Try to search for The Things?

June 07, 2011

Side Effect


Karena kita tahu ada side effect dari apa yang kita lakukan sebelumnya.


Seperti kata Herman Melville: We can not live only for ourselves. A thousand fibers connect us with our fellow-men; along those fibers, as sympathetic threads, our actions run as causes, and they come back to us as effects.


Adakah diantara kita merasa jengah dengan penisbatan Lady Gaga yang oleh publik disebut-sebut seorang fashion icon jaman sekarang? Jawabannya adalah saya salah satunya. Saya sempat merasa keanehan-keanehan yang diciptakan oleh Lady gaga seolah-olah dipaksakan. Terkadang saya justru memikirkan dimana letak kenyamanannya jika ia harus memakai gaun dari daging mentah, sepatu dengan hak tinggi yang menyerupai bentuk kelamin laki-laki, hingga ia terjatuh/keseleo dengan sepatu yang mirip engrangnya sewaktu keluar dari Bandara (and catched by paparazzi). Berasa kasihan aja betapa tersiksanya ketidaknormalan untuk disebut sebagai 'fashion icon', but if she's okay and being comfort with outfit and wardrobe she wears, totally not problems with that.

I mean ketidaksukaan saya ini akan digiring ke pertanyaan "so what if u don't like and hating her?" "does it take any benefit for you?" or "did you ever see in a glance another theme than hating her?". Well, kita tidak tahu kan kalau salah satu dari 7 gaun yang dipakai Lady gaga untuk pemotretan Herper's Bazaar magazine juga dirancang oleh seorang anak muda dari Jakarta?. Nama anak muda dari Pluit itu adalah Tex Saverio, asli Jakarta. Usianya masih 27 tahun. Dulu dia sempat sekolah di SMA 1 BPK Penabur, salah satu sekolah bonafide di Jakarta. Tapi dia harus keluar dari SMA tersebut karena memang minatnya justru lebih besar di dunia fashion. Lalu dia mengakomodir passion nya tersebut ke Bunka School of Fashion. Seorang anak muda biasa yang sekarang sejajar dengan Alexander McQueen, Thiery Mugler, Versace, Dior, Francesco Scognamiglio. Dia dinilai sejajar karena karyanya yang dibuat segenap jiwa.

See? Side effect-nya mungkin agak terlalu jauh, tapi mampu menjawab apa yang akan kita lakukan dengan kebencian kita terhadap sesuatu. Gak suka bolehlah..wajar, hak-hak kita kok, gak suka aja udah cukup kok daripada benci. Apa deh efek benci kita yang berkelanjutan? Buat kita gak membuka diri dengan hal-hal lain yang baru. Karena kita sudah antipati dan judging berlebihan terlebih dahulu.

Mungkin diantara kita pernah memaki-maki kesal atau bersikap menyayangkan kepada semua pembuat kebijakan atas diberhentikannya film-film impor dari rumah produksi yang tergabung di MPAA (Motion Picture Assosiation οf America atau Asosiasi produser film Amerika). Hey, saya juga salah satunya dari sekumpulan orang yang memaki-maki kesal tersebut! Saya terus terobsesi dengan ego saya bahwa sesuatu yg saya inginkan harus dipenuhi, tanpa melihat ada seseorang yang juga boleh kita beri kesempatan senada. Bisa jadi, dengan hadirnya film2 Thailand, Korea, India dan dari negeri2 Asia yg lain, kita seperti melepas ketergantungan dengan negeri adidaya, negeri uncle Sam tersebut. Oke saya tahu film2 barat memang bagus dan layak ditonton. Siapa sih yang bakal menolak tontonan apik semacam Fast Five, Pirates of the Caribbean on Stranger Tides, The Hangover: Part II, Kung Fu Panda 2, Thor, Green Lantern, X-Men: First Class, Mission: Impossible – Ghost Protocol, Transformers Dark of the Moon dan Harry the Deathly Hallow: Part 2. Bahkan saya juga penikmat film2 barat dengan efek2 dramatis teknologi yang memang belum mampu negara kita bikin.

Awalnya saya juga tak terima (nangis2 semalaman, jeduk2in pala di tembok, jambak2 rambut sendiri, lebay deh Kim!), ketika kenikmatan tersebut seperti diambil paksa dari kehidupan normal saya. Bahkan saya pikir, terasa naif sekali jika kemudian film-film impor diberhentikan, karena jelas pemasukan Ditjen Bea Cukai/Ditjen Pajak/Pemda/Pemkot/Pemkab akan kehilangan pendapatannya sepersekian persen, atas bea masuk barang sekian persen. Bahkan menjamurnya bioskop di berbagai daerah akan kena imbasnya juga, korelasinya seperti ini: animo penonton surut, pendapatan asli daerah juga menyusut. Tapi saya yakin pajak yang seharusnya MPAA bayar dari tiap-tiap film yang masuk ke negara kita jika ditotal akan banyak dan berlipat2 juga. Tapi ah..sok tahu banget kayaknya kalimat saya sebelumnya.

Okelah terlepas dari rantai simbiosis itu semua, saya berbaik sangka bahwa masalah ini akan selesai dan ditangani dengan baik oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dan benar kan, ada semacam angin segar untuk film-film dari MPAA bakal bisa kita nikmati lagi. Baru-baru ini Kemenkeu sudah berbaik hati 'akan' mengatur SK untuk perpajakan film impor. Kenapa lama banget? karena film impor mencirikan barang yang punya unsur budaya, maka perpajakannya beda dengan pajak barang umum lainnya. Nah, di Indonesia film-film MPAA diimpor oleh 3 perusahaan (PT Amero Mitra, PT Camila Internusa dan PT Satrya Perkasa ). Ketiga importir film sebenarnya sudah ngerti-ngerti amat berapa tunggakan pajak yang harus ia bayar, nah masalah pertama: yang satu sdh bayar lunas yaitu PT Amero Mitra (and you know ternyata pajak yang harus dibayar 1importir cuma 9 miliar! sangat sedikit dibandingkan imbalan yang dibayarkan ke produser film di luar negeri sana yang mencapai 314 miliar). Yang dua importir sisanya ini nih masih membelot belum mau bayar, padahal kita nunggu-nunggu eksyen mereka kan..*gemes geregetan, sini deh aye yang bayarin*

Nah masalah yang kedua (aduh banyak banget ye masalah yang mampir di bacaan ini) dua importir yang belum bayar tunggakan pajak + denda adalah importir dari rumah-rumah produksi film-film Blockbuster yang rilis pada Juni–Agustus nanti. Blockbuster adalah istilah bagi film-film ber-budget besar yang dirilis studio-studio besar di bawah naungan MPAA. jadi intinya, kita gak bakal bisa lihat tuh film-film cihuy yang sudah saya sebutkan di paragraf sebelumnya.

Well, beritikad baik meluruskan masalah yang terlanjut melenceng memang akan banyak ditentang, maksud saya pasti akan mengandung pro-kontra yang mengiringinya. Dan siapa tahu lebih keren jadinya kalau kita mencari solusi buat kita sendiri. Sekarang saya mulai membiasakan merapel film-film indo bermutu (selain genre horor-seks tentunya!) yang belum sempat saya lihat, browsing film-film dokumenter karya anak negeri, dan coba lihat film Asia lain. Oiya film Thailand juga oke lho kaya Suck Seed (padahal asumsi saya tentang film Thai sebelumnya yaaa..gak jauh beda lah ama film Thai “gadis berambut ular”, atau horror Thai). Sekian saja share saya, terimakasih yang menyempatkan membaca. Jangan Lupa Banyak Minum Air Putih ya!
Salam "Sensor Pendeteksi" di dunia bahasa khayalan saya.

Kimmi

8 comments:

I-one said...

wah,postingannya keren banget,melihat sisi lain dari pembatsan film impor, good joob...tapi salut ama Tex Saverio,berani ambil keputusan sesuai dengan pasion dia..

Kimmi said...

Hai I-one, trimakasih sudah mampir. sebelumnya komentator setiaku di blog adlh temanku sendiri (yg hrs dipaksa buat mampir)hahahahaha.

Huda Tula said...

ada tag buat blog ini di sini>>http://rumahreview.blogspot.com/2011/06/10-hal-mengenai-saya.html

Kimmi said...

siap hoed! tapi harus di terusin ke 10 temen blog yg laen? wajib? kau tau sendiri kan teman blogku hanya "...." (silahkan isi sendiri).

Huda Tula said...

engga' harus...

sering-sering berkunjung ke blog lain aja. tinggalin aja komen di blog mereka meski ga kenal. bilang salam kenal gitu, heheheh

Anonymous said...

Good bye, considerate chum :)

Anonymous said...

Good bye, considerate chum :)

Anonymous said...

Lofty bye, considerate friend :)

There was an error in this gadget

Follow