Try to search for The Things?

December 15, 2013

Pelayan Toko dan Skill

Menarik sekali setelah membaca surat pembaca di Jawa Pos kemarin hari ini (16/12). Kejadiannya ada seorang ibu-ibu yang sudah mengantri di pusat perbelanjaan Carrefour, namun tiba-tiba diserobot oleh customer lain yang didampingi oleh petugas Carrefour. Apakah ini merupakan privilege sang Ibu pemegang kartu golden (misalnya) yang berhak mendapat hak-hak dan perlakuan khusus, tidak disebutkan disitu.

Lalu, si ibu pengantri tadi protes kenapa antriannya diserobot dengan suka-suka dan tanpa etika (seperti yang tertulis di surat pembaca). Nah apa jawaban si petugas carrefour? tidak ada tanggapan, hanya mengabaikan si ibu ini. Lalu si Ibu geram dan bilang "saya gak jadi belanja disini", akhirnya jawaban itu ditimpali dengan balasan "ya sudah tidak apa-apa kalau tidak jadi belanja". Kejadian ini terjadi di Carrefour Golden Mall Surabaya. Saya sudah bisa membayangkan, jawaban si customer service tersebut dengan dialek "sak-karepmu' ala Suroboyoan. Si CS ini sungguhpun telah menyalahi aturan etika dia menjadi CS.

Kejadian agak mirip pernah saya alami di pertokoan lama di Surabaya. Saya lupa, tapi isinya pertokoan peranakan, dan kebanyakan pelayannya adalah remaja putri. Singkat cerita saya datang kepagian disana, saya mau lihat-lihat baju dan kondisi toko baru dibuka dan dipel lantainya. Ketika saya hendak masuk, saya tanya  "tokonya sudah buka? dan boleh masuk?". Remaja ini tidak menjawab dan terus mengepel. Akhirnya saya masuk saja, toh kaca semua sudah buka. Kemudian si remaja ini menggerutu dengan kesal "saya lagi ngepel dan ini ada orang masuk kotor lagi". Tapi sayangnya si remaja ini tidak berani mengutarakan kalimat itu dengan saya, dia hanya menggerutu.

Karena barang yang saya cari tidak ada, saya akhirnya keluar. Yang ingin saya ungkapkan, betapa skill yang dimiliki si remaja putri ini sangat minim. Tidak semestinya seorang pelayan, pramusaji, penjaga toko seperti demikian. Inilah perbedaan dimana di negara kita seorang pelayan profesinya dipandang rendah daripada yang pekerja kantoran misalnya. Berbeda dengan di luar negeri, mari kita tengok tayangan Oprah Winfrey misalnya. Mereka sangat menghargai profesi apapun di sana. Entah tukang bangunan, pelayan, entah sopir. Karena mereka dibekali skill yang memadai! dan mereka bertanggungjawab atas apa kewajiban yang dimiliki.

Sekali lagi, skill itu tidak bisa terlepas dari attitude. Keduanya berkelindan. Orang yang skillnya (dalam profesi tertentu) sudah mencukupi, akan berbanding dengan attitude-nya yang bagus. Di setiap perusahaan terdapat semacam reward "employee of the month/year" untuk mendorong karyawannya lebih maju. Semacam trigger dari kepala perusahaan yang peduli akan kemajuan karyawannya. Jika karyawannya sudah tahu kewajibannya, attitudenya harus diperbaiki sesuai profesinya, maka bisa jadi customer akan nyaman berbelanja, akan nyaman bertandang, dan jika tidak membeli sekalipun bisa jadi suatu saat datang lagi.

Tapi tetap saja, tidak harus menggantungkan kepada kepala perusahaan kalau hanya memantik pelatuk. Bisa saja, dan harus bisa siapa saja memulai dari sendiri, jika saya: pelayan toko, maka bagaimana harus meningkatkan etos kerja, meningkatkan skill, menaikkan level. Jika saya karyawan, maka bagaimana saya harus menjalankan pekerjaan tepat waktu dan berinovasi, menjadi beda dengan yang lain, menyerap banyak ilmu dan sebagainya.

Tidak muluk-muluk sebenarnya apa yang ditulis Arief Budisusilo seperti mengutip ucapan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin: Indonesia akan jauh lebih berkembang jika mampu meng-orkestrasikan kapabilitas dan kompetensi di tiga hal: skill sumberdaya manusia yang terus ditingkatkan, manajemen leadership yang kian diperkuat (didalamnya termasuk tanggungjawab, attitude dsb), serta struktur dan infrastrukutr industri yang semakin diperkokoh. Tentu saja ucapan Wamenhan ini dalam skala global. Namun kalau ingin menggarisbawahi persoalan dasar disini, persoalan remeh temeh, hal kecil tentu juga masuk akal. Perekonomian kita bisa tetap stabil karna juga ditopang oleh hal-hal kecil, UKM-UKM, pedagang-pedagang pasar, kesemuanya berasal dan terbangun dari individu-individu yang bergerak mandiri.

Jadi menurut saya sangat wajar kalau saya ucapkan menjadi pribadi yang baik diupayakan dari hal kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang. Entah kemudian reward atau gaji remaja pelayan toko tadi bisa naik itu pasti lambat laun mengikuti.


-Kim

December 05, 2013

Been through These

Kala

Ada sepeda putih united, ada boneka bola asal comot, tas salib, ipod ungu dan ipod putih, sendal Ando hitam yang kembar, susu beruang, roti kismis atau meses (selalu salah sebut, forgiven), akun email norak, chatting yang disimpan, janjian YM, si laptop merah (hilang di kabin kereta eksekutif), si kecil laptop biru, kamela bilu, henpon nokia 100rebu dibeli di pasar Klithikan, Nokia sejuta umat yang semula dihargai 300rebu gegara dibanting dijual jadi 30rebu (dibuat makan di warung sampe habis), nasi telur dan sambal, angkringan adalah makanan para Dewa, jalan kaki itu sehat dan hemat, taksi adalah pengecualian, naik becak adalah alternatif, Billabong and surfers branded were so trends and an awe! (sekarang sudah tobat), gelas printing gambar berdua, kaos putih dan abu-abu Quiksilver, 12 jam di dalam bus, du velo di malam tahun baru, badminton di Sunmor, RASA band, Marcell and songs, vcd film Wanted yang kegores, Bus Eka, Randu, Stasiun Jombang subuh hari, Stasiun Tugu dini hari, si putih mio, film (Good Luck Chuck, Wanted, Iron Man, Gullivers Travel), obat maagh Acitral, travel Yogya-Pare-Yogya, laundry yang dilempar batu, flasdis dibeli di Malioboro, Mister Burger pesen enam dimakan sekaligus habis Idul Adha, Syiah's books, Benny and Mice, peta dunia, kaos bergambar narsis yang belum terlaksana, Justin Timberlake, Jason Statham, Jessica Alba, kelas Independen Bhs Inggris, debat tema aborsi, sepedaan di Pare's downtown sampe lutut kram, banting kacamata, jaket putih mirip orang Eskimo, pelataran masjid Agung Yogya, Sanatha Dharma, badminton, Sunmor UGM, tas putih ransel Quiksilver dibawa ke Aussie, tiket nonton "Cappucino", Number 61, toko buku loak Senen, angkringan rel habis 20 bungkus,  

Kali

Bisa menjejak sama-sama rumput University of Western Sydney, masak makanan asli Makassar di negara Kanguru, Ubud in 3D 2N,  liat maen drum. Marshall-Kimya-Lalita.

Kami tidak muluk-muluk untuk menulis "Kali". Kami cuma dipisah kondisi, meski kami sudah memiliki "Kala" yang banyak.



--Kim

November 27, 2013

Tentang Kesempatan

Tentang Kesempatan yang tidak berjumpa dengan takdir.

Seharusnya saya menyapanya, atau sedikit menyinggung tentang tulisan-tulisannya di blog bertajuk "Where should you put your hopes?". Tapi saya tidak melakukannya, saya menyia-nyiakan kesempatan? katakanlah iya.

Tapi yasudahlah, mungkin kesempatan ini belum bertemu dengan 'mojo' takdirnya.

Namun sepertinya jika saya melakukannya, pun tidak akan membuat semuanya lebih baik. Merupakan hal yang biasa saja mungkin baginya. Ini cerita tentang perjumpaan coincidence yang melibatkan perasaan suka cita. Ini? biasa saja sebenarnya, yang luar biasa adalah coincidence nya itu.

Awalnya, seorang teman menyilakan saya untuk membuka blog orang ini, untuk lebih ramahnya mari kita juluki Mr.FX. Saya lantas menuruti, I read and read and read. Gila, tulisannya gila men!. Sangat berbobot, bahkan untuk kategori gloomy. Ia membungkusnya dengan rapi dan tidak sombong. Perjalanannya di Eropa dan beberapa negara ia tuliskan dengan angle yang berbeda dengan kebanyakan. Bukan seperti umumnya yang menulis Eropa tentang "itu-itu saja". Ia bekerja di sebuah maskapai penerbangan kelas budget. Pada saat itu, saya pun mengira, orangnya juga hangat dan menyenangkan seperti ceritanya. Pada saat itu saya berpikir seperti itu.

Dan pada suatu ketika, saat saya bergabung dalam kru "Enjoy Jakarta Concert 2013" di Kuala Lumpur, saya kebagian job bareng terus sama wartawan. Ini adalah hal yang menyenangkan bergabung bersama pewarta berita dalam sebuah perjalanan liputan. Kuala Lumpur tiba-tiba menjadi idyllic.

Salah satu sponsor kami adalah Air Asia. Maskapai penerbangan Tony Fernandes ini menawarkan satu pesawat gratis bagi kru Enjoy Jakarta untuk tiket pulang-pergi. Bayangkan seisi pesawat adalah satu tim! Pengumuman sebelum take-off dan sebelum landing menjadi tidak biasa. "We hope this Enjoy Jakarta Concert succeed in KL! Cheers for all these crew". tepuk tanganpun menggema di seantero badan pesawat.

Saya memilih kursi di belakang, biar lebih lapang saja. Kursi depan tentu saja dipunggawai oleh Rossa, Ungu dan asisten-asistennya.

Sesampai disana, saya diperkenalkan oleh salah satu kru dari Air Asia yang juga membawa beberapa wartawan. Dan seketika saya tahu, saya bersalaman dengan Mr.FX! Oh My God! orang yang sudah saya kenal melalui tulisan-tulisannya. Orangnya tidak sehangat tulisannya. Tapi, memang tulisannya tidak hangat kok sebenarnya, lebih ke presisi saja. Saya bercengkarama hal-hal teknikal dengannya, tanpa harus merasa untuk menyebutkan bahwa saya adalah pembaca setia tulisannya, karyanya.

Memang begitulah, tidak semuanya bisa seperti yang kamu khayal bayangkan. Tulisan mencerminkan orangnya, karakternya. Terkadang kita terkecoh untuk itu.


--Kim
Kuningan, 27 Nov '13

November 26, 2013

How Fragile We Are

"Fragile"

If blood will flow when flesh and steel are one
Drying in the colour of the evening sun
Tomorrow's rain will wash the stains away
But something in our minds will always stay
Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetime's argument
That nothing comes from violence and nothing ever could
For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are

On and on the rain will fall
Like tears from a star like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are how fragile we are

On and on the rain will fall
Like tears from a star like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are how fragile we are
How fragile we are how fragile we are



November 18, 2013

Janji Paten kepada Yang Maha Kuasa


Menjalani kebersamaan dengan orang yang sama dalam waktu yang tidak sebentar, katakanlah selamanya. Dalam sebuah 'hubungan' yang dipatenkan oleh label resmi negara, oleh janji kepada Yang Maha Kuasa. Apa itu bukan tindakan yang tidak gila?. Menikah bagi saya selain menarik kesimpulan bahwa ia tak lebih dari aksi yang mainstream, juga menyentuh batas di luar kehati-hatian manusia- ekstrem maksimal.

Kamu bayangkan, menjumpai satu orang yang sama setiap hari, melihat hal yang tak ingin kamu lihat, memaksa beradaptasi, apa itu bukanlah penyiksaan? it is torturing us, as human. Kita berhak bahagia. Apakah kebahagiaan hanya bisa dicipta dengan label resmi itu?. Ya pasti jawabannya tidak.

Bukan takut untuk mencapai ekstrem maksimal, tapi belum cakap bagaimana menjalani hidup ekstrem itu dalam waktu yang lama. s-e-l-a-m-a-n-y-a. Sepertinya ada yang masih butuh resep-resep yang datang dari lakon bernama kehidupan, keseharian, berjumpa dengan banyak orang, menikmati genuineness and fake people, mencermati tanda-tanda, dan segala hal yang masih bisa bisa disebut: melegakan dahaga. 

Baiklah, keegoan ini terus mberbicara dan menghasilkan tesis: biar saja apa kata orang kalau kita lebih asik menikmatinya dengan kita sendiri saja. Iya, sendirian. Lagipula apa gunanya pasangan? Tolong jlentrehkan pada keskepetisan ini. Dedahkan pada mata hati ini dimana para makhluk lajang harus berkata 'mau' untuk menjalani proses itu.

Jiaaaaaaakh...kenapa melow amat sih. Selaw dikit lah mbak..

Jadi begini ya, kebahagiaan memang tidak disandarkan pada seseorang selain diri kita. Kita punya standar kebahagiaan, stepping menuju kebahagiaan versi kita dan versi masing-masing orang. Kita tinggal melakukan saja, ya harus maju jalan ke depan. Gak bisa kita berjalan malah mundur ke belakang. Pleonasme ini tidak ada dalam kamus kita.

Sementara, pada banyak kesempatan kesadaran kita berhenti pada akal kita yang harus menerima pembaruan-pembaruan. Tidak mungkin ada yang masih ingin duduk di kelas satu SMP terus. Siapa yang mau? Juga tidak pernah seorangpun berharap memakai 'satu baju' terus dalam hidupnya. Kemudian inilah bedanya manusia dengan makhluk Tuhan lain, hewan pemakan rumput setiap hari. Mereka tidak protes dicocok hidungnya, tidak protes makan rumput yang sama tiap hari. Karena mereka tidak punya akal. 

Merde!
Sialnya akal juga yang membuat kita mengecap rasa bosan. Nanti, suatu saat nanti bangun tidur dengan orang yang sama, sarapan dengan orang yang sama, beranak pinak, menghabiskan hari libur bersama, membosankan. Iya.

Akhirnya, alasan itulah kemudian yang membawa kecongkakan beberapa makhluk bernama manusia berjalan santai menikmati waktu. Tentu dengan pongah yang tertulis di dada mereka: Why Should I Marry?

Ternyata langkah kedua terhenti pada sebuah permulaan pertanyaan:
Benarkah kamu tidak menikah karena mampu bahagia dengan dirimu sendiri?, apa iya kamu tidak bisa menangani kebosanan dengan inovasi dan kemampuan akal kamu itu? atau justru kamu tidak ingin menerima tantangan lebih besar ke depan, di saat kaummu yang lain sudah melakukannya, di saat nenek moyangmu sudah dahulu menerapkannya, hingga lahirlah dirimu?. Kamu ternyata masih takut? Oh rupanya ketakutan biang keladinya.

Lihat teman-temanmu, mereka sudah memberi contoh bahwa mereka berhasil menapaki level kehidupan selanjutnya. Lihat orangtuamu, tanyakanlah mengapa mereka bisa mengatasi kebosanan dengan bijak.

Pertanyaan berikutnya adalah: siapkah kamu menghadapai tantangan paling keren ini selanjutnya? hanya ada jawaban YA dan TIDAK, No BUT'S. Permudah saja, perjelas saja. meskipun kita tidak pernah tahu dengan siapa kita menghabiskan hari-hari tua nanti. dengan siapa yang bisa kita ajak menghabiskan persoalan hidup bersama. Sukur-sukur jika nanti mendapatkan lelaki/perempuan yang tepat (Nah, tepat juga memiliki artian macam-macam, seperti yang sudah disandikan oleh Nabi kita: Sekufu') Itulah mengapa mereka bilang urusan pasangan hidup adalah urusan misterinya Tuhan.

Barangkali ini tantangan. Entah pencarian, entah kejelian. Bukankah yang merasa keren adalah orang yang menyukai tantangan?



--Kuningan, 18 Nov 2013
Disarikan dari berbagai sumber diskusi dengan teman.

November 12, 2013

Will you?


Ohya kamu, apa kamu akan terus mendengarku jika suara dan ideku sudah kehabisan amunisi? Apa kamu akan menertawaiku? Apa kamu akan melakukan hal lain untuk menghindariku? will you end up being look at me with laughing stock? will you get soon bored with me? will you questioning my existence? will you take out  my position where supposed to be next to you? will you split me out? dump me out? will you say that being together is not working for us?

I don't want to hang on to false hopes. keep it off.

Is it anyone or only me, apa kamu merasa jika rasa bosan ini tumbuh lewat perkara? yang kita lihat tak sesuai dengan bayangan. Kamu pembosan, apalagi aku. Kamu penyuka ide segar, aku penggemar berbicara. Kita saling menyampaikan, tapi tak berselang lama.

Boleh aku bilang aku skeptis?
Apa kemudian lantas menyurutkan niatmu mengejarku? does it make sense when we're just a human, with lots of stock arrogant, coolness, full of fool, that bump each other. And when the time is off -when lots of arrogant fade away - and the existence of "we are" are also gone.


--Kuningan, 13 November

October 31, 2013

JADI, SITU MASIH LAJANG?


“Terus kenapa emang kalo umur segini-ini kita masih lajang?” – a friend of mine talks to the life.


Selain digunakan sesuai lima fungsi normalnya, saya kok agak skeptis menilai panca indera manusia yang ke enam. Jangan-jangan selain melihat roh halus, juga bisa mendeteksi secara tak kasat mata siapa belum punya pacar, siapa belum bisa menikah, dan siapa yang masih lajang?. Manusia itu makhluk paling kepo memang, terutama ketika Bulan Haji tiba.

Pertanyaan yang paling sering dilontarkan manusia kepo adalah tanya kabar. Jangan keburu senang, ini pertanyaan pancingan yang akan dilanjutkan dengan ledekan maksimal. Jangan terburu nafsu untuk membantai dengan jawaban berbau emosi. Tahan dulu, atur permainan. Karena sebenarnya ini adalah bagian dari cobaan terberat kaum lajang.

“Elu apa kabar? Bulan Haji banyak yang nikah lho #FYI aja”.

“Eh gue kabarnya baik kok, sangat baik. Bahkan gue kemarin habis kondangan sepuluh kali berturut-turut”.

“Ya ampun, elu yang sabar ya” (*jangan percaya, apalagi terharu, gak perlu dibalas. Dibalik kalimat sok perhatian ini, pasti teman kamu disana ngetawain kamu habis-habisan).

“Iya, siapa lagi yang mau nikah sini, amplop gue masih sisa-sisa”.

Kalau cuma urusan balas membalas sebenarnya kaum lajang masih bisa lebih keji. Tapi seperti biasa, pilihan menjadi lebih classy dan elegan itu adalah keharusan. Satu hal lagi, sering berbicara dengan sesama lajang itu memberi kita banyak option jawaban. Seperti berbagi dunia istilahnya. Teman saya adalah tempat sampah saya yang sejati. Kami berbagi dunia ngehek bersama-sama. Kami mengomentari lelaki A-Z, tipikal cowok A-Z, perilaku menyimpang kaum adam dari A-Z, bebas tak terkendali, tanpa halangan.

Kami membicarakan hal-hal terpenting dalam hidup (versi kami). Biasanya pembicaraan malam selepas kerja dimulai dari bola, berat badan, isu korupsi, politik 2014 (yang ini jangan percaya, cuma pengalihan saja. Haha) sampai urusan rumah tangga (nanti kalau udah nemu pasangan). We talked and talked a lot, sampai saya tahu bahwa teman saya ini hidupnya dua level lebih enjoy menikmati hidup di atas saya (dengan melajang tentunya). Padahal umur dia lebih tua dibanding saya. (Eits, apakah saya baru saja bilang vocab yang paling mainstream? T-U-A). Kita akhirnya bilang “age doesn’t matter, as long as we’re happy, so what’s the matter then?”.

Tapi kan perempuan, tapi kan...
Ya..ya...saya mengerti.

We know that, we deeply understand that we have to deliver baby, we need to laying our days by spouse, we have to..we have to blah blah blah… Tapi apa iya kita menikah cuma buat melengkapi hidup? Kok kayak-kayak hidup kita miserable banget tanpa pasangan. Apa iya kita menikah karna mendidih kepanasan gegara teman sebaya rame-rame nikah di Bulan Haji?. Kok kayaknya engga gitu juga kali ya. Apa iya kita menikah karena udah target di umur sekian kudu menikah? Kok tega sih meng-alarm hidup kita sendiri cuma buat urusan dapetin pasangan.

Ya maksud saya namanya lajang, pastilah ada usahanya. Menurut L? H-e-l-l-o!  apa tampang kita gak ada usahanya gitu?. Jangan salah, kita udah kenyang gebet sana-sini Hahaha. Kita juga udah kenyang membuat mantan ngemis-ngemis minta balikan lagi ke kita. Kita juga udah sering jadi pion-pion orang tua kita buat diketemuin sama anak si A, anak si B. Apa namanya coba kalau usaha kita masih belum ada jalan yang terang?. Apa cobaaaaaa???

Yang Punya Alam Semesta masih belum ngijinin. Udah sih, gitu aja repot amat. Urusan manusia-manusia kepo sama nyinyir yang saling bersahutan, anggep ajalah ada yang nawarin panci kredit. Tinggal tutup pintu, Jebret! Ahay! Selesai Pemirsa!.

Dari sini saya menyadari, hidup seimbang itu memang perlu. Saat ini kita mungkin dikasih waktu banyak bersahabat dengan teman-teman gokil kita dulu. Lain waktu, kalau sudah menikah  siapa tahu kita tidak punya waktu berhaha-hihi dengan sahabat kita. Siapa tahu kita disibukkan dengan urusan ganti popok bayi daripada ngeladenin curhatan sahabat di pagi buta. Siapa tahu kita gak bisa rock and roll kayak gini lagi. 

Marriage is only the occasion; the matter is how to permeate your life with whom next to you right now. We don’t ever know whom we’ll end up with.


--Kim--

PS: Ditulis untuk ikutan lomba curhat di penerbit. Uda ngirimnya telat, ga lolos pun. Hihihi they just don't meet the soul of my curcol. (Sombong!)


September 08, 2013

Jadi Ulang Tahun?

Got a flatty birthday, means that i already mature enough (dare to say I'm old enough oh yeaa).

Sedang merencanakan perbaikan niat. Berdoa kepada Tuhan yang seperti Tuhan rencanakan kepada saya. Menjauh dari track, boleh kalau memang itu rencanaNya. Dikasih kesulitan yang gak kira-kira juga silahkan, toh Tuhan udah kasih saya umur panjang buat beat the world. Apa ya istilahnya, lebih 'nrimo' acceptance kali ya bahasanya.

Udah dikasih tahu mana yang benar dan mana yang salah sejak kecil sama orangtua, sekarang tinggal implementasinya. Udah disekolahin juga sama orangtua, pasti udah ngerti gimana berterima kasih. Ditularin pengalaman dari relatives, that owh so much groomed me. Dan udah pernah dicintai dengan semangat juang 45 dari seorang best man, learned a lot.

Tiba-tiba saya menyukai co-incidence random:
- Because she fall in love too often that's what the matter (Jason Marz-Geek in the Pink)
- Punya teman dekat yang ternyata punya tanggal dan bulan lahir sama!
- Feels better and bigger than the world right now! oh it's trueeee...
- Masih bisa eksis dikasi kesempatan banyak di kerjaan. Travelled a lot, experience a lot.
- Gratitude attitudes lain-lainnya harus tetep "di keep".
- Lagi musim kontroversi hati dan statutasi kemakmuran ala Vicky, which brings delights in September!

Whatever they are, live is for living.


--Kimmi--

August 30, 2013

Hare Gene Ga Ngantri? Ew!


Sore jam 4-an saya dan OB office berangkat ke Gambir. Si OB saya seret supaya mau nganterin ke stasiun pake motor, biar cepet. Tau sendiri kan jalanan Jekarda hari Jumat sore sama dengan sudahlah-lupakan-saja-tak-ada-harapan-bagimu.

Pertama saya langsung ngantri di loket utara, as experienced saya dulu beli tiket juga dioper ke loket utara ini. Untung cuma 3 orang, pas giliran saya, mbaknya dengan woles bilang: "Mba, maaf kalau refund di loket selatan". Okeh, saya maklumi kalau PT KAI kita masih ababil. Mereka lagi ruwet (akibat digenjot sama Mentri BUMN untuk meningkatkan fasilitas dan pelayanan dsb) dan dalam tahap renovasi. Berjalanlah saya dikawal oleh petugas, karena saya ga mau keluar ruangan untuk menuju ke loket selatan.

Saya mengantri di loket 3 sesuai arahan petugas yang nganter tadi. Tiba giliran saya, ternyata harus pakai fotokopi KTP? APAH? FOTOKOPI KTP? Duh, saya ngomyang sedikit, buat apa dicetak E-KTP kalau masih segala sesuatu butuh fotokopi! (Tolong ya Pak Gamawan Fauzi, perusahaan milik BUMN ini gak gahul banget).

Saya keluar antrian, dan mencari mesin fotokopi. Setelah selesai saya kembali ngantri, kali ini agak mengular. Tiba-tiba pas lagi 'asik-asiknya' ngantri dalam kondisi panas, tidak ada AC, dan smelly dimana-mana, eh ada seonggok perempuan berpostur gendut, memakai rok mini warna biru metalik memotong antrean. Lho kok gitu sih? dan anehnya bapak yang seharusnya maju ambil antreannya diem kayak dicocok hidungnya terhipnotis ama perempuan tadi?. Apakah sihir rok mini menjamin?. Si Bapak justru kasih tempat si cewe untuk ngobrol dengan petugas loket. (DEMI APAH? Demi rok mini biru metalik kaaah?)

Saya masih diem, ceritanya membaca situasi. Oh ternyata si cewe tadi udah balik sekali karena: 1. Tadi dia gak punya fotokopi KTP (lah, sama dong kayak gue, bedanya gue behave, ngantri lagi pas selesai fotokopi), 2. Kabarnya kode nomer tiket si cewe bermasalah so, dia kudu ke reservasi lain untuk kroscek nomer tiket.

Analisis saya, berarti dia udah mengecewakan pihak-pihak lain yang mengantri tertib dong!. Pas doi balik dari loket dengan bersungut-sungut (iya kalau Jennifer Aniston lagi ngambek masih cakep, lha dia?), secara refleks, saya gak kasih jalan!. Iya dong, saya tetep berdiri gak mau geser, enak aja. Get out of another hell way, bitch!

Tibalah giliran saya, kalian tau apa yang terjadi kemudian? si cewe gendut tadi yang hobinya cutting the line tau-tau udah di samping saya, sambil nyodorin formulir refund, WAHINI UDA KAGAK BENER. Langsung aja saya semprot:

"Mba , ngantri dong".
"Saya udah ngantri, tanya aja mas-nya".
"Ngapain tanya masnya, kalau ngantri ya aturannya di belakang, kagak motong gini"

Kami secara bersamaan dengan emosi mendidih nyodorin formulir refund dan diterima dua-duanya oleh petugas loket.

Situasi selanjutnya adalah: kasak-kusuk di dalam loket, yang intinya secara semiotika bisa saya tangkap: ternyata nomer tiket si cewe selebor pake rok-mini-yang-yaiks-banget  ini masih belum kebaca di komputer.

Si petugas bilang:
"Mba, mohon maaf boleh berikan tempat bergeser ke samping saja, agar mbaknya ini (sambil menunjuk saya) bisa saya layani". Tuh kan, gue bilang juga apa, belum kenal vocab "behave" ya?

"Iya, saya minggir disini saja". kata si cewe sambil minggir sambil pasang muka ditekuk. Saya berharap muka dia ditekuk seumur hidup!. Bodo amat kata saya. Akhirnya uang saya diproses dan saya terima. Kabarnya pas saya keluar dari antrian, doi tetep ngetem di samping loket karena nomer refund-nya masih belum ada jalan keluar. Haha, Life is always fair, do you know that, beyotch! 

Terakhir makian saya dalam hati (plis bagi siapa saja yang gendut jangan tersinggung, ini bukan SARA juga): "Dasar gendut, pake rok mini neon metalik pulak! Plus kagak mau ngantri, hare geneeeee? Makan tuh bolak-balik kayak nenek-nenek mencret!"


~~Kimmi~~


July 15, 2013

Demi Dave Grohl

Hi Blog!

Saya tidak menyangka bahwa Dave Grohl seganteng itu. Maksudnya sekeren dan selakik itu, hampir nyerempet dengan abjad namanya, Grohl-Gahar. Ya ampun, kemana saja saya? Sampai bisa melewatkan nikmat Tuhan yang hampir saya dustakan kali ini. haha.

Tidak disangka, tahun 1994 saat mendiang Kurt Cobain tidak bisa lepas dari nama besar Nirvana, Dave bisa mengalami masa galau insani seperti yang pernah pacar Boboho alami. Oke ini bukan persoalan dimana ia ditolak cinta, melainkan ia butuh naungan untuk berekspresih. Ia, begitu cintanya bermusik. Ia, begitu merasa kehilangan akan perginya seorang sahabat.

Taraaa! jadilah Foo Fighter!
Disinilah menariknya band rock ini, seperti NOAH, sosok vokalis memang mengambil satu seat lebih besar dari personel lainnya. Eits, saya tidak hendak menyamakan Foo dengan ONAH. Ada yang marah? Tapi betapa penting kiranya membangun sebuah band musik dengan catatan: harus punya vokalis yang nyentrik dan berkarakter, plus ganteng. Buat saya plus berewokan.


Demikian-

~Kim~

July 07, 2013

We Love YUNA

Can't say that precisely yet.
Since a year ago, I love her that very much (and million) this girl, from country KL to the Uncle Sam's land. I think I did to tell you previously. Here come the day, its bigger much affection and respect to her.


Y-U-N-A:


June 19, 2013

Someone did


Things someone did:


Dwell in a curve of roughly deep, solely a circumstances that encounter me with joyful and solitude. Both questioning me more, farther like become the genuineness of life, the boring one goes to you when you have no longer hold the dream, or the dream you utmost bring up gradually fade then. Indeed, you name it the degradation of quality or the opposite of are you becoming a loser?

What someone remember that there are some of jokes trow up in the air and looking back the past that haunted is thrilling you by. You're gazing the scenes you most hated, and the more you stare, the more it remembered wholly. You crammed with hatred and antipathy going with everything related the past. You lost in chrome you created yet the future is gonna say hi or bye.

Someone recalled: you're life is fine, and gonna fine with the warmness things surround. IS this really fine? What are you gonna say with finesse you would tell? comfort zone that covering you from dangerous area?

You lost your way home kid. No, but better name that you will find another way as you've grown up already boy. Decision is in your hand, no matter you choose the worst or best, you make up and deal with your own life. Bring up the smile, and grab the genuineness of life: both sorrow and fine. Come as you are.



19 June 2013
--Kim--

June 05, 2013

Sudah Lama


Sudah lama saya tak menulis. Menerjemah kolom Juragan sih tiap minggu, pun membaca berita yang saban hari saya pelototi di layar komputer. Saya sedang gamang, tak ingin lagi kebiasaan mencurahkan 'perasaan' yang sedang didera diumbar mudah dan murah. Tapi dalam palung hati yang paling dalam, apa soal jika saya menuliskannya juga?. Ah saya jadi teringat ketika seseorang mengatai saya dengan ungkapan tak pantas yang merujuk pada kata 'murah' dan sejawatnya. Saya tertegun dengan kelompok kata yang ia pilih, apakah berdasarkan akal sehatnya? kenapa sesering itu? Kenapa harus 'murah' dan sejawatnya yang ia lepaskan segesit anak panah Ekalaya memberondong tepat ke menjangan buruan Arjuna? Tahu apa dia tentang saya?.

Sebulan terakhir saya menjalani hari yang luar biasa. Plesiran iya dan kerjaan semirip pekerja PT Cahaya Logam juga iya. *Haha hapal banget ya saya dengan kasus slavery di Tangerang itu*. Mei pertengahan, saya tiba-tiba sudah di Stasiun Tawang Semarang dan berjumpa dengan kawan lama. Ah kami bernostalgia meski sejenak. Lalu malam selanjutnya saya sedang berada di tengah-tengah pulau yang berjarak dua jam berkapal ekspress dari dermaga Kartini Jepara. Saya dipertemukan dengan teman-teman yang randomly awesome. Ada Bu Manager Teenlit dan Pak Editor dari penerbit mayor di Yogyakarta yang kalem tapi gokil, ada Pak Dosen Ekonomi di sebuah universitas di bilangan Bekasi yang ekspresi mukanya gak sepuitis tulisannya (haha maafkan saya jika dia membaca), dan ada juga penulis buku traveling yang beruntung jadi peserta ACI Detik 2011 dan lagi nyambi jadi mahasiswa Hubungan Internasional di sebuah kampus di Surabaya.

Kami berkenalan di toilet! hah apa? TOILET, iya toilet., udah gak usah berisik.Yaitu saat mata kami dipaksa terbuka akibat adzan subuh yang mengalun-alun seru. Semalaman kami berkendara dari St.Tawang Semarang menuju Jepara. Tentu saja di dalam mobil kami tidur pulas dan tak berhahahihi. Itulah mengapa kali ini kami kenalan properly di toilet. Okay dapat diterima.

Kami bertiga (ditemani dua orang maha-penting dari penerbit) sedang dijamu plesiran ke Pulau Karimunjawa selama tiga hari karena memenangkan Traveling Note Competition. Sungguh sesuatu ya pemirsa olahraga SCTV. Saya yang tidak biasa (sebut saja terlalu 'cool') dan agak pakewuh kalau mengenal orang baru, kali ini berbeda, sangat akrab dan seperti saudara kembar siam! Haha. Sudah lama saya tidak berkenalan dengan orang baru dan merasa cocok. Cocoknya dimana? ya diajak ngobrol nyambung, diajak bersinting ria bisa, diajak 'nyampah' tanpa sekat pun ayo dan diajak sharing sesuatu yang 'bermanfaat' apalagi. Ibaratnya Indomaret mah beli 2 gratis 1.

Sepanjang hari kami jadi anak pantai. Sepanjang hari kami baku muka karena kamar kami di homestay bersebelahan. Paling mengagetkan adalah sebut saja si L, si penulis buku traveling itu ternyata teman SMA-nya teman saya di Organisasi Bahasa Asing di kampus saya. Dan dia juga teman sekampusnya teman saya sewaktu di SMA! Memang agak membingungkan ya pemirsa setia Insert, tapi begitulah, sambil mengudap ikan bakar berbumbu kecap, kami menyadari bahwa ini pasti konspirasi Yahudi! Ahahaha bukan, inilah ternyata ungkapan 'dunia selebar daun suji' terbukti.

Sudah lama juga, setelah bertemu teman-teman baru yang luar biasa ini, saya didera perasaan awesome luar biasa dalam menyongsong hari-hari. Tertawa yang saya rasa menjadi lebih lapang dan bernyawa, tidak hanya giggling yang dibuat-buat seperti gadis-gadis kerajaan di film Marie Antoinatte.

Sudah lama saya 'mau tertawa dengan baik dan benar', jadi jika ada 'the things' yang mau merusak tertawa ala saya, tolong minggir sebentar. Saya lagi tidak berselera mengacuhkan anda.


Akhirnya saya nulis juga,
--Kim--

April 16, 2013

Movie: Thank You for Smoking



Baru-baru ini teman ngasih saran buat nonton "Thank You for Smoking", nah didengar dari judulnya saja udah bikin penasaran, nyalahi pakem. Sehari kemudian, saya baca Creative Junkies Yoris Sebastian, judul film ini dijadikan contoh bagian dari hasil kreatif. Sehari setelahnya, satu lagi teman di Kuala Lumpur bilang juga kalau film ini mutlak ditonton. Okay, well weekend gagal ke Bogor, akhirnya buat marathon film sajalah.

Ternyata yang maen jadi Nick Naylor itu si Aaron Eckhart. Mula-mula cerita ditonjolkan sosok Nick yang kerap 'memenangkan' argumen dengan pihak lawan di sebuah acara talk show membahas dampak rokok terhadap anak-anak. Ia menang gara-gara menyatakan kalau lembaganya akan mengucurkan dana 50 ribu dolar untuk mengkampanyekan "no cigarette for children", which silently it's message of course will increase the demand market of cigarette and the good image of corporate as well. Pekerjaan Nick adalah seorang lobbyist mewakili Academy of Tobacco Studies (ATS), sebuah lembaga penelitian yang memiliki concern terhadap perkembangan rokok di Amerika. Lembaga yang pasti dibenci oleh semua environmentalist dan anggota parlemen yang tidak sepakat dengan kebaikan-apapun-yang-datang-dari-rokok. Lembaga yang berdiri dan pasti dibiayai oleh taipan rokok terbesar di Amerika. Lembaga yang berusaha ngasih kesan "baik-baik saja" terhadap dampak rokok pada kesehatan manusia. A cigarette will be a cigarette!.

Dalam sebuah rapat di ATS yang menyoal tentang upaya pendongkrakan image rokok di masyarakat, ide-ide Nick yang keluar sangat brilian. Ia mencontohkan, sudah banyak Hollywood memasukkan unsur rokok di film-filmnya. Adegan saat Forrest Gump menghisap dalam-dalam rokoknya dan mengeluarkan asap dengan membawa kotak coklat, lalu saat Hugh Grant medapatkan kembali cinta Julia Roberts di Notting Hill dengan membelikan dia Virginia Slim, dan contoh-contoh lain betapa Hollywood membawa kesan cigarettes are cool, elegant, and available and addictive. "Most of actors smoke already!".

Suatu hari, karena ide briliannya, Nick dipanggil si taipan rokok. Tentu saja undangan dibarengi dengan lavish service, a private Boeing plane, a luxury hotel, a 'white' special trip etc, sebuah keuntungan seorang lobbyist pada siapa bekerja dan apa yang dia kerjakan. Pekerjaannya memang sangat berisiko, termasuk berdampak pada pernikahannya yang tidak bisa dipertahankan. Namun sebagai ayah, ia ingin anaknya Joey tidak melihat ia sebagai "ayah pro-rokok yang tak berperasaan pada perkembangan anaknya", namun lebih melihat pada job seorang pelobi. Ia, tak jarang juga mengajak Joey untuk business trip bersamanya, juga mengajarkan Joey untuk bisa membedakan mana argumen, dan mana negosiasi, hal esensi yang dimiliki pelobi. Bagaimana menghandle juru warta, bagaimana mengendalikan diri pada sebuah talk show, bagaimana berpendapat di sebuah rapat dengar dengan Parlemen, dan bagaimana tentunya melobi agar target tercapai. Tapi naas, Nick bisa juga ceroboh dan termakan omongannya. Ia masuk perangkap Heather Holloway (Katie Holmes), seorang wartawan Washington Post. News about Nick appears in leading newspaper and harms his position, as a father, as a lobbyist, as a Vice President of ATS. Everything soon gonna be crashing down. Best thing he has Joey, who comes and says that he's a best father ever.

Bangkitlah Nick ke permukaan, setelah rapat dengar dengan parlemen, ia berbicara lantang kepada pers bahwa apa yang terjadi tidak lebih karena ulah jebakan seorang wartawan "an Irish blue eyes, a junior journalist of Washington Post, who fucks me to get the advantages of me, and so deliver the news for you". Matilah itu si Heather! Wah ini adegan mati kutu seorang si Kat yang sangat keren menurut saya. Well, the last, setelah menimbang dan melihat tanggung jawab moralnya kepada anak, ia akhirnya keluar dari ATS dan bekerja sebagai trainer khusus untuk pengembangan softskill.

Nick Taylor said: Ini semua gara-gara si wartawan cantik itu! :D
Film ini asik, plotnya berliku dan memberikan banyak fokus pada perkembangan rokok di Amerika, lebih ke pesan-pesan yang siapapun bebas menafsirkannya sih. Dialog-dialognya men!, saya harus sedikit-sedikit pause akibat menganalisa maksud kiasan yang dilontarkan. Contohnya saat anggota Perlemen (William H Macy, yang mukanya lucu, maen di Pleasantville) kesel banget sama Nick bilang "he should have a lil' pet goldfish and he carries around in a ziplock bag; hopeless". Finisterre! (end of the earth). Atau saat wawancara, Heather bilang: "Cigarette for homeless, we'll call them hobos, oh that's awful! Any better than sector sixes?". My other interviews have pinned you as a mass murderer, blood sucker, pimp, profiteer and my personal favorite, yuppie Mephistopheles. Yah begitulah, saya harus pause, dan mencatat di notes saya sebentar-sebentar. Film garapan Jason Reitmen ini diambil dari novel dengan judul yang sama karya Christopher Buckley. No wonder sih saya (dialognya banyak yang bagus), kalau novelnya aja laris, pun dengan filmnya. Mau gak mau kita pasti pengen liat visualisasinya setelah membaca habis novelnya, meski pada akhirnya hanya akan ada jawaban a) gak sesuai dengan bayangan pembaca b) lumayan lah. Anyway, Hollywood never failed of anything guys.

Sampe saya bisa paham semua dialognya, baru deh saya kasih 8 buat film ini.


~Kim



April 04, 2013

Godaan Tarot



Baru nemu buku tarot di Gramedia yang udah diterjemah ke Bahasa Indonesia. Ia seharga dua kalinya Parasit Lajang dan Ex-Parasit Lajang. Saya gamang, beli gak, beli gak, kok mahalan buku 'tak berguna' ini daripada novel-novel saya?

Mengingat kitab-kitab tarot yang habis diburu dari Kinokuniya masih ada, pun aplikasinya masih belum muncul up-gradenya, yasudahlah saya urungkan niat, means dipending dulu. Lain kali saya beli ya. Hehe


~Kim


April 03, 2013

Movie: Olympus has Fallen



Been a while for waiting Gerald Butler took a scene in action movie. Since I saw him in Glory Morning, a drama comedy movie, back then I rarely see him filming (or I missed the rest of him hello Gerald's freak?).

Film berkisah tentang jatuhnya Gedung Putih (yang disandikan dengan sebutan Olympus) di tangan teroris. Diceritakan Mike Banning (Gerald Butler) pernah menjadi secret security agent of President, dan dia kejatuhan apes akibat gagal  menyelamatkan Ibu Negara ketika perayaan Natal menuju Camp David. Dipecatlah si Mike ini, dan ditempatkan di kantor pemerintahan. Aksi terorisme berawal ketika kunjungan perwakilan dari Korut ke AS guna membahas persoalan pertahanan tentara AS di laut bagian Selatan Korut. Negara yang mempunyai presiden abadi dari trah Kim Il Sung ini, dengan pemerintahan komunis menciptakan gerakan terorisme diam-diam dan lebih kejam. Seakan mengingatkan kembali peperangan Korut Korsel yang menewaskan lebih dari dua juta sipil. This movie remains the dor-dor-dzing-dzing's soldiers dress uniformly, epitomize separation gang stepped into the Uncle Sam. Mike yang berada di area gedung putih akhirnya harus ikut menyelamatkan negaranya, apalagi melihat sejumlah secret agen gedung putih tewas dengan mudah oleh serangan separatis ini.

Singkatnya, semua pengamanan gedung putih bisa ditembus oleh teroris, dan tinggallah Mike sendiri di dalamnya. Sedangkan posisi Presiden dan beberapa tamu dari Korut (yang sebagiannya terrosist in disguise) berada di bunker rahasia, disinilah pemegang kendali cerita kemudian. Mike harus menyelematkan presiden dan oh wellyou know lah seluruh umat USA dari serangan nuklir yang dibuat oleh Amerika sendiri.

Mas Gerald on action

Agak impossible sih, melihat tayangan Hollywood sebelumnya banyak menceritakan the United State of America got the moves. Tapi mungkin Hollywood bosan jadi pemenang, being non-mainstream? maybe. Jadilah dalam setahun, selain Olympus has Fallen, ada lagi film yang bertema sama yaitu White House Down. Terorisnya pun jauh-jauh dari kelaziman, Hollywood memasang Korut sebagai musuh. No more nigga aite?. Kang (Rick Yune) menurut saya kurang bengis dalam ukuran menjadi seorang teroris. Adegan torturing yang biadab dan biasa dilakukan AS pun kurang 'dimainkan' dalam film ini. Maksud saya biar AS juga ikut merasakan gimana rasanya disiksa, hahaha semacam Zero Dark Thirty sih maunya. We don't get much torturing scenes on this movie unless main-mainan pistol bang-beng-dar-der, gasak-gasakan oleh Mike, dan mayat berjatuhan. Don't hope much rather than those ok?.

Kekurangan lain film ini, Aaron Eckhart menurut saya belum pantes meranin jadi sosok Presiden AS, masih kebayang dia main di The Expatriate atau No Reservation jadi koki. Dialognya juga kental so-oh-America, sok-sokan gitu. Mike sebelum menghabisi Kang sempat bilang di video camera "Here's a game we can play. It's called "Fuck Off". You go first." Atau ucapan Sekretaris Jendral AS saat selesai disiksa Kang "Gimana rambut saya, masih terlihat ok kan?", atau ucapan Presiden Benjamin saat Mike bilang "sorry for the White House sir! Ben cuma jawab "Its ok, it's being insurances " Humor seperti itu sudah  khasnya Hollywood, jadi ekspektasi saya try to have some other sih harusnya. The rest, soundtracknya menurut saya juga kurang digarap dengan maksimal. Kayak asal-asalan dan gak wah. Overall, film ini merupakan aksi gaya-gayaan si AS aja, as usual, as plain, as typical Hollywood, no more.

Dari 1/10, saya kasih 6 aja deh. Nonton ini karena pas ga ada pilihan lain yang bagus sih di teater.

~Kim




Temptation





Di sebuah pagi yang mengandung kesiangan, bukan Duccatti atau Ferrari yang menjadi godaan, tapi ojek Bang Nasri adalah sebenar-benarnya temptation.

Buka pintu kos, lambaikan tangan, tinggal duduk cantik, bayar seharga taxi, dapet bonus sepoi-sepoi angin kalau si babang ojek ngebut medium, sampe pas depan kantor. Ah, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?


~Kim

April 02, 2013

Movie: English Vinglish



English Vinglish!

Film garapan Gauri Shinde ini muncul tiba-tiba menjadi pilihan saat penerbangan saya dari Surabaya ke Jakarta. Tapi belum sampai tamat, pesawat sudah mendarat. Baru semalamlah saya bisa nonton lagi sampai akhir. Seru, ringan, tersirat pelajaran berharga, dan  kerasa drama komedi sekali film ini.

India adalah contoh negara demokrasi sekuler yang terkenal di Asia. Tentu saja bukan hanya penduduknya yang beragam dan berasal dari macam-macam ras, namun kesekulerannya itu juga mengilhami kultur dan kebiasaan yang dimiliki siapapun yang tinggal disana bisa melekat sejati ke dalam individu masing-masing. Katakanlah konvensional atau kuno jika memakai sari di tengah NY, namun bukankah sekarang banyak warganegara yang kehilangan 'jati dirinya' atau malu untuk menunjukkan sisi asli kenegaraannya?, seiring digerusnya nilai-nilai yang gampang dipengaruhi atau malah mempengaruhi?. India remains make them well. Mostly in their films making, mereka bangga menunjukkan kehindustaniannya, kepada siapa saja. What we did in our films?


Ehm! Mehdi Nebbou smoothlicious sekali ya? *iya

Film ini berkisah tentang petualangan Sashi (Sri Devi) di New York, guna mendatangi dan turut jadi seksi sibuk di pernikahan keponakannya. Karenanya, ia datang sebulan lebih awal dari tanggal pernikahan. Sashi sempat gamang karena ia sama sekali tak bisa berbahasa Inggris. Tak jarang sebelumnya ia juga sering diejek oleh putri perempuannya yang jago Bahasa Inggris, atau sempat ter-underestimate oleh suaminya yang well educated. Sesampai di New York dengan selamat (dengan menghafal jawaban yang pasti ditanyakan petugas imigrasi), Sashi diajak berkeliling di area sekolah keponakannya Radha (Priya Anand). Kejadian yang membuat ia harus beradaptasi dengan Bahasa Inggris bermula dari insiden pesan kopinya di sebuah kedai. She's being embarrassing by people, but since back then, she try to manage herself to be well-talk in English. Ia dengan sembunyi-sembunyi menghabiskan harinya untuk mengikuti short course English. Scene by scene, bertemulah ia dengan teman kursusnya, si chef ganteng dari Prancis, Laurent (irressistable Mehdi Nebbou) yang jatuh cinta kepada Shashi (duh gak rela!), lalu kepedeannya memesan kopi dengan berbahasa Inggris yang benar dan tegas (seakan membalas insiden memalukan pertama kali ia pesan kopi), hingga suaminya yang terkaget-kaget karena Sashi bisa berbicara di depan para tamu undangan dengan bahasa Inggris dan pesan yang sempurna.

Film ini dibangun dengan alur yang tidak rumit, dialog-dialognya ceria dan tak berat diterima. Ada beberapa adegan yang lucu, termasuk ketika Laurent menirukan gaya orang India yang selalu menggoyang-goyangkan kepala saat berbicara, ada juga ketika Laurent dan Sashi sama-sama berbicara dengan bahasa ibu masing-masing. Bisa dibayangkan gak Sashi nyerocos dengan Bahasa Hindi-nya dan Laurent merespon dengan Bahasa Perancisnya? Kacau! tapi lucu! Disarankan sih pake subtitle supaya nontonnya aman. Klimaks di film ini juga tetap ada, yaitu saat Sashi merasa 'gak enak ati' sewaktu Laurent jujur ngungkapin ke seisi kelas kalau kehadirannya di short course itu in the name of Sashi. Aw aw! Oiya, jangan diskip lho ya bagian Sashi ampir jatuh di atap gedung, terus Laurent nangkep tubuhnya. Oh-so-India-bangeeeettt!. Trus ketika Sashi pulang ke rumah, seluruh keluarganya (suami dan anak-anaknya) kasih surprise kalau mereka udah tiba di NY. Walah..., campur aduk deh perasaannya. Apalagi pas hari-H Laadoo yang dibuatnya jatuh berantakan, sedangkan ia juga harus ikut final test. Tambah kocar-kacir deh itu bikin Laadoo-nya, eh perasaannya. Haha..

Semakin kuno dan 'ancient' semakin All-Star!, begitu mungkin penganut konvesionalis masa kini. Dan itu kesan yang saya tangkap dari Radha yang sudah lama menetap di New York. Dia masih menghargai budayanya, dan bahkan tak jarang berujar 'awesome' pada lagu-lagu tradisional/lama India yang dinilai membosankan oleh sepupu-sepupunya dari India. Kebanggaan memiliki darah asli Hindustan selalu tidak bisa dilepaskan di hampir setiap film Bollywood. Keluarga Radha yang meski bermenantu orang bule (oh, I hate actually mention the word "bule"!), malah menggelar upacara pernikahan dengan adat Hindu di kota NY. Everybody gets happy, fabulous, shine, and gives each other respect.

Pesan moral dalam film ini selain belajar bahasa asing itu penting, tanpa perlu menghilangkan keorisinalitasan 'jati diri' kita, adalah bagaimana melihat lagi companion dalam rumah tangga itu tidak sekedar hadir untuk 'menemani'. Sashi memang istri yang solehah (yak! pilihan kata saya uda alim gini?) yang hanya bisa buat Laadoo dan tak berpendidikan tinggi, namun tidak berarti suami atau anak-anaknya tidak bisa membangun rasa hormat terhadapnya meski Sashi tak bisa berbahasa Inggris kan?.

Dari 1/10 saya beri 7 untuk ini. Tambah 1 poin deh buat Mehdi Nebbou! ^_^


~Kim


April 01, 2013

Internet Love Scam: Penipuan UK - Malaysia?



Untung aja dia mintanya gak logis 2.000 dollars! gilingan 19 juta rupiah mamen!

Ihwal cerita, saat ada yang kirim pesan via inbox FB saya. Asal niatnya baik, dan saya lagi ada waktu, saya respon alakadarnyalah. Dia mulai ceritain personal backgroundnya. Ibunya asli Malaysia, bapaknya asli UK (sebelumnya tinggal di Malay for works) dan sekarang bapaknya udah meninggal. Kerjaan dia Engineer and Supply in some other company di UK. Sibuk dan sering travel to some other countries. Foto-fotonya look so clean guy. Very smooth...

Lama-lama dia nawarin cinta, rayu sana, rayu sini. Wah mulai curiga dong (nawarin cinta, nawarin barang terlalu mainstream ya?) pasalnya doi baru create account FB in this 2013! C'mon. Alasanya sih sibuk kerja, gak sempet socmed-an. Hah masa' iya?. Ditanya pake aplikasi yang lagi tersohor sejagat? dia jawab gak. Untung cerita 'pertemanan' ini saya curhatkan ke temen sebelah, iya dong memang harus waspada dan butuh second opinion. Oiya doi ganteng? pastinya. Tapi  hold on guys, ingatkah kalian film CATFISH? film indie yang nyeritain internet love scam happens. Pelakunya ibu-ibu gendut dengan ketidakpedean dalam dirinya demi menyongsong hari-hari, desperate? yes, could be. Dia nyomot (yang baru-baru diketahui) foto-foto model yang diklaim bahwa itu dirinya, trus dia juga create puluhan akun yang mengindikasikan saudara-saudaranya. Very smooth.. Targetnya adalah cowo cakep fotografer di benua sebelah. Motifnya bukan penipuan uang, tapi karena si Ibu ini haus akan cinta kasih dari lelaki ganteng and realize she couldn't make it with her flaws and obesity. Atas anjuran sodara dan temen si fotografer, mereka memberanikan diri untuk melakukan perjalanan panjang ke alamat si cewe. Seeking the truth and unexpected discoveries. Ah, you should yourself check it out here.

Balik lagi ke kisah internet love scam versi saya. The number is quite identified by oversea number, +447xxx. Rajin nelpon hanya untuk tanya kabar, dan melancarkan rayuan gombal gaek (pasti copas dari quote lapak sebelah). Pas saya cek apakah hafal nama saya? doi bengong. Online nya istiqomah sekali tiap jam-jam tertentu yang dibilang lagi lunch, break, dan santai-santai. Bahasa inggrisnya kacau pake "am" daripada "I am" dan keganjilan lain-lainnya immediate arise. Saya minta teman saya add dia, eh besoknya doi bilang ke saya "jangan kasih tau saya ke temen-temenmu ya, ntar kamu gak jadi tak ajak ke UK lho". Preeet...!

Tiba-tiba setelah gencar melakukan serangan 2 mingguan, pelaku bilang dia punya rencana untuk visit Malay dengan Ibunya dalam minggu ini. Dia bilang harus beresin sisa-sisa kerjaan bapaknya. Beralasan pekerjaan yang dihasilkan bapaknya di Malaysia kena masalah, dia harus bayar tax ke Govt Malay. Kudu bayar 10,000 dollars, dan dia minta saya bantu bayarkan ke lawyernya cuma 2,000 dollars! Ntar kalau minggu depan dia ke Malay akan diganti itu duit. UDAH GAK BENER LAGI INI. Siapa elu?

Berselancarlah saya ke dunia maya, eh akhirnya dapet banyak artikel tentang penipuan jenis ini, modus macem-macem, motif tetep: minta duit dengan connection love sebagai trigger. OH PLIS! paginya beneran tuh ada nomer Malaysia yang kontak saya berkali-kali dan nomer +447 itu, ada 10 kalian lebih. Telpon aja teroooos..., belum puas doi nanyain pula di inbox. Poor you, block is talking now. Namanya Christopher Lewis (saya rasa namanya pun bo'ongan). Dan ohya kasian sekali muka ganteng yang dipasang di FB itu, dia kan gak bersalah kan ya? *teteup...radar pendeteksi orang ganteng bekerja* hahaha lol.

Gak cuma di Asia sih kasus ini terjadi, it happens in another continental. Semacam sindikat? iya. See the link Warning dari FBI atau curhatan teman-teman di Indonesia yang terlanjur kena tipu Victims from INA  atau Ciri-ciri penipu. Oh Dear...be careful what you do, kata Michael Jackson di lagunya.


--Kim--


March 25, 2013

Polkadot dan Utang Ojek



Terlalu menjelaskan diri/openness itu kurang bagus. The Secret katanya bilang, kalau gratitude list (kelimpahan rezeki dari Tuhan ke kita dan alam lingkungan di sekitar kita) cukup dituliskan ke diri sendiri saja. ENGGA PERLU DITULIS DI BLOG gituh!. Whatever, I write what I feel. But eh! I take it, at least I will reduce the composition of writing I am, Me, and My own. Agree?

Tadi pagi si editor fiksi secara resmi dinobatkan masuk ke divisi teenlit dan menyandang gelar editor senior bidang peremajaan. Oh Merde! berbahagialah ia dalam kutukan. Oh gaya kawula muda si editor diam-diam sudah mengakar dalam jiwanya sebenarnya, laporan si keponakannya. Sang keponakan menyebut bahwa jabatan editor senior teenlit layak disandang oleh tantenya, karena Seven Sins yang ia perbuat. Salah satunya baju polkadot yang si editor beli. APAH? POLKA DOTS? Apa bisa dijelaskan alasan ia membeli baju motif yang umumnya dipakai anak TK dan pola furtinur itu? p-o-l-k-a-d-o-t pemirsa!

"Bentar-bentar saya bisa jelaskan semuanya" kata si editor buru-buru meralat kesalahpahaman yang terjadi di planet bbm-sky ala artis diwawancarai di Infotainment.

"Tak ada waktu bagimu menjelaskan itu semua! you're dirty young lady!" timpal si teman bbm-nya yang menyebut dirinya clean lady (tukang bersih-bersih maksudnya? lol) tak kalah ter-Infotainment juga dia.

Hanya selembar kain bermotif polkadot bisa menumbangkan citra seorang editor yang sudah malang-melintang di jagat pengeditan naskah. Dan kabarnya, ia juga sudah membuat tens of books. Tapi tiba-tiba dasar si editor gak mau kalah jawab aja gitu dia sesukanya.

"Gue tu suka Frank Sinatra, saking sukanya "Polka dots and Moonbeams" nya dia, wajar kali gue menghayati dengan beli kain bermotif  yang kalian hina dina itu".  Okay, ngeles gaya apa ini? gaya Agnez yang ga bisa bedain Borobudur ama Prambanan? "Nasib gue ini, sial banget. Gue sah ngeditin kisah cinta orang lain, nah kisah cinta gue aja masih bercecer dimana-dimana". Curhatan si editor sudah menye-menye ala teenlit rupanya. Ia benar-benar menjiwai perannya! Salut.

Si teman bbm-nya, let's call her clean lady (iya kan, tadi udah sepakat?) secara effortless bilang "Hari ini gue ngutang empat rebu ke abang ojek". Nah sangat random sekali laporan masing-masing di bbm-sky.

"Elu ga ninggalin KTP kan sama babang ojek?". Si editor nanyanya lawas banget.

"Yakali gue mau minjem DVD, dompet gue bablas isinya receh. Ceritanya gue kesiangan bangun, keluar kos  dan matahari lagi gaharnya, ada ojek nongkrong semlohay di pojokan, semacam temptation kan dia itu?. Tertariklah gue meng-endorse jasanya. Pas sampe di lokasi, gue diturunin di deket satpam gedung. Pas buka dompet, tinggal sebelas rebu satu-satunya sebutan uang yang nongol di dompet gue!, utanglah gue ke dia empat rebu". Clean lady nyeritain kronologisnya.

"Terus, gimana kata abang ojeknya? elu ngomong gimana?." Si editor rupanya tak sabar mendengar lanjutan kisah Clean lady. Dikira mau nembak si abang ojek kali ya?.

"Ya gue mesem-mesem tak berdaya lah, nyodorin uang sambil bilang: utang ya bang empat rebunya besok lagi. And si abang ojek gue buat speechless lah akan pidato kepasrahan gue sambil bilang: Iya neng gakpapa, besok abang standby di pojokan lagi". Ahiks!


"Konyol! Lu janjian ama abang ojek?!  Tapi gue somehow khawatir aja kalo elu sampe ketangkep Satpam Gedung gara-gara gak mampu bayar upah si babang ojek". Okay ini agak lebay, next.


Si Clean lady dan si Editor akhirnya saling menerima imperfection masing-masing di hari ini. Pelajaran yang sangat berharga di kisah ini adalah (hahaha maksanya ini kisah): selalu ada kisah konyol dan cara menarik ujung bibir membentuk kurva ke atas di setiap shit happens yang datang. Nothing happens without reason, begitu katanya quote-quote bijak.

Si Editor: Terima kasih Tuhan Kau limpahkan Polkadot motif, yang saya beli juga bajunya, dan saya jadikan sign kalau itu akhirnya jalan menuju ke dunia "muda" untuk saya, dalam hal ini kerjaan. Saya berasa menemukan anti-aging melebihi krim yang dipakai Mama-nya Raffi Ahmad! *bangganya minta ampun anak ini.

Si Clean Lady: Terima kasih Tuhan Kau memang keren, gara-gara malu utang empat rebu, saya harus bangun lebih pagi dan gak akan meng-endorse ojek lagi, demi memulihkan prinsip hidup saya yang ga mau utang sepanjang masa!. *belagunya offside dah si anak!


~Kim






March 21, 2013

Melihat Diri Sendiri



Sedang menikmati kecanggungan melihat diri sendiri secara dekat, kebingungan melihat dunia sendiri secara detil, dan berakhir di kata either helpless or hopeless untuk menyiratkan kondisi keduanya.

Anonymous said to me: "kamu terlalu banyak hidup di dunia buatan orang".

Orangnya bilang lempeng, sambil ngajak selow sejenak nenggak air putih, ngetoss bareng. Berbalik 180 derajat dengan saya yang dziiing inside. Saya mau berangkat ke Bali sajalah kalau begitu, berguru ke orang yang lempeng ini tadi. Nyari Daksa, mendengar Ishwara, belajar ke Drupadi, nyari I Ketut Liyer, nyari ketenangan, nyari jiwa yang hilang (apa ya, the lost hope?).

"Tuh kan, nyari ketenangan kok sampe segitunya? ga alami." si lempeng bilang gitu lagi.

Lalu kemudian hening sejenak, apa iya? *iya kamu tuh gedubrakan sana-sini kalau bingung melanda, maen hajar bleh-bleh kalau lagi "diserang", bahkan urusan fixing your self aja segitu carut marutnya caramu.

Emang segitu complicated-nya ya si virgo itu?. *iya emang gitu. Kamu tuh terlalu over-thinking terhadap apapun yang ada di diri kamu. Bagaimana menggambarkan ke-overthinkingan-mu itu ya salah satunya kamu terlalu details. Next yang lain kamu terlalu picky about what you bring into your live, terlalu serves to others. Iya sih suka nolong, tapi juga ga bisa sampe lupa nolong diri kamu sendiri gimana, ga bisa ingat gimana save your heart. Kamu juga humble-easy going, jalan terus dan hampir ga pedulian. Kamu ga bisa dihalang-halangi kalo udah punya mau. Heyaampun kamu itu keras kepala! itu kata yang tepat, paling keras daripada kepala-kepala zodiak lainnya, another word itu adalah kamu: ngotot banget.

Emang ga boleh ya kalo ngotot? toh yang ngotot kan perilaku saya, in pursue WHAT I WANT and WHAT I NEED. Kenapa situ sih yang rese?. Ga suka? yaudah next aja. Saya tahu kok gimana dan kapan saya harus ngotot (almost all the time though), tapi saya itu 'attention to details', jadi tahu presisinya saya mendapatkan keuntungan dan ekspektasi dari kengototan saya. apa ya istilahnya? ngotot yang positif, gak ngawur.

Terus emang situ yang Leo, Cancer, Aquarius pada ga punya sifat yang nyebelin apah?. Kalian juga macem-macem sifatnya, ada yang suka marah-marah, suka gampang kepincut ama yang di luar-luar sana, suka mikir ga pake hati ama perasaan, suka mendewakan dan menomorsatukan teman-teman, suka tergantung ke orang lain, terlalu mencintai diri sendiri, menganggap dirinya paling benar, mengira dirinya yang berkuasa, berpikir dirinya paling rasional, dan lain-lain silahkan giigling untuk melihat lagi apa elemen yang kalian punya. *hey, it worth to

Lho kok saya jadi mengkonfrontir sampe ke zodiak-zodiak lain sik?, mau nantangin apa ini. Haha cuma ngasi tau kalau mereka juga punya another absurdity, kayak-kayak virgo aja yang susah dimengerti maunya.

Yaudah segitu aja. Intinya, sifat emang gabisa diubah (dan ga perlu protes kalo emang udah jadi sifat tetapnya), cuma kemudian ia bisa diatur lebih lentur, fleksibel demi menjaga harmoni. *iya harmoni hidup diantara zodiak kalian-kalian itu!



~Kim

March 17, 2013

NGIRI



Saya NGIRI, JEALOUS, ENVY tapi gak sirik sama apa yang mereka capai. Intinya ini bulan Maret ya? sebelum April harus ada itu namanya hasil yang sudah didamba-damba sejak tahunan lalu. Duh, ini butuh selongsong peluru buat nembaki titik-titik semangat saya. Butuh kepala ini dilas kayak teralis besi rumahnya Djoko Susilo itu, biar mengokohkan apa yang sudah diangan-angan jadi real yang gak bullshit. Demi White Hyacinth dan Swedish Ivy.

Udah dikasih sakit semingguan (kemungkinan bobot bakal turun inih?) yang bakal impasin dosa-dosa yang banyak banget ini (serius lo?). Udah dikasih nikmat sama Juragan-nya Alam Semesta ini, banyaaaaak banget countless deh. Udah dikirimin juga sama Sang Gusti segala bentuk rasa sakit yang mendewasakan urusan cinta. Udah diapa-apain black and blue sedemikian rupa urusan kerjaan. Terus masih ada keponakan yang kadang nelpon di saat yang tak terduga.

KILL ME NOW!

Rasuna Said,
~Kim Rock!

Being non-MAINSTREAM




Apa benar itu yang namanya sunset menggiurkan, dan sunrise memanjakan? Saya tidak tahu, karena saya jarang bangun pagi-pagi. Lagipula kalaupun saya bangun untuk menunggui sunrise muncul, sejauh mata memandang adalah jemuran bra, sprei dan celana boxer dicentel sana sini.  Atap-atap rumah di sebelah kanan-kiri saling beradu tinggi, hingga dari kejauhan raksasa gedung metropolitan menginduki. 

Ketidaktahuan saya yang kedua, adalah saya pekerja from 9 to 6. Tidak mungkin juga saya keluar kantor tiap pukul 5.40 pm untuk menyemai matahari pulang ke peraduan? Yang ada malah gedubrakan sana-sini ngerjain tugas sesegera mungkin, dan pulang pukul 6 tepat agar tak terjebak macet di jalan, meski tetep macet tak terelakkan sih.

Itulah kiranya semakin lama, bejibun orang ingin menikmati momen alami itu se-precious mungkin. Jauh-jauh perencanaan hanya untuk menjadi saksi bagaimana ciri alam mengawali dan mengakhiri hari. Saya masih tak paham. Bukankah itu hal yang sering kita abaikan?. Plus itu terjadi setiap hari? Apakah ini artinya kita mulai memburu sesuatu yang makin esensi? Semakin detil dan semakin terabai?

Tapi sekali lagi, I just don't get it indeep.

Pemuja Sunrise dan Pendamba Sunset itu julukan yang terlalu mainstream menurut saya. Terlalu banyak yang mengklaim hobi tersebut. Pun jika saya mendapatinya, it's beautiful to seen only, indeed it’s temporary beautiful. It will be the same by today, tomorrow or the day after tomorrow. I say what makes both precious? and I'm curious there must be more precious than both, if not the superlative degree couldn't exist anyway.

Mungkinkah saya akan mengatakan, itu keindahan yang melenakan? It’s only about SUNRISE and it’s SUNSET! Jika fajar terbit dan menyingsing setiap hari adalah berbeda, and never make them twice, well it’s nature!. Atau mungin keindahan jenis yang diredam manusia ketika takut jika saja esok ia tak ‘dijemput’ matahari lagi?

Selagi kita diberikan anugerah Tuhan untuk bisa menikmati apapun dengan indah seharusnya bisa ‘melihat’ yang lain-lain juga indah? Cobalah untuk meninggalkan sejenak ke-mainstream-an, tengoklah barang sebentar apa di sekeliling kita. Every single modest thing into you is also made them so beautiful, in their ways.

The way we breathe, the water falls in our bathroom, the non-AC air you grasp, the sounds you still hear through, the body with all-you-think contains flaws, the brain that couldn’t stop thinking, the mouth never stop mumbling, the ups and downs energy, the eerie that deluge inspiration, the our CLOSE and OPEN eyes every day. All I can say is they are just the same angle as the way you think about the mountain breeze, the river water flows, the peak’s H2O, the concert and musical theater  the all prominent ladies and guys you ever seen in the idiot box, the genius who ever exist in this world with their brilliant thought, the speech who delivered in every summit stage, the catastrophe and bless occur in our universe, and the HAPPINESS we absorb in the cheeriest moment, the SUNSET and SUNRISE in our own angle.

All I need to say is we’re too forgetful the way about how to see details (or it's gonna said we tend to be much grateful in our life?). We are people much more see the beautifully clear seen by eyes, but eyes of us miss the beautifully side in our single life actually. Our movement is precious, only the way we could see it’s worth to called by precious or fabulous.


Another thought of being non-mainstream
~Kim



March 15, 2013

Follower?



Do you think you need everybody follows you?. Even in the twitter, even the facebook, the blog, the path, the insta, the tumblr, the soundcloud, the everything you exist in some social media? And the whatnot things you did? do you think it need so?.

Phewww...!
It's overwhelmed,
It's untouched,
Have you ever paused the scene you did in second? better you try.

Signing out is relaxing, pausing is breathing. Gadget-less sometimes brings you back into "you". Awesomeness is not the way you've been following by people. Still do not get the point why everybody keep on being followed (and forced everyone to press the button "follow")

It's like, if you do what you're keen to do, then just do. You're not pleasing anyone. You are still ok without being followed anyone, didn't these phenomenon happen twice before social media born in your age, do they? If somebody out there don't like you have been created, who the hell are they? You just lift the more awesomeness deed. Why so matter?

Being sincere:
Eerie to know that value is scored by only a number. It's grey, indeed. The goodness is crammed by the grey. Something that between gloom and grim. Its awful. and I don't understand.

Just like I do writing, my notions more like:  the writing itself creates space for silence and pause, to breathe.


~Kim

Mari Yoga Gembira



Minggu kemarin, udah niatin dengan sepenuh jiwa raga buat ikut Yoga Gembira di Taman Suropati Menteng. Bisa juga ya ternyata saya bangun pagi? Jam 5 (lewat lebih banyak) baru sholat subuh. Mending ya, daripada skip sholat? *no offense lho.., terus jam 6.30 cabcus naik kopaja. Dan kalian tahu temans? saya ambil kopaja 620! which is itu kan lewat Pasar Rumput dan Blok M! OhMy! berapa tahun saya tinggal di Jekardaaaa!. Akhirnya saya turun di pertigaan Four Season itu, dan mau naik kopaja 20, nanggung amat. jadilah dengan memanggul mat ijo saya, saya menyusuri dua lampu merah hingga ke Taman Suropati. Ngos-ngosan duluan ini  judulnya sebelum yoga.

Sampai di TKP, udah telat lumayan, tigapuluh menit sob!. Tapi no matter lah, yang penting asik, ikutan yoga lagi setelah vakum karena alasan yang dibuat-buat. Kapan lagi tidur-tiduran gak bersalah di tengah taman gitu? sambil menghirup udara segar?. Ayo kalian yang mau ikut silahkan...ini gratis lho. Cuma di akhir acara, kita ngasih sumbangan sukarela, berapa-berapa aja.

Here some action:





Ayo kita Yoga!
~Kim

Look!



Hello Folks,
Pengen aja ngepost putu-putu yang diujicobakan kemarin. hehe janganlah adinda dan kakanda mual melihat hasil jepretan saya ya. : )  Solely, saya lagi belajar, jar, jar..sama fotografer-fotografer media *sambil bermodus?*

Luuuuv the greeny one!
Cheers!


Sunset Sunda Kelapa

Taman Menteng

Mainin speed, diafragma, dan ISO
uda pada tau dong ya ini dimana? Fatahillah Squere

*mmmm* segala kaki ini dibawa-bawa maksudnya apa ya?

Ini anak yang nawarin perahunya di Sunda Kelapa. Sekali tarik 40rebuan

Kali di jembatan merah

Sunset at Sunda Kelapa




XoXo
~Kim~

March 11, 2013

Hendak Kemana?



Jadi gini ini ya, yang namanya hari Kejepit Nasional, agak 'selo' kerjaan, karena emang beritanya juga lagi gak segitu hectic-nya, tipikal media di Indonesia kalo besoknya ada public holiday, haha. So habis baca majalah TEMPO yang baru tiba di meja ruang riset, covernya adalah empat sekawan yang diduga terseret kasus simulator SIM, yang tokoh utamanya si Inspektur Jendral Djoko Susilo itu. Well, lupakanlah si empat sekawan, karena yang lagi happening sekarang adalah aset dan aneka harta yang dimiliki si Djoko dibeberkan bak gambar permainan monopoli di majalah ini. Either harta korupsinya or money laundrying-nya, nikahannya sama mantan Putri Solo 2008 and so whatover-nya dia, yang bikin saya like raising eye brow when he's not even hot (oh plis) but he able to execute the term: Money Talks.

Ya meski si pengacara doski: Juniver Girsang keukeuh bilang kalau KPK lebay membicarakan aset Inspektur yang bernak pinak, tapi deep inside saya yakin kalo KPK ada di jalan yang benar. Kekayaan resmi doski yang terlapor cuma Rp 5,623 miliar. Lha terus rumahnya doski yang di inih-onoh aja udah berapa miliar sendiri itu sob?. Belum lagi, hal yang membuat saya disgusting, udah perutnya buncit nih ya, ikat pinggangnya Hermes yang berkisar 30 jutaan kalo kalian beli per item. *hmmm evil look banget kan muka saya?

To be honest which is in this real 2013 life, istri ketiga doski somehow kok mau gitu ya? That the question should answered by how 'Money Talks' took its occupy smoothly. Maksud saya ini kalau emang mau punya rumah, ya kerja. Mau punya porsche ya kasih bocoran informasi teroris gih ke CIA sonoh, mau beli gadget ogah rugi ya ikutan kuis, (hehe tim gratisan asoy) mau liburan gratis ya ikutan kuis lagi. haha simpel tapi susah kan ya? Emang dasar sifat kita-kita ini mau yang instan, serba terburu-buru, mau jadi sekarang juga, bahkan urusan cinta. *Lhaaaa....ini kenapa jadi cinta-cintaan lagi ya? maaf typo total. haha

Anyway, ya emang susah sih ngomongin pergolakan negara dan segala kekompleksitasannya di tahun edan kayak gini. Tapi nurut saya in term of comparison, di negeri Jiran sonoh gak segitu rumitnya deh dibandingkan the way we look over at our own country. Mereka susah senang asal kerjaan gak diganggu, gaji lancar, ekonomi stabil jaya, gak akan mencampuri sedemikian rupa ke governence-nya, at least this is IMHO lho selama kerja di perusahaan yang berbadan hukum Sdn Bhd ini. Apa ya istilahnya mereka bilang ke pemerintahnya: as long as you don't screw my life up, I won't fuck up yours too.

Dalam satu kesempatan saya bertanya kepada colleague dari negeri Jiran itu, dia bilang kalau rasuah memang banyak terjadi di negaranya, and this crisis menurutnya, crisis to the max. Elaaah...cuma rasuah alias suap menyuap toh? Kita dong ya, banyak banget jenisnya dipilih kakaaaak.., jenis korupsinya kakaaak..ada gratifikasi, money laundry, uang terima kasih, uang balas jasa, uang lolos proyek, uang penyuapan pemilihan gubernur, uang pelicin, uang pelancar, uang perdamaian, dan entah uang apalagi?. Its exhausted. And for God's sake it's so true and it happens in bloody rich our country.

Haha beyotch, seriously ini saya lagi bahas something yang so huge matter ya kesannya?. Segala negara-negara dibawa?. Harap maklum aja ya, soalnya gak asik kalau spamming di TL nyumpah serapahin negara, kok kesannya "hello, lu lagi tinggal di planet, exactly pulau, negara apa emangnya sekarang?". Jadilah saya curahkan isi hati saya di sini, ya daripada curcol soal cinta-cintaan mulu yang so last yesterday. Haha abaikan paragraf yang ini kayaknya lebih baik.

'Hendak kemana' memang lebih pasti dipertanyakan daripada ngurusin soal Djoko Susilo dan Putri Solonya itu. Hendak kemana negara ini mengarah? Kita udah merdeka berapa tahun ya? What sort of proud we bring it on? Kita masih bangga kah punya negeri Indonesia? Still, does Indonesia make sense? We'll see.



Lotta Love
~Kimmi~


PS: Selain curhat soal pergolakan negara, saya sisipkan juga pattern anak gaul Jakarta yang ngomongnya suka pake campur-campur either Bahasa Inggris or Bahasa Indonesia (<--ini nih contohnya, lol ). That's the trending talks in the air anyway dude :-)))

There was an error in this gadget

Follow