Try to search for The Things?

June 03, 2011

Main ke Inggris di Kampung Pare Kediri




See You Later Alligator!
This simple words just made me drunk for the first time in pronunciation of ACCESS-ES brought.
Very simple right just for drunk?

Persis seperti yang diucapkan I. Ketut Liyer (Hadi Subiyanto) dalam dialog nya dengan Liz Gilbert (Julia Robert ) di film Eat Pray Love. Bedanya apa yang diucapakan I.Ketut Liyer adalah aksen saya dulu dalam versi medhok berbahasa inggris, sebelum akhirnya saya tahu aksen-aksen lain yang menyerupai foreigner. Itu setelah saya tau ACCESS-ES yang mengembangkan ilmu pronunciation dalam pilihan studinya. Meski, saya tahu (ralat: sedikit sok tahu) kalau untuk main film asing, bisa jadi most of Foreign Producers want Indonesian people say English dialogue in their mother accent, dengan aksen orisinal orang Indonesia. Tidak dimix dengan accent yg dimirip-miripkan dengan foreigners.

Bersamaan dengan ketakjuban saya terhadap kalimat See You Later Alligator, saya telah menyerap 2 ilmu pronunciation sekaligus: pelafalan huruf T yg biasa disebut middle T, sekaligus pola diphthong yang bikin kalimat terbaca seakan-akan menumpang liukan roller coaster. Dan hari-hari selanjutnya saya belajar di ACCESS-ES membuat pengetahuan saya bertambah. Tentu saja adegan utamaku setelah keluar kelas pronun hanya ada 2 scene: 1)terbengong-bengong karena menganggap saking ‘wow’nya kelas tsb bagi saya yg pemula belajar pronun, atau yang ke 2) mulai memonyong-monyongkan mulut seperti yang dicontohkan coach saya di kelas sebelumnya.

Terkadang saya bersama temen-temen seperjuangan yg baru tau pronunciation menirukan gaya coach kami dikelas, hanya sebagai lucu-lucuan. Tapi aneh bin ajaibnya, kami jadi lebih terbiasa practice dengan cara menirukannya tiap kata-kata yg kami pronunciate. (FYI, kami memang belajar NOL BOLD ttg ini, jadi mau tak mau kami harus taat pada perintah guru untuk menghafal simbol dan cara baca tiap kata tertentu yang ditemui dikamus, alhasil kamus Oxford kami penuh dengan pelangi stabilo). Oiya, saya juga baru tahu kalau mau ngomong enggres gak cuma EKSYEN, tapi juga harus apal simbol-simbolnya.

Awal Mula ke kampung Inggris

Jadi awal mula aku ke Pare itu adalah sebuah laka-lantas (kecelakaan lalu-lintas, oiya laka lantas ini menurut versi saya). Ceritanya begini: waktu itu saya berniat mendaftar untuk jadi sukarelawan Gempa Jogja, dengan semangat heroik bak fantastic four, berangkatlah saya dan berencana masuk ke kloter KKN-Gempa yg diadakan oleh kampus. Tapi sampe sana, kuota penuh oleh mahasiswa semester 2, jadinya dibatasilah calon pendaftar semester bawang ini. (inilah alasan yg sampe sekarang aku benci). Akibat tertolak mentah-mentah itulah, tak mau berlama-lama di Jogja, saya langsung banting setir menuju Kampung Inggris, Pare-Kediri. Perkakas-perkakas yang sedianya saya persiapkan untuk jadi sukarelawan ikut terbawa ke Pare. Jaket tebal, kaos kaki, sepatu, energen, obat merah, plester (2 benda terakhir adalah benda yg tak habis pikir kenapa saya bawa di lokasi gempa, yg notabene menjadi surga para petugas P3K).

Dengan semangat desperate, berkelanalah saya mencari tempat tinggal camp, dan bergerilya pula untuk mencari tempat kursusan. Ah, Karena kemalaman nyampe pare, destinasi Tulungrejo (tempat pemberhentian bus terdekat dengan Pare) tak bisa dicapai. Saya diturunkan di tempat antah berantah. Dan suksesnya pak Becak mengelabui saya kalau tempat yg sedang saya injak gak bakal ada bus menuju Pare lagi. (memang bener sih, bus menuju tulungrejo gak ada, tapi bus yg turun sebelum tulugrejo itu ada, lewat jalan depan BEC. Tapi yasudahlah, pak becak itu baik kok).

Singkat kata, singkat cerita, Jadi di tempat ini kita bisa milih tempat kursusan apa, dan juga memilih jadwal sesuai kebutuhan kita. Karena disini ada banyak sekali tempat kursusan berjejal, pun dengan metode pembelajaran aneka rupa. Soal harga, gak usah ragu bin mikir, sangat-sangat terjangkau. Menurut saya sih mungkin karena masih pure pengendalian ekonomi dipegang masyarakat sekitar. Belum ada tuh campur tangan asing yang membuat perekonomian mereka harus dikendalikan. Ah sok very-know-well banget deh opiniku ini. Selain itu, saya bisa kenal dengan banyak teman dari berbagai universitas dan daerah. Just trust me, for me I never found this wonderland before: Kampung Inggris Pare-Kediri. (noted: yang entah kenapa beberapa media harus menuliskannya dengan Kampong?, seriously I found in dictionary of Bahasa Indonesia just use letter U than O for meaning: place, village, land. So, this is officially the wrong writing: Kampong, and the right writing is Kampung. I’m sure that ‘Kampong’ maybe taken from Malay language).

Ampun...tulisanku panjang bener kali ini. (dan saya jamin kalian pasti sudah mati akibat bosan yang tak terperi). So kapan kalian juga mau tahu Kampung Inggris ini?
Ini nih website ACCESS-ES kalau memang penasaran: http://www.access-es.info
ini juga kalau mau tau tentang phonetic symbols: http://dhqzkow.bee.pl/l5p3yg/

Salam 'Sensor bahasa' dan Dilarang Buang Sampah Sembarangan!

1 comment:

Huda Tula said...

eh, panjang apaan? lagi seru-seru baca malah dipotong (_ _") #protes neh...


>>langsung meluncur ke situsnya...

There was an error in this gadget

Follow