, sepertinya kalian harus tahu bagaimana angkutan kota kami beroperasi.

Jadi, menurut teman saya, kemacetan Jember juga karena ulah sopir angkutan berwarna kuning yang biasa kami sebut “lin”. Demi sopir lin yang seenaknya ngoper penumpang, atau sopir lin yang gengsi kalau ngangkut para pelajar, atau lin-lin yang ngetem seenak-enaknya di bahu jalan. Ohya saya lupa,  ada yang bingung kenapa sebutannya lin? Baiklah, mungkin lin ini asal katanya dari “line” yang berarti jalur. Harap maklum, tabiat kami memang meneruskan pelafalan apa saja yang sudah disepakati secara umum.

Jadi, semua ini gara-gara sopir lin? Oh tentu tidak dia saja pelaku utamanya, juga sang kernet yang ulahnya melebihi eksyen Vin Diesel di Fast to Furious. Kernet ini asal katanya dari “Car-Need”, yang dibutuhin mobil buat mempermudah pengoperasian mobil. Tapi kerjaannya kernet ini malah berubah jadi ajang gaya-gayaan. Lho ga percaya? Coba amati, seenaknya nggandol berdiri di pintu lin dalam kondisi pantat di luar apa tidak dikategorikan ‘attached to risk’ dan pamer kelihaian?. Bisa dibayangkan, betapa penumpang kesusahan menghirup oksigen segar di dalam angkutan mobil berjenis carry ini kalau kernet menutup pintu dengan bodinya. Itu diperparah misalnya dengan jendela yang susah dibuka.

Jadi, perpaduan antara ekonomi masyarakat Jember yang beringsut naik, sehingga berbanding lurus dengan kemampuan membeli mobil pribadi dan tabiat buruk sopir lin beserta kernetnya menduduki urutan teratas dalam survey bertajuk “kemacetan Jember darimana coba?”. Kasus tersendiri.

Kuning gonjreng, penampakan si lin. Gambar diambil di di sini

Kami juga punya angkutan yang paling ngehits di era 90-an dengan nama keren “kol”. Ah, kali ini angkutannya lebih besar daripada si lin-lin itu. Jangan anggap artian lebih besar bermakna nyaman. Oh kalian salah. Mobil berjenis ELF L-300 ini adalah angkutan paling ambigu sedunia. Siapa juga yang mau naik sayur? Begitu kan pikiran kalian?. Perlu saya jelaskan duduk permasalahannya, ‘kol’ disini jangan kalian bayangkan sayur kol ditumpuk di truk, kemudian kita dudukin begitu. Kali ini, cara pengucapan bahasa inggris kami lumayan benar lah, ini asal kata dari “colt”.

Keambiguan kol ini bertambah jika mata para sopir kol ini menangkap kebimbangan kalian menentukan mau naik apa dan kemana. Konon sopir-sopir ini bisa mendeteksi kebingungan kita dengan cermat. Kalau dari terminal Tawang Alun, jika kalian akan ke arah Jember barat, sang sopir yang biasanya mengarahkan kol tak sampai ke Jember barat akan berkata: “Mau kemana?, ayo wis naik, sampe Kencong kok ini”. Padahal jelas-jelas kita tahu angkutan ini tidak akan sampai kecamatan yang disebut. Hanya Tuhan dan sopir kol yang tahu kemana arah mobil ini melaju. Mirip kelakuan sopir bajaj, sangat egois dan sok tahu! Saya kok haqqul yakin, nama tengah sopir ini adalah “kardiman”.*

Belum lagi kondisi di dalam kol yang labil banget. Ada kursi tambahan berbahan kayu berbentuk persegi panjang yang ditaruh di belakang sopir. Siapapun yang duduk disini adalah manusia yang tidak bisa move-on. Bagaimana tidak? Pandangan mereka (diharuskan) bersirobok dengan jalanan yang sudah dilewati. Belum lagi bicara posisi duduk, dengkul penumpang di kursi kayu akan bersentuhan mesra dengan dengkul penumpang di kursi depannya. Dan itu menyiksa sepertinya. Kalau mau menyerongkan kaki ke kiri/ke kanan, dengkul penumpang satu dengan lainnya harus seirama. Lumayan, ini bagus untuk melatih kekompakan ya.

Atau, ah hampir saya lupa, kalian juga bisa duduk berpunggungan dengan kernet. Such a wonderful circumstance bingit ya, indahnya berbagi. Kol ini juga tidak mengenal “hitungan”. Jangan pernah merasa terhina  jika orang dewasa yang berbadan kecil tidak mendapatkan tempat selayaknya tempat duduk yang tersedia. Karena kernet akan terus berteriak, “Ayo wis masuk ae, masih muat kok, yang kecil pangku saja”. See? Bahkan jika kalian mau bayar ongkosnya dua kali lipat, kalian tetap uyel-uyelan syahdu di dalamnya. Uang menjadi tak bernilai bagi angkutan sombong ini. Kekompakan mengarahkan dengkul kaki, indahnya berbagi kursi dan berhimpitan adalah yang dicari. Oh…betapa penuh sensasinya angkutan ini. (Ada yang mau coba?)

Ini dia si kol angkutan paling ambigu Gambar diambil di sini

Kami tergelak, sampai pada akhirnya busway jurusan Kota-Blok M berhenti di Harmoni membawa teman saya turun.  Saya berpindah tempat duduk ke badan bis yang terdepan, khusus wanita.

Berada di kota paling sibuk di Indonesia ini sebenarnya pilihan ngasal yang kesekian. Waktu juga yang mengambil beberapa tahun saya jadi sedikit ‘lupa’ dengan keinginan orang tua. Entahlah, tipe orang tua saya mungkin agak kuno sedikit manja. Mereka ingin dibutuhkan oleh anak-anaknya. Kadang mereka gengsi untuk ‘sok ngatur-ngatur ‘ ke anak-anaknya. Sialnya, justru pola otoriter seperti ini yang sedang saya kangen-kangenin.

Pelajaran terbaik di kesempatan pertemuan ini datang dengan segera. Berbuat baik kepada orang tua dimanifestasikan dengan banyak hal. Seperti perbuatan baik manusia yang dicatat oleh Raqib dan Atid. Ada yang arah dan niatnya sudah benar tapi belum terlaksana dan ada yang paling mendekati. Sukur-sukur dilaksanakan persis seperti niat semula. Teman saya tahu persis bagaimana mewujudkan keinginan orang tua, entah bagaimanapun caranya. Mungkin berjibaku dulu dengan beragam pertimbangan sampai tak bisa tidur, bisa juga.

Mungkin saatnya sudah tiba bagi saya (dengan sangat deg-deg). Mumpung masih awal 2014. Mumpung masih segar di ingatan. Daripada ‘regrets in life’.

Mas Re sedang membaca,
(saya ga pake penutup mata seperti gambar siapapun yang nongol di blog mu Mas Re!)

Selamat untuk teman saya yang keren ini, apapun profesinya dan bagaimanapun jalannya, ilmumu sangat bermanfaat Mas Re!


--Kuningan,4 Januari 2013.

*Kardiman ini akronim bahasa Madura 'karepe dibi' sing nyaman'. yang artinya adalah sukak-sukaknya dia, yang penting dia hepi, ga mikir yang lain.

Follow