Try to search for The Things?

February 21, 2013

Mirroring Oneself



Lagi dengerin lagunya David Guetta ft Sia -Titanium. Lalu kemudian bingung sendiri, mana David Guetta nya? lalu kemudian giigling, oh ternyata David Guetta itu DJ-nya. Sudahnya ternyata ia sering dipakai di lagu-lagu bergenre hip-hop, dari I Got the Feeling, LMFAO sampai Step Up 3D. Oh terima kasih mesin pencari dan wikipedia, anda memudahkan hidup yang sudah demikian rumit menjadi answer-able banget.

Pagi di teritori Ibukota yang belum disapa matahari kali ini sungguh undermining sekali. Digempur oleh anak psycho yang tiba-tiba meminta penilaian dari saya. Tapi values yang diminta yang baik-baiknya dia. Kemudian hening. Cih, mau saya yang nilai? Saya akan nilai dari apa yang saya lihat wholly. Parahnya yang saya lihat darinya adalah sisi buruknya saja. Sama seperti ketika saya melihat FPI kependekan dari Front Perusak Islam, daripada kepanjangana aslinya. Ya memang itu yang kelihatan. Kadung bencinya saya mungkin ngeliat kelakuan doski yang ngeyel dan gak teratur (kalah ama teraturnya bus ngetem). Untung saya gak segitu kepancing jadi psycho juga hanya karena membeberkan daftar keburukan dia di mata saya. Kalau saya kepancing, sia-sialah subuh dua raka'at saya tadi. *kibas mukenah dan sajadah*

Satu hal yang saya lupa sadari, setiap manusia memiliki percikan sifat Narcissus yang effortless- a fixation to oneself. Saya punya, dia apalagi. Kalau saya menangkap dan melihat yang buruk-buruk di orang lain which is not the talent that I proud of (haha barusan saya ngomong apa itu bawa talent segala?). Kalimat "I'm better than him/her" jadi semakin manusiawi dengarnya. Sedangkan anak tadi disputing her negativity dan cenderung ingin (mendamba) penilaian orang tentangnya yang baik-baik saja. Bagi saya semakin aneh saja dengarnya. Padahal sama saja intinya.

Jadi judulnya, that's so natural, normal, annoying and embarrassing. 

Kita-kita ini apalah selalu menyalahkan kambing hitam, memangnya kambing hitam mau disalahkan sama kita?. Kenapa sih kerap sekali menjadikan outsider sebagai excuses keburukan kita terlahir?. Kenapa kita susah sekali mengakui, bahkan dalam ruang privat sekalipun melucuti kebobrokan diri?. Apakah menjadi rumit jika kita mencari insider dalam mengevaluasi diri, lalu mengupgrade kapasitas kita ke level paling yahud. Apa ya istilahnya: kembali ke jalan yang benar?. Jangan pakai "kita" ding, kebanyakan pake "kita" semakin menggeneralisir, membuat kalian-kalian yang baca mengiya. Ini tentang saya kok. Lagi ngomongin values. (Eh tapi kalau ada yang merasa in-coincidentally in the same perception, ya marilah kita bersama pergi ke KUA *lho)

Suatu hari kita lebih sering menggunjing outsider tapi lupa memperbaiki insider. Ya maklum lah Pak Haji...kita-kita ini kan manusia juga, yang tidak luput dari apa? *sodorin mic ke penonton* menonton infotainment sehari 5x!. Karena asoy kali ya ngomongin orang, renyah gurih pedas serasa makan maicih seplastik. Ehtapi kalau rahasia umum gimana dong?. Intinya apa gitu, menyamakan persepsi derived from people to one person. Jadi bukan gossip. *Yaaak! yang aman-aman saja sama ngeles saya barusan boleh angkat dua jempolnya tinggi-tinggi....~*


Ingat tokoh Haji Muhidin dalam Tukang Bubur Naik Haji?. Cuma pengen ngasi tau aja: berHaji Muhidin-lah kalian, niscaya segala cacat yang malu-malu disangkal tampak 'terpampang nyata' dan ctar.

Yaudah boleh kali ya ngomongin orang tapi berakhir ke ngomongin diri sendiri (yang bukan narcisism). Is it more like mirroring oneself?


--Kimmi--




No comments:

There was an error in this gadget

Follow