Try to search for The Things?

November 21, 2012

Two Broke Broken Heart Girls

Malam-malam ini, ada two broke girls yang lagi broken heart entah kenapa yang satu, lagi suka ama hashtag Pecah di Ubud, Pecah di Nusa Dua, dan pecah-pecah yang lain, yang satunya lagi nyeriusin CLBK sama facebook.

Tau apa yang mereka lakukan malam minggu di kos?. Mata dan gerakan tangan mereka gesit pindah kesana kemari, memindai dan mengais-mengais benda-benda di kamar, berharap menemukan lembaran uang yang ditinggalkan secara alpa jaman kejayaan masa lalu yang kaya. Haha.

Jadi adanya sepuluh ribuan, lumayan lah bisa buat beli pengganjal perut yang gak setengah-setengah mengganjal. Jadilah two broke broken heart girls ini dengan pakaian yang nyaris tidak menyiratkan kegemilangan hidupnya (di tanggal muda), menyusuri jalan menuju pasar sayur tradisional.

Beli tempe dan kembang kol, sama bumbu semacam bawang merah-putih, two broke broken heart girls ini bangga bukan main kalo dengan sepuluhribuan bisa survive di metropolitan. Telur di kulkas sudah tinggal plastiknya, minyak goreng sudah tinggal botolnya, masih ada mentega dengan sisa-sisanya yg nempel di ujung-ujung plastik pembungkusnya. Gas di dapur (untungnya) masih di subsidi gratis sama bapak kos.

Two broke broken heart girls ini lupa kalo beras mereka tinggal satu cup.

"mayan lah buat seporsi makan malam" bilang si broke girl yang pertama sambil mulai ngupas bawang.

"Lu makan jangan maruk fokus ke nasi, banyak-banyak minum aer biar berasa kenyang ya ntar". Nasehat broke girl yang satunya sambil ngiris tempe.

Sambil sesekali yang satu, yang broken heart gegara selalu ketemu sama pacar yang beda agama bilang:

"kapan ya bok gue kawin?".

Satunya, yg broken heart akibat pacaran-lama-belom-tentu-bakal-nikah bilang:

"lu kawin udah bisa kapanpun, umur lu udah emergency, cuman kapan nikahnya entar dulu".

Lalu si broke girl yang tadi ngupas bawang dan berlanjut ke nguleg bumbu, mulai nangis sesenggukan. Berasa kayak sinetron, dia nangis bombay sambil bilang,

"lu fotoin gue ya sambil nangis kayak gini, tapi ulegannya jangan lu ambil".

Pasrah si broke girl satunya iya-iya aja sambil motoin pose request menggelinjang itu.

Si broke girl pengupas bawang mulai bernostalgia ke jaman dimana dia digdaya dan jadi primadona pemberontak di SMA. Broke girl penggoreng tempe yang pasti yakin hasil tempenya item eksotik (gegara minim minyak) nimpali sambil bilang:

"iya bok, dulu gue pernah bikin guru di sekolah marah tingkat dewa sambil gebrak meja. Seisi kelas nangis, gue cengar-cengir doang, gue gak ngerti kalo gue salah".

"Lu emang heartless and senseless kayaknya bok(?). Lu tau ga, gue dulu tiap taun baruan selalu kabur dari asrama, tapi ga pernah yang namanya gue di sidang, licin teknik gue kayak belut" broke girl penguleg bumbu memproklamirkan jenis kedigdayaannya dengan bangganya. "Lu, kayaknya satu atap dan seblok kan sama gue di asrama sekolah?, kok lu dulu gue liat pendiem sih bok?". Lanjut si broke girl penguleg bumbu menaroh curiga, jangan-jangan temannya itu penyusup di asrama sekolah.

"Gue emang orangnya selow dari dulu, sampe sekarang pun masih selow." Broke girl si penggoreng tempe cengengesan sambil nyuci teflon.

"Kita emang ditakdirin jadi bengkok kali ya bok?" broke girl penguleg bumbu bilang sambil mumbling. Lalu dia mulai bikin tumis alakadarnya dengan polanya yang asal masuk-masukin irisan kembang kol. Broke girl satunya lagi naroh prakarya tempe goreng ala kulitnya agnes monica hasil tanning.

Every perfect straight line would have a few broken line fails. For some, there must be a few people that born to be perfect part, other been set up to be fail-then-perfect part.


--Kimmi--




2 comments:

Huda Tula said...

ooh, kirain ngebahas sitkom two broke girls yang itu...

ini fiksi atau kisah nyata kah?
however i like it :)

Kim said...

Hi Hoed! its been ages kamu kmn aja jarang ngeblog? kangen sama tulisanmu akuuh.

seriously ada sitkom two broke something? i didn't knw. it's real btw :), i always fail to compose the non-real one. :)

There was an error in this gadget

Follow