Try to search for The Things?

January 05, 2014

Bertemu Teman Lama

Kemarin ketemu sama teman lama, teman yang berangkat dari Jember ke kota gudeg demi membuktikan sejauh mana kota ini mampu dikenang. Menyenangkan bisa bertegur sapa kembali dan mendapatinya di kota Batavia, di awal tahun 2014. Kami berjumpa di museum Mandiri yang kebetulan sedang tidak dibuka untuk pengunjung.

“Jadi bagaimana kabarnya? What’s bring you here?” saya bertanya basa-basi.

“Jadi begini Him, saya ini ketrima CPNS di Kementrian disini.” Dia menjawab enteng seringan kapas sambil menyusuri jalanan berpaving Kota Tua.

“Ohya? Wah selamat. Ini gilak banget, biasanya hidup di rerimbunan hutan, harus terbiasa dengan pola ‘nine to five’. Seorang yang anti-kemapanan harus berubah menjadi bagian yang membantu pemerintah”. Ujar saya sambil terus menahan heran.

“Yah begitulah, bukan kamu saja yang gak percaya, saya dan teman-teman pun iya. Ini keinginan Bapak saya sebenarnya, saya hanya mengikuti.” Teman saya mengucap lagi-lagi dengan gayanya yang ringan tanpa beban. Saya jadi sangsi, jangan-jangan anak ini memang tak mengenal kata ‘beban’ dalam hidupnya. Kece!

Saya terdiam sebentar, mencoba mengulik ke labirin ingatan saya yang dasarnya suka loncat-loncat. Antara keinginan orang tua yang bersambut dengan kuasa Tuhan. Ah, sepertinya saya kenal betul terminologi ini. Sekeras apapun kita berkilah, sehebat apapun kita menghindar, jika tak terdapat restu mereka secara utuh, bisa tahulah kita kemana arahnya nanti. Lalu saya mengangguk-angguk pasti, seperti mendapat sekelebatan pemahaman yang tak terduga. 

Begitulah, selalu ada doa Bapak atau Ibu di tiap kita melangkah. Di tiap jalannya kita membagi ilmu yang dipunya, di tiap pagi kita berangkat dan mengerjakan tugas-tugas yang menyita Senin-Jumatnya kita. Di kota yang kami menyebutnya “kota.macam.apa.ini” dengan segala ketergesaan sana-sini. Kali ini saya harus mengakui, saya kalah dengan teman saya ini. Urusan berbakti dan membuktikan kepatuhan, yang disusul kebanggaan orang tua, dia lebih dulu berjalan jauh di depan saya.  Kesimpulan saya secepat ini tentangnya. Mungkin saja ceritanya akan lain kalau dia mau bercerita lebih jauh bagaimana proses yang ditempuh dalam mengambil ‘keputusan’ besarnya. Saya mendiamkan pertanyaan ini.

Lalu kita ngobrol tentang kerinduan kampung halaman, tentang transportasi massal yang layak,  berlanjut membicarakan barang-barang masa lalu yang diawetkan (baca: museum). Iya, kita sedang berada di museum bahari, karena hanya museum ini yang buka di hari libur. Ingatan kami kemudian terbawa ke sebuah kota yang perlu ditempuh selama 5 jam dari ibukota Jawa Timur.

Kabarnya kampung halaman kami di ujung timur pulau Jawa ini sudah mengenal kata macet. Kampung kami disini sudah memiliki bandara yang berhenti beroperasi. Konon karena uangnya dikorupsi, ah sudahlah. Tapi bandara Notohadinegoro ini pernah menjadi saksi bisu kelihaian saya menjajal sepeda motor. Iya teman, karena tak berpagar, dulu ketika libur sekolah, tiap sore tiba saya biasa latihan bersepeda di landasan pacu pesawat di sini. Benar-benar ganas ya latihan nyetir sepeda saja di bandara.

Dari handai taulan, bercerita juga bahwa tanah kelahiran kami ini sudah sesak dengan mobil-mobil anyar yang turun di Jalan Kalimantan, jalanan pasar Tanjung, Jalan Trunojoyo dan jalanan yang lain. Selain itu, sepertinya kalian harus tahu bagaimana angkutan kota kami beroperasi.

Jadi, menurut teman saya, kemacetan Jember juga karena ulah sopir angkutan berwarna kuning yang biasa kami sebut “lin”. Demi sopir lin yang seenaknya ngoper penumpang, atau sopir lin yang gengsi kalau ngangkut para pelajar, atau lin-lin yang ngetem seenak-enaknya di bahu jalan. Ohya saya lupa,  ada yang bingung kenapa sebutannya lin? Baiklah, mungkin lin ini asal katanya dari “line” yang berarti jalur. Harap maklum, tabiat kami memang meneruskan pelafalan apa saja yang sudah disepakati secara umum.

Jadi, semua ini gara-gara sopir lin? Oh tentu tidak dia saja pelaku utamanya, juga sang kernet yang ulahnya melebihi eksyen Vin Diesel di Fast to Furious. Kernet ini asal katanya dari “Car-Need”, yang dibutuhin mobil buat mempermudah pengoperasian mobil. Tapi kerjaannya kernet ini malah berubah jadi ajang gaya-gayaan. Lho ga percaya? Coba amati, seenaknya nggandol berdiri di pintu lin dalam kondisi pantat di luar apa tidak dikategorikan ‘attached to risk’ dan pamer kelihaian?. Bisa dibayangkan, betapa penumpang kesusahan menghirup oksigen segar di dalam angkutan mobil berjenis carry ini kalau kernet menutup pintu dengan bodinya. Itu diperparah misalnya dengan jendela yang susah dibuka.

Jadi, perpaduan antara ekonomi masyarakat Jember yang beringsut naik, sehingga berbanding lurus dengan kemampuan membeli mobil pribadi dan tabiat buruk sopir lin beserta kernetnya menduduki urutan teratas dalam survey bertajuk “kemacetan Jember darimana coba?”. Kasus tersendiri.

Kuning gonjreng, penampakan si lin. Gambar diambil di di sini

Kami juga punya angkutan yang paling ngehits di era 90-an dengan nama keren “kol”. Ah, kali ini angkutannya lebih besar daripada si lin-lin itu. Jangan anggap artian lebih besar bermakna nyaman. Oh kalian salah. Mobil berjenis ELF L-300 ini adalah angkutan paling ambigu sedunia. Siapa juga yang mau naik sayur? Begitu kan pikiran kalian?. Perlu saya jelaskan duduk permasalahannya, ‘kol’ disini jangan kalian bayangkan sayur kol ditumpuk di truk, kemudian kita dudukin begitu. Kali ini, cara pengucapan bahasa inggris kami lumayan benar lah, ini asal kata dari “colt”.

Keambiguan kol ini bertambah jika mata para sopir kol ini menangkap kebimbangan kalian menentukan mau naik apa dan kemana. Konon sopir-sopir ini bisa mendeteksi kebingungan kita dengan cermat. Kalau dari terminal Tawang Alun, jika kalian akan ke arah Jember barat, sang sopir yang biasanya mengarahkan kol tak sampai ke Jember barat akan berkata: “Mau kemana?, ayo wis naik, sampe Kencong kok ini”. Padahal jelas-jelas kita tahu angkutan ini tidak akan sampai kecamatan yang disebut. Hanya Tuhan dan sopir kol yang tahu kemana arah mobil ini melaju. Mirip kelakuan sopir bajaj, sangat egois dan sok tahu! Saya kok haqqul yakin, nama tengah sopir ini adalah “kardiman”.*

Belum lagi kondisi di dalam kol yang labil banget. Ada kursi tambahan berbahan kayu berbentuk persegi panjang yang ditaruh di belakang sopir. Siapapun yang duduk disini adalah manusia yang tidak bisa move-on. Bagaimana tidak? Pandangan mereka (diharuskan) bersirobok dengan jalanan yang sudah dilewati. Belum lagi bicara posisi duduk, dengkul penumpang di kursi kayu akan bersentuhan mesra dengan dengkul penumpang di kursi depannya. Dan itu menyiksa sepertinya. Kalau mau menyerongkan kaki ke kiri/ke kanan, dengkul penumpang satu dengan lainnya harus seirama. Lumayan, ini bagus untuk melatih kekompakan ya.

Atau, ah hampir saya lupa, kalian juga bisa duduk berpunggungan dengan kernet. Such a wonderful circumstance bingit ya, indahnya berbagi. Kol ini juga tidak mengenal “hitungan”. Jangan pernah merasa terhina  jika orang dewasa yang berbadan kecil tidak mendapatkan tempat selayaknya tempat duduk yang tersedia. Karena kernet akan terus berteriak, “Ayo wis masuk ae, masih muat kok, yang kecil pangku saja”. See? Bahkan jika kalian mau bayar ongkosnya dua kali lipat, kalian tetap uyel-uyelan syahdu di dalamnya. Uang menjadi tak bernilai bagi angkutan sombong ini. Kekompakan mengarahkan dengkul kaki, indahnya berbagi kursi dan berhimpitan adalah yang dicari. Oh…betapa penuh sensasinya angkutan ini. (Ada yang mau coba?)

Ini dia si kol angkutan paling ambigu Gambar diambil di sini

Kami tergelak, sampai pada akhirnya busway jurusan Kota-Blok M berhenti di Harmoni membawa teman saya turun.  Saya berpindah tempat duduk ke badan bis yang terdepan, khusus wanita.

Berada di kota paling sibuk di Indonesia ini sebenarnya pilihan ngasal yang kesekian. Waktu juga yang mengambil beberapa tahun saya jadi sedikit ‘lupa’ dengan keinginan orang tua. Entahlah, tipe orang tua saya mungkin agak kuno sedikit manja. Mereka ingin dibutuhkan oleh anak-anaknya. Kadang mereka gengsi untuk ‘sok ngatur-ngatur ‘ ke anak-anaknya. Sialnya, justru pola otoriter seperti ini yang sedang saya kangen-kangenin.

Pelajaran terbaik di kesempatan pertemuan ini datang dengan segera. Berbuat baik kepada orang tua dimanifestasikan dengan banyak hal. Seperti perbuatan baik manusia yang dicatat oleh Raqib dan Atid. Ada yang arah dan niatnya sudah benar tapi belum terlaksana dan ada yang paling mendekati. Sukur-sukur dilaksanakan persis seperti niat semula. Teman saya tahu persis bagaimana mewujudkan keinginan orang tua, entah bagaimanapun caranya. Mungkin berjibaku dulu dengan beragam pertimbangan sampai tak bisa tidur, bisa juga.

Mungkin saatnya sudah tiba bagi saya (dengan sangat deg-deg). Mumpung masih awal 2014. Mumpung masih segar di ingatan. Daripada ‘regrets in life’.

Mas Re sedang membaca,
(saya ga pake penutup mata seperti gambar siapapun yang nongol di blog mu Mas Re!)

Selamat untuk teman saya yang keren ini, apapun profesinya dan bagaimanapun jalannya, ilmumu sangat bermanfaat Mas Re!


--Kuningan,4 Januari 2013.

*Kardiman ini akronim bahasa Madura 'karepe dibi' sing nyaman'. yang artinya adalah sukak-sukaknya dia, yang penting dia hepi, ga mikir yang lain.

No comments:

There was an error in this gadget

Follow