Try to search for The Things?

December 15, 2013

Pelayan Toko dan Skill

Menarik sekali setelah membaca surat pembaca di Jawa Pos kemarin hari ini (16/12). Kejadiannya ada seorang ibu-ibu yang sudah mengantri di pusat perbelanjaan Carrefour, namun tiba-tiba diserobot oleh customer lain yang didampingi oleh petugas Carrefour. Apakah ini merupakan privilege sang Ibu pemegang kartu golden (misalnya) yang berhak mendapat hak-hak dan perlakuan khusus, tidak disebutkan disitu.

Lalu, si ibu pengantri tadi protes kenapa antriannya diserobot dengan suka-suka dan tanpa etika (seperti yang tertulis di surat pembaca). Nah apa jawaban si petugas carrefour? tidak ada tanggapan, hanya mengabaikan si ibu ini. Lalu si Ibu geram dan bilang "saya gak jadi belanja disini", akhirnya jawaban itu ditimpali dengan balasan "ya sudah tidak apa-apa kalau tidak jadi belanja". Kejadian ini terjadi di Carrefour Golden Mall Surabaya. Saya sudah bisa membayangkan, jawaban si customer service tersebut dengan dialek "sak-karepmu' ala Suroboyoan. Si CS ini sungguhpun telah menyalahi aturan etika dia menjadi CS.

Kejadian agak mirip pernah saya alami di pertokoan lama di Surabaya. Saya lupa, tapi isinya pertokoan peranakan, dan kebanyakan pelayannya adalah remaja putri. Singkat cerita saya datang kepagian disana, saya mau lihat-lihat baju dan kondisi toko baru dibuka dan dipel lantainya. Ketika saya hendak masuk, saya tanya  "tokonya sudah buka? dan boleh masuk?". Remaja ini tidak menjawab dan terus mengepel. Akhirnya saya masuk saja, toh kaca semua sudah buka. Kemudian si remaja ini menggerutu dengan kesal "saya lagi ngepel dan ini ada orang masuk kotor lagi". Tapi sayangnya si remaja ini tidak berani mengutarakan kalimat itu dengan saya, dia hanya menggerutu.

Karena barang yang saya cari tidak ada, saya akhirnya keluar. Yang ingin saya ungkapkan, betapa skill yang dimiliki si remaja putri ini sangat minim. Tidak semestinya seorang pelayan, pramusaji, penjaga toko seperti demikian. Inilah perbedaan dimana di negara kita seorang pelayan profesinya dipandang rendah daripada yang pekerja kantoran misalnya. Berbeda dengan di luar negeri, mari kita tengok tayangan Oprah Winfrey misalnya. Mereka sangat menghargai profesi apapun di sana. Entah tukang bangunan, pelayan, entah sopir. Karena mereka dibekali skill yang memadai! dan mereka bertanggungjawab atas apa kewajiban yang dimiliki.

Sekali lagi, skill itu tidak bisa terlepas dari attitude. Keduanya berkelindan. Orang yang skillnya (dalam profesi tertentu) sudah mencukupi, akan berbanding dengan attitude-nya yang bagus. Di setiap perusahaan terdapat semacam reward "employee of the month/year" untuk mendorong karyawannya lebih maju. Semacam trigger dari kepala perusahaan yang peduli akan kemajuan karyawannya. Jika karyawannya sudah tahu kewajibannya, attitudenya harus diperbaiki sesuai profesinya, maka bisa jadi customer akan nyaman berbelanja, akan nyaman bertandang, dan jika tidak membeli sekalipun bisa jadi suatu saat datang lagi.

Tapi tetap saja, tidak harus menggantungkan kepada kepala perusahaan kalau hanya memantik pelatuk. Bisa saja, dan harus bisa siapa saja memulai dari sendiri, jika saya: pelayan toko, maka bagaimana harus meningkatkan etos kerja, meningkatkan skill, menaikkan level. Jika saya karyawan, maka bagaimana saya harus menjalankan pekerjaan tepat waktu dan berinovasi, menjadi beda dengan yang lain, menyerap banyak ilmu dan sebagainya.

Tidak muluk-muluk sebenarnya apa yang ditulis Arief Budisusilo seperti mengutip ucapan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin: Indonesia akan jauh lebih berkembang jika mampu meng-orkestrasikan kapabilitas dan kompetensi di tiga hal: skill sumberdaya manusia yang terus ditingkatkan, manajemen leadership yang kian diperkuat (didalamnya termasuk tanggungjawab, attitude dsb), serta struktur dan infrastrukutr industri yang semakin diperkokoh. Tentu saja ucapan Wamenhan ini dalam skala global. Namun kalau ingin menggarisbawahi persoalan dasar disini, persoalan remeh temeh, hal kecil tentu juga masuk akal. Perekonomian kita bisa tetap stabil karna juga ditopang oleh hal-hal kecil, UKM-UKM, pedagang-pedagang pasar, kesemuanya berasal dan terbangun dari individu-individu yang bergerak mandiri.

Jadi menurut saya sangat wajar kalau saya ucapkan menjadi pribadi yang baik diupayakan dari hal kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang. Entah kemudian reward atau gaji remaja pelayan toko tadi bisa naik itu pasti lambat laun mengikuti.


-Kim

1 comment:

Bagus Setyoko said...

Kisahnya mirip yg lo alami swaktu di gambir kok
.... Hahaha

There was an error in this gadget

Follow