Try to search for The Things?

November 18, 2013

Janji Paten kepada Yang Maha Kuasa


Menjalani kebersamaan dengan orang yang sama dalam waktu yang tidak sebentar, katakanlah selamanya. Dalam sebuah 'hubungan' yang dipatenkan oleh label resmi negara, oleh janji kepada Yang Maha Kuasa. Apa itu bukan tindakan yang tidak gila?. Menikah bagi saya selain menarik kesimpulan bahwa ia tak lebih dari aksi yang mainstream, juga menyentuh batas di luar kehati-hatian manusia- ekstrem maksimal.

Kamu bayangkan, menjumpai satu orang yang sama setiap hari, melihat hal yang tak ingin kamu lihat, memaksa beradaptasi, apa itu bukanlah penyiksaan? it is torturing us, as human. Kita berhak bahagia. Apakah kebahagiaan hanya bisa dicipta dengan label resmi itu?. Ya pasti jawabannya tidak.

Bukan takut untuk mencapai ekstrem maksimal, tapi belum cakap bagaimana menjalani hidup ekstrem itu dalam waktu yang lama. s-e-l-a-m-a-n-y-a. Sepertinya ada yang masih butuh resep-resep yang datang dari lakon bernama kehidupan, keseharian, berjumpa dengan banyak orang, menikmati genuineness and fake people, mencermati tanda-tanda, dan segala hal yang masih bisa bisa disebut: melegakan dahaga. 

Baiklah, keegoan ini terus mberbicara dan menghasilkan tesis: biar saja apa kata orang kalau kita lebih asik menikmatinya dengan kita sendiri saja. Iya, sendirian. Lagipula apa gunanya pasangan? Tolong jlentrehkan pada keskepetisan ini. Dedahkan pada mata hati ini dimana para makhluk lajang harus berkata 'mau' untuk menjalani proses itu.

Jiaaaaaaakh...kenapa melow amat sih. Selaw dikit lah mbak..

Jadi begini ya, kebahagiaan memang tidak disandarkan pada seseorang selain diri kita. Kita punya standar kebahagiaan, stepping menuju kebahagiaan versi kita dan versi masing-masing orang. Kita tinggal melakukan saja, ya harus maju jalan ke depan. Gak bisa kita berjalan malah mundur ke belakang. Pleonasme ini tidak ada dalam kamus kita.

Sementara, pada banyak kesempatan kesadaran kita berhenti pada akal kita yang harus menerima pembaruan-pembaruan. Tidak mungkin ada yang masih ingin duduk di kelas satu SMP terus. Siapa yang mau? Juga tidak pernah seorangpun berharap memakai 'satu baju' terus dalam hidupnya. Kemudian inilah bedanya manusia dengan makhluk Tuhan lain, hewan pemakan rumput setiap hari. Mereka tidak protes dicocok hidungnya, tidak protes makan rumput yang sama tiap hari. Karena mereka tidak punya akal. 

Merde!
Sialnya akal juga yang membuat kita mengecap rasa bosan. Nanti, suatu saat nanti bangun tidur dengan orang yang sama, sarapan dengan orang yang sama, beranak pinak, menghabiskan hari libur bersama, membosankan. Iya.

Akhirnya, alasan itulah kemudian yang membawa kecongkakan beberapa makhluk bernama manusia berjalan santai menikmati waktu. Tentu dengan pongah yang tertulis di dada mereka: Why Should I Marry?

Ternyata langkah kedua terhenti pada sebuah permulaan pertanyaan:
Benarkah kamu tidak menikah karena mampu bahagia dengan dirimu sendiri?, apa iya kamu tidak bisa menangani kebosanan dengan inovasi dan kemampuan akal kamu itu? atau justru kamu tidak ingin menerima tantangan lebih besar ke depan, di saat kaummu yang lain sudah melakukannya, di saat nenek moyangmu sudah dahulu menerapkannya, hingga lahirlah dirimu?. Kamu ternyata masih takut? Oh rupanya ketakutan biang keladinya.

Lihat teman-temanmu, mereka sudah memberi contoh bahwa mereka berhasil menapaki level kehidupan selanjutnya. Lihat orangtuamu, tanyakanlah mengapa mereka bisa mengatasi kebosanan dengan bijak.

Pertanyaan berikutnya adalah: siapkah kamu menghadapai tantangan paling keren ini selanjutnya? hanya ada jawaban YA dan TIDAK, No BUT'S. Permudah saja, perjelas saja. meskipun kita tidak pernah tahu dengan siapa kita menghabiskan hari-hari tua nanti. dengan siapa yang bisa kita ajak menghabiskan persoalan hidup bersama. Sukur-sukur jika nanti mendapatkan lelaki/perempuan yang tepat (Nah, tepat juga memiliki artian macam-macam, seperti yang sudah disandikan oleh Nabi kita: Sekufu') Itulah mengapa mereka bilang urusan pasangan hidup adalah urusan misterinya Tuhan.

Barangkali ini tantangan. Entah pencarian, entah kejelian. Bukankah yang merasa keren adalah orang yang menyukai tantangan?



--Kuningan, 18 Nov 2013
Disarikan dari berbagai sumber diskusi dengan teman.

1 comment:

Bagus said...

Kejombloan adakalanya baik dalam rentang waktu yg msh bsa ditolerir. Namun pada akhirnya ke-singel-an pribadi bukan pilihan yg tpat tuk selamanya. Selamat menikmati sensasi lara didada....hahahaha.... Dasar jmblo....

Follow