Try to search for The Things?

Loading...

June 03, 2012

Membuka Kotak Pandora: College Era


Menceritakan tentang college era sama artinya dengan membuka kotak pandora. Ada banyak benda yang bisa ditemukan dalam kotak itu. Umumnya Pandora yang berasal dari Mitologi Yunani penuh dengan hal-hal yang menyakitkan, tidak menyenangkan dan hal negatif lainnya. Hanya saja ternyata masih tetap menyimpan satu benda kebaikan bernama harapan. Benda inilah yang kemudian ternyata (menurut versi saya) menyimpan hal-hal yang membuat tertawa atau tersenyum, meski dalam massa yang teramat kecil. Hal konyol, cerita membahagiakan, kesan pertama kali jatuh cinta secara dewasa (kayak mana ya itu?), kebersamaan dengan kawan-kawan kos, teman-teman kuliah, dan "perjalanan" itu sendiri. Ibarat kaset, empat tahun memang tidak akan cukup jadi side A dan side B yang bisa diputar bolak-balik sehari empat hari.

Pandora dan benda kecil kebaikan di dalamnya bernama: harapan



There was a song that reminds me in a random moment of college era:
(disclaimer: maaf cerita ini akan sangat-sangat mengandung curcol dengan kadar yang berbeda-beda di tiap kalimat, tidak ditulis dalam kondisi nangis bombay, melainkan kesadaran penuh disertai senyuman sedikit getir, dan tidak disarankan mengkopi perasaan bagi yang tidak sengaja ingin membaca).



Ini lagunya: Aku Mau - by Once (dengerinnya sewaktu hujan ya, hehe)

That song really bounce me in very deep moment. Mungkin bukan lirik seutuhnya ya, (Ehm, saya memiliki cinta yang nyaris sempurna waktu itu), lirik reff-nya saja boleh lah kalau dicocok-cocokkan dengan saya.

Heavy Rain
Jadi ceritanya lagu itu membenamkan saya akan gerimis atau hujan yang hampir mereda di area paving jalanan pulang kampusku menuju kos. Dia menjemputku untuk sekedar makan siang ataupun melewatkan sore di teras kosanku. Berjalan dari kampusnya di Jl.Demangan dan kampusku di Jl. Laksda Adisucipto memang lumayan. Tapi karena berhati legawa dan berbunga-bunga, jarak itu bukan masalah berarti. Ohiya, kami merasa sempurna juga meski tak memiliki kendaraan. Padahal kota Yogya dikenal dengan kota wisata yang sarana transportasinya buruk. Solusinya tidak lain  ya bawa transportasi sendiri!. Kami tidak memilikinya memang waktu itu.

Hal terkonyol yang pernah ada yaitu jalan kaki kami keliling Jogja. Bertolak dari hotel Phoenix ke arah Gramedia pusat Yogya dengan berjalan itu cukup capek ya. Siapa yang pernah coba?. Hehe aku dan pacar (ex-boyfriend exactly) pernah melakukan hal gila tersebut. Dari Gramedia pusat kami berhenti sebentar untuk mencari buku, dan tentu saja seporsi burger dan segelas orange juice (yang rasanya persis sirup A*C itu) kita jadikan amunisi untuk bisa berjalan lagi.

Sebenarnya sih kami mau-mau saja ambil taxi atau becaklah kalau ada, tapi sepanjang jalan benar-benar tidak bisa kami jumpai. Ditambah lagi perempatan depan Gramedia Pusat Yogya ini jalannya agak complicated dan dilematis (ya ampun seperti hubunganku saja #curcoldetected). Jika kita dari arah Tugu ingin menuju ke Jl. Laksda Adisucitpo maka lewat perempatan ini harus berbelok ke arah kanan atau kiri, karena maju terus pantang mundur itu milik Slank, hehe karena lurus terus itu adalah one way. Padahal jika diperbolehkan, akan sangat dekat menuju Laksda Adisucipto melalui one way tersebut, tinggal lurus-lurus aja, gak perlu belok kanan-kiri yang bikin jauhnya minta duit.

Karena kami pedestrian, bisa-bisa saja jalan terus. Trotoar di area RS Bethesda yang kami lewati sangat tidak nyaman, karena banyaknya pedagang kaki lima yang mengambil hak tempat pejalan kaki. Rupanya mendung semakin gelap. Ah kacau lagi, di depan adalah perempatan yang masih one way. Aturan mainnya meski kita dapat taxi/becak akan memilih belok kiri atau kanan untuk mencapai destinasi kami di Jl. Laksda Adisucipto. Kepalang tanggung, kami ngepos dulu di toko makanan di lampu merah. Sambil menunggu hujan reda, kami membeli makanan pengganjal perut dan one cup ice cream. Bayangkan betapa jauhnya jalan yang kami tempuh, kami tidak peduli.

Selepas hujan reda, kami melanjutkan jalan (sehat) di kawasan yang jamak disebut pertokoan Gardena Mall, nah jalan lurus saja akan kita temukan XXI, lalu sampailah di batas kota (Yogya dan Sleman) yang ditandai dengan gapura memayungi jalan. Di sini kami tertawa -tawa seakan mengisyaratkan mission accomplished. Muka kami terlihat letih, namun ada rasa yang lebih dari itu (rasa capek dan pegal di kaki iya!). Kami berpisah di Batas Kota (duh, lagu Batas Kotanya Tomy J.Pisa perlu diputer gak ini?), ia berbelok ke kiri menuju Jl. Demangan yang kurang lebih 700meter lagi, sedangkan aku berbelok ke kanan, dan menempuh tak lebih dari 500meter menuju kos. Total jalan (sehat) kami dari Hotel Phoenix menuju Jl.Laksda Adisucipto ternyata 9km. Gila!

Ohiya ada lagi yang cukup terekam dalam ingatan, yaitu jalanan kosku menuju gedung pameran buku di Jl. Laksda Adisucipto yang selalu aku samperin ketika pacar (ex-boyfriend ya sekarang) datang ke Yogya. Waktu itu dia belum mengambil kuliah di kampus Jl. Demangan. Jadi dia menyempatkan datang menjumpaiku setiap akhir bulan atau beberapa bulan sekali. Seru sekali rasanya jika saat-saat itu datang. Rasa rindu yang sudah dikoleksi dengan menghitung hari-nya Mba Krisdayanti dihamburkan sehari-dua hari dalam judul lagu Oh Bahagia-nya Mbak Melly Goeslow. #halah.

Well, kurasa kadar curcolku sangat berlebihan. Segera minta diakhiri. Kotak Pandoraku yang berisi benda bernama harapan memang banyak menyimpan kenangan. Harapan memang selalu datang lalu pergi tanpa pamit. Benda itu yang aku gunakan untuk melindungi diri dari benda-benda jahat lainnya di dalam kotak tersebut. Dengan harapan (yang listnya kusimpan rapi di ingatan) menjadikanku orang yang legawa, selegawa aku dan kondisiku dahulu ketika menjalani kurun waktu lima tahun LDR bersamanya. Aku memang dulu bahagia bersamanya. dulu.


See You Hopes!

--Kim--


Setahun Tanpa Rasa


Sejatinya saya mempercayai semua orang. Sampai orang tersebut membuktikan tidak bisa dipercayai. Sesimpel itulah saya.

Kalimat pertama kukutip langsung dari ucapan Pak Dahlan (tentu saja tanpa embel-embel kalimat kedua). Kudapat entah di twitter, entah di portal online, saya lupa. Saya langsung terkejut. Bukan saja karena kalimat tersebut terbaca catchy, lantas saya mencocokkan dengan personal saya. Bukan. Namun semacam mendapatkan dukungan penuh atas apa yang kulakukan selama ini.

Saya menyukai orang seperti Pak Dahlan, yang tahu bagaimana ia mempergunakan hidupnya dengan baik. Oke, mungkin itu terlihat terlalu ‘berat’ membawa kata “hidup”. Tapi baiklah kita tinggalkan sebentar tentang Pak Dahlan, karena saya ingin mengungkapkan sedikit saja tentang kisah Si Wasit Tinju dan Perasaannya

Si Wasit merasa cukup dengan profesinya setahun ini. Karena ia sering berada di antara dua insan (yang sebenarnya) saling mengasihi (mana mungkin mau jotosin orang yang bahkan tidak dikenal?, bener gak?). Yah hati orang siapa sih yang tahu?. Wasit merasa selalu menabak-nebak kira-kira langkah apa yang akan diambil dua insan ini selanjutnya.

Itu Melelahkan!.


Jadi ya sudahlah, daripada lelah, lebih baik mundur saja kali ya si wasit ini. menurutnya tidak baik jika memaksakan kehendak. Meraba apakah kedua insan tersebut sudah tidak saling menyayangi dan mengasihi, atau justru saling memendam kebersamaan dalam setahun terkungkung oleh aturan? ya, aturan pertandingan.


Majas asosiasi saya memang buruk, tapi mungkin wasit tinju ini perlu sekali mengundurkan diri saja. Tempat yang lain masih layak untuk mendapatkannya. di tempat yang tak melulu bersitegang jumpa dengan yang namanya "menebak-nebak' dan "mencurigai". Di tempat yang tidak menempatkan ia pada dua insan lagi. Di tempat yang tak menyuruhnya hanya menjadi pihak penengah. Di tempat yang ia menjadi pemeran utama.


GNite!